Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 16


__ADS_3

Baju berenang yang ketat sangat cantik ditubuh indah Rose, meski telah melihat tubuh polos perempuan itu tetap saja Jacob terpesona. Bagaimana dengan para bodyguard-bodyguard itu batinnya.


"Bagaimana rasanya menyelam?" Tanya Jacob setelah mereka naik ke Resort. Duduk dipinggir teras dengan kaki menjuntai ke air.


"Seru," jawab Rose. "Aku jadi ingin menyelam ke dasar hatimu."


"Hahahahaha."


Tidak hanya Jacob, beberapa bodyguard yang mendengar ikut tertawa. "Dasar! Bisa aja kamu gombal." Jacob mencubit pipi Rose pelan. Semakin cantik karena menyelam jadi keluar warna merah di tulang pipinya seperti memakai blush on.


Hehe, tawa Rose. "Hanya ingin menikmati momen," jawabnya agar Jacob tidak menganggapnya serius.


Oh. Kata-kata itu seperti bumerang baginya, ada rasa sedih menjalar di hati Jacob. "Apa kamu pernah menyukai lelaki sebelumnya?"


"Ehm, tidak yang sampai mendalam. Sekedar kagum ada beberapa, termasuk anda."


Bibir Jacob tersungging. "Bagaimana dengan Dolken, bukankah kalian sering bercanda?"


Ha. Rose mengerut kening. Jadi dia memperhatikan juga. "Ada sedikit," jawabnya.


"Hanya sedikit?"


Uhm, angguk Rose. "Gak boleh banyak-banyak nanti bodoh, apalagi jika perasaan tidak berbalas."


"Sepertinya kamu lebih dari sekedar suka," tebak Jacob. "Pernah berharap jadi kekasihnya?"


"Kalau pernah saya tidak akan menerima tawaran Nyonya Wakil Presiden, Pak Direktur!"


"Cinta bertepuk sebelah tangan," gumam Jacob teringat obsesi Maria Lili padanya bikin mual.


Ish, gak tau aja kamu batin Rose. "Kalau bukan karena uang, mungkin saya akan sabar menunggunya. Terimakasih karena memilih saya Pak Direktur. Sehingga bisa bangun dari mimpi kembali ke realita, bahwa pria seperti Dolken tidak mungkin tertarik pada saya."


Oh, Jacob terhenyak. Perempuan ini cukup realistis juga, batinnya. "Kenapa tidak, buktinya saya menginginkan kamu. Dan aku, lebih hebat dari si Dolken itu," rajuk nya cemburu.


"Ye ye ye," jawab Rose. Anda lebih hebat. Tapi jika hanya sepuluh hari itu tidak termasuk kategori menyukai. Sebagaimana Dolken suka bercanda pada banyak perempuan, anda juga telah beberapa kali melakukan perkawinan kontrak, kan! Apa ada yang bertahan?"


Itu karena aku gak selera batin Jacob. "Jadi apa dong namanya? Karena suka makanya saya kawini, kan!"


"Hanya nafsu mau icip-icip, hehe." Tawa Rose.

__ADS_1


"Dasar." Jacob merengut tapi dalam hati ia bahagia. Bersama Rose selalu membuatnya ingin tertawa, ah. Pria itu menghembus nafas kasar. "Ayo masuk," ajaknya.


Rasa ingin menenggelamkan Rose ke dalam pelukannya datang lagi. Hanya nafsu icip-icip katamu, batin Pria itu. Apa dia juga begitu, hanya icip-icip denganku. Dapat uang lagi, hei! Kurang apa diriku. Berarti akan mudah bagi perempuan ini melupakan ku, buktinya dengan Dolken ia menyerah dengan mudah. Baiklah aku akan menghajarnya tanpa ampun, sehingga melekat di sanubarinya gak bisa lupa sampai mati, hehehehehe seringai Jacob.


*


Sore-sore dihabiskan dengan olahraga di kasur, mau ngapain lagi. Keliling Resort hanya ada air. Bukankah memang tujuan liburan Jacob hanya untuk bercinta sepuasnya.


"Sayang," desis Rose di pelukan pria itu.


"Hum," jawab Jacob yang tengkurap lemas di atas tubuh Rose. Pria itu baru saja melepaskan hasrat kesekian kalinya, bahkan mereka masih melekat erat. Air kenikmatan Jacob dan milik Rose menggenang di rahim gadis itu.


"Aku tidak melihat kamu pernah pakai pengaman."


Jacob mendongak. "Apa Mary tidak memberitahu mu bahwa aku mandul?"


"Tidak," jawab Rose bohong tidak ingin melukai hati Jacob. "Apa iya?"


Jacob telentang membawa Rose serta sehingga posisi gadis itu diatasnya, ia masih enggan melepas pelukan. Walaupun tulang kurus daging Rose cukup empuk. Terutama bokongnya yang jungkit, hanya dadanya kurang besar hehe tawa dalam hati Jacob teringat saat mengulum gundukan itu penuh di dalam mulutnya. "Kalau dokter terpercaya telah mengatakan begitu, apa lagi yang diragukan," terang Jacob.


