
"Ya iyalah, siapa lagi!" Pelayan perempuan itu berkata ketus.
Heh, ada apa dengannya batin Rose. "Dimana saya mendapatkan kopi!" Perempuan itu mengimbangi dengan suara tinggi seperti si pelayan songong.
"Dimana lagi ya di dapur," kata si pelayan menekan suaranya, terang-terangan menunjukkan sikap bermusuhan.
Pelayan ini bersikap seperti Nyonya, tidak ada rasa hormat padaku yang jelas-jelas sekarang istri Tuannya. Mungkin lagi datang bulan batin Rose. "Aku gak tau dimana dapur," jawabnya.
"Ikut aku!"
"Hei," tahan Rose saat si pelayan hendak pergi begitu saja. "Tunggu aku ganti baju."
Si pelayan memandang Rose cemberut. "Kamu bukan Nyonya jadi tolong gerak cepat! Jangan membuat Tuan menunggu," sinisnya.
Ck, decak Rose masuk kembali ke dalam kamar. Menyambar satu gaun yang dilihatnya lebih punya sopan santun diantara yang lain. Kemudian menutup pintu kamarnya sebelum mengikuti si pelayan. Sampai di dapur lagi-lagi Rose dibuat takjub, ini namanya belum mati sudah masuk syurga batin gadis itu. Betapa jauh perbedaan antara rumah si miskin dan si tajir, sejauh langit dan Bumi.
"Ini kopi, air panas kamu masak sendiri. Ini tekonya, bawa saja ke ruang kerja. Seduh di sana," kata si pelayan masih jutek memandang tak senang pada Rose.
Beberapa koleksi kopi merk terkenal serta merk yang tidak dikenalnya tersedia di kotak cantik berukir kepala naga. "Biasanya Bapak suka minum yang mana?" tanya Rose.
"Semua kopi ini koleksi Tuan Pattinson, kamu pilih saja sendiri!"
Rose mengambil beberapa dari merk yang sama seperti yang diseduh sekretaris di kantor. Itu kerena ia lupa varian yang ditumpahkan nya waktu itu. "Dimana ruangan Tuan?"
"Ikut aku," kata si pelayan masih ketus.
Terserahlah, hanya sepuluh hari sabar ya Rose demi uang 1 milyar batinnya. Pelayan membawanya menaiki lift turun satu lantai. Rose masuk sendirian dengan nampan ditangannya.
Jacob sibuk dengan berkas di meja kerjanya, seolah tidak perduli dengan kehadiran Rose. Gadis itu menjerang air diam tak bersuara setelah menemukan colokan listrik. Menyeduh kopi setelah air mendidih Kemudian meletak nya di depan Jacob. "Silahkan diminum Pak Direktur," ujarnya.
"Kamu mau membakar lidahku?"
"Ha."
__ADS_1
Gak Tuan, gak Nyonya, gak pembantu sama satu paket. Tidak ada yang menunjukkan sikap bersahabat dalam hati perempuan itu kesal. "Sebelum diminum dihembus dulu kan bisa," jawab Rose. "Kopi enaknya diminum selagi hangat."
Mau gak mau Jacob mengangkat wajahnya, memandang Rose matanya menyipit.
Gleg.
Rose meneguk ludah ditatap Jacob. Tampan nian dikau Pak Direktur batinnya. Seperti mimpi rasa Rose Diana bahwa pria keren di depannya ini berstatus suaminya. Apa dia mau memakanku, ah gak mungkin. Kata Bu Wakil Direktur suaminya impoten hihi, tawa dalam hati Rose.
"Kamu hembus," kata Jacob menunjuk kopi dengan memonyongkan bibirnya.
"A?" Gadis itu terperangah. Emang dia gak bisa hembus sendiri, "Maaf Pak Direktur. Saya belum sikat gigi."
"Sikat sekarang! Di dalam ada kamar mandi." Jacob menunjuk ke pintu yang terbuka.
"Ehm," angguk Rose tidak bisa mengelak lagi. Sebenarnya gigi hanya alasan agar cepat diusir, gak taunya memperpanjang urusan.
