
"Jangan lama-lama mandinya," ujar Jacob ekspresi datar.
"Sebentar aku belum keramas," jawab Rose juga datar. Melepas rambut panjangnya jadi tergerai dari yang sebelumnya terikat.
Sangat cantik dalam hati pria itu. Karena suasana hatinya yang sedang galau jadi gak konsen melakukan penyatuan yang biasanya lebih dari setengah lusin putaran. Ditambah Rose juga sepertinya malas gak ada reaksi jadi tambah gak mood. Walaupun kadang bete pulang dari meeting, saat ketemu Rose yang biasanya agresif membuat Jacob kembali gairah. Ini pasti karena kehadiran Maria Lili sehingga Rose jadi setengah hati melayani ku dalam hati Jacob.
Sampai kapan wanita itu berhenti mengganggu, hais keluh pria itu merasa bersalah pada Rose Diana. Namun masih enggan meminta maaf.
Melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki tubuh Rose telah sepenuhnya ditutupi sabun. "Hmm..dari setengah jam yang lalu ngapain aja baru sekarang keramas," gerutu Jacob akhirnya beranjak dari depan kamar mandi. Membiarkan pintunya terbuka lebar-lebar. Semoga perempuan itu mengerti maksudnya agar jangan pake lama mandinya. Jacob berbaring di kasur menunggu Rose Diana selesai mandi. Niatnya mau minta maaf sebelum tidur. Agar kedepannya hubungan mereka tidak melempem seperti kue apem.
Pikiran pria itu menerawang memikirkan perkataan Maria Lili. Jika aku menerima usulnya, itu berarti selamanya kami akan terikat. Aku ingin serius menjalani rumah tangga bersama Rose Diana. Akan terganggu jika aku tetap terikat dengan masa lalu.
Maria Lili telah salah paham pikir Jacob. Aku mengusut kasus Maura karena ingin memberinya keadilan. Cinta jaman remaja telah lama padam, Maura dan Maria Lili harus ditinggalkan di belakang. Sekarang yang ada hanya Rose Diana teman hidupku menata masa depan dalam hati Jacob. Dan gadis bodoh itu justru tidak perduli, cis.
Jacob melirik ke pintu kamar mandi karena tidak lagi mendengar suara air. Mungkin Rose telah selesai mandi pikirnya. Namun tiba-tiba ngantuk berat menyerangnya. Pria itu mencoba melawan tapi gak bisa ditahan, akhirnya tak lama matanya pun terpejam.
*
"Kak R!"
"Akh!" Pekik Rose Diana terkejut melihat kemunculan Baby Moni dan Lara Sevi seperti Casper si hantu yang baik.
Sama seperti saat Baby Choi dan Lara Dutta mengunjungi nya. Pakai piyama kodok lengkap dengan Pampers yang membuat pantat mereka kelihatan menonjol. Dan juga botol susu yang menggantung di mulut mereka, benar-benar sangat menggemaskan. Rose melirik pintu, khawatir Jacob akan datang mendengar teriakannya barusan.
"Jangan khawatir. Paman J sudah tertidur lelap. Masuk ke dalam mimpi," jelas dari arah belakangnya.
"Oh no."
Ada 2 bayi lagi di samping Baby Choi lengkap dengan botol susu, yang ini berwarna coklat. Lara Dutta dan Lara Sebi. Pas ke 5 orang Balita muncul di dalam kamar mandinya. Meskipun wajah mereka hampir sama namun Rose tidak kesulitan mengenali mereka.
Bagaimana bisa tiba-tiba 5 bayi ajaib ini hadir dalam kehidupanku dalam hati Rose. "Adik-adik please! Kak R mandi jangan dilihatin. Uwaaaaa," tangis perempuan belia itu geli.
"Hahahaha," tawa ke 5 Balita.
"Katanya kalian tidak dibenarkan menggunakan sihir. Ngapain rame-rame muncul disini," marah Rose.
"Nena juga telah tertidur lelap. Dia terlalu lelah mengatur ini-itu demi kesuksesan seminarnya tadi siang," jelas Baby Moni.
Hais.
__ADS_1
Rose Diana segera menyudahi mandinya tak lupa ia wudhu sekali lagi sebagai syarat sah mandi wajib. "Benarkah Paman J telah tertidur?" Tanyanya menghampiri pintu sambil melilitnya satu handuk di kepalanya.
"Benar. Lihat saja," kata Baby Choi.
