
"Hm." Jacob tersenyum tipis dan itu sangat manis dimata Rose Diana. Yang membuatnya sakit hati adalah setiap kali Jacob berkata hanya menikmati moment. Brengsekk! Makinya hanya berani dalam hati. Apa ku terima saja tawaran Dolken biar bisa move on dari hubungan yang gak jelas ini sementara sebelum resign...
"Kita sambung sampai tiga bulan lagi," ujar pria itu mengejutkan Rose. Meskipun hatinya senang tapi karena sudah terlanjur berjanji pada Maria Lili untuk jaga jarak dengan suaminya ini, aih. "Aku resign sekarang," katanya cepat.
Jacob menahan Rose saat hendak turun dari pangkuan pria itu dengan memeluk tubuhnya erat, rahim perempuan itu bergetar kena sundulan mengejutkan karena dibawah sebenarnya mereka masih tersambung. Rose dapat merasakan nafsu Jacob masih belum padam, hais. Meskipun tidak merasa dingin di ruangan ber-AC minus derajat, ia merasa benar-benar gak adil dimana Jacob masih berpakaian lengkap hanya bagian itunya yang terbuka sementara dirinya polos tak berbungkus. Bagaimana jika tiba-tiba ada yang datang memergoki mereka. "Berapa lama kita akan seperti ini?" Tanya Rose.
"Sampai kau setuju," bisik pria itu mesra di telinganya.
Menolak hanya akan memperpanjang masalah. "Baik! Tiga bulan gak lebih," kata Rose mau gak mau dia sepakat.
Jacob kembali mencumbui dirinya begitupun sebaliknya Rose tidak mau munafik bahwa ia ketagihan bercinta dengan Jacob. Di bawah tekanan rasa takut ketahuan Maria Lili memacu adrenalinnya semakin bergairah. "Aih, kalau dah mulai gak tau mau berhenti," rengeknya menahan nikmat.
Jacob menarik ujung bibirnya mendengar gumaman Rose, hm..kau benar-benar telah jatuh cinta padaku gadis nakal. Senyum pria itu teramat bahagia. Rose apa adanya menyambut hasrat mereka yang sama besar dan bekerjasama memberi hasil yang memuaskan untuk mereka berdua.
*
"Rok sialan ini," gerutu Rose saat ia kembali mengenakan pakaiannya kala teringat betapa mudah bagi Jacob mengobrak abrik tubuhnya.
Sebaiknya nanti minta ganti yang setelan celana panjang pada Bu Leader niat dalam hati Rose. Kejadian di ruangan ini seharusnya tidak boleh terulang. Aku telah berjanji menjaga jarak dengan Jacob tapi pria ini gak tau diri. Kasihan Maria Lili. Dimana ada istri yang dengan lapang dada mengatur pernikahan suami dan itu tidak cuma sekali. Betapa makan hatinya kalau itu aku dalam hati Rose.
Lewat Ashar barulah kelar urusan bercinta, syukurlah tidak ketahuan dalam hati Rose. Jacob membuat panggilan, dua bodyguard masuk menghadap. "Aku akan menyetir sendiri," katanya. Bear memberi Jacob kunci. "Kalian jaga jarak seperti biasa," titah Presiden Direktur itu.
"Siap Pak," jawab Tiger.
*
Keluar dari ruangan tidak ada siapa-siapa Rose lega. Apalagi Jacob dengan berani menggandeng tangannya, pantes saja dalam hati perempuan itu. Mereka ke parkiran dikawal bodyguard lewat jalur pribadi dan Jacob ternyata sangat mahir mengemudi, Rose bertambah kagum. "Kita mau kemana?" Tanyanya setelah mereka keluar dari gedung JSP investment.
Hum.
Jacob memandang Rose sangat cantik setiap kali selesai bercinta. Kedua belah pipinya menampilkan warna merah muda nan cerah. Apakah semua pria juga memandang serupa atau hanya aku yang seolah kena pelet batin pria itu. Sambil mengemudi tangannya meraba di paha Rose yang terbuka karena roknya terangkat naik. Bagaimana selama ini Karyawan pria memandang mu, apa mereka tidak gila seperti aku saat ini..
"Lihat ke depan saja. Kamu mau bawa aku mati bareng?" Ketus Rose di wajah Jacob yang bolak-balik melihatnya.
Jacob tersenyum lebar. "Meeting," jawabnya.
__ADS_1
Rose mengerut kening. "Kamu gak salah bawa orang? Aku bukan sekretaris mu."
"Kamu tunggu di kamar. Aku gak lama," kata Jacob.
"Kamar Hotel yang kemarin?" Tanya Rose.
"Hum," angguk Jacob.
"Sepuluh hari kamu di luar. Kenapa gak pulang ke Mansion menemani istrimu saja."
"Hanya menghitung hari aku akan melepaskan diri dari Mary," jawab Jacob.
Uhm, Rose menekuk bibirnya ke bawah. "Aku gak yakin Nyonya akan membiarkan itu terjadi," gumamnya pelan yang masih bisa didengar Jacob.