Rose masuk ke ruangan yang ditunjuk Jacob, masih tidak bisa move on dari rasa tercengangnya melihat kamar mandi di ruangan ini bahkan lebih mewah dari kamar mandi di kamarnya. Rose telah melihat kamar mandi kantor JSP Investment, tapi ini masih lebih mewah. Padahal kamar mandi di ruangan Direktur juga mewah, hanya Rose belum pernah masuk ke dalamnya. Makanya ia terlihat seperti orang kampung masuk kota.
Terpaksalah Rose menyikat giginya lagi, menggunakan sikat yang ada disitu. Gak perduli bekas siapa paling punya Pak Direktur batinnya. Punya suami ini, hihi. Kalau dia tau dan jijik tinggal dibuang, hehe tawa gadis itu. Selesai menyikat gigi ia pun keluar.
"Minumlah," kata Jacob masih sibuk dengan berkasnya.
What! "Maaf Pak Direktur, saya tidak minum kopi malam-malam. Karena sekarang waktunya tidur," jawab Rose.
"Kamu tidak membaca isi perjanjian?"
Oh.
"Baik Pak Direktur," jawab Rose cepat. "Saya minum sekarang." Dengan cepat ia meneguk kopi, hangatnya pas. Dasar, batin Rose. Enak juga ternyata, secawan masih bisa ditolerir pikirnya. Rose takut mitos gak bisa tidur setelah minum kopi, padahal ia ingin malam ini bisa tidur. Mau istirahat sampai pagi...
"Buatkan yang baru."
A.
__ADS_1
Rose meletak gelas kopi yang telah kosong itu. "Baik Pak Direktur," jawabnya teringat dengan isi surat perjanjian. Tidak boleh membantah. Gadis itu merebus lagi air sampai mendidih kemudian menyeduh sebungkus kopi meletak nya di depan Jacob. "Silahkan Pak."
"Kamu mau membakar lidah saya."
Oh hembus, baiklah batin Rose.
Gadis itu berdiri di samping Jacob. "Buka mulutnya Pak Direktur," kata Rose sembari menyodorkan sesendok kopi setelah terlebih dahulu meniupnya dengan penuh cinta. Minumlah suamiku, kata dalam hati Rose.
Tanpa menoleh Jacob membuka mulutnya, menelan kopi yang disuap Rose padanya. Senyum pria itu mengembang. "Kopi hembusan kamu enak," ujarnya.
Ha, tawa dalam hati Rose. Dibalik sikap wibawanya ada sisi humornya juga. "Berhenti dulu kerjanya, ngapa Pak. Waktunya minum kopi," kata Rose karena ia takut silap-silap tumpah ke berkas. Bukankah dirinya juga yang nanti disalahkan.
Jacob meletakkan berkasnya, kemudian duduk bersandar. "Duduklah di sini," katanya menepuk pahanya sendiri.
A.
Rose tercengang. Mau membantah ia tak berani, dirinya sudah dikontrak untuk sepuluh hari. "Ba-baik Pak," katanya gugup.
Jacob menarik pinggangnya, Rose duduk dipangkuan pria itu dengan secawan kopi di tangannya. Perlahan menyuapi Jacob sesendok-sesendok setelah menghembusnya. Diruang ber-AC Rose keringatan, malu bercampur takut karena dibalik gaunnya ia tidak mengenakan pakaian dalam. Belum lagi jika Nyonya tiba-tiba masuk, memergoki mereka.
"Sudah Pak Direktur," ujar Rose setelah suapan terakhir.
Jacob mengambil cawan dari tangan Rose, meletak nya di meja. "Duduklah di pangkuanku dengan kaki terbuka," kata Pria itu.
Gleg.
Rose terpaku tak berkutik. "Kata Nyonya saya terlalu berkerak dan dekil. Harus perawatan dulu besok baru boleh melayani Pak Direktur," terang Rose, padahal karena ia ketakutan.
"Saya suka yang dekil seperti kamu," kata Jacob mengelus-elus paha Rose.
Matilah aku batin perempuan itu, apa dia benar-benar impoten. Bagaimana kalau ternyata, aih. Gadis itu tidak bisa menutupi gemetarnya, menyesal tadi ia tidak memakai cd yang disediakan di lemari. Gegara khawatir cd bekas makanya Rose nekad gak pakai underwear, mau tidur ini batinnya.
"Ayo duduk menghadap saya." Kata Jacob sembari menarik tali pinggang pengikat kimononya.
__ADS_1
***to be continue