Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 71


__ADS_3

Pria itu mencium perempuannya dengan lembut. Kerinduannya yang tadi tertahan oleh pengacau-pengacau cilik harus segera dituntaskan sebelum berangkat ke kantor.


"Jacob, tahan Rose Diana. "Kamu harus tepat janji. Hanya jika aku tidak hamil baru kamu boleh melakukan program dengan Maria Lili. Dan segera melepaskan aku pergi dari kehidupanmu."


"Tidak ada program dengan Maria Lili. Hanya ada kau dan aku serta anak kita yang ada di dalam sini," ujar Jacob menyentuh perut rata Rose Diana.


"Jangan senang dulu," tukas Rose Diana. "Meski sedikit aku baru saja datang bulan, ingat. Itu menandakan tidak ada embrio yang terbentuk," jelasnya.


"Sekarang sedang tidak datang bulan. Ayo kita bikin anak lagi," kata Jacob serta merta membuka selimut penutup tubuh Rose Diana.


"What!"


Pekik pria itu melihat bagian tengah cd Rose Diana semerah cabe.


Oh.


Bahkan Rose Diana terkejut. Ia tidak merasa ada keluarnya sesuatu dari pintu rahimnya, bagaimana bisa. Dasar Balita nakal dalam hati Rose antara sedih dan kecewa. Ia juga kangen penyatuan dengan Jacob. Itu pun gak boleh, hah.


"Maaf," ucap Rose Diana benar-benar kecewa dari hati yang paling dalam.


"Oh tidak," keluh Jacob terhempas di kasur.


"Memang biasa seperti itu. Berhenti sebentar, kemudian datang lagi karena masih ada telur expired yang belum jatuh," jelasnya. "Kita mengistilahkan nya macet," sambung perempuan itu.


"Macet! Emang jalanan ibukota, macet!" Ketus Jacob kesal.


Hehe, tawa Rose geli dalam hati. Percayalah Jacob aku juga kesal batinnya.


"Sekarang kamu bebas melakukan program dengan siapa saja. Biarkan aku pulang ke rumah paman ,oke. Hampir sebulan aku belum bertemu mereka. Aku menunggu kata talak darimu," tegas Rose Diana segera bangkit dari kasur yang segera ditahan oleh Jacob.


"Kamu benar-benar ingin berpisah dari aku?" Tanyanya merenung Rose.

__ADS_1


Hah, desah dalam hati Rose Diana. "Aku tidak hamil, Jacob. Tidak ada alasan kamu menahan aku. Maria Lili sedang mendesak kamu melakukan program dengannya. Maka selesaikan dulu urusan kalian baru datang lagi padaku."


"Rose Diana, sekali kamu pergi tidak ada kesempatan ke 2 kembali padaku. Aku beri tahu kamu," tegas Jacob sengaja mengancam.


Rose meneguk ludah, apakah Jacob serius dengan kata-katanya. Tapi aku tidak mau berkongsi suami dengan Maria Lili. Ya sudahlah. Kalau jodoh pasti bertemu lagi. Tapi kenapa pula haid ini tiba-tiba datang, kesalnya.


"Terserah kamu saja. Asalkan kamu jelaskan statusku sehingga aku bisa melanjutkan hidupku tanpa ada ikatan yang masih tersangkut denganmu." Rose Diana menyentak tangannya segera turun dari kasur.


Jacob memandang Rose menghilang di balik pintu kamar mandi. "Kenapa saat berurusan dengan perempuan aku tidak pernah berhasil," keluhnya.


*


Keluar dari kamar mandi melihat Jacob masih berbaring di kasur. "Apa kamu tidak ke kantor hari ini?" Tanya Rose sembari melangkah ke wardrobe.


"Aku tidak mau berpisah denganmu Rose Diana, ingat itu. Selamanya kita suami istri," ujar Pria itu bangun dari baringnya gantian masuk ke kamar mandi.


Rose bahagia mendengarnya namun ia harus pergi dulu sementara rumah tangga Jacob belum ada kejelasan. Menjadi orang ke 3 diantara dua orang yang tarik ulur, aku tidak mau tekadnya sudah bulat. Pergi ke tempat yang direkomendasikan Balita-balita padanya agar Maria Lili atau Jacob tidak bisa menemukan dirinya.


