
Rose membuka mata, memang benar mereka telah berpindah ke kasurnya yang tipis. Sebenarnya sebelum buka mata ia juga telah merasakan perbedaan di bawah duduknya. Dari empuk menjadi keras.
"Lain kali cobalah dengan mata terbuka," kata Lara Sevi.
"Tidak mau," jawab Rose Diana cepat. "Berapa lama kira-kira waktu kita berpindah?" Lanjutnya bertanya.
"Tidak sampai satu menit," jawab Baby Choi.
"Apakah tergantung jauh dekatnya lokasi?" Tanya Rose lagi seolah disini dirinya lah yang anak kecil yang tidak tau apa-apa.
"Kita belum pernah lintas negara. Dari New York ke Washington DC satu kali, saat ketemu Paman Beno. Saat Papa sedang mengikuti ujian di Universitas of Kanada, Mama Kiara kangen jadi kita antar, deh. Semua dalam waktu yang sama, tak sampai 1 menit," jelas Baby Choi.
"Uhm," Rose mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau tidak terpaksa, Kak R lebih suka bepergian secara normal layaknya manusia," kata perempuan itu. "Coba kalian pikirkan bagaimana cara memindahkan barang-barang ini," lanjutnya.
"Anggap saja sudah selesai. Kak Rose hanya perlu melihat vidio tata letak ruangan untuk jadi bayangan jika suatu saat Kak R butuh tempat bersembunyi. Bisa kabur ke rumah baru," jelas Baby Choi.
Kabur dari siapa? Jacob ataukah Maria Lili dalam hati Rose Diana tapi ia enggan untuk mencaritahu. Hidup akan lebih menarik jika kita penasaran akan masa depan. "Apa kalian tidak perlu meminta persetujuan orang Dewasa memberi Kak R sebuah rumah? Dari Papa atau Nena, contohnya."
"Tidak perlu," tukas Baby Moni. "Aku adalah Bendahara. Memiliki kekuasaan penuh atas harta-harta yang sudah menjadi hak kita."
Cis, dengus Rose. "Kalian sadar, gak! Kalau kalian ini masih Balita. Tidak ada Badan Hukum yang mengesahkan perjanjian dengan Bayi di bawah umur. Sewaktu-waktu Kak R bisa dituntut kerena dianggap telah membodohi Balita."
"Tapi kita tidak bodoh. Kita Balita yang bisa membuat keputusan menurut kemauan kita. Memberi kepada siapa saja dari harta Keluarga WJ yang sudah dihibahkan kepada kita. Karena sudah ada surat peralihan dari Papa Bram," ujar Lara Sevi.
"Oh no," keluh Rose Diana.
"Oh yes," balas ke 5 Balita menyeringai lucu dan menggemaskan.
"Baiklah, tapi bisa tidak kalian usahakan di depan Kak R untuk bersikap seperti Bayi apa adanya," mohon Rose Diana bersungguh-sungguh.
Seketika ke 4 Balita tersenyum seimut mungkin dengan gaya masing-masing di depannya. "Hahaha," tawa Rose Diana bersamaan dengan telepon masuk dari Mario.
"Kamu boleh keluar sekarang," ujar pria itu saat Rose mengangkat panggilan.
"Oke baiklah," jawab Rose pada Mario kemudian memutuskan sambungan sebelum pamitan pada ke 5 Balita. "Adik-adik waktunya berangkat."
"Ehm," angguk ke 5 Balita.
"Semoga sukses Kak R," ujar Lara Dutta memeluk Rose Diana. Rose balas memeluknya.
Deg deg deg.
"Hais, Kak R berdebar," keluh perempuan itu.
"Menghilang saja langsung ke depan taksi. Tidak usah melewati Mawar," usul Baby Moni.
__ADS_1
"Oh no," geleng Rose.
"Oh why," balas Lara sevi.
"Untuk itu Kak R menunggu di kosan, kan!" Tukas Rose.
"Kalau gak, kenapa gak dari tadi saja langsung ke Mall. Kemudian minta Mario mengantar Elisa ke sana. Kak R orang merdeka, adik-adik. Tidak ada yang bisa mengatur kemana aku mau pergi," jelasnya.
"Ya sudah! Semangat kalau begitu," kata Baby Choi. "Jangan khawatir. Kita akan mengawasi."
"Baiklah, tapi jangan pakai kemampuan. Mengerti!"
