
Maria Lili masih enggan beranjak dari pelukan Dolken setelah pelepasan yang dahsyat. Mereka berbaring santai di sofa tanpa busana yang memadai.
"Ada apa dengan senyummu, Ken?" Tanya Maria Lili melihat gelagat mencurigakan pada raut Dolken.
Dolken mengangkat bahu tersenyum lebih lebar. "Aku bahagia hari ini kamu sangat manja padaku," jawab pemuda itu. "Dari kemarin dan tadi pagi juga. Teruslah bersikap seperti ini. Aku suka," bisik Dolken di telinga Maria Lili mesra.
Cis, dengus Maria Lili tersipu. "Barusan kamu juga hebat," pujinya.
"Hanya barusan!" Marah Dolken di wajah Mary.
"Kemarin-kemarin kamu juga hebat dan dari kemarin juga hari ini lebih hebat luar biasa, puas!" Jawab wanita itu jujur memang merasakan ada yang berbeda. "Apa kamu minum ramuan penambah stamina?" Tatap nya menyelidik.
Bukan aku tapi kamu dalam hati Dolken. Apa karena itu makanya Maria Lili lebih sensitif menikmati. Dari kemarin semangatnya masih belum padam, hais..tipuan hormon. "Sepertinya Jack tidak masuk kantor hari ini. Satpam tidak melihat mobilnya masuk," kata Dolken tidak mau memperpanjang masalah ramuan. "Jam makan siang hampir tiba. Tidak ada pertemuan bisnis ngapain dia di luar?" Tanya pemuda itu.
"Mungkin sibuk mengumpulkan data hilangnya Maura," jawab Maria Lili menduga-duga. Genggamannya meraih senjata rahasia Dolken di balik segitiga pengaman pemuda itu.
Dolken kembali terpicu gairah. Bakalan ada putaran selanjutnya neh hehe, seringai dalam hatinya maklum dengan kondisi mental Maria Lili. Bercinta paling efektif untuk mengalihkan pikiran yang tertekan.
Setelah tau bahwa hilangnya Maura dan ke 4 mantan istri kontrak Jacob adalah karena perbuatan Maria Lili, Dolken tidak mau wanita ini menjadi lebih kejam hanya karena seorang pria yang tidak menganggapnya ada.
Nakal boleh gesrek boleh tapi narkoba dan kriminal no way, itu prinsip Dolken. Makanya ia tidak mau tau bagaimana caranya Mary melenyapkan semua korban-korbannya.
"Cinta Jacob pada Maura sungguh luar biasa. Maka dari itu lepaskanlah Rose Diana please," pujuk Dolken lagi. "Yang lalu biarlah berlalu ya," mohon pemuda itu.
"Aku tidak mau kehilangan Jacob Ken," gumam Maria Lili sedih.
Kadang kasihan kadang jijai melihat kekerasan hati Mary tapi jika tidak ada yang menarik nya ke jalan yang benar, siapa lagi yang diharapkan kalau bukan diriku dalam hati Dolken.
Mereka masih saudara. Sesama saudara harus saling mengasihi, kan. Pemuda itu menghembus nafas halus. "Aku akan menemanimu seumur hidupku," kata Dolken meskipun bertentangan dengan kata hatinya. Membuat orang insyaf bisa menghapus dosa yang lain Insya Allah, amin.
Maria Lili yang berbaring di atas Dolken dengan kepala di dada pemuda itu berkata. "Kamu dan Jack berbeda."
__ADS_1
"Tentu saja berbeda! Burungku lebih besar dari burungnya," teriak Dolken tersinggung. "Kalau tidak mana mungkin teriakan mu sampai ke langit ke tujuh," amuknya tak suka dibandingkan.
Plak.
Maria Lili menepuk mulut Dolken. "Bukan hanya itu yang jadi ukuran! Tapi aku rindu perhatian dan kasih sayang Jack seperti saat aku masih kecil," balas wanita itu ikut teriak.
Huh.
"Itu karena kamu terlalu over attention. Tidak ada sejarahnya orang yang dikekang makin sayang, Mary. Yang ada makin eneg."
Plak! Satu kali lagi mulut Dolken ditepuk.