Buru-buru Rose Diana berpakaian, kemudian duduk di sofa menikmati sarapan yang diletakkan Mawar di atas meja sofa. Makan perlahan sambil menunggu Jacob selesai mandi.


Jacob dengan santai berjalan ke lemari pakaian, handuk di kepala dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambutnya.


Hm, aku tidak bisa jadi istri yang berbakti. Menyiapkan pakai suami pun tidak bisa, dalam hati Rose. "Aku sarapan duluan," jerit nya ke arah wardrobe dimana Jacob memilih sendiri pakaian yang ingin dikenakannya.


"Makan yang banyak, sayang. Aku mencintaimu," jawab Jacob.


Hampir-hampir Rose tersedak. "Uhuk uhuk." Perempuan itu terbatuk-batuk.


Jacob menarik ujung bibirnya. Pria itu yakin Rose mencintainya sejak malam pertama mereka di Kepulauan Kalimantan. Pria itu rindu keagresifan Rose Diana tapi mau bagaimana lagi, bulan sialan itu datang di saat yang tepat, hah. Keluh Jacob.


"Jacob, karena aku datang bulan dan kamu sudah menyetujui aku resign. Biarkan aku tinggal di kosan," ujar Rose Diana lagi.

__ADS_1


Hum, gumam Jacob. "Mawar akan mengantar kamu," kata pria itu sembari mengenakan pakaiannya.


"Kenapa tidak biarkan aku pergi sendiri."


"Kamu masih istriku. Tanggung jawabku melindungimu," ujar Jacob.


"Aku bisa menjaga diriku. Apa kamu khawatir Maria Lili akan mencelakai ku?"


Jacob berjalan ke arah Rose Diana di sofa membawa sepatu pantofel nya. Duduk di samping perempuan itu kemudian mengenakan kaos kakinya. "Bukan karena itu, juga." Katanya. "Sebagai istri Presiden Direktur kamu berhak mendapat pengawalan nomor satu."


"Jacob tolonglah jangan tarik ulur denganku. Hari ini akan menjadi hari terakhir kita bersama. Aku ingin tinggal di kosan sementara menunggu waktu kuliah tiba," jelas Rose. "Putuskan segera ikatan ini, jangan menggantung hubungan yang jelas-jelas telah berakhir secara akta perjanjian."


"Ehm." Jacob hanya bergumam. Merasa Rose Diana serius dengan kata-katanya. Selesai merapikan dirinya, pria itu membuka mulutnya. "Sekarang suapi aku," ujarnya.


Cis, dengus Rose.


Dengan senang hati perempuan itu menyuapi Jacob. Setidaknya ada yang bisa ia lakukan untuk berbakti pada suami. Untuk terakhir kali..


Namun baru 2 suap. "Sudahlah," ujar Jacob seperti orang tidak berselera. Meneguk sisa minuman orange yang ada di gelas Rose Diana. "Hanya seminggu waktu kamu berpikir. Jika benar-benar ingin putus, ingat Rose Diana! Tidak ada jalan kembali bagi kita." Jacob berkata tegas sembari berdiri dari duduknya.


Hm, desah Rose sedih. Berakhir sudah ikatan kita dalam hatinya. Tidak ada ciuman selamat tinggal, Jacob pergi begitu saja meninggalkan dirinya sendirian di kamar yang mewah.


*


Rose diantar Mawar ke kosanya. "Terimakasih kasih Mawar," ucap perempuan itu sebelum turun dari mobil mewah yang mungkin tidak akan pernah ia naiki setelah ini.


"Ini sudah termasuk tugas Nona. Jangan sungkan," jawab Bodyguard itu.


"Terimakasih juga selama ini kamu sudah menemaniku, Mawar. Untuk seterunya jangan berkeliaran di sekitarku. Aku bukan istri Jacob lagi," kata Rose Diana. Ada kesedihan terlihat di wajahnya.


Hm, senyum Mawar. "Tidak semudah itu bagi anda lepas dari Presiden Direktur," ujarnya. "Anda sangat beruntung mendapatkan hati beliau jadi jangan perdulikan yang lain. Tepuk dada tanya selera, Nona. Jika anda sedih berpisah dengan Pak Direktur, jangan putuskan ikatan. Urusan Nyonya Mary ada kita yang akan menjaga anda."

__ADS_1


Mudah berkata tapi tidak semudah melakukan. "Baiklah aku turun sekarang," pamit Rose Diana.


***to be continued.


__ADS_2