Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 36


__ADS_3

Dolken membalik tubuh Maria Lili agar menghadapnya. "Ayo minumlah sedikit," paksa nya mendekatkan gelas ke mulut wanita itu. Kebetulan juga lehernya memang kering, Maria Lili meminumnya setengah gelas, heg..berhenti karena cekukan. Dolken mengusap punggungnya lembut. "Habiskan sedikit lagi," ujarnya. Maria Lili membuka mulutnya, sisa setengah lagi akhirnya habis ditenggak.


Tidak makan waktu lama pandangan wanita itu buram. "Jack," panggil Maria Lili meraih kerah kemeja Dolken.


Pemuda itu melihat raut bahagia di wajah Maria Lili saat memanggil nama Jacob dengan tatapan penuh cinta. Dolken memang sengaja melarutkan ramuan halusinasi ke dalam minuman yang diambilnya dari atas meja rias. Ia mengenalinya karena Mary pernah meminta dirinya menjemput benda itu dari delivery man. Maksudnya agar Maria Lili bisa melampiaskan kerinduannya pada Jacob melalui dirinya. Win win solution sama-sama enak hehehe, seringai Dolken senang sebentar lagi akan dapat jatah batin.


"Jack. Aku merindukanmu," rengek Maria Lili memeluk di leher Dolken.


"Aku juga," jawab pemuda itu dalam dan mesra. Tapi di hatinya ia tertawa geli. Baru kali ini melihat seorang perempuan mencintai pria sampai hampir gila. Kalau cinta tidak berbalas tinggal lupakan lalu move on, kan gampang. Untuk apa menyiksa diri batin pemuda itu menganggap Mary benar-benar bodoh. Apa kurang dirinya, cantik, pewaris tunggal Perusahaan ternama JSP Investment. Dan apa hebatnya si Jacob itu. Aku lebih tampan lebih muda sudah pasti lebih bertenaga, heh.


"Jack," panggil Maria Lili terus dengan suara lirih mengendus dileher Dolken. "Hiks hiks," tangisnya memeluk Dolken sehingga anak muda itu terangkat naik ke kasur baring di samping wanita itu.


Dolken mengusap airmatanya. Nafsu sudah menguasai Maria Lili dengan agresif menindih Dolken kemudian menciumnya bertubi-tubi.


Dengan senang hati Dolken menyambutnya. "Mary sayang," desahnya senang mendapatkan apa yang ditahannya dari kemarin siang. Gara-gara si Roland dirinya jadi terabaikan, huh. Tak akan ku biarkan dia merebut Mary dariku dalam hati Dolken bahagia merasa ada kemajuan dalam hubungan mereka. Karena untuk pertama kali mereka bercinta di kasur Maria Lili.


Biasanya mereka singgah di restoran yang tertutup dalam perjalanan bisnis atau di kantor Mary sendiri saat ada kesempatan. Biasanya juga jarak berapa minggu atau bahkan sampai berbulan, itupun jika Maria Lili memintanya. Namun sejak Jacob sibuk bersama Rose hubungan mereka tambah intens. Dolken merasa diuntungkan meskipun kecewa tidak bisa mendapatkan Rose, masih ada Maria Lili yang sudah mahir dengan suka rela jadi pelampiasannya.


Sebenarnya Maria Lili jugalah wanita pertama dalam hidup Dolken. Mary yang telah merenggut keperjakaan pemuda itu. Hubungan terjadi secara tidak sengaja, saat dalam perjalanan pulang meeting mereka singgah di sebuah bar. Hanya beberapa bulan Dolken diterima kerja di JSP, Maria Lili mengajaknya minum sampai mabuk. Maka terjadilah apa yang harus terjadi. Sejak saat itu keuangan Dolken juga bertambah digit nya.


*


Senin 07.00wib Rose diantar oleh Mawar berangkat kerja.


Jacob harus ke suatu tempat. Hari ini kalau sempat ke kantor kalau gak Rose yang akan mendatangi pria itu.


Rose tidak perlu lagi mengenakan seragam klining servis, Mawar membawakannya gaun kerja yang sopan dan modis ala-ala Korea. Terusan kembang bunga-bunga panjang di bawah lutut.


Sopan apanya batin perempuan itu. Ini mah sama saja sekali angkat Jacob masuk dengan gampang. Tapi Rose gak berani protes saat hari kerja, takut Jacob akan menghajarnya di ruangan Kantor.


Rose teringat ponselnya yang masih ada pada Jacob, jadi kesal. Percuma saja sendirian tetap tidak bisa main hape. Alangkah enaknya di saat sepi seperti ini bisa menggosip dengan Elisa, haish. Selesai merapikan ruangan Direktur, Rose memilah berkas yang ternyata masih banyak lagi ada enam ikat di atas meja.

