
Walaupun sudah menduga kepergian Jacob ke Singapura karena masalah Maura yang masih dalam penyelidikan suami yang tidak pernah menganggapnya itu, tak ayal mental Maria Lili down.
"Agen Pemusnah bagaimana maksudnya?" Tanya wanita itu menyelidik sejauh mana Jacob mendapat informasi tentangnya.
Jacob merenung wanita di depannya. "Aku mengetahui semua bodyguard Sandy kecuali yang satu ini. Apa kau tau siapa dia?" Jacob melempar sebuah gambar pria ke depan Maria Lili.
Maria Lili bertahan agar tidak gemetar yang bisa membuat Jacob curiga padanya. "Bagaimana aku tau masalah Agen Rahasia Papa," bantahnya.
Jacob menangkap sedikit reaksi keterkejutan di wajah Maria Lili, pria itu menarik ujung bibirnya yakin bahwa wanita di depannya ini telah berbohong. "Orang ini direkrut 15 tahun yang lalu saat kamu mulai kuliah di Kanada. 12 tahun yang lalu dia juga ada di Singapura saat kamu berkunjung ke Apartemen Maura. Apakah suatu kebetulan dia muncul di Maratua?"
Sudah lama Maria Lili tidak segugup ini. Bagaimana bisa kabur dari Jacob sekarang ini batinnya bingung merasa terpojok. Wanita itu sekuat tenaga mempertahankan ketenangannya. "Aku tidak mengenal orang ini. Bagaimana dia ke Maratua kenapa tidak tanya langsung padanya."
Hm, aku memang sedang mengawasinya dalam hati Jacob menarik nafas berat. "Jika menemukan ada hubungan pria ini dengan hilangnya Maura, jangan salahkan aku saat menempuh jalur hukum akan menyeretmu sebagai saksi," jawabnya.
Hah, keluh dalam hati Maria Lili merasa atmosfer di ruangan Jacob menjadi kedap udara yang membuatnya sulit bernafas. "Kenapa aku harus jadi saksi sementara 12 tahun yang lalu saja, polisi tidak bisa membuktikan keterlibatan kita yang malam itu sedang dimabuk asmara," sinisnya.
Kamu saja yang dimabuk asmara dalam hati Jacob. "Aku yakin dengan kehadiran pria ini akan mendapatkan petunjuk baru," ujarnya.
"Syukurlah, aku juga penasaran kemana Maura menghilang. Bahkan Papa yang punya segudang cara tidak bisa menemukannya," kata wanita itu menarik ujung bibirnya.
Tidak ada raut penyesalan di wajahnya dalam hati Jacob. "Apa kamu tidak merindukan kakakmu?" tanya Pria itu.
"Untuk apa merindukan orang yang tidak pernah menganggapku sebagai adik," jawab Maria Lili tidak menutupi rasa bencinya pada Maura. "Lalukan program secara tradisional maupun medis, asalkan bisa hamil terserah kamu kalau ingin mengakhiri pernikahan. Sebelum kita punya anak jangan harap," katanya segera meninggalkan ruangan Jacob.
"Haaaah." Jacob menarik nafas lega, satu ruangan dengan Mary selalu membuat sesak. "Program hamil," gumam pria itu.
*
__ADS_1
Menjelang Ashar Rose Diana sampai di kosan diantar oleh Mawar sampai ke depan gang. Perempuan itu menutup wajahnya karena malu dilihatin banyak orang, beruntung bukan jam pulang kerja.
Kenapa kesorean?
Itu karena Jacob sampai zhuhur gak kelar-kelar urusan kencing. Kencing tengkurap, kencing nungging, kencing berlutut. Kencing menghadap depan, kencing dari belakang. Paling ekstrim kencing berdiri dengan menggendong Rose Diana, mana harus melunjak lunjak agar kencing itu memancur dengan sempurna. Kencing di kasur, kencing di sofa, kencing di lantai, kencing di kamar mandi. Berapa juta kecebong sudah disembur ke rahim perempuan itu sampai banjir-banjir. Apa itu yang dinamakan mandul dalam hati Rose teringat sundulan-sundulan Jacob yang menggetarkan dinding rahimnya. Akibat menikahi mu karena uang akhirnya aku jatuh cinta, desahnya sedih.
"Wellcome to reality," gumam Rose menghidupkan kipas angin karena kamar kosannya yang kedap udara. Sepuluh hari ditinggal sudah bau apek neh ruangan. Perbedaan orang miskin dan orang kaya bagai langit dan Bumi, hai keluh dalam hatinya.
