Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 90


__ADS_3

"Benar kamu akan ke Singapura?" Tanya Muliyardi.


"Ehm," angguk Rose.


"Berapa lama?" Tanya Paman Rose itu lagi.


"Belum tau, Paman. Kemungkinan sebulan," jawab Rose terpaksa berbohong lagi.


"Kamu sudah hubungi ibumu?"


Rose Diana menggelengkan kepalanya. Mana ada niat mau bertemu wanita itu dalam hatinya. "Nanti saja buat kejutan. Aku akan ke rumahnya dengan tiba-tiba," jawab Rose.


Hm.


Muliyardi mendesah. "Kalau diberitahu pun kemungkinkan kamu akan ditolak," gumamnya. Paman Rose Diana itu paham betul situasi mental Kakak perempuan nya itu. Anak sendiri dilupakan benar-benar keterlaluan. Entah apa yang membuatnya jadi membenci anak sendiri hanya karena kecewa pada suami.


Rose tertunduk sedih, suasana jadi mellow. Apa kata paman adalah kenyataan bahwa dirinya sekarang termasuk anak yang tidak dianggap, beruntung ada paman dan Bibinya.


"Pa, kita antar Kak Rose ke airport ya," sambung Erina memecah kesunyian.


Mati gue, dalam hati Rose Diana memandang Elisa. "Bukankah kalian senin sekolah," kata Elisa mengerti keresahan teman nya itu


"Uhm, um." Erina merengut.


"Aku juga ujian bulanan," sambung Rahmat. Erina semakin merengut.


"Nanti saja saat pulang kalian jemput Kak Rose di Bandara. Aku akan pilih tanggal bertepatan waktu libur," janji Rose Diana.


"Benar! Janji ya," ujar Erina berbinar.


"Ehm," angguk Rose.


"Bibi juga kepingin ke Bandara, Rose. Setua ini belum pernah," sambung Marlia memandang suaminya malu-maluin.


"Hahahah," tawa Rahmat, Erina dan Elisa berbarengan. Mario dan Rose Diana senyum dikulum melihat kepolosan Marlia.


"Saat pulang saja kita jemput, kalian puas-puasin main di Bandara. Dasar katrok," ledek Muliyardi menggelengkan kepalanya.


Cis, dengus Marlia.


*


Rose putuskan tidak jadi menginap di rumah Paman karena sudah terlanjur banyak membual dan berbohong. Tidak ingin lebih berbohong lagi saat malam entar ditanya-tanya macam-macam oleh Bibi Marlia.


Dengan taksi, Mario membawa Rose dan Elisa kembali ke rumahnya. Barulah ada senyum di wajah pria itu, tandanya Rose tidak membawa ke dalam hati ucapan Heru tadi siang. Itu artinya silaturahim antara mereka akan terus terjaga meskipun terpisah jarak dan waktu nantinya.


"Sayang, malam ini aku dan Devie tidur di kamar yang mana?" Tanya Elisa yang duduk manis di samping Mario yang sedang mengemudi.


"Kalau kalian mau, boleh tidur di kamar yang baru. Tapi aku khawatir masih bau cat wallpaper," jelas Mario. "Sebaiknya tidur di kamar yang biasa aja, aku akan tidur di sofa," sambung pria itu.


"Oke! Setuju," jawab Elisa cepat.


Heg.


Rose terhenyak. "Sofa mana?" Tanyanya.


"Sofa ruang tengah Devie," jawab Mario.


"Yeah..yang dalam kamar aja sayang. Gak apa-apa," kata Elisa. "Katanya mau nungguin tuyul."

__ADS_1


Hah...


Mario mengerut kening melirik Rose yang udah jelas raut keberatan tergambar di wajahnya.


"Di luar," tegas pria itu.


"Aku akan menemani kami di luar. Aku gak mau ketemu tuyul di dalam kamar," kata Elisa alasan.


Heg.


Mario terhenyak. "Apa aku pernah bilang bahwa kamu lebih menakutkan dari tuyul?"


Cis, dengus Elisa.


*


Sesampainya di kediaman Mario, suasana sunyi. Kamar telah selesai diperbaiki, Mbak Santi juga sudah pulang ke rumahnya kerena jam kerjanya sudah selesai.


Hah.


Semoga ke 5 Balita tidak menampakkan diri, dalam hati Rose Diana tiba-tiba hidupnya jadi sangat membosankan.


Ingin rasanya cepat hari senin, dalam hati perempuan itu. Ditambah lagi, Jacob benar-benar tidak perduli padanya, sudah dua hari tidak ada tanda-tanda mantan suami sepuluh harinya itu datang mencari nya.


