
"Anak-anak kenapa muncul tiba-tiba!" Marah Rose. "Bikin kaget saja!"
"Hehehe," tawa ke 5 Balita kembar. "Cepat atau lambat Kak L juga harus diberitahu, kan!" Kata Baby Choi.
Kini wujud mereka telah nyata 3 dimensi, tidak seperti tadi bayang-bayang 2 dimensi. Bagaimana Elisa gak pingsan melihatnya.
"Cis, tidak bisakah kalian muncul setelah sampai di Jepang saja. Datang seperti manusia normal! Naik pesawat," ketus Rose.
"Bisa tapi itu nanti. Sekarang aku kangen berat sama Kak R," kata Lara Dutta minta digendong oleh Rose.
Aih.
Rose Diana menyambut uluran tangan Dutta sembari membawa Balita itu ke pangkuan nya. "Ini nasib teman Kak R bagaimana. Cepat bangunkan adik-adik," pinta Rose Diana.
"Biar saja lah dia tidur. Sekarang jam 21.00wib waktunya tidur, kan!" Kata Lara Sevi.
Aku akan menggeser nya ke pinggir," ujar Baby Choi mengarahkan jari telunjuknya pada Elisa kemudian komat-kamit membaca mantra. Seketika teman Rose itu pindah sendiri dengan mata tertutup, merangkak di kasur.
"Hahaha," tawa mereka geli melihat Elisa mirip seperti Zombi mayat hidup.
Mereka pun ikut berbaring di atas kasur, susun bandeng. Dengan posisi Rose di tengah dikelilingi ke 5 Balita. Ternyata agak sempit, dengan sekali tunjuk tiba-tiba Elisa telah berpindah ke Sofa.
Oh tidak, keluh dalam hati Rose Diana. "Sepertinya, bagi kalian peraturan itu dibuat untuk dilanggar, ya." marah nya.
Hehe," tawa Baby Moni karena dirinya yang telah melempar teman Rose Diana itu ke sofa.
"Dan sepertinya Nena tidak tau kalian menghilang," sambung Rose.
"Nena bersama Paman Jack tanda tangan kontrak. Setelah selesai makan malam, kami pamit saja mau istirahat ke kamar Papa Bram."
"Padahal tujuannya kemari," sambung Rose dengan mudah bisa menebak akal bulus Balita-balita cute. "Kak R sudah pesan tiket hari Senin seperti kata Choi," lanjutnya agar Balita juga mempersiapkan diri.
"Oke, mantab." Seru Dutta memeluk di pinggang Rose. "Aku gak sabar melihat wajah shock Paman Dewa."
"Hahahaha." Disambut tawa ke 4 saudara-saudarinya.
"Apa paman Jacob ada menyinggung nama Kak R?" Tanya Rose.
"Nena yang menyinggung, mana kedua istri kenapa tidak diajak? Tanya Nena. Terus jawab Paman Jack, ada di Mansion, Rose sedang tidak enak badan. Maria Lili tidak mau diajak, gitu jawab Paman Jack," jelas Baby Moni.
"Ish, berani sekali dia berbohong. Sangat lancar seperti sudah biasa," gerutu Rose Diana.
*
__ADS_1
Telah lewat 1 jam mereka mengobrol mengenai negara Jepang, tentang cuaca, makanan halal yang bisa dikonsumsi. Paman Dewa yang baik dan ramah tidak seperti Baim yang jutek. Kelima Balita rebutan bercerita, membuat pandangan Rose berpindah-pindah dari wajah Balita yang satu ke wajah Balita yang satu. Hingga dirinya pun mulai mengantuk. "Sekarang kalian sudah boleh kembali adik-adik. Khawatir Nena mencari, hoaam..." kata Rose sambil menguap.
"Aaaa," rengek Dutta. "Mau tidur disini."
"Aku juga," saut Baby Moni dan Choi bersamaan.
"Aku juga," sambung Lara Sebi dan Lara Sevi juga bersamaan.
"Kak R tidak mau kalian diketahui Paman pemilik rumah ini besok pagi. Ayo kembali ke kamar kalian masing-masing."
Balita semakin memeluk dirinya. "Anak-anak masih banyak waktu kita bersama esok hari. Ayolah kembali ke kamar kalian. Lihat jam setengah sebelas malam, waktunya tidur."
"Kak R ikut kita," usul Lara Dutta. "Kalau kita sudah terlelap baru Kak R kembali kemari."