"Aku yang bodoh tidak bisa tegas selama ini," ujar Pria itu.
"Jadi selama ini kamu suami takut istri," sindir Rose.
Jacob mencubit mulut Rose geram. "Ish," keluh gadis itu kesakitan saat terkena bibirnya yang terluka. Jacob mengusapnya lembut. "Teruslah membantah maka aku akan semakin kasar menghajar mu," ujarnya. "Tapi sepertinya kamu suka kekerasan," senyum Jacob menyeringai.
Jacob kesal betul mendengar nya, seolah Rose tidak masalah dengan itu. "Bagaimana denganmu. Bukankah kau juga mencintaiku?"
Rose menoleh pada Jacob mendekatkan wajahnya, tatapan mereka bertemu. "Aku menikahi mu karena uang dan hanya sekedar menikmati momen, understand!" Ketusnya di wajah Jacob puas karena telah berhasil balas dendam.
Cis, dengus pria itu. "Dengan nafsumu yang sebesar gunung itu aku yakin kau saangat saangat mencintaiku."
"Nafsumu lebih dari sebesar gunung. Apa itu namanya hanya menikmati moment," balas Rose.
"Hahaha," tak tahan Jacob tertawa. "Tiga bulan ini kau wanitaku. Dilarang komunikasi dengan pria gak jelas. Ingat itu camkan di otakmu." Jacob mengeraskan suaranya.
Rose tersinggung. "Siapa yang gak jelas?"
"Seharusnya kamu kena SP karena telah melanggar peraturan. Karyawan tidak diperbolehkan memesan makanan dari luar tanpa ijinku, you know! kecuali kamu bawa bekal dari rumah pagi-pagi sebelum jam kerja."
Ha. Rose termangu. Kenapa Bu Leader gak...ah sudahlah. Dah lewat juga batin Rose gak niat membela dirinya dengan merusak reputasi atasan. "Maaf," ucapnya pelan.
__ADS_1
"Hum." Pria itu mendengus membawa mobil masuk ke parkiran Hotel WJ lewat jalur pribadi. Ternyata sudah sampai batin Rose.
Jacob menutup tubuh Rose dengan jasnya sebelum mereka turun dari mobil. Di dalam lift hanya mereka berdua Jacob tidak menyia-nyiakan kesempatan menciumi Rose, perempuan itu membalas tak kalah agresif. Kedua orang berpelukan tersenyum bahagia seperti dunia milik berdua.
"Mau masuk lagi?" Tanya Rose menggoda Jacob.
"Ehm," angguk pria itu. "Selesai meeting kita puas-puasin," ujarnya.
"Dari tadi siang sudah berapa kali belum puas juga?" Rose manyun menggelengkan kepala.
"Ehm," angguk Pria itu.
Cis. Rose menarik hidung mancung Jacob geram.
*
Sementara memeriksa kembali kasus kehilangan Maura di Singapura, Jacob akan tetap di Hotel sementara ia belum menemukan Hunian baru. Kecurigaan nya pada Maria Lili sudah lama tapi tidak ada jejak yang bisa membuktikan istrinya itu terlibat. Melihat Bodyguard Almarhum mertuanya Juan Sandy yang misterius ada hubungan dengan Mary di Maratua. Jacob yakin telah melewatkan sesuatu. Setahunya dulu Maria Lili adalah gadis yang polos dan lemah ternyata diam-diam punya hubungan dengan Agen Pemusnah Profesional.
Sebelum meninggalkan Rose di kamar sendirian Jacob memeluk perempuannya itu erat. "Aku usahakan meeting secepatnya," desisnya di wajah Rose.
"Pergilah cepat," kata Rose menahan diri agar tidak melingkarkan lengannya di pundak pria itu. Bisa gak jadi meeting ntar batinnya.
Euhm, Jacob mencium Rose seolah enggan berpisah. Menatap wanitanya sayu, I love you ucap dalam hatinya kemudian keluar tergesa.
Rose ke kamar mandi membersihkan diri cepat-cepat. Sudah mau Maghrib ia lupa sudah berapa lama gak sholat. Sejak liburan hari-hari dihabiskan dengan bercinta. Belum mandi junub dah diajak main lagi, hais.
Selesai Maghriban Rose penasaran pada berkas di meja sofa. Kertas berbau seperti telah lama tersimpan. Membaca tanggalan Singapura Januari 2011. Lebih kurang 10 tahun yang lalu batinnya.
Rose melihat satu benda berkilau dibawa map kemudian mengutip nya. Sebuah kalung berbahan Emas putih dengan liontin setengah hati. "Milik siapa ini?"
Deg deg, deg.
Jantungnya berdetak kencang, Rose merasa mual tiba-tiba. Keringat dingin bercucuran seketika membasahi tubuhnya, akh. Perempuan itu memegangi kepalanya sebelum hilang kesadaran.
***to be continued.
__ADS_1