
"Kita di sini saja lebih adem," kata Lara Dutta. "Nanti kalau Mario menelepon baru kita ke Kosan jelek itu." Sambung mulut kecilnya dengan lancar.
Heg.
Rose terhenyak. Dirinya merasa terhina mendengar ucapan Balita songong tapi yah memang benar, sih. "Dasar bocil!" Sergahnya.
"Kak R mau packing barang sedikit-sedikit, Dutta. Yang membuat bingung lagi, kemana mau melangsir semua barang-barang itu."
"Hm," gumam Lara Sebi berpikir-pikir.
"Ayo kita berbaring sambil berpikir," kata Lara Dutta segera menghempaskan dirinya di kasur yang empuk.
"Cis," dengus Rose terpaksa menurut. Kalau boleh jujur, memang lebih suka di kamar Jacob yang wangi daripada di kamar kosannya yang berbau aneh.
Masih ada waktu sekian 1 jam tiga puluh menit menunggu Mario. Rose Diana terbaring dipeluk dua Balita manja.
"Kemana kira-kira baiknya Kak R memindahkan barang-barang di kosan itu? Kalian kasi ide dong," kata Rose melirik kedua Balita terdiam sepertinya mengantuk.
"Dutta, coba hubungi Moni apa dia bisa memberi satu rumah di proyek tahap 1. Kan ada beberapa yang tidak berpenghuni," titah Lara Sebi.
"Tentu saja boleh," jawab Baby Moni tiba-tiba saja muncul dengan senyum lebar. Tidak ketinggalan Baby Choi dan Lara Sevi. "Hihihi," tawa mereka berbarengan.
"Yah, kenapa kalian kemari!" Sergah Lara Sebi.
"Nena sedang meeting dengan Pepa Arjit. Tenang saja," jelas Lara Sevi sembari memberi Lara Sebi dan Dutta masing-masing satu botol susu hangat.
"Nanti Samsir akan Miss call jika sudah selesai," lanjut Baby Choi sambil menyedot botol susu di tangannya. Ikut berbaring di samping Rose Diana. Disusul Lara Sevi dan Baby Moni.
Segera saja Lara Sebi dan Dutta menyedot ujung sedotan botol susu masing-masing. "Terimakasih Kakak-kakak," ucap Lara Sebi menyedot susu seperti orang kehausan berat.
Rose menatap satu persatu wajah Balita yang serentak menyedot susu dari botol masing-masing. Betapa bahagianya punya anak-anak tampan dan cantik-cantik. Semoga anakku juga tampan dan cantik seperti aku dan Jacob, hehe. Senyum dalam hati Rose Diana.
"Jadi kalian memakai alasan ini makanya Samsir memberi ijin teleportasi kemari," sindir Rose.
"Hehehehe," tawa Baby Moni si punya usul. "Kak R tau aja" ujarnya senang dengan kecerdasan otaknya.
"Kak R jangan khawatir mengenai barang rongsokan itu. Bagaimana kalau infakkan saja pada penghuni setelah Kak R nanti. Cukup ambil pakaian saja jika Kak R khawatir disalah gunakan oleh oknum tidak bertanggungjawab," jelas Baby Choi.
"Uhm," geleng Rose tidak setuju. "Kak R mau ambil semua. Karena Kak R rencana akan balik kemari lagi setelah bayi lahir. Dan itu bukan rongsokan ya, Bayi-bayi! Kak R baru membelinya dua bulan yang lalu!" Sergah nya.
"Hehehe," tawa Baby Choi. "Kan masih lama," tukasnya. "Apa Kak R tidak mau lanjut kuliah di Jepang. Jika menggunakan identitas samaran gak mungkin ketahuan Paman J, kan." Lanjutnya.
Hm, benar juga dalam hati Rose. Lulusan luar negri lebih baik daripada dalam negeri. "Kak R setuju. Bisakah diatur seperti itu?"
"Serahkan saja pada Paman Dewa. Dia akan mengusahakan nya," jawab Baby Choi.
"Tapi ngomong-ngomong, apa kalian akan memberitahu kedatangan Kak R pada si Paman Dewa itu?"
"Hei! Tentu saja itu akan menjadi kejutan," kata Baby Moni.
__ADS_1
"Hm," gumam Rose. "Sebaiknya urus yang penting dulu. Barang Kak R, bagaimana cara memindahkan nya?"
"Biar itu jadi urusan kita. Kak R tinggal terima bersih siap-siap berangkat," jelas Baby Moni.
