
Ke 5 Balita dengan gembira turun dari mobil mengikuti Rose Diana yang menyusul Jacob. Kalau sudah terserah kata Paman artinya boleh ya kan, hehe.
Pri itu menghenyakkan pantatnya di sofa ruang tengah lantai 1, melirik Rose Diana yang tidak pengertian dengan wajah ditekuk.
Rose Diana tersenyum lebar dikelilingi Balita-balita tanpa perduli pada Jacob. Membiarkan Maria Lili mengambil kesempatan duduk di samping suaminya itu.
"Nyonya Alisha dan kembar 5 menggunakan guest house 1," kata Tiger. Bodyguard itu bertugas mengatur kamar untuk tamu-tamu Rose garden. "Ibu wakil Direktur menggunakan guest house 2," lanjutnya. "Dolken berjaga di gardu Satpam."
Hah.
Pemuda itu terperangah namun tak berdaya menolak. Tidak mungkin ia menginap satu kamar dengan Mariah Lili, kan! "Apa tidak ada kamar ekstra di gedung utama?" Protesnya gak tahan juga. Masak malam ini ia harus jadi umpan nyamuk.
"Tidak ada, lantai 3 sampai 5 dijadikan ruang perkantoran. Satu-satu kamar di bawah yang tersisa akan dijadikan klinik pribadi," jelas Tiger.
"Besok aku juga harus bekerja, Tiger." Marahnya. "Kamu tidur dimana?" Tanyanya Dolken pada pimpinan Bodyguard itu.
"Bukan urusanmu," ketus Jacob.
"Cis," dengus pemuda itu terdiam memandang Maria Lili yang menggeleng pelan padanya.
"Kak R dimana?" Tanya Lara Dutta.
"Ada apa nanya-nanya?" Ketus Jacob sebelum Rose buka mulutnya.
Cis, dengus bayi laki-laki itu. "Aku mau satu kamar dengan Kak R." Balas Dutta menjawab Ketus.
"Astaga," ucap Jacob memicit-micit pelipisnya. Kepalanya pening melihat Balita yang semakin dikasi hati malah minta jantung. Lebih pening dari pada memikirkan persaingan kontrak kerja dengan lawan bisnis.
"Tidak boleh ya, Dutta." Alisha mencoba memberi pengertian pada cucunya. "Malam waktunya kita semua istirahat. Jadi harus tidur di kamar masing-masing. Katanya kalian bayi mandiri. Bahkan di Amrik tidak tidur satu kamar dengan Papa Mama."
"Aih," keluh ke 5 Balita. "Kak R dan Papa Mama itu berbeda, Nena." Jawab Baby Moni. "Kak Rose please," rengek mereka bersama-sama.
Rose melirik Jacob yang sedang memicit keningnya sambil menutup mata. Ini yang jadi masalah adalah wajahku yang mirip dengan Kak Kiren mereka batin Rose.
__ADS_1
"Adik-adik, Kak Rose besok harus ke kantor. Jadi malam ini mau cepat tidur agar besok bangun cepat dan tidak terlambat berangkat kerja. Pagi-pagi besok, hanya adik-adik yang bangun cepat yang bisa jumpa Kak R saat sarapan pukul 7 teng. Siapa yang gak bangun artinya gak jumpa Kak R. Karena Kak R akan ke kantor jam 7.30 teng," jelas Rose Diana.
"Akh," rengek Ke 5 Balita. "Hanya 30 menit! Mana cukup," keluh Lara Dutta menghentakkan kakinya tanda keberatan.
"Siang jam istirahat kantor 12.30wib kita jumpa lagi selama 1 jam 30 menit," jawab Rose. "Kak R mau makan daging angsa panggang. Apa kalian tau seperti apa itu Angsa?"
Ke 5 Balita saling pandang. "Ehm," kemudian menggeleng bersama. "Apa sama dengan Kalkun," ujar Baby Choi.
"Bukan sayang," jawab Nena Alisha. "Itu dua unggas warna putih yang ada di danau buatan belakang Rumah Besar Wijaya. "Tapi Nena gak mau angsa-angsa itu yang disembelih untuk dijadikan santapan!" Tegasnya.
Oh.