"Pernah cek ke dokter lain?" Tanya Rose, gadis itu bangun kemudian duduk diatas perut bawah pria itu.


Hum," gumam Rose. Dirinya juga tidak meminum pil yang diberikan Maria Lili, karena koper yang disiapkan Nyonya itu entah dimana keberadaannya.


"Kamu takut hamil?" Tanya Jacob.


"Iya," jawab Rose. "Karena aku masih mau lanjut kuliah." Gak mungkin kan aku bilang karena diancam istrimu, dalam hatinya tiba-tiba timbul rasa takut terbayang wajah menyeramkan Maria Lili.


"Tidak akan! Jangan khawatir," desis Jacob pasrah jika di kehidupan ini ia ditakdirkan tidak memiliki keturunan.


Kamu tidak khawatir tapi istrimu khawatir batin Rose. Ada yang janggal disini, dalam hati perempuan belia itu. "Kamu tau dimana koper yang disiapkan Nyonya untukku?" Tanya Rose.


"Tinggal di pesawat," jawab Jacob. Anak buahnya telah membongkar koper Rose dan melaporkan bahwa mereka menemukan sebotol pil pencegah kehamilan. Hum, ulah siapa lagi kalau bukan Mary batin Jacob.


Sebenarnya Maria Lili takut kalau-kalau ia menghamili salah satu perempuan-perempuan kontrak itu. Karena sesuai perjanjiannya jika mereka bisa hamil, Mary bersedia diceraikan. Jadi mustahil bagi Mary membiarkan Rose hamil. Karena Mary tak ingin melepaskan Jacob, apapun alasannya. Jika sampai tega mencelakai saudara sendiri, apa namanya jika bukan obsesi.


Maura adalah cinta pertama dalam hidup Jacob, sampai kapan ia gak akan bisa melupakan kekasihnya itu. Bagaimana mungkin ia sanggup meniduri perempuan yang tidak disukainya. Dengan Mary hanya jika ia dibuat tak sadarkan diri oleh perempuan itu.


Tapi Rose berbeda. Hasratnya tak terbendung pada perempuan ini. Padahal tidak ada di diri Rose sedikit pun menyerupai Maura Lili Sandy Purnomo yang telah hilang bak di telan Bumi. Jika benar meninggal kenapa jasadnya tidak ditemukan. Hum, desah Jacob.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Rose.


Ah? Oh!


Jacob sampai lupa jika Rose masih berada diatasnya. "Tidak apa-apa," jawab pria itu serta merta menarik tengkuk Rose, menciumi bibirnya bila perlu sampai bonyok. Hanya sepuluh hari jadi harus dipergunakan sebaik-baiknya. "Kamu ingin coba di atas," tawar Jacob.


Hah. "Bagaimana caranya?" Rose bingung.


"Kamu gak pernah lihat?"


"Lihat apa?'


"Orang kawin lah! Bokep, apalagi."


Hum, senyum Rose. "Keinginan Yang Mulia Direktur adalah perintah bagi saya," ujarnya.


Plak! Serta merta pantatnya dipukul.


"Aduh!" Gadis itu meringis kesakitan.


"Hahahahaha," saking gelinya mendengar perkataan Rose, Jacob jadi lemas karena tertawa. "Ayo cepat bangunkan dia, ini perintah!" Pria itu menunjuk pada adik kecilnya yang terkulai.


"Baik yang mulia," ujar Rose namun genggamannya pada adik kecil Jacob melemah karena menahan tawa, "hahahaha."


"Hei, cepat tanggung jawab." Teriak pria itu lagi memukul pantat Rose yang jungkit, plak!


Aduh! "Sakit yang mulia," ringis Rose. Malu-malu ia memakan sosis jumbo, mengemutnya juga suatu keasikan tersendiri. Pentungan hampir sepanjang lengannya itu dimasukkan semua ke dalam mulutnya.


Oh! Pria itu gemetar menahan sensasi kulu man Rose. "Sayang," rengeknya tak tahan kelepasan.


"Akh," keluh Rose. Perempuan itu tertelan cream yang rasanya aneh, ia icip-icip di lidahnya keterusan tanpa jijik menjilat semua bersih tak bersisa. Jacob menggeleng tak percaya, melihat Rose menelan semua kecebong yang dilepasnya.


Dimasuki tidak sesakit memasukkan sendiri, namun Rose bertahan demi untuk menyenangkan Pria yang telah membayarnya. Seiring waktu berjalan ternyata jauh lebih nikmat dengan posisi diatas, dengan tepat ia bisa menentukan kemana harus mengarahkan. Dengan bantuan Jacob memegang bokongnya, berdua mereka berpacu menuju puncak mengejar kepuasan.


Akh! Rose terhempas lemas di dadanya, jacob mencium gadis itu bertubi-tubi sebagai hadiah karena telah sukses membuatnya merasakan kenikmatan berkali lipat dari sebelumnya.


Menjelang 11.30 tengah malam barulah mereka keluar mencari apa yang bisa dimakan untuk mengganjal perut yang menjerit kelaparan.


*** to be continued.

__ADS_1


__ADS_2