
Astaga!
Biasa di kantin bertiga jadi kelihatan mencolok karena aku libur, hais. Besok aku harus masuk kerja. Semoga Jacob mengijinkan harap dalam hati Rose.
"Itu hanya kebetulan Ema. Apa kau tau kalau Pak Direktur mulai senin gak masuk kantor sedangkan aku baru hari ini," terang Rose. "Jadi gak ada hubungannya. Kemarin aku pulang ke rumah kampung. Terlambat bangun kerena ngobrol sampai pagi hehe," jawab Rose terpaksa bohong lagi.
Cis, dengus Ema. "Aku cemburu. Kamu anak baru sering libur. Baru sebulan sudah naik jabatan jadi asisten Direktur."
Rose dapat membayangkan wajahnya yang cemberut lucu itu, hais. "Lebih enak gabung dengan kalian Ema. Bebas gak di marah-marah. Kamu gak tau aja sifat jelek Pak Direktur yang temperamen. Kalau sudah marah wajahnya mengerikan. Seram kayak hantu. Kamu tidak ingat tentang bibirku yang berdarah ketimpa berkas! Itu karena Direktur gak berhenti mengomel. Kerja jadi serba salah," kata Rose membesar-besarkan semoga Ema berhenti mencurigainya.
"Oh, apa suami kamu gak keberatan kamu kerja di kota sementara dia di kampung?"
Oh, jadi Ema pikir suamiku orang kampung..baiklah. "Tentu saja dia protes," jawab Rose. "Aku kerja hanya sampai tiga bulan ke depan. Wakil Manajer sudah acc surat pengunduran diriku," jelas perempuan itu apa adanya.
"Yeah. Kita gak bisa berteman lagi dong," ujar Ema sedih.
"Kita masih bisa berteman. Kan ada sosmed. Uhm, aku boleh minta tolong Ema," mohon Rose mengalihkan topik pembicaraan agar tidak terlalu bertele-tele.
"Apa?"
"Kamu belikan testpack lagi tapi jangan dari Koperasi. Maksudnya kamu yang beli agar tidak ketahuan suamiku kalau aku beli sendiri," jelas Rose. "Aku transfer uang sekarang sekalian untuk Bu Leader. "Testpack, besok masuk kerja aku ambil."
"Iya," saut Ema setuju. "Nanti sekalian aku bersihkan gosip tentang kamu. Kalau aku yang mau testpack kemarin itu tapi malu makanya nyuruh kamu, gitu. Oke gak?" Usul Ema.
"Oh, Ema. Kamu kok baik banget sih," ujar Rose terharu. "Beli beberapa ya. Kira-kira sepuluh. Ntar aku transfer uang lebih."
"Oke, siap."
"Thanks Ema. Sudah dulu ya," pamit Rose menutup panggilan. Takut Jacob bangun tidak menemukan dirinya bisa panjang urusan. "Aaaaaa!" Seketika menjerit melihat bayangan di depan pintu.
"Temperamen! Wajah menyeramkan seperti hantu!" Sindir Jacob. Pria itu berdiri di pintu melipat tangan di dada. Mana cuma pake segitiga pengaman doang, astaga.
"Hehe Maaf," ucap Rose tersenyum canggung. Matilah saya jika ternyata Jacob mendengar semua pembicaraanku dengan Ema batin perempuan itu.
"Kemari," panggil Jacob.
"Ehm," angguk Rose perlahan melangkah menghampirinya serta merta ia diangkat ala bride. Jacob membawanya ke kasur membaringkannya dengan lembut. Kemudian ikut berbaring menyamping menghadap Rose. Tidak berani menimpanya seperti biasa. "Untuk apa testpack banyak-banyak, Rose Diana?" Tanya pria itu memandang sayu perempuannya.
__ADS_1
Rose memicingkan matanya tak mau memandang Jacob. Diam bergeming. Tidak ada yang bisa dirahasiakan dari pria ini batinnya kesal.
"Rose, kalau satu perusahaan saja tau kamu beli testpack di Koperasi Perusahaanku sendiri. Bagaimana bisa aku tidak tau," kata Jacob mengecup kening kekasihnya. "Ayo jawab aku, Rose. Apa kau hamil?" Tanya pria itu lembut membelai wajah perempuannya.
Hais.
Serta-merta Rose membuka mata. "Jacob! Perempuan datang bulan bagaimana bisa dikatakan hamil," bantahnya kencang. Ludahnya sampai muncrat ke wajah Jacob. "Paman dan Bibi tidak tau aku menikah kontrak. Apa kata mereka jika tiba-tiba aku hamil," lanjut Rose merengut. "Aku perlu memastikan jika seandainya telat datang bulan bisa segera melakukan pencegahan!"