Dengan uang yang dimiliki gadis itu ingin rasanya ia pindah ke apartemen namun Rose tidak mau kelihatan mencolok. Yang bisa mengundang kecurigaan Paman dan Bibinya. Terpaksa ia mengurungkan niat...
Ngapain aku, batinnya. Mau tidur gak terasa ngantuk. Teringat betapa sengit pergulatan antara dirinya dan Jacob, Rose tiba-tiba rindu. Sabarlah, besok kan bisa bertemu. Jika tugasku hanya membersihkan ruangan Direktur setelah itu, bercinta kah? Hais, Rose membuang jauh pikiran joroknya.
Apa Jacob merencanakan sesuatu dengan hubungan kami sehingga selalu ingin aku dekat dengannya, karena kayaknya Jacob juga tidak ingin berpisah. Asalkan tidak hamil aku sih mau saja, tapi jika terpaksa berpisah aku mau dong punya anak dari Jacob satu. Yang penting tidak ketahuan Maria Lili batinnya berharap sebagai kenang-kenangan dari hubungan singkat mereka. Tapi gak mungkin hamil ah, Jacob kan mandul.
Akhirnya Rose ketiduran sampai ada yang mengetuk pintu kamarnya. Siapa sih," gumam perempuan itu melihat Jam 19.05wib. "Nona, bangunlah!" Panggil suara yang dikenalnya, kening Rose berkerut. "Mawar!"
"Tunggulah, aku mandi dan bersiap sebentar," katanya mode mengantuk.
"Tidak perlu Nona," tahan Mawar. "Nanti saja di hotel."
"Betapapun senangnya bertemu Jacob, aku masih perlu tas kecilku, kan."
Rose masuk kembali gegas mengenakan hoody sembari meraih tasnya, memastikan pintu kamar terkunci sebelum mengikuti Mawar. Kenapa membiarkan aku pulang jika harus dipanggil balik dalam hati perempuan itu.
Hanya lima belas menit mereka sampai saking kencangnya bodyguard perempuan itu menyetir mobilnya. "Mandilah Nona. Saya pesankan makan malam buat anda," kata Mawar. "Pak Direktur dalam perjalanan," lanjutnya mengerti arti tatapan Rose yang tidak menemukan Jacob di dalam kamar.
Rose mengangguk kemudian ke kamar mandi, membersihkan diri sebelum pria tampannya tiba.
__ADS_1
*
Sambil makan Rose menggulir-menggulir layar ponselnya melihat kalender pengingat. "Seharusnya 2 hari lagi jadwal mens ku. Lusa jika aku tidak datang haid maka bulan depan adalah penentuannya, semoga tidak datang. Aih...kenapa aku berharap hamil sih." Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa aku siap jadi ibu tunggal, heg."
Rose tercekat di tenggorokan mendengar pintu kamar di buka, Jacob muncul dengan wajah sumringah. "Sayang," sapanya memberi kecupan hangat di ujung kepalanya kemudian duduk di samping Rose.
Jacob terlihat letih dalam hatinya jatuh kasihan. "Kamu sudah makan?" Tanya Rose. "Ehm," geleng Jacob. "Mawar telah memesan makan malam untukku," ujarnya sembari mengusap rambut Rose.
"Mau ku suap," kata Rose mendorong sendok ke arah mulut Jacob. "Ini gado-gado teman makan nasi sebagai sayur," jelasnya siapa tau pria itu belum pernah makan.
Jacob membuka mulutnya senang mendapat perhatian dari Rose Diana. "Aku tak sabar ingin memakanmu," desis pria itu di telinga Rose.
"Hum." Perempuan itu merengut. "Memang untuk itu kamu memanggilku kembali, kan."
Jacob mengangguk tersenyum mesum. "Sebentar aku mandi," ujarnya.
"Tunggulah! Makan beberapa suap lagi," tahan Rose. "Bukankah ini enak?"
Jacob mengalah menerima suapannya sampai habis satu mangkok sayur. Kehadiran Jacob membuat Rose menjadi kenyang seketika, menyuap prianya tidak membuat makanan terbuang sia-sia.
*
"Sayang," desah Jacob. Bercumbuan dengan Rose telah menjadi kecanduan baginya. Ia yakin gak mungkin bisa lepas dari birahi Rose yang selalu bisa mengimbangi nafsunya.
"Apa kau merasa terpuaskan?" Tanya Rose. Suatu kebiasaan yang ia lakukan usai penyatuan.
"Always baby like usual," kata pria itu. "Lebih dari puas. Aku sangat-sangat bahagia," senyumnya memeluk Rose erat.
__ADS_1
***to be continued.