"Mengertiiiii," jawab ke 5 Balita serentak.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Rose kemudian membuka pintu kamar kosannya diiringi tatapan para Balita yang meringis memandang kepadanya.
"Semangat," ujar Lara Sebi mengepal tangan kecilnya.
"Ehm, terimakasih adik-adik. Jumpa lagi," ujar Rose sekalian mengunci pintu kamarnya.
Perempuan itu melangkah cepat di jalan kecil yang hanya bisa dilewati motor itu, hanya 10 meter sebelum sampai gang Mobil Mawar kelihatan mencolok parkir diantara mobil-mobil kebanyakan. Sampai di depan gang, tanpa menoleh Rose bersikap pura-pura tidak tau. Dengan ekor matanya ia melihat Mawar keluar dari mobilnya.
Oh no, keluh dalam hati Rose mempercepat langkahnya.
Rose pura-pura budek saja, fokus ke depan ke sebuah taksi yang telah menunggunya.
"Nona," tahan Mawar saat Rose hendak mencapai pintu taksi.
"Ada apa?" Tanya Rose acuh.
"Mau kemana biar saya yang antar," kata bodyguard wanita itu.
"Aku tidak mau ketergantungan pada Jacob lagi Mawar, please. Aku ada urusan ke suatu tempat tolong jangan halangi aku," marah Rose.
"Saya hanya melakukan tugas Nona, tolong. Biarkan saya yang mengantarkan anda."
"Aku bilang tidak mau ya tidak mau!Kalau kamu mau mengikut lah di belakang," kata Rose Diana. "Jangan halangi aku naik taksi, mengerti!" Tegasnya.
Rose membuka pintu taksi kemudian masuk ke dalamnya duduk di belakang.
Hais, Mawar bergegas kembali ke mobilnya.
"Cepat jalan Pak," titah Rose.
"Baik Nona.. pegangan yang kuat."
__ADS_1
Akh!
Jerit Rose saat taksi melesat cepat menghindari pengemudi jalanan dengan lihai. Benar kata Mario, si supir sangat ahli. Mawar tidak kelihatan di belakang mereka bahkan sampai ke Mall ini. Tidak ada tanda-tanda keberadaan bodyguard wanita itu mengikuti mereka.
Supir membawa taksi ke parkiran yang lebih dekat ke Bioskop 21. Tempat Rose Diana bertemu janji dengan Ema.
"Rose," panggil seseorang dari taksi yang baru datang, parkir di samping taksi yang dinaikinya.
"Oh, Elisa!" Gumam Rose turun dari taksi menyusul Elisa yang juga sedang turun datang menghampiri nya.
Mario juga turun menghampiri mereka begitu juga supir taksi yang dinaiki Rose Diana.
"Terimakasih Mario," ucap Rose.
"Hm," senyum Mario. "Anytime," ucapnya.
"Ema sebentar akan keluar," jelas Rose.
Karena sebelumya ia telah pun menelepon temannya itu agar menemui nya di parkiran lantai 21.
"Mario, apa kabar dengan Mawar? Kenapa ia tidak kelihatan mengikuti ku," tanya Rose penasaran.
"Hahaha," tawa Elisa. "Dua orang remaja cowok telah bersandiwara menyerempet di depan Mobil Mawar saat hendak mengejar taksimu," jelasnya. "Itu semua Mario yang atur, hahaha." Kata teman Rose Diana itu masih tertawa.
Hah.
Rose terperangah sembari memandang Mario. Pria itu hanya mengangkat bahu. "Tapi dia tidak melihat taksimu kan, Mario?"
"Jangan khawatir Diana," ujar Mario lembut.
"Cie cie...Diana," goda Elisa.
"Hei, Mario! Perempuan ini tidak membenarkan siapapun yang memanggilnya dengan nama yang kamu sebut barusan. Aku heran kenapa kamu tidak diomelin si kunyuk ini," marah Elisa selanjutnya.
"Oh, maaf. Aku tidak tau mengenai itu," jawab Mario.
"Tidak apa-apa Mario," senyum Rose.
"Bagaimana kalau mulai sekarang kalian biasakan memanggil ku, Devie. Seperti nama samaran di paspor setengah asli itu," ujar Rose Diana.
Kebetulan memang nama samaran di paspor setengah asli Rose Diana adalah Devine Chiesa Dominika.
"Hahaha, baiklah Devie," tawa Elisa.
***to be continued.
__ADS_1