Ke 5 mulut Balita serentak membulat. Suatu pemandangan yang menggemaskan dalam hati Rose Diana tersenyum geli. "Beli daging angsa yang sudah dipotong aja, ya. Kak R juga gak mau melihat angsa hidup disembelih demi makan siang."
"Samsir, besok tugas kamu mencari daging Angsa potong 10 kg." Baby Moni memerintah asisten setia Nena Alisha itu.
Wah, banyak amat batin Rose. "Sedapatnya aja, ya Pak Samsir," ujar perempuan itu. "Kalau tidak ketemu daging angsa potong ganti daging merpati aja. Carinya di pasar induk Kampung Koneng, selalunya ada," ujar Rose.
"Bagaimana kalau kita bersama mencarinya, kemudian menyiapkan bumbunya selama Kak R bekerja di kantor pagi-pagi. Jadi saat makan siang sudah standby," usul Samsir. "Dengan begitu waktu menunggu tidak akan terasa."
Ke 5 Balita kembali saling pandang. Meski tau diri mereka dikibuli tapi mengalah demi bisa bersama Rose Diana saat makan siang. "Baiklah," ujar Lara Sevi mewakili saudara-saudarinya.
"Pinter," puji Rose Diana. "Sekarang waktunya mandi, ya. Kalau gak mandi nanti badan gatal-gatal karena tadi sore sudah memasak iga untuk Kak R. Kak R juga mau pergi mandi," lanjut Rose senang adik-adik Balita mudah diberi pengertian.
Oke," jawab Ke 5 Balita lemas. Dengan berat hati mau aja diseret oleh Sitters ke guest house 1 di luar pekarangan.
"Terimakasih atas pengertiannya Nona cantik," ucap Alisha pada Rose Diana sebelum menyusul Balita-balita resek.
"Sama-sama Nyonya. saya juga terhibur dengan kehadiran mereka," ujar perempuan itu membalas senyuman ramah Alisha.
"Kalau begitu saya permisi Mr. Jack dan Nyonya Maria Lili. Mau ke guest house menyusul anak-anak," pamitnya.
"Silahkan Nyonya," ujar Jacob berdiri dari duduknya sembari melirik Rose yang telah menaiki tangga duluan ke lantai 2. Benar-benar risih melihat Maria Lili yang kesempatan ingin menempel padanya. "Sampai jumpa besok pagi," lanjut pria itu.
__ADS_1
"Terimakasih sebelumnya," ucap Alisha kemudian berlalu dari hadapan Jacob.
Kesempatan Jacob ke Lantai 2 menyusul Rose menaiki tangga.
"Jacob!" Panggil Maria Lili menahan langkah pria itu.
"Aku tidak ingin bicara denganmu," ketus Jacob.
"Aku serius ingin melakukan program denganmu. Setelah itu kamu bebas meninggalkan JSP. Kita semua juga akan tua dan mati Jack. Aku dan Maura sama. Sama-sama ingin keturunanmu yang jadi ahli waris JSP. Tolong kabulkan sekali ini," mohonnya. "Lakukan demi Maura. Wanita yang kamu cintai sampai detik ini, please."
Hmm, Jacob menarik nafas berat meninggalkan Maria Lili begitu saja.
*
Rose sempat mendengar permohonan Maria Lili dari balik pintu. Perempuan itu jadi jatuh kasihan. Sebelum Jacob mencapai lantai 2, Rose masuk ke kamar mandi.
Jadi wanita yang dinantikan Jacob kehadirannya memang saudara Maria Lili. Aku harus membujuk Jacob memenuhi permintaan Ibu Wakil Direktur sebelum meninggalkan nya, batin Rose.
Maura adalah wanita yang dicintai Jacob, makanya ia tidak bisa menerima wanita lain di hatinya. Melakukan nikah kontrak hanya demi keturunan. Dan Maria Lili tidak bisa hamil kecuali dengan program.
Tok tok tok.
Pintu kamar mandi diketuk. "Sayang," panggil Jacob.
"Sebentar aku sedang buang air," jawab Rose.
"Kenapa pintunya dikunci," protes pria itu.
"Maaf. Tidak sengaja," jawab perempuan itu.
"Buka sekarang," paksa Jacob.
Cis, dengus Rose. Ia tau apa maunya si mesum. Pasti dari tadi terotak karena tertahan Balita-balita.
__ADS_1
***to be continued.