
Sepertinya memang si pengantar Pizza, masalahnya Rose malu mengakui telah mentraktir seluruh karyawan klining servis lantai 45. "Biarkan aku telpon balik. Siapa tau penting," mohonnya.
Jacob mengira bahwa Rose masih punya hati pada Dolken makanya ia cemburu. Tapi suara Dolken ia familiar lalu siapa pria yang telah menghubungi wanitanya? "Kamu tidak takut menelpon laki-laki di depanku," kesalnya tak percaya bahwa ternyata Rose berteman dengan banyak laki-laki.
Rose berkacak pinggang balas melotot pada Jacob, kenapa harus takut dalam hatinya. "Dalam kontrak kerja tidak melarang karyawan mengangkat panggilan telpon dalam batas wajar. Berikan hape," paksanya mencoba meraih dari tangan Jacob dengan cepat pula dihalang oleh pria itu dengan menyembunyikan ke belakang tubuhnya. Hampir-hampir Rose terpeluk Jacob jika ia tidak cepat menahan tubuhnya. "Berikan ponselku Jacob," mohon Rose hampir keluar air mata.
"Katakan siapa dia?" Pria itu bersikeras.
"Makanya lihat dulu siapa nama si pemanggil. Astagfirullah," ucap Rose. Kanapa Jacob kekanakan sekali seperti orang pertama jatuh cinta. "Memangnya sedekat apa hubungan kita sehingga semua-semua kamu mau tau tentang urusanku!"
Hah, Jacob terhenyak. "Sedekat apa katamu! Jika kita su.., hah." Gak tahan pria itu meraih tengkuk Rose mencium bibir gadis itu kencang, menyedotnya dalam. Sudah tidak perduli lagi dengan kedua bodyguard yang seketika buang muka.
Akh!
Rose meronta berusaha mendorong Jacob, namun pria itu semakin erat memeluk pinggangnya. Akhirnya ia pasrah dari pada berontak bisa lepas nih bibir batinnya. Ini juga sudah asin bau darah kena gigitan, akh! Rose pasrah membalas ciuman tak kalah hot mengimbangi ciuman Jacob. Akhirnya terlepas juga setelah kedua orang kehabisan udara.
Jacob mengusap bibirnya yang basah menyeringai pada Rose. Hmmm, dari tadi sudah ditahan-tahan batinnya. "Hanya sekedar menikmati momen," katanya sinis.
"Cis, eh mamak kau!" Pekik Rose kaget telepon di meja Jacob tiba-tiba berdering kencang.
Pak Direktur yang lagi cemburu itu menekan speaker dengan kasar. "Hallo Pak Jack. Bisa bicara dengan Rose Diana?" Terdengar suara pria. "Lagi!" Pekik Jacob.
Pang!
Dengan kesal melempar telepon meja tak bersalah seketika terbang melayang hancur berantakan.
Astaga!
Semua yang bernyawa yang ada di ruangan Direktur itu terkejut. Termasuk Jacob sendiri. "Bisa kamu jelaskan kenapa sampai Sekuriti juga mencari kamu?"
Dasar stress dalam hati Rose. "Kenapa tadi gak nanya. Barang tidak bersalah kamu lempar sampai hancur," jawabnya menahan marah.
Hah! Jacob menghembus nafas kasar. Sepertinya kamu minta dimasuki bertubi-tubi batinnya geram. Tunggulah kau...
Tok tok tok. Pintu di ketuk.
__ADS_1
Bear membukanya wajah Novi muncul di depan pintu. "Rose! Pengantar Pizza menunggu tanda tangan kamu sekarang di gardu satpam," katanya.
Ha!
Jacob naik darah tinggi. "Kenapa pengantar Pizza mau tanda tangan kamu?" Pria itu menengking Rose.
Gadis itu terjengkit kaget. "Bukan urusan Pak Direktur! Sekarang jam istirahat saya...bye," ujar Rose segera berlari ke pintu melewati Novi dan Bear.
Gleg. Ternyata ada Maria Lili serta Dolken yang berdiri tak jauh dari Novi. Yeah, kedua orang itu bergegas ke ruangan Jacob karena penasaran pada apa yang menyebabkan kehebohan di ruangan Direktur sampai gardu satpam JSP investment.
Ha, gadis nakal! Jacob tak percaya dirinya diabaikan oleh seorang Klining servis dengan cepat menyusul Rose.
