Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 72


__ADS_3

Di ruangan Kantornya di JSP Investment, Jacob merenung memikirkan Rose Diana. Apakah ia benar-benar mencintai perempuan itu ataukah hanya karena kebutuhan sesaat. Teringat kata Rose Diana bahwa kalau hanya untuk keturunan, rahim siapapun sama saja.


"Apakah Bapak tidak berniat lagi mengusut hilang nya, Nona Maura?" Tanya Tiger karena Jacob belum memutuskan apakah akan meminta bantuan ke 5 Balita. Bodyguard itu sangat penasaran ingin bekerja sama dengan penyihir cilik.


"Aku khawatir sebenarnya Juan Sandy adalah dalang atas hilangnya Maura, bukan Maria Lili. Sedangkan Juan Sandy telah wafat. Bagaimana menuntut orang yang telah mati."


"Kenapa Bapak berpikiran seperti itu?" Tanya Tiger.


Jacob kembali ke masa lalu, saat dirinya masih culun tidak tau apa-apa. Sebagai remaja yang baru pertama jatuh cinta, asalkan bersama wanita pujaannya..cukup lah. Namun takdir berkata lain.


"Saat itu beredar rumor di kalangan Keluarga Besar, bahwa Kakek Purnomo akan melimpahkan sahamnya pada Maura. Bukan pada Juan Sandy yang saat itu hanya mendapat bagian 15%," jelas Presiden Direktur itu.


"Jika Maura mendapatkan saham Purnomo sebanyak 40% dari 55%, maka yang menjadi Presiden Direktur JSP adalah Maura yang jika di jumlah sahamnya akan menjadi 55%. Ditambah lagi Kakek memberi sisa sahamnya padaku 15%. Aku dan Maura otomatis akan menguasai perusahaan. Menurut kamu siapa yang tidak akan cemburu?"


Jacob menjeda ucapannya, Tiger dan Bear mendengar dengan seksama.


"Jika Maura tidak mencintaiku mungkin ia akan jadi pemimpin perusahaan yang hebat. Terbukti setiap ada permasalahan di JSP, Kakek akan meminta Maura yang handle daripada Juan Sandy," lanjut Jacob.


"Hm," gumam Tiger tidak mau memaksa rasa penasarannya lagi. Sebenarnya masalah ini termasuk masalah keluarga, sementara Jacob belum termasuk keluarga saat Maura hilang. Karena mereka belum terikat pernikahan. Kalau Papa dan saudarinya saja tidak mempersoalkan, siapa lah Jacob.


"Bagaimana dengan Ibu wakil Direktur yang hendak membangun Laboratorium di Rose Garden?" Tanya bodyguard itu membuka topik baru.


"Biarkan lah dia. Aku tidak tau bagaimana membuatnya pergi. Kakek juga yang telah menitipkan ke 2 cucunya itu padaku. Aku tidak tau kenapa orang tua itu tidak percaya pada putra kandungan sendiri. Apa karena ia tau Juan Sandy tidak akan berumur panjang. Hm," desah Jacob. "Keluarga Kakek hanya tinggal Maria. Kewajibanku sebenarnya menjaga nya sebelum ia memiliki suami yang lain."


"Bagaimana dengan Rose Diana?" Lanjut Jacob bertanya.


"Mawar telah mengantar Nona, dan memastikan nya masuk ke dalam kamarnya," jawab Tiger.


"Sore nanti jangan lupa menjemputnya makan malam," ujar Jacob.


"Siap Pak!"


*


Rose Diana melamun sendirian di kamar kosannya. Bosan tentu saja. Ingin meminta Elisa datang berkunjung takut ketahuan Mawar. Ia yakin Mawar akan tetap memata-matainya di sekitar kamar kosannya.


"Jika aku ke rumah paman sekarang, takutnya bibi akan curiga," gumam perempuan itu. Karena ia telah berjanji minggu depan baru akan pulang pas gajian. "Hais..hoaam. Sekarang apanya yang gajian. Sedangkan aku telah resmi resign," keluhnya sambil menguap.

__ADS_1


"Kak R," pekik suara Balita mengejutkan Rose Diana.


"Oh tidak," seru perempuan belia itu kaget melihat Lara Dutta dan Lara Sebi muncul di kamarnya. Kedua Balita sangat cute dan menggemaskan. Kelihatan lebih tinggi dari bayi seusia mereka. Dan lebih kelihatan smart dari Balita pada umumnya. Apa aku sedang hidup di dunia komik, dalam hati Rose teringat dengan aplikasi Mangatoon favoritnya. "Enak ya jadi kalian," ujar perempuan itu.


