Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 80


__ADS_3

Lebih baik aku kabur batin Mario gak kuat berada di dekat perempuan agresif. Masalahnya Elisa cukup menggoda nafsu dalam pandangannya. Tapi bukan hatinya, gimana itu?


"Aku ada urusan. Kalian tinggal lah disini..."


"Selama-lamanya." Elisa menyambung perkataan pria itu. "Terimakasih sayang. Aku akan menjaga rumah masa depan kita dengan baik," ucapnya kemudian.


Mario geleng kepala melihat kegigihan Elisa. Katanya hanya pura-pura suka, tapi ekspresinya menghanyutkan. Ketemu pria hidung belang, habislah dia, batin Mario. "Ck," decak pria matang itu mendelik pada Elisa.


"Hahaha." Akhirnya Rose bisa tertawa melihat raut kesal Mario.


Pria itu menggelengkan kepala. "Kalau kalian bisa memasak silahkan pakai kompornya, tapi kalau nggak! Silahkan delivery saja," tegasnya.


"Jangan khawatir. Aku tidak bisa masak sayang," jawab Elisa. "Apalagi Rose Diana. Seumur hidup, ke dapur hanya menumpang kencing. Meletak piring kotor dan baju kotor nya di ember cucian. Semua pekerjaan rumah, bibinya yang kerjakan," sambung teman Rose Diana itu.


Hah.


Rose melebarkan matanya menatap Elisa yang sangat lancar membuka aibnya.


"Bagus," kata Mario. "Jadi malam ini, tolong jaga dapurku jangan sampai kotor," sambungnya sambil berjalan ke dapur menunjuk ke pintu refrigerator. "Kalau darurat atau butuh sesuatu, hubungi nomor ini."


"Ini nomor kamu?" Tanya Elisa mengeluarkan ponselnya dengan niat mau nyimpan di kontaknya.


"Bukan," jawab Mario. "Nomor asisten rumah tangga. Pekerjaan nya sudah selesai hari ini. Besok pagi baru dia datang lagi sampai jam 5 sore kalian boleh minta tolong apa saja padanya, sebatas yang ia mampu," jelas pria itu.


"Baik sayang, jangan khawatir. Jadi nomor kamu mana?" Elisa menunggu dengan ponselnya siap-siap mengetik.


"Ada pada Devie," jawab Mario memandang Rose Diana.


Tak ayal Rose geli juga saat Mario memanggil nama barunya. Elisa bahkan langsung tertawa.


"Hahaha, baiklah Devie. Berikan aku nomor ayangku Mario, please."


Teman Rose ini tersenyum geli memandang nya. "Nanti aja," ketus Rose enggan mengeluarkan ponselnya.


Cis, dengus Elisa.


"Itu saja dulu Devie, aku tinggal ya." Mario berkata lembut, tersenyum manis pada Rose Diana.


"Uhm," angguk Rose Diana.


Elisa merengut memandang kepergian Mario yang tidak berpamitan padanya. "Jual mahal amat, sih!" Gerutu nya.


"Rose, bantu aku mendapatkan hati Mario dong," mohonnya. "Aku cinta pandangan pertama, neh!"


Wajah teman Rose itu terlihat meringis seperti mendambakan belaian seorang kekasih. Hah, aku juga desah dalam hati Rose jadi teringat Jacob. "Iya, aku mendukungmu." Kata nya pelan.


"Berikan nomornya," kata Elisa.


Hais, keluh Rose Diana terpaksa mengeluarkan ponselnya. "Oh ya..hampir lupa," katanya lagi teringat sesuatu.


"Keluar kan Ponsel baru dari dalam Map, Lis." Titah Rose.


"Oke," kata Elisa.


Mereka masih di dapur, Rose mengitari pandangannya. "Ada CCTV," ujarnya mengerling Elisa ke atas memberi kode. "Kita pindah ke kamar saja," ajaknya pelan.

__ADS_1


"Ehm," angguk Elisa. "Tapi kamar yang mana?"


Oh.


"Astaghfirullah," ucap Rose. "Bentar aku telepon..."


"Mario kan! Biar aku saja," potong Elisa mengulur tangannya.


Hm.


"Pakai ponselku atau ponsel kamu. Gak mau sekalian save nomor Mario."


"Ya udah ponselku aja. Kamu cukup kasi nomor," jawab Elisa.


"Baiklah Lisa, semoga berjodoh." Rose memberikan ponselnya pada Elisa.


”Wah, keren banget ponsel lu," seru Elisa.


"Pemberian Jacob," jawab Rose.


Oh.


Tidak ada waktu buat cemburu sedangkan ponselnya Rose yang beri. Maka dengan cepat teman Rose Diana itu mengetik nomor Mario, kemudian membuat panggilan.


"Hallo, sayang." Katanya setelah menunggu beberapa saat bunyi klik, tanda panggilan diterima.


Mario bisa menebak siapa yang menghubungi ponsel nya. "Ada apa?" Ketus pria itu.