Ke 5 Balita berlarian mendahului Rose keluar dari kamar mandi. Mendatangi Jacob yang terpejam di atas kasur. Rose Diana menyusul keluar hanya dengan mengenakan handuk di tubuhnya. Tersenyum melihat Jacob tertidur dengan kening berkerut serta bibir ditekuk. Tetap tampan dalam hati perempuan itu.
"Oh no," seru Rose Diana khawatir melihat ke 5 Balita di atas kasur melompat-lompat gembira.
"Kasur disini lebih lebar daripada di guest house," ujar Lara Sevi.
"Iya... Lebih empuk dan nge-per dari kasur kita di Mansion Nena," sambung Baby Moni.
Hais.
"Jangan sampai Paman J terbangun," tegur Rose mengingatkan.
"Tenang saja. Paman dalam pengaruh sihir Baby Choi," jelas Lara Sevi. "Aduh," pekik anak itu saat terjatuh ke tubuh Jacob. Pria itu diam bergeming tidak ada reaksi sama sekali.
Oh Tidak. "Berapa lama pengaruhnya akan hilang?" Tanya Rose khawatir.
"Besok pagi," jawab Baby Choi.
"Ya udah turun kalau begitu. Kasihan Paman J juga lelah. Biarkan ia tidur dengan tenang ya. Please," mohon Rose. Ingin marah juga percuma. Ke 5 Balita lebih cerdas dari dirinya. "Baby-baby, please. Kalau gak berbaring yang manis di samping Paman J, oke."
"Diantara kalian siapa yang lebih sakti?" Tanya perempuan itu sembari mencari pakan yang pantas dipakai di depan Balita-balita.
Selain gaun-gaun yang lebih cocok dipakai buat jalan, tidak ada lagi kecuali lingerie. Tidak mungkin aku berpakaian seksi di depan anak-anak, meskipun mereka bisa melihat tembus pandang batin Rose. Akhirnya memutuskan mengenakan salah satu kaos sweater Jacob. Lumayan bisa menutupi tubuhnya sampai bawah lutut. Yang penting bagian atas sopan meski kedodoran.
Setelah menutup tubuhnya Rose bergabung di kasur. Setelah terlebih dahulu meraih ponselnya. Berbaring di pinggiran kosong. Sehingga posisi Balita-balita berada di tengah, Lara Dutta mengambang tempat di sampingnya.
"Ingin menghubungkan siapa?" Tanya Balita laki-laki itu.
"Teman yang menyimpan paspor Kak R," jawab Rose.
Oke," jawab Dutta memeluk Rose Diana. Meletakkan kepalanya di perut perempuan itu sebagai bantal.
Rose melirik wajah imut nan menggemaskan. "Apa kamu sangat menyukai Kak Kiren?" Tanya Rose.
"Ehm," angguk Dutta.
__ADS_1
Cis, dengus Rose. "Masa sih Kak R persis Kak Kiren," ujarnya gak percaya.
"Iya persis," jawab Baby Choi. "Kita kehilangan semua photo-photo Kak Kiren seiring dengan kepergiannya ke alam kelahirannya."
Oh.
"Satupun gak ada? Kak R penasaran ingin melihat semirip apa."
"Tidak ada," sambung Lara Sevi.
"Bahkan di ponsel Kak Kiren sendiri, di ponsel tante Sora, semua gambar menghilang," jelas Baby Choi.
Ke 5 Balita mengumpul semua di sisi Rose Diana. "Hanya 1 lukisan ada pada Paman Dewa yang sekarang lagi berada di Jepang."
Oh.
"Artinya kalian akan mengirim Kak R ke paman Dewa," tebak Rose.
"Ehm," angguk ke 5 Balita.
"Aku Penasaran bagaimana reaksinya melihat Kak R," senyum Lara Sevi.
"Pastinya akan menangis dong," ujar Baby Moni ikut tersenyum.
"Apa Paman Dewa ini juga sepertinya Dutta yang tergila-gila pada Kak Kiren?"
"Hahahaha," tawa bayi laki-laki itu. "Aku tidak gila," ujarnya.
"Kamu begini menempel pada Kak R. Itu namanya tergila-gila," ketus Rose.
"Dasar bodoh," tukas Lara Sebi si jarang bicara. "Tergila-gila itu bukan gila, Dutta." Jelasnya.
"Tapi maniak," sambung Lara Sevi disambut gelak tawa 4 Balita tak terkecuali Dutta ikut menertawakan dirinya sendiri. Dodot terlepas dari mulutnya, air susu muncrat ke pakaian Rose.
Tok Tok tok.
"Nona," panggil Mawar dari luar pintu.
Oh.
__ADS_1
Ke 5 balita dan Rose saling berpandangan.
***to be continued.