Senyum Rose melebar. "Amalan apa yang Kak R telah lakukan sehingga bisa bertemu dengan kalian Bayi-bayi ajaib," gumamnya.
"Berterimakasih lah pada Kak Kiren karena memiliki wajah seperti Kak R," kata Lara Sevi.
"Kak R senang berteman dengan kami?" Tanyanya Baby Choi.
"Tentu saja, sayang." Rose mengecup di kening Dutta. Balita paling dekat yang dapat dijangkau oleh bibirnya.
"Aku," kata yang lain pada cemburu.
Rose pun mencium Mereka satu persatu.
Drrt dirrt.. drrt.
Ponselnya berbunyi, tidak ada nama penelepon. Rose galau mau angkat atau tidak. "Hallo." Akhirnya ia memberanikan diri, siapa tau penting.
"Eh! Lu dimana," sapa suara yang dikenalnya.
"Ema?"
"Iye," jawab yang di seberang. "Neh! Nomor Ponsel baru lu," jelasnya.
Oh.
"Emang sengaja gua cuti. Semalam kecapean dihajar si Om, hihi."
Cis, dasar!
"Jadi sekarang kamu dimana. Sebenarnya aku mau nyusul ke JSP saat kamu pulang kerja, nanti."
"Di Mall. Mengantar si Om ke stasiun kereta mau keluar kota dia," jawab Ema. "Padahal harusnya semalam tuh, giliran istri pertama tapi dia mampir ke aku dulu, hahaha." Tawa perempuan itu senang.
Cis, dengus Rose. "Kamu servis jangan terlalu enak, dong. Kasian istri yang lain."
"Aku juga keenakan, mau bagaimana lagi. Itu juga kalau gak dipaksa pergi, si Om masih enggan bergerak. Ya dah, ah! Kok malah ngomongin si Om. Sekarang aja kamu kemari, bagaimana?"
Hm.
Rose memandang ke 5 Balita yang juga memandangnya. Susu di botol telah kosong berpindah semua ke perut mereka. "Aku sedang di awasi, Ema. Bisa tidak kamu menunggu 1 jam lagi?"
"Tidak masalah. Aku bisa nonton di 21."
"Tunggu ya."
"Oke," jawab Ema.
__ADS_1
Panggilan ditutup. Rose menyambung ke nomor Mario. "Hallo," jawab pria itu.
"Sudah sampai mana?"
"Ini sudah dekat. Baru aku mau menghubungi kamu," kata Mario.
"Cepat juga kalian buat paspornya?"
"Itu karena kamu info lebih awal makanya langsung aku minta Chan standby," jelas Mario.
Oh.
"Oke, baiklah. Aku beritahu kamu, Mario. Bodyguard suamiku yang mengikuti kita malam itu mengawasiku di depan gang," jelas Rose.
"Terus?" Tanya Mario.
"Semoga dia tidak menahan ku menaiki taksimu. Hanya, aku tidak mau dia mengikuti kita."
Tidak ada suara dari seberang, Mario terdiam sesaat. "Mereka telah menandai taksi ini tapi jangan khawatir. Aku akan meminta taksi lain yang menjemput kamu. Meski kemungkinan bodyguard wanita itu mengikuti. Jangan khawatir supir yang ini juga ahli dalam menghilangkan jejak," lanjut Mario.
"Begitukah?" Tanya Rose.
"Hm...kamu standby saja. Setelah temanku sampai aku akan memberitahu mu untuk keluar menemuinya."
"Kalian seperti drama Taksi korea. Keren abis," puji Rose.
"Terimakasih atas pujiannya," ucap Mario.
"Aku juga Terimakasih," balas Rose senang dirinya bertemu orang-orang baik yang mendukungnya. "Aku tunggu, ya."
Baik," kata Mario.
Panggilan ditutup. "Adik-adik, Kak R harus pergi sekarang. Apa kalian masih ingin disini?"
"Ikut," jawab serentak ke 5 Balita.
"Ayo, antar Kak R kalau begitu."
"Kak R kan tadi bisa sendiri, cobalah." Kata Baby Choi.
Cis, dengus Rose. Perempuan itu ragu-ragu memegang kalung di lehernya. "Kak R mau ke kamar kosan sekarang," ujarnya sambil menutup mata.
"Hahahaha," tawa ke 5 Balita melihat raut Rose yang berkerut ketakutan.
"Ayo. Buka matanya," kata Baby Choi.
"Sudah pindah belum?"
"Lihat aja sendiri," sambung Lara Sevi.
__ADS_1
***to be continued.