Dengan cepat pula ditahan oleh Maria Lili. "Jangan coba-coba!" Tegas wanita itu. "Kalau kamu sudah putus urat malu karena perempuan itu, aku masih punya. Kamu suamiku, orang nomor satu di gedung ini jadi tolong jaga sikapmu."
Ck, decak Jacob mengurungkan niatnya. Masuk kembali ke ruangannya membuka layar monitor selebar meja bilyard. Terlihat gambar-gambar dari CCTV seluruh gedung, Pak Direktur itu mencari keberadaan Rose. Matanya melebar melihat di gardu satpam seorang pria berseragam membawa ber kotak-kotak pizza.
"Untuk apa dia memesan banyak pizza?" tanya Jacob pelan seolah tidak butuh ada orang yang memberinya jawaban. "Dasar karyawan tidak tau aturan," gerutunya.
Di CCTV terlihat juga Rose berdiri di depan lift lantai 45 dengan satu karyawan seragam office girl. "Pak Satpam menelepon extension CS," katanya.
"Gua temanin lu," ujar Ema.
"Gue ikut," kata Lesty mendekati mereka. Ia sudah niat mau jadi teman Rose Diana jadi harus mendekatkan diri seperti Ema.
Beberapa klining servis lantai 45 terlihat menunggu di bagian gang masuk ruangan Loker. Karena memang sudah lewat jam istirahat sekitar 5 menit, hampir-hampir mereka beli makanan di kantin. Beruntung Rose cepat keluar.
"Sabar ya," kata Rose Diana pada mereka. Saat pintu lift terbuka bertiga orang masuk menekan lantai lobby.
"Kenapa bibir lo berdarah, Rose?" Tanya Lesty, Ema menyikut lengannya. Jangan kepo itulah maksudnya.
Wajah Rose memerah menahan malu. "Ah..tadi ketimpa tumpukan berkas," jawabnya. Jadi kesal teringat perlakuan kasar Jacob padanya.
"Yang tadi dibawa Soleh dan Memed itu ya," kata Ema basa basi meski dirinya ragu. Dan memang ia melihat karyawan gudang bolak-balik naik lantai 45 membawa berkas beberapa tumpukan besar.
"Benar Ema. Hanya aku tidak tau nama mereka," jawab Rose.
__ADS_1
"Ciyus?" Tanya Lesty mendekatkan wajahnya ke bibir Rose. "E ehm," geleng nya. "Ini mah kayak dicipok paksa."
"Hahaha," mau gak mau Ema tertawa. Si kunyuk Lesty emang gak ada akhlak.
Rose tak berkutik tapi cari mati namanya kalau ia berkata jujur. "Ciyus Lesty. Siapa yang berani nyipok gua di ruangan Direktur?"
"Pak Direktur sendiri," jawab Lesty cepat. "Aduh!" Pekiknya cepat pula karena seketika keningnya dijentik.
"Jangan asbun meski punya nyawa sembilan," ujar Rose.
"Rasain lu," cebik Ema puas. Seyogianya ia juga kesal dengan kekepoan Lesty pada masalah pribadinya.
Ck, Lesty cemberut menggosok keningnya yang tidak terlalu sakit kerena memang Rose menjentik nya pelan. Hanya harga dirinya jatuh di depan Ema itu lebih menyakitkan.
Ting!
Akhirnya sampai Lobby pintu lift terbuka, mereka bertiga lomba lari ke gardu Satpam. "Maaf ya bang," ucap Rose pada pengantar pizza.
”Aduh Dek. Hampir abang bunuh diri kalau Adek gak turun," kata si abang Pizza.
"Lebay lu," cebik Lesty.
"Sekiranya boleh diwakilkan, ya kan. Kenapa nunggu saya turun tanda tangan. Sudah lunas ini," kata Rose.
"Abang takut salah kirim ke orang yang salah dek," alasan delivery man. "Gambar profil adek cakep banget dan ternyata aslinya lebih cantik."
"Yeeee!" Marah Lesty. "Masih sempat lu gombal sementara kita sudah lapar."
"Namanya juga usaha hehe," tawa Deliveri man
"Ya dah, neh." Selesai tanda tangan Rose memberi tip sekedarnya.
"Aduh makasih adek cantik. Nomor Abang disimpan ya," cengir nya.
"Sana lu pergi hambus!" Lesty cemburu kemudian mengambil seikat kotak pizza. Kemudian Ema membawa satu ikat. Karena semua ada tiga ikat beserta bonus-bonusnya bagian Rose membawa seikat.
__ADS_1
***to be continue.