__ADS_1


10.00wib Novi mendatangi nya di ruang Direktur. Wanita itu cemberut melihat penampilan Rose. "Hebat kamu ya. Bisa menaklukkan hati Jacob," ujarnya.


"Ah! Biasa saja mbak," jawab Rose.


"Apa yang biasa? Perempuan terdahulu hanya sepuluh hari. Setelah itu lewat tak dikenang lagi," terangnya.


Rose mengerut heran. "Bagaikan mbak bisa tau. Bukankah itu rahasia?"


"Saya dan Dolken adalah orang yang semua masalah di lantai 45 serba tau. Bahkan seluruh gedung saya harus tau," kata Novi dengan bangganya.


"Oh. Mbak masih saudara kah?"


"Ehm," angguk Novi. "Begitulah."


"Saya hanya menjalankan kontrak," kata Rose.


"Aku tau. Jacob telah memberitahu mary bahwa kontrak kamu diperpanjang sampai 3 bulan ke depan, iya kan!"


"Gimana rasanya Pak Direktur, Rose." Tanya Novi suara pelan sembari lihat kiri kanan.


"Gimana apanya?" Tanya Rose pura-pura gak mudeng.


"Benarkah Jack impoten seperti yang digosipkan? Aku melihat banyak tanda merah di lehernya. Wah, kamu ganas juga ternyata. Dari semua wanita yang dikontrak tidak pernah ada yang seperti kamu. Jangankan menyentuhnya, mendapat lirikan juga tidak. Aku taulah. Kan mereka curhat padaku," sinis Novi. "Makanya jangan bohong padaku. Jacob gak impoten kan, Rose!"


Ah, Rose semakin gerah. "Saya tanda tangan perjanjian yang isinya salah satu agar menutup mulut rapat-rapat," jelasnya nada tinggi.


"Tinggal angguk atau geleng doang. Gampang kan," marah Novi balik.


"Maaf Mbak. Untuk ini nyawa saya jadi taruhan kalau sampai salah bicara. Mbak ada urusan apa masuk kemari saat gak ada Pak Direktur!" Ketus Rose.


"Berikan dua ikat berkas! Aku memilah nya di luar saja," perintah Novi kesal.

__ADS_1


"Silahkan ambil saja sesuka mbak mau yang mana! Allah memberi mbak dua tangan harus dipergunakan kalau gak mau ditarik dari peredaran," ketus Rose.


Cih, dengus Novi mengangkat dua ikat dari timbunan berkas.


Baru saja Sekretaris itu pergi datang lagi yang lebih membuatnya tertekan, Rose dipanggil ke ruangan wakil Direktur melalui panggilan intercom. Seperti biasa, Maria Lili dan Dolken menunggunya di sana.


"Saya gak tahan melihat kamu," ketus Maria Lili setelah Rose basa-basi menghormat.


Rose terdiam menunduk. Tidak berani menatap wajah Maria Lili yang menunjukkan kebengisan. Lalu ngapain aku dipanggil kalau gak tahan. Bukankah jadi terlihat wajahku yang manis ini batin Rose.


"Kamu sudah minum obatnya hari ini?"


A.


Sejak Jacob memutuskan sambung kontrak, gadis itu jadi takut hamil. Maka ditelannya juga pil-pil sialan itu dengan tutup mata dan hidung agar tidak muntah. "Sudah Bu. Setiap hari tidak lupa, sumpah demi apa saya juga tidak mau hamil," jawab Rose bersungguh-sungguh.


Dan Maria Lili tau Rose jujur dari ekspresi wajahnya.


"Hmm." Wanita itu menghembus nafas kasar. "Apa yang dilakukan Jacob?" Lanjutnya bertanya.


"Memeriksa berkas-berkas tahun 2012," jawab Rose asal bunyi. Tidak mungkin aku bilang kami bercinta 24 jam nonstop, kan. Cari mati itu namanya.


Meskipun gak nyambung dengan maksud pertanyaannya, terlihat wajah Maria Lili semakin suram. "Sana! Kamu keluar," usirnya.


Alhamdulillah, ucap dalam hati Rose. Syukurlah ada berkas penyelamat dalam hatinya lega segera menghilang dari ruangan Wakil Direktur itu.


Maria Lili menghampiri Dolken menciumnya bertubi-tubi. Pemuda itu terpojok di sofa membalas tak kalah agresif. "Senangkan aku Ken," desis wanita itu sedih.


Hum.


Dolken tau Mary stres setiap kali diungkit masalah hilangnya Maura tapi mengajaknya bercinta lagi sungguh diluar dugaan setelah kemarin mereka habis-habisan. Bahkan tadi pagi sebelum ke kantor Mary minta dua kali barulah mau pergi disuruh mandi. Apa pengaruh ramuan kemarin masih belum hilang, aih aih mantab sekali dalam hati pemuda itu tidak menyia-nyiakan kesempatan.

__ADS_1


***to be continue.


__ADS_2