Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 44


__ADS_3

Sepanjang siang yang membosankan, Rose hanya berbaring bengong, menonton layar lebar yang tergantung di dinding. Biasanya dia menikmati saat-saat Me time seperti ini. Sekarang seperti ada yang kurang. Hatinya hampa gak jelas saat pukul 10.00wib Jacob keluar meeting sampai sekarang pukul 13.30wib belum kembali.


Mawar mengantar makan siangnya satu jam yang lalu. Rose tidak berselera mengingat haidnya yang batal keluar. Sampai siang dicek ke kamar mandi, pembalutnya tetap bersih, aih. Aku hamil atau nggak sih..


Bagaimana bisa tau jika Jacob mengurungku disini, ah. Kalau ada ponsel kan enak batin Rose. Bisa menghubungi Ema atau Elisa. Biar ada teman ngobrol sekalian minta belikan testpack dalam hati perempuan itu gelisah. Berguling-guling di kasur putar ke kanan putar ke kiri. Meski di pojok ruangan ada telepon meja tapi Rose khawatir menggunakan nya. Bisa bahaya saat nota bil keluar. Panggilannya dilacak.


Ceklek. Pintu kamar dibuka.


Wajah yang dirindukannya tersenyum manis. Rose menyambut Jacob dengan suka cita. Melompat ke pelukan prianya itu. Jacob menangkapnya.


"Sayang, kamu bawa ponselku?" Tanya Rose langsung to the point.


Hum, kening Jacob berkerut. Gadis kecilnya ternyata cuma merindukan hape. "Cium dulu," ujarnya memonyongkan bibirnya.


Cup.


Rose mengecupnya kilas, "hape," tuntut nya lagi mengulurkan tangan.


Hum, Jacob menurunkan Rose di kasur kemudian duduk di sampingnya. Merogoh saku mengeluarkan satu ponsel keluaran terbaru.


"Ini hapeku?" Tanya Rose menerima ponsel.


"Kau senang," kata Jacob. Pria itu gak tahan jika tidak memeluk perempuannya dan menciumi bau tubuhnya.


Aih, Rose gerah menggeliat pelan. "Sayang, kamu sudah makan?" Tanyanya berusaha melepaskan diri.


Uhm, Jacob merengut. "Kamu lihat jam berapa sekarang. Tadi meeting sekalian makan siang. Apa kamu sudah bosan padaku!" ketusnya.


Oh, Rose terperangah. "Tidak akan pernah. Aku hanya tidak sabar ingin melihat M-banking," jawabnya menekuk bibir mewek sebelum diomelin lebih lanjut.


"Siapa yang mau mencuri uangmu! Aku sedih kamu lebih mementingkan ponsel dari pada diriku." Jacob ikutan mewek.

__ADS_1


"Aiya, jangan kekanakan gitu." Rose terpaksa melempar ponselnya di atas bantal serta merta mengalung lengan di leher Jacob. Masih suasana pengantin baru. Lagi maruk-maruk nya batin Rose maklum pada si abg tua.


Aku juga kalau tidak lagi pura-pura haid pasti mau aja dalam hati perempuan itu mengalah. "Tapi jangan masuk ya," katanya mengingatkan. Siapa tau Jacob lupa.


"Masuk sini saja," senyum Jacob mengusap bibir merah Rose Diana.


Cis, dengus perempuan itu kemudian mencium Jacob agresif. Menenangkan nafsu pria ini terlebih dulu barulah ia bisa bebas bertelepon.


"Apa ada masalah?" Tanya Rose merasakan bahwa Jacob kurang bereaksi pada layanannya.


Menyadari Rose tau dirinya kurang bersemangat. "Bukankah kamu sedang datang bulan. Tidak takut kalau aku keterusan," jawab pria itu alasan.


Meski sebenarnya ia kesal pada Maria Lili yang barusan mendatanginya ke tempat dimana ia bertemu klien. Wanita itu menunjukkan surat perjanjian yang ia tanda tangani.


Jacob tau betul itu. Tapi tidak menyangka wanita itu nekad membuat keributan di tempat umum. Beruntung hanya klien yang telah mengetahui sedikit tentang pernikahannya dan Mary yang kurang harmonis. Sehingga mereka segera memberikan privasi padanya dan Maria Lili.