Dengan meminjam kekuatan Satria Baja Hitam pemuda itu memutar tubuh Maria Lili. Mengatur posisi wanita itu menungging di depannya. Langsung menyundul nya tanpa pemanasan karena memang hatinya sudah terbakar emosi. Sundulan-sundulan yang membuat wanita itu menjerit-jerit kejang. Maria Lili tidak siap dengan pelumas sehingga merasakan perih. Namun perih itu masih belum seberapa dibandingkan rasa sakit hatinya terhadap perlakuan Jacob. Maka wanita itu membiarkan saja Dolken menyakitinya. Semakin sakit semakin bagus. "Aaaaaah," teriak wanita itu sekalian melepas beban yang menghimpit dadanya.
Dolken menghunjam sekuat dan sekencang ia mampu. Semakin Mary menjerit semakin Dolken mengasari nya. Biar insyaf batin pemuda itu.
"Jack," ceracau Mary.
"Oh tidak!" Marah Dolken tersulut emosi semakin memperkuat sundulannya dengan kecepatan maksimum. Benturan-benturan mengeluarkan bunyi yang mengundang gairah bagi siapa saja yang mendengar. Sebaiknya jomblo menjauh kalau tidak mau menderita batin.
*
"Lo cakep Rose. Kayak Kristen Stewart Twilight Saga. Kulit lo putih kayak artis korea." Lesty membuka mulutnya sebelum dijawab Ema. "Ternyata lo orang kaya yang menyamar. Baju yang lo pake ini mehong kan," lanjutnya jadi down mental membandingkan seragam klining servis yang dipakainya.
Hahaha. "Dasar!" Tawa Rose.
Diikuti Ema dengan senyuman. Ia juga hampir tidak mengenali Rose, tadi. Teman di sampingnya ini cocok jadi anak Direktur seperti Pak Jacob.
"Tapi hati lo baik, Rose. Masih mau berteman dengan kita," sambung Lesty sendu.
Rose terharu. "Thanks anyway atas pujiannya. Tapi aku juga orang miskin ya oma ya oma. Terimakasih juga sudah mau berteman denganku. Ayo makan makan," ujar Rose mendorong seporsi dimsum lebih ketengah meja. Selain makanan pokok, ia juga memesan seporsi salad buah dan bakpao cukup untuk bertiga.
__ADS_1
"Thanks Rose," ucap Ema dan Lesty berbarengan jadi bertambah semangat makan. Mungkin karena mereka hampir sebaya meski Rose lebih muda makanya bisa akrab kali ya.
"Aku gak lihat Bu Leader?" lanjut Rose bertanya.
"Shut," desis Ema. "Katanya Bu Leader kena sangsi karena melanggar pasal membiarkan karyawan memesan makanan dari luar," bisiknya pelan.
Oh, Rose kaget jatuh kasihan. Jacob, geramnya. "Berapa hari?" Tanya Rose.
"Seminggu tanpa gaji," jawab Lesty juga pelan.
Oh, Rose semakin merasa bersalah. "Aku harus minta maaf. Apa kalian ada nomor ponselnya?"
"Kamu gak salah Rose. Karena anak baru gak tau itu wajar. Bukankah kamu ngusulin makan di kantin. Tapi Leader dan Bu Nanda orang lama. Nggak tau peraturan itu yang disalahkan," terang Lesty.
"Jadi dua orang yang kena sangsi?" Tanya Rose.
"Uhm," angguk Ema dan Lesty barengan.
"Bu Nanda yang ngusulin beli Pizza, kah?" Tanya Rose lupa-lupa ingat.
"Yo i," angguk Lesty
Oh.
*
Selesai jam makan Rose dijemput Mawar ke ruangan Direktur kemudian didrop ke Hotel WJ. Perempuan itu senang bisa pulang cepat terutama akan bertemu Jacob. Sampai di tempat tujuan ternyata prianya masih belum kembali dari urusannya. Hah, terpaksa Rose menunggu dengan kesabaran penuh karena saat di perjalanan otaknya telah dipenuhi dengan pikiran jorok hehe.
Karena penasaran dengan kalung Rose mendekati meja. Tidak ada liontin hanya rantainya. Dan Rose tidak merasa sakit kepala melihatnya. Ada apa dengan Liontin batin Rose. Reflek tangannya meraba pada kalung yang disematkan Jacob di lehernya, oh perempuan itu terkejut. Jika liontin utuh akan sama persis dengan yang ia pakai.
*
__ADS_1
Habis Isya barulah Jacob kembali dari meeting. Tersenyum melihat Rose tertidur pulas. Mencium kening perempuannya itu kilas sebelum ke kamar mandi membersihkan diri.
***to be continued.