"Apanya yang enak?" Tanya Lara Dutta dengan santai duduk di pangkuan Rose Diana, mengalung lengan di leher Kakak cantiknya. Diikuti oleh Lara Sebi.


"Bisa kemana saja tanpa butuh kendaraan," jawab Rose.


"Hehe," tawa Lara Sebi.


"Kak R juga cobalah. Bukankah Choi telah memasang mantra di kalung mu," ujar Lara Dutta.


"Oh iya. Bagaimana Kak R bisa lupa," kata Rose Diana memang benar-benar tidak ingat.


"Bagaimana kalau kita coba sekarang," ajak Lara Sebi. "Untuk itu kita diutus kemari, kan."


Oh.


"Tapi Kak R takut Sebi," ujar Rose Diana sedikit terhibur dengan kehadiran kedua Balita.


"Ada aku dan Dutta, kan! Kak R mau kemana? Kita temani," desak Lara Sebi penasaran apakah mantra Baby Choi bisa disalurkan kepada Rose Diana yang tidak pernah mendapat transferan energi dari Kak Kireni.


"Ah ah!" Keluh Lara Sebi kesal karena Rose ngeles kayak bajaj.


"Seperti peraturan semula. Tidak boleh menggunakan sihir bersamaan. Jadi kita mengundi untuk 2 orang pemenang," jelas Lara Dutta seperti yang sudah pernah didengar oleh Rose Diana dari Baby Choi.


"Dan kalian pemenangnya," sambung Rose Diana.


"Yo i," jawab Lara Dutta.


"Si bodyguard wanita ada di depan gang menunggu di mobil," sambung Lara Sebi. "Sekitar pukul 17.30 wib dia akan mengetuk pintu kamar ini untuk membawa Kak R," lanjutnya.


"Bagaimana kamu tau?" Tanya Rose melihat jam di ponselnya masih ada waktu sekitar 5 jam lagi.


"Tiger telah reservasi makan malam di Restoran hotel WJ pukul 19.00wib. Nena akan bergabung dan kita diajak," jelas Lara Sebi.


"Kemungkinkan Kak R akan berdandan dulu di salon," lanjut Kakak perempuan Lara Dutta itu.

__ADS_1


"Bagaimana caranya agar Kak R tidak ikut dinner?" Tanya Rose Diana.


"Menghilang lah sekarang," jawab Lara Dutta cepat.


"Maka kalian akan menjadi tersangka utama," ketus Rose Diana.


"Oleh karena itu kita harus latihan sekarang. Setelah yakin berhasil kami akan kembali ke base camp. Menandakan bahwa kami tidak terlibat dengan hilangnya Kak R," jelas Lara Sebi.


"Kak R maunya secara normal keluar dari kamar. Hanya buatlah Mawar tidak menyadari nya. Bisa tidak?" Tanya Rose Diana. "Kak R akan menelpon taksi teman untuk menjemput. Bisakah diatur seperti itu?"


Lara Dutta dan Lara Sebi berpandangan. "Ide yang bagus," kata Lara Dutta. "Tinggal membuat Mawar tidak mengenali Kak R saat lewat di depannya."


"Yes," seru Lara Sebi. "Kak Rose mau kemana, rencananya?"


"Bertemu teman Kak R yang dikampung mengambil Paspor dari teman Kak R yang bekerja di JSP. Kita akan bertemu di Mall ini."


"Itu dekat dengan Hotel WJ," gumam Lara Sebi.


"Uhm," angguk Rose Diana.


"Oke, cool!" Seru Kedua Balita.


"Sekarang kita latihan menghilang," sambung Lara sebi gak tahan lagi dengan rasa penasarannya.


"Oh no," ujar Rose Diana deg deg deg.


"Oh yes," sambung Lara Dutta.


"Ayolah tidak ada rasa apa-apa," kata Lara Sebi.


"Sebentar Kak R telepon taksi teman dulu agar menjemput kak Elisa di rumahnya di Pasar Induk," ujar Rose dengan niat mengulur waktu. Pada dasarnya ia tidak tertarik dengan kemampuan di luar batas wajar. Ia ingin jadi manusia normal.


"Hais...dasar bajaj kang ngeles," keluh Lara sebi.


Rose tersenyum geli. "Kalian bocah Amerika bagaimana mengerti bajaj?" Tanya perempuan itu sambil melakukan panggilan pada Mario. (Teman baru yang membantunya membuatkan paspor.)


"Kebiasaan negara di seluruh dunia kami tau," ketus Lara Sebi.

__ADS_1


"Cis," dengus Rose Diana.


***to be continued.


__ADS_2