
Jika Maria Lili tau aku hamil habislah! Bisa lenyap hilang tak berjejak aku dibuat nya. Bukan salahku jika pilnya nggak manjur dan ternyata suaminya nggak mandul. Hah, Rose keluar dari kamar mandi dengan wajah lemas.
Jacob khawatir segera menghampiri perempuannya serta merta menggendongnya ke kasur. Keningnya berkerut memandang wajah Rose. "Kamu pucat," katanya sembari meraba dahi. "Tidak ada demam syukurlah," ucap pria itu lega.
Hm, kamu gak tau aja aku garis dua. Aaaaaa, tangis dalam hati Rose. Seandainya kita suami istri seperti pasangan normal sudah tentu ini jadi kabar bahagia.
"Mungkin karena perut mules. Tadi Ema dan Lesty ngajak makan bakso super pedas," jawab Rose bohong. "Tapi bisa kok sayang. Jangan khawatir," lanjutnya tahu pasti bahwa Jacob sangat menginginkan penyatuan. Untuk itu kan dia kembali lebih awal. "Aku juga kangen kamu." Rose mengedip mata genit.
"Cis," dengus Jacob senang Rose bisa ceria. "Aku ke kamar mandi sebentar. Tunggu ya," desisnya. Cup, Rose mengecup bibir menyambut kecupan Jacob.
Semoga tidak ketahuan batin perempuan itu. Paling tidak dalam dua minggu sampai ia menemukan jalan untuk kabur. Kalau memang hamil biarlah, toh tiga bulan mereka tetap akan berpisah. Selagi uang bukan jadi masalah buatku, semua akan baik-baik saja. Tekad Rose semangat akan membawa kabur janin di rahimnya. Bersembunyi di suatu tempat sampai anak Jacob lahir ke dunia dengan selamat, amin.
Rose menggigit bibirnya memandang tubuh seksi Jacob polos tanpa sehelai benang. Pria itu keluar dari kamar mandi berjalan ke arahnya seperti model majalah dewasa. Ya Tuhan.. apa aku sanggup hidup tanpanya...aah, tangis dalam hati perempuan itu.
"Sini gigit aku saja," desis Jacob sembari naik ke atas tubuh Rose. Menyergap leher jenjang perempuan itu, menyapu keliling dengan semua indra pengecap yang ada di mulutnya. Tak bermaksud membuat tanda merah seperti yang dilakukan Rose padanya. Karena perempuan ini adalah kekasih hatinya, maka tanggung jawabnya menjaga kehormatannya.
Hanya kulit ari pembatas antara mereka. Menempel seperti dilem tubuh Jacob yang sixpack di atas tubuh Rose yang lembut.
"Ehm," desah perempuan itu menyambut tautan lidah Jacob. Berciuman dengan lembut dan tenang hanya makan waktu lima menit, selanjutnya kedua orang yang telah terpicu gairah itu semakin ngebut memburu nikmat. Suara kecapan memenuhi ruangan. Rose dan Jacob menggeliat saling memeluk, membelai serta saling memanjakan pasangan masing-masing. Nafas memburu semakin menderu, akh. Erangan-erangan lolos menjadi penambah panas pergulatan. Jacob meraih kaki perempuannya agar lebih terbuka. Rose melebarkan pahanya mempermudah Jacob memasuki dirinya. Jujur ia sudah di ujung hasratnya. Begitupun Jacob pertahanannya runtuh. Pria itu kembali terperosok ke lobang kecanduannya.
Rose menatap lekat pria di atasnya memanglah sangat tampan. Ekspresi yang membuatnya mabuk kepayang adalah saat-saat Jacob di puncak gairahnya. Air kewanitaannya yang melimpah-limpah mempermudah Jacob keluar masuk di pintu rahimnya.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu Jacob melepas rentetan peluru pertamanya. Menekan sampai kedalaman maksimal. Pria dewasa itu tau Mary memberi Rose pil pencegah kehamilan. Akan tetapi Mawar telah menukarnya dengan pil kesuburan atas perintah dirinya tentunya. Kalau aku mandul, Mary tidak akan mungkin merencanakan double action. Pertama membuatku impoten, kedua memberi Rose kontrasepsi batin Jacob. Untuk apa batin pria itu.