"Oh no," keluh Rose.
"Oh yes," balas ke 5 Balita.
*
Tiba-tiba mereka sudah ada di kamar yang lain, bahkan Rose tidak sempat berkedip. Sensasi atmosfer berputar di sekeliling nya, akhirnya Rose Diana bisa melihat dengan mata kepala sendiri, proses berpindah nya mereka dari kamar di rumah Mario ke kamar ke 5 Balita.
Gleg.
"Hahahaha," tawa ke 5 Balita geli melihat raut ketakutan Rose Diana.
"Kerjaan siapa itu!" Marah Rose.
Perempuan itu sangat terkejut dan sedikit gemetar. Sudah biasa dia melihat Balita menunjukkan kemampuan mereka, tapi tetap saja ia masih terkejut dan takut.
"Maaf," ucap Baby Choi pasang tampang imut, hati siapa yang tidak luluh.
Cis, dengus Rose Diana. "Sekarang tidur! Jadilah manusia normal."
Ceklek.
Pintu kamar terbuka paksa. Beberapa perempuan berseragam Baby sitter masuk sembari menghela nafas lega.
"Nena sedang kemari," kata salah seorang di antara mereka.
"Oh, Kak Rose cepat menghilang," seru Baby Choi.
Atmosfer kembali berputar di sekelilingnya, dalam waktu kurang dari 5 detik Rose telah kembali ke kamar yang ada di rumah Mario.
__ADS_1
"Aku bahkan tidak sempat berkedip," keluh Rose melihat Elisa yang terlelap di sofa.
So how?
"Aduh, pusing pala ebi."
Rose bangun, beranjak dari kasur menuju Elisa. Bangunin atau tidak, ya. Pikir nya. "Kasian juga kalau semalaman Elisa tidur di sini," gumam Rose.
"Elisa, bangun Lis."
Rose menepuk, menggoyang bahu temannya itu. "Elisa, Lisa!"
Elisa tidur tengkurap pula itu, hais. Mana tidur kayak kebo susah dibangunin. "Lisa."
Elisa belum mau bangun juga, Rose keburu kebelet pipis. "Bentar lah," gumamnya pada diri sendiri. Perempuan itu meninggalkan Elisa berjalan menuju kamar mandi.
*
Kamar mandi tidak terlalu luas, sama seperti kamar mandi di Mansion Maria Lili saat ia menginap pas waktu akad nikah.
Rose duduk di kloset membuang hajat yang tiba-tiba mendesak itu, teringat Jacob kembali rasa rindu pada pria itu mengganggu pikirannya.
Rasa ingin mengintip Jacob terngiang di benaknya. Dimanakah pria itu sekarang. Bahkan telah pukul 11 malam, tidak ada tanda-tanda Mawar mencari nya. Apa Jacob telah berubah pikiran tidak lagi ingin menahan ku di sampingnya, batin Rose.
"Bagaimana jika aku menggunakan kemampuan yang ajarkan Balita," gumam Rose.
Tapi jangan sekarang. Siapa tau masih dalam perjalanan, bisa gawat kalau aku tiba-tiba muncul di mobilnya. "Hi..."
Rose bergidik ngeri, tiba-tiba takut pada Jacob. Ia membayangkan dimana Jacob adalah bos nya, bukan suami yang sempat ia pernah bermanja.
Akhirnya Rose menyudahi buang airnya, segera membersihkan diri. Kemudian keluar dari Kamar mandi. Elisa masih tengkurap di sofa.
"Pakaian ganti tidak ada sebaiknya aku ke kosan mengambil beberapa. Tidak apa kali Elisa ditinggal sebentar," gumamnya.
"Elisa!"
"Bangun Lis," panggil nya sekali lagi. Temannya itu bergeming. "Apa dia masih dalam pengaruh sihir, seperti Jacob kemarin malam, hais. Sepertinya sih, iya."
Rose putuskan meninggalkan Elisa, sebentar ia ke kosan mengambil pakaian ganti. Perempuan itu duduk di kasur, memegang kalungnya sembari membayangkan kamar kosnya dengan mata terpejam.
Rosa menghitung dalam hati, belum 10 detik tempat duduknya telah berubah menjadi tipis. Artinya ia telah berpindah tempat, Rose membuka matanya. Benar saja suasana telah berubah.
***to be continued.
__ADS_1