Hah, sampai segitu ketakutannya mengandung anakku batin Jacob. Jadi bukan semata-mata karena diancam Maria Lili. Pria itu bangun membuka laci mengeluarkan satu benda yang dikenal Rose. "Apa maksud dua garis ini?" Katanya mengambil duduk di sisi tempat tidur.
Gleg.
Rose meneguk ludah susah payah. Bukankah sudah dibuang ke tong sampah dalam hatinya tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. "Mana ku tau," ketusnya bohong yang dapat dibaca jelas oleh Jacob.
Perempuan nakal dalam hati pria itu menyeringai. "Mawar menemukan nya di tong sampah kamar mandi. Kalau bukan punyamu apa itu artinya punyaku?"
Fruft.
Rose hampir tertawa tak kuasa menahan geli mendengar kekonyolan pertanyaan Jacob. Pria mana yang tes kehamilan pake testpack batinnya. "Sayang...kemarin dengan jelas kamu melihat cd ku berdarah, kan!"
"Itu kemarin. Sekarang biar aku cek ulang!"
"Itu karena barusan aku ganti!"
"Bantah terus," kata Jacob serta merta melebarkan kaki Rose dengan paha terangkat. Pemandangan indah terpampang nyata di depan mata. Seketika anakondanya memanjang dan membengkak. Jacob mendekatkan wajahnya ke lubang belut. Membuka bibirnya lebih lebar guna melihat pintu liang apakah ada darah yang mengalir. Liurnya menetes. "Dasar pembohong!" Hm, senyum pria itu melebar.
"Akh," desah Rose menggelinjang saat Jacob membenamkan wajahnya. Seperti kucing garong menjilati bibir bawahnya. "Jacob please."
"Nikmati saja sayang. Ini hadiah untuk kehadirannya," desis pria itu.
"Oh tidak," pekik Rose tak kuasa menahan kencing.
Jacob menampungnya dengan suka cita. Menjilat bersih air kenikmatan itu dengan sangat berselera. "Aku ingin menyapa," seraknya tertahan.
"Oh no," ujar Rose.
"Oh yes," saut Jacob.
__ADS_1
Penyatuan tak dapat dihindari. Pria itu menyundul perlahan dan hati-hati. Menjaga agar embrio yang baru terbentuk tidak terjejas oleh goncangan.
Meski rindunya terobati namun ada ganjalan di hati, aih...aku gak mau hamil jerit batin Rose.
*
"Ih, aku benci padamu." Rose menepuk di pundak Jacob.
"Bohong," jawab pria itu tersenyum lebar.
"Kalian yang pembohong! Katanya mandul katanya impoten. Apaan," Marah Rose.
"Apaan kamu jadi keenakan," ledek Jacob senang melihat ekspresi Rose Diana. Kemanjaannya membangunkan gairah. Pria itu memeluk erat perempuan merajuk yang duduk di pangkuannya itu.
"Huuuuuu," tangis Rose benar-benar kesal.
"Seandainya hamil tidak apa-apa Rose Diana sayaaaaang. Kamu jangan khawatir," kata Jacob. "Ayah bayimu ini akan siaga. Menjagamu serta bayi kita tidak akan kekurangan sesuatu apapun," desisnya membelai punggung perempuan di pelukannya.
"Huuuuuu," tangis Rose belum hilang rasa kesal.
"Kita ke dokter setelah ini. Aku akan membuat janji," ujar Jacob sumringah. Saking senangnya langsung lupa problemnya dengan Maria Lili.
Hah, desah Rose pasrah mendongak pada pria itu. "Tidak ada perjanjian hamil, Jacob. Sekalian minta dokter menggugurkannya."
Pletak.
"Aduh!" Pekik Rose keningnya digetok kuat oleh Jacob.
"Aku masih harus kuliah you know," ketus Rose marah. "Kamu lihat sendiri kemarin aku keluar darah! Otomatis gugur," jelasnya. "Ngerti gak!"
Hum.
Jacob merenung perempuan di pelukannya. "Untuk kepastian kita serahkan pada ahlinya. Kalau ternyata positif tidak perlu kuliah sampai melahirkan," ujarnya masih berharap bahwa garis dua itu lebih kuat ketimbang darah yang keluar sedikit.
"Aku akan membayarmu untuk setahun penuh. Setelah melahirkan bonus sepuluh kali lipat akan kau dapatkan," lanjutnya sembari mengusap air mata di wajah Rose. "Bukankah kamu setuju dikontrak hanya untuk uang," lanjut Jacob kemudian meraup bibir perempuan itu penuh nafsu. Air mata pria itu menggenang menahan haru.
Hanya untuk uang katamu! Rose tersinggung. Aku mencintaimu Jacoooob, jerit dalam hatinya mengimbangi keganasan pria sialan yang menciumnya.
__ADS_1
***to be continued.