Selama ini ia tidak perduli selagi tidak berakibat fatal. Toh ia tidak selera dengan perempuan-perempuan pilihan Maria Lili. Dan karena Mary masih membutuhkan kelaminnya, tidak mungkin perempuan itu membuatnya impoten permanen, kan! Jacob memutar Rose membelakangi dirinya. Kata pakar perkembang biakan anak manusia, jika jantan masuk dari belakang dengan mengangkat bokong betinanya dapat memaksimalkan kedalaman masuknya seperma jauh lebih tepat. Kemungkinan terbentuk nya janin bisa lebih cepat. Butuh 20 menit bagi Jacob ready untuk memuntahkan rentetan peluru second roundnya. Pria yang telah kepingin jadi Ayah itu mempertahankan posisi agar cairannya tertuang sempurna tidak ada yang tertumpah sia-sia.
Hah! Rose terperangah.
Baru ngeh kalau tindakan-tindakan yang dilakukan Jacob setiap kali menyatu selama lebih sepuluh hari berlalu sangat familiar. Apa dia sengaja ingin membuatku hamil. Bukankah katanya dia mandul, hais. Mana yang benar sih! Oh no! Aku harus cepat menemukan jalan kabur, tapi kemana?
*
Tiga putaran yang melelahkan selama 2 jam lebih nonstop Jacob mengajak Rose istirahat.
"Ehm," angguk Jacob tidak mau membuat Rose curiga akan programnya.
Selain membuatnya lebih menikmati saat-saat Rose memimpin permainan, memang sudah terlanjur tradisi Rose suka main sendiri di atasnya. Kalau tiba-tiba ia menolak bukankah semakin mencurigakan. Sepengetahuan Jacob, Rose tidak menginginkan kehamilan, hah! Desah pria itu pelan memeluk perempuannya erat. Menciumi nya tidak hanya dengan nafsu tapi juga dengan penuh cinta dan sayang.
Dan benar saja saat Rose minta jangan diganggu saat main sendiri di atas bagian tengah tubuhnya, perempuan itu benar-benar agresif dari sebelumnya. Menekan dalam-dalam, sekuat dan secepat ia mampu. Membuat Jacob dua kali lepas kontrol hanya dalam satu kali putaran. Suatu pencapaian baru baginya. Namun perempuannya itu seolah belum puas. Jacob menggelengkan kepala melihat area bawah perutnya kebanjiran oleh carian mereka berdua. Hah! Apa yang kamu rencanakan perempuan nakal, keluhnya.
*
Keesokan hari di kantor senyap tidak ada gangguan yang signifikan. Baik dari sekretaris maupun dari ruangan Wakil Direktur. Terhitung hari ini Jacob sudah empat hari tidak masuk kantor. Walaupun bisa bertemu di kamar Hotel, Rose tetap kangen memandang kursi kebesarannya yang kosong.
__ADS_1
Rose sedikit terhibur saat bersama Ema dan Lesty pada jam istirahat. Memesan banyak menu untuk mereka bertiga. Kedua temannya itu bawa bekal dari rumah. Katanya biar irit uang makan. "Pinjam ponsel dong Ema. Aku mau telpon Bu Leader," mohonnya.
"Hape lu mana?" Tanya Lesty.
Hais, kesal kalau ingat itu mah batinnya. "Ada di bengkel," jawab Rose teringat Jacob yang belum niat menyerahkan hapenya.
"Lem biru aja. Ngapain servis kan lu banyak duit," sambung Lesty lagi.
"Nih pake aja," kata Ema menyela. "Perlu gua sambungkan?"
"Ehm tolong," angguk Rose. "Thanks," ucapnya kemudian.
"Speaker dong," rengek Lesty.
Cis, cibir Ema. "Lu mau semua orang yang ada di kantin dengar!"
"Pelan gak apa lho. Lagian kita jauh dari mereka," kata Lesty menunjuk ke beberapa orang karyawan terdekat.
"Lu gak lihat dari tadi mereka memperhatikan meja kita," ketus Ema.
***to be continued.
__ADS_1