"Kamar kita yang mana, sayang?" Tanya Elisa.


"Oke sayang. Kamu tidak keberatan kan, aku dan temanku Devie menempati kamar itu sementara," kata Elisa tidak terpengaruh dengan kekasaran Mario.


Rose geleng kepala tapi senang. Bagus juga, agar Mario berhenti mengharap dirinya yang telah sepenuhnya mencintai Jacob, dan tidak kepikiran untuk cari lain.


"Sayang pulang jama berapa?" Sambung Elisa dengan sangat fasih sebagai seorang kekasih.


"Aku tidur di Apartemen," kata Mario melembutkan nada bicaranya.


"Baiklah sayang, jumpa pagi ya. Jangan lupa save nomor ku," lanjut Elisa.


Terdengar bunyi klik, panggilan ditutup tanpa basa-basi dari sebelah Mario.


Cis, dengus Elisa.


*


Elisa membuka pintu kamar seperti yang digambarkan Mario. Tepatnya di samping Rak, kemudian masuk disusul Rose Diana. Bau wangi langsung menyeruak dari dalam kamar yang luasnya lumayan lebar. Ruangan ditata seperti kamar hotel kelas Ekslusif.


Ada Spring Bed King size, satu set sofa beserta mejanya. Ada lemari baju tanam ukuran lebar dan tinggi hampir mencapai langit-langit. Satu set meja rias dengan kaca antik, serta nakas di kiri kanan Kasur. Meski kosong namun bersih dan wangi nya itu bikin betah.


"Aih enaknya," seru Elisa seketika melompat ke kasur.


"Lisa kemarikan ponsel kamu," ujar Rose. Perempuan itu duduk di pinggir kasur.


"Oke," jawab Elisa bangun dari baringnya, duduk di samping Rose Diana.

__ADS_1


"Kamu pesan dua tiket lagi ke Jepang tujuan Hokaido di hari Senin jam yang sama dengan penerbangan ke Singapura. Untuk identitas ku, gunakan paspor samaran," kata Rose Diana.


"Oke," jawab Elisa tidak mau banyak tanya.


Pokoknya kemana Rose pergi dia ikut. Pastinya Mario juga akan mengikuti mereka, kan? Selagi dekat dengan Rose maka akan selalu ada peluang bagiku untuk menaklukan hati Mario, batin teman Rose yang udah kebelet kawin itu.


Hiiik!


Elisa mendelik melihat harga. "Mahal amat!"


"Pesan aja," kata Rose.


"Baiklah Nyonya." Dengan gemetar Elisa menekan pesanan.


*


"Tiket sudah beres. Tinggal berangkat," gumam Rose membaringkannya tubuhnya di samping Elisa. Temannya itu memeluk guling erat.


"Untuk 2 hari ini kita bersama.Tapi sebelum berangkat kita harus tinggal terpisah, Lis." Kata Rose.


"Agar Jacob tidak curiga, aku pergi dengan mu. Anak buahnya bisa saja melacak keberadaan ku melalui kenalanku," jelasnya.


"Apa kata lu, dah!" Jawab Elisa. "Apa Mario akan mengikuti kita?" Tanyanya.


"Tidak tau! Tapi dia juga punya jaringan pelacak yang gak kalah dari Jacob," jelas Rose.


"Oh Mario," desah Elisa memeluk guling sampai penyok, membayangkan memeluk pria idamannya itu.


"Kok kamu suka Mario, sih? Dolken lebih tampan," kata Rose.


"Masalahnya Dolken sangat putih seperti vampir. Aku suka kulit eksotis Mario," jelas teman Rose Diana itu.


"Mario mana eksotis, Lisa. Dia, apa ya?" Ujar Ross berpikir-pikir bagaimana menggambarkan kulit Mario.


"Iya, tapi setidaknya ada warna," sambung Elisa. "Dan Manly banget. Beruntung lu udah nikah Rose, jadi kita gak perlu rebutan."


"Hahaha," tawa Rose. "Karena tipe kita sama?"


"Ehm," angguk Elisa terbayang kulit Jacob juga mirip Mario. "Dan mereka sama-sama berbulu, pasti kuat ya, kan?" Elisa berbalik badan jadi menghadap Rose mengedip mata genit.


"Banget," jawab Rose teringat Jacob. "Tapi Jack terkontaminasi obat halu dari Maria Lili," jelas nya.


"Obat halu? Apa itu," tanya Elisa.


"Tidak tau juga sih! Tapi Jacob pernah menyinggung masalah penambah stamina gitu,...."


"Kak Rose!" Pekik suara beberapa anak kecil.


Oh tidak batin perempuan itu.


"Ha ha han....tu! Caspeeeeeeeeer!"


Jerit Elisa membuka mata lebar melihat 5 bayangan Balita muncul di depan mereka lalu perempuan itu kemudahan pingsan...


"Oh no," keluh Rose menepuk dahinya.

__ADS_1


***to be continued


__ADS_2