Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 74


__ADS_3

"Kamu sekalian bersiap, kan?" Tanya Rose meyakinkan Elisa.


"Iya, dong." Jawab temanya itu. "Kebetulan aku sedang bosan, kalau kamu ajak ke luar negeri pun aku mau. Karena kalau kamu ke luar negeri tak terbayangkan betapa kesepiannya hidupku di dalam negeri. Ingin ikut denganmu tapi tidak punya paspor. Apalagi ongkos haiiss," keluh teman Rose Diana itu.


Rose memandang geli raut keberatan dua Balita yang meringis padanya. "Kalau taksi datang menjemput sekalian kamu buat paspor aja dengannya," anjur Rose Diana. "Pakai atasan warna putih kalau ada. Kalau gak ada gapapa," lanjutnya.


"Ada Kok," jawab Elisa cepat. "Asik," serunya. "Aku tidak masalah jadi asisten atau jadi pembantumu yang penting keluar dari kampung...."


Tut.


Rose kaget, Lara Sebi menekan tombol of di ponselnya. Pembicaraan jadi terputus tiba-tiba.


"Oke bye," sambung Lara Dutta memandang Rose Diana tersenyum meringis.


"Apa yang kalian lakukan." Rose Diana tidak berani memarahi bocil-bocil cute. "Kak R belum selesai bicara, sayang." Ujarnya lembut.


"Jika Kak R berniat membawa nya maka kita perlu membahas nya lebih lanjut," kata Lara Sebi.


"Hm." Rose Diana menarik nafas pelan. "Dia teman yang bisa dipercaya adik-adik," ujarnya. "Kak Kiren dalam 9 bulan akan kembali dari tanah kelahirannya. Apa kalian yakin tidak akan melupakan Kak R?"


"Sedangkan Kak R akan melahirkan dalam 9 bulan itu. Kak R perlu punya teman sebaya perempuan yang bisa diajak tukar pikiran dan membantu Kak R mengurus adik bayi selama Kak R belum pulih."


"Kita tidak melulu bersenang-senang, kan!" Lanjut Rose.


"Aaaaaaaa," tangis kedua Balita semakin memeluk Rose Diana.


Rose Diana memeluk mereka erat. "Kenapa kalian menangis?"


"Aku menyayangi Kak R sebagaimana aku menyayangi Kak Kiren. Tidak akan meninggalkan Kak R meskipun Kak Kiren kembali dari tanah kelahirannya," ujar Lara Dutta disela tangisnya.


"Kan, ada paman Dewa yang akan peduli pada Kak R," sambung Lara Sebi.


"Kak R juga menyayangi kalian. Tapi paman Dewa juga menyayangi Kak Kiren. Apa yang bisa dilakukannya pada perempuan hamil. Kak R tidak mau terlalu membebani si Paman Dewa itu," kata Rose Diana.


"Baiklah, kalian Balita-balita hebat. Jadilah anak-anak yang gembira. Tidak perlu memikirkan masalah orang dewasa, oke."


"Aaaaaaaa, aku sangat menyayangimu," tangis Lara Dutta tambah kencang.


"Aaaaaaaaaaa, aku juga," kata Lara Sebi. "Sekarang, ayo kita latihan menghilang."


"Oh no," keluh Rose Diana.


"Oh yes," balas kedua Balita.


"Baiklah. Tapi sebelum itu biarkan Kak Rose menghubungi Mario dulu agar membantu Kak Elisa membuatkan paspor."


"Oh no," keluh Lara Sebi. Lagi-lagi Rose Diana mencari alasan untuk ngeles.


"Oh yes," balas Rose Diana. "Tapi Kak R ingin lewat di depan Mawar layaknya manusia normal. Kak R adalah manusia merdeka yang tidak patuh pada perintah seseorang, kan!"


"Oke, tidak masalah. Mereka masih lama sampai disini. Jadi mari latihan selama menunggu," paksa Lara Sebi.

__ADS_1


"Hahahaha." Tak tahan Rose tertawa hambar melihat kegigihan Lara Sebi.


"Hehehe." Kedua Balita menyengir berbarengan. Memperlihatkan gigi kecil yang lengkap, putih dan bening seperti warna kelapa muda.


Drtttt dertt, ponsel Rose bernyanyi. Panggilan dari Elisa.


"Bentar Kak R angkat dulu," kata Rose Diana.


"Haaaaah," keluh ke dua bayi menunduk lemas. Sudah hampir satu jam misi mereka belum berhasil juga.


"Hei, kenapa kamu putuskan sambungan," marah Elisa saat Rose menerima panggilan.


Rose terpaksa mengusap perutnya, agar anak yang di kandungnya tidak ketularan punya sifat pembohong. "Terputus sendiri," jawabnya memandang lucu pada Lara Sebi dan Dutta bergantian.