"Kamu tau kan, Jack! Hanya jika perempuan yang dikontrak sepuluh hari itu hamil barulah ada gugatan cerai!" Kata Maria Lili melempar salinan perjanjian pada Jacob. "Apa perempuan datang bulan dikatakan hamil?" Tanya wanita itu mengingatkan Jacob pada cd Rose yang dipamerkan perempuan itu di ruangan kantornya.


"Kamu membuatku menandatangani nya. Siapa disini yang licik," sinis Jacob. Ingin rasanya melempar wanita ini jauh ke lautan Atlantis.


Itu adalah kalimat yang membuat Jacob mual seperti orang ngidam. Barusan ia muntah-muntah di toilet restoran. Pengembalian dana tidak masalah. Namun pasal menjauhkan Rose darinya benar-benar gak masuk akal. Apa dia kira aku tanah sengketa....


"Sayang," panggil Rose merenung Jacob yang melamun. "Apa terjadi sesuatu di bawah?" Tanyanya. Maksudnya tempat meeting di Restoran Hotel yang posisinya di lantai 1.


"Tidak ada. Ayo sayang teruskan," desis Jacob sembari memberikan ciuman ringan di bibir perempuan itu.


Rose meminta lebih. Mencumbui Jacob intens sebelum melorot ke kaki pria itu. Aku perlu membuatnya tidur dalam hatinya. Masalah apa yang mengganggu pikirannya. Jangan-jangan Maria Lili.


Hais, kenapa harus haid sih. Dengan menyatu pasti lebih cepat membuat hatinya lega. Namun perempuan itu gak kurang akal. Apa aku ditakdirkan untuk jadi wanita penggoda hehe, batinnya setelah menelan semburan pertama air kenikmatan Jacob yang memancut deras.


Pria itu menggelinjang detik selanjutnya terpejam di pelukannya. Setelah menunggu beberapa saat memastikan Jacob telah tertidur, Rose meletakkan guling di pelukan pria itu sebagai pengganti dirinya.

__ADS_1


Kemudian ke kamar mandi tak lupa membawa ponselnya. Antara Ema atau Elisa yang mana yang harus ku hubungi terlebih dahulu, Rose menimbang-nimbang. Sepertinya Ema aja deh. Karena dari awal ia sudah mengetahui rahasia testpack sekalian mentransfer uang buat Bu Leader Rahmi. Lalu Rose membuat panggilan. "Ema! Ada gosip apa di kantor?" Tanya perempuan itu setelah terhubung.


"Kamu," jawab Ema senang Rose menghubungi nya.


"Ha," jawab Rose menahan rasa terkejutnya.


"Mereka menanyaiku seperti wartawan gosip aku diserbu," kata Ema.


"Ditanyai apa?"


"Untuk apa kamu beli testpack..sumpah! Bukan aku ember," jawab Ema.


"Si penjaga Koperasi itu yang bocor," tebak Rose karena lebih percaya pada Ema.


"Uhm, kamu kan populer sejak pesta Pizza. Kecantikan serta penampilan kamu yang berubah jadi bahan perbincangan seluruh gedung."


Astaga, "lebay."


Sepertinya cepat atau lambat Jacob akan mengetahui masalah testpack batin Rose. Sudahlah kan dia dah lihat aku datang bulan. "Terus, apa lagi?"


"Aku jawab dong. Bisa saja Rose menikah waktu libur sepuluh hari. Secara dia kan cantik pasti cepat laku. Hanya gak mau heboh gitu," jelasnya. "Kamu beneran hamil, Rose?" Lanjut tanya Ema.


Ck, decak Rose. Ya sudahlah terlanjur Ema tau rahasianya. "Tidak. Ini lagi datang haid," jawab Rose.


"Rose! Kamu bukan istri kontrak Pak Direktur, kan?"


Apa! Pekik dalam hati Rose mendengar pertanyaan Ema. "Ada gosip seperti itu?"


"Ada," jawab Ema.


Untuk sementara berbohong lebih aman. "Tentu saja bukan! Kamu tau gak kriteria yang harus jadi istri kontrak Direktur? Apa mungkin Klining service," bantah Rose.

__ADS_1


"Oh, syukurlah. Itu karena Pak Direktur tidak ke kantor. Kamu juga gak masuk makanya dikait-kaitkan seperti saat kamu libur sepuluh hari. Pak Direktur juga gak ke kantor selama sepuluh hari. Gitu kata si Lesty," ujar Ema.


***to be continued.


__ADS_2