Rose langsung masuk kamar terhempas di kasur. Waktu menunjukkan angka 19.30wib, matanya terpejam langsung terlelap


Elisa membiarkan saja Rose Diana menenangkan dirinya. "Sayang, kamu jangan kemana-mana ya. Temani aku," rajuk nya pada Mario.


Ehm," angguk Mario. Pria itu sepertinya sudah merasa nyaman dengan panggilan sayang Elisa padanya.


*


Rose membuka mata, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar selain dirinya. Perempuan itu bangun ke kamar mandi membersihkan diri sebelum mencari Elisa.


Mario dan Elisa duduk santai di sofa ruang tengah sedang menonton drama Korea.


"Ada yang bisa dimakan?" Tanya Rose Diana sembari berjalan ke dapur.


"Tuh," tunjuk Elisa pada Martabak telur sisa di atas meja.


Rose melirik sekilas kemudian ke dapur membuka kulkas, mengambil satu kaleng minuman dingin rasa mentimun. Lalu bergabung dengan Mario dan Elisa duduk di sofa. Mengambil sepotong martabak langsung masuk ke dalam mulutnya. "Masih hangat," gumamnya.


Hm.


Mario tersenyum canggung. Merasa risih karena membiarkan Elisa menyender di tubuhnya.


"Kan emang baru beli," jawab Elisa santai.


"Kalian sudah jadian?" Tanya Rose melihat kemesraan dua orang di depannya.


"Udah dong," jawab Elisa dengan pedenya.


Hah


Mario mendesah. "Apa aku punya pilihan," sinis nya.


"Haha," tawa Rose Diana mengerti bahwa pria itu terpaksa mengalah pada kegigihan Elisa yang gak tau malu.


"Lama-lama juga kamu nyaman sama aku, sayang. Jadi nikmati aja ya," kata Elisa.

__ADS_1


Hm, dengus Mario.


"Sabarlah Mario. Senin depan kita juga bakal berpisah untuk waktu yang lama," kata Rose.


"Bukankah katamu hanya sebulan," ujar Mario teringat perkataan Rose waktu di rumah pamannya.


"Sudah terlanjur bohong mau bagaimana lagi. Setelah bayi di dalam kandunganku lahir baru aku pikirkan untuk pulang," jelas Rose.


Oh.


"Apa Jacob tidak mau bertanggung jawab?" Tanya Mario.


Rose Diana mengangkat bahu. "Masalahnya bukan pada Jacob. Isi perjanjian dengan Maria Lili tidak dibenarkan hamil. Aku takut Istri pertama Jacob itu akan memaksa aku menggugurkan nya."


Oh.


"Aku mengerti. Sebaiknya memang kamu mengasingkan diri dulu ke tempat yang aman," kata Mario. "Kalau perlu apa-apa jangan segan-segan minta pada ku, Devie."


"Ehm." Rose tersenyum canggung.


"Sayang, kamu akan berkunjung ke Singapura, kan?" Tanya Elisa.


"Tentu saja mau," jawab Mario. "Asal kalian tidak memutuskan kontak dengan ku."


"Tentu aku akan menelpon kamu. Kamu angkat ya."


"Iya," jawab Mario.


*


Hampir dini hari, kedua mata Rose Diana tidak lagi bisa terpejam. Elisa telah terlelap di sofa bersama Mario.


Ke 5 Balita seolah mengerti tidak ada dari mereka yang menampakkan diri.


Apa yang harus ku lakukan?


Menunggu adalah hal yang membosankan. Bagaimana kalau aku mengintip Jacob untuk terakhir kalinya dalam hati Rose Diana.


Waktu menunjukkan 02.30wib. Apakah Jacob telah terlelap, semoga saja. Rose beranjak ke kamar, duduk di sisi tempat tidur sambil memegang kalungnya. Rose memikirkan dirinya transparan berada di kamar Jacob.


Oh.


Atmosphere di sekelilingnya berputar cepat seperti slide gambar seperti biasa. Kasur di kamar Mario telah berganti dengan kasur di Kamar Jacob di Rore Garden.


"Akh!" Rose kaget.


"Kenapa malah Maria Lili yang tidur di sini," kesalnya saat melihat perempuan berdarah dingin itu tertidur lelap di kasur yang pernah ia tidur bersama Jacob.


Oh.


Dasar pelupa batin Rose merutuk dirinya sendiri. "Bukankah Jacob ada di Hotel WJ, hais..."


"Bagaimana kalau kita pindahkan ke hutan?"


"Akh!"


Rose tambah terkejut mendengar suara tepat di samping telinganya.


"Bayi-bayi bikin kaget aja!" Marahnya.

__ADS_1


"Hahahaha," disambut gelak tawa oleh ke 5 Balita cute.


***to be continued.


__ADS_2