"Kenapa tidak menelepon balik," protes Elisa.


"Memberi waktu kamu bersiap, lah. Apalagi," ketus Rose Diana.


"Hehe, baiklah. Aku khawatir sesuatu terjadi padamu. Siapa tau anak buah Jacob datang menculik kamu."


"Hahaha," tawa Rose sedih dalam hati. Aku sih mau saja batinnya. "Yang perlu dikhawatirkan itu anak buah Maria Lili."


"Kamu bersiap dulu. Aku mau memberi tahu Supir taksi, apakah sempat membuat paspor untukmu sekarang," lanjut Rose Diana.


"Cool," jawab Elisa dan sambungan diputus.


"Sebentar ya, adik-adik. Bukankah Papa melarang kalian menggunakan sihir. Maka kesabaran lah yang diperlukan untuk jadi manusia normal."


"Kak R akan menghubungi Mario agar ia bisa mengatur rencana sampai disini tepat waktu, oke!"


"Ya, udah buruan." Kata Lara Sebi merengut.


*


"Mario, ada perubahan planing," kata Rose Diana sesaat panggilannya diangkat.


"Apa tuh?" Tanya Mario.


"Teman yang akan kau jemput ingin menemaniku kabur tapi dia belum punya paspor," jelas Rose Diana.


"Kamu mau dibuatkan identitas asli atau samaran?" Tanya Mario.


"Untuknya yang asli saja tidak masalah," jawab Rose Diana.


"Baik, apa kamu ikut ke Restoran atau menunggu di kosan selama dua jam?"


"Aku akan menunggu di kosan dengan sabar," kata Rose Diana.


"Tunggulah kalau begitu...."


Tut.

__ADS_1


Sambungan diputus oleh Lara Sebi dengan menekan tombol of. "Ayo kita latihan."


"Oh tidak," keluh Rose Diana melemaskan tubuhnya di kasurnya yang tipis, pura-pura tidur mengorok.


"Oh yes, hahahah." Kedua Balita tertawa sambil mengangkat kedua tangan Rose agar bangun dari baringnya.


"Apa yang harus ku lakukan?" Tanya Rose Diana terpaksa menuruti kemauan dua bocah tengil.


"Bayangkan suatu tempat yang ingin Kak R kunjungi," kata Lara Sebi.


"Kemana! Kak R gak kepikiran mau kemana-mana," ujarnya.


"Bagaimana kalau ke kamar Paman J," usul Lara Dutta.


Hm.


Rose berpikir bahwa Jacob sekarang pasti sedang berada di kantor. "Boleh juga. Kak R penasaran dengan liontin yang mirip dengan kalung ini. Apakah kalian bisa mengambil informasi darinya," kata Rose setuju dengan menyentuh untaian di lehernya.


"Cool...bayangan sekarang!" Kata Lara Dutta cepat.


"Ucapkan pelan cukup kami bisa mendengarnya," sambung Lara Sebi dengan memeluk Rose Diana disusul oleh Lara Dutta. Ketiga orang berpelukan sangat erat, dengan 2 Balita cute duduk di pangkuan Rose Diana.


Deg deg deg.


Jantung berdegup keras. "Kak R membayangkan kasur Jacob yang empuk," kata Rose Diana sambil menutup mata.


"Yes," pekik kedua Balita.


"Sekarang buka mata Kak R," kata Lara Sebi.


Perlahan Rose Diana membuka matanya. "Oh no," ucapnya benar-benar takjub. Dari kamar kosannya yang sempit mereka pindah ke kamar Jacob yang luas.


"Berhasil," seru Lara Dutta senang mencium pipi Rose Diana bertubi-tubi.


"Oh please," ujar Rose Diana megap.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Lara Sebi.


"Tidak ada rasa apa-apa," jawab Rose Diana.


"Benar, kan. Makanya jangan takut," ujar Lara Sabi lagi.


"Kalian bagaimana tau kamar kosan Kak R, padahal belum pernah berkunjung?" Tanya Rose Diana.


"Selain membayangkan tempat, kita juga bisa membayangkan orang yang ingin kita kunjungi," jelas Lara Sebi.


"Oh," kata mulut Rose membulat. "Seru juga ya," gumam perempuan itu.


Jadi penasaran ingin mencari tau apakah ayahnya masih ada di dunia ini ataukah sudah pindah ke alam lain. Kalau ibunya sih, jelas. Hanya wanita yang telah melahirkan nya itu, disibukkan dengan mengurus anak-anaknya dari suami kedua. Bapak tiri Rose lah ceritanya. Itu pun kalau dirinya diakui sebagai anak oleh mereka. Sehingga tidak sempat memikirkan dirinya.


***to be continued.

__ADS_1


__ADS_2