
Mario sangat senang dihubungi oleh Rose Diana. "Bagaimana? Mau kabur sekarang," tanya pria itu di ujung sambungan.
"Sabar lah Mario! Aku masih harus berpamitan pada keluarga Paman, kan! Mungkin seminggu lagi," jawab Rose Diana. Perempuan itu melihat jam 12.45wib. Waktunya istirahat saat ia masih jadi klining servis. Namun sekarang hidupnya telah kacau akibat tergiur pada uang.
"Aku pikir kamu tidak akan menghubungi ku lagi. Saat tau bahwa kamu melunasi semua biaya pembuatan paspor," kata Mario.
"Aku pikir juga begitu. Tapi nyatanya aku masih membutuhkan bantuan darimu," jawab Rose Diana.
"Katakan lah Diana," ujar Mario.
Rose menekuk bibirnya sedih mendengar Mario memanggilnya dengan nama tengah. Itu adalah kebiasaan panggilan dari orangtuanya. Namun semenjak kedua orang itu menelantarkan dirinya, Rose tidak mau lagi dipanggil dengan nama itu.
"Aku ingin menyewa kamu dan taksi untuk satu hari ini. Berapa aku harus membayar?" Tanya Rose Diana.
"Pake argo saja. Nanti lihat sendiri," kata Mario di ujung sambungan.
"Aiya..tidak bisa kasi harga teman kah," tawar Rose Diana berpikir pasti akan mahal kalau pake mesin penghitung otomatis itu.
"Pake argo dulu. Setelah dapat harga baru nanti dikasih diskon 50%. Bagaimana," jawab Mario.
"Hehe," tawa Rose Diana. "Kalau begitu aku setuju. Kamu memang yang terbaik. Aku penasaran apakah kamu telah mengenalku sebelumnya," kata Rose Diana.
Kedua Balita saling pandang, curiga. Apakah pria ini gebetan Kak R yang baru. Oh tidak bisa, kata dalam pikiran mereka.
"Baiklah aku jujur. Kemarin malam itu bukan pertama kali aku melihatmu. Tapi sumpah aku tidak membuntuti kamu. Jadi jangan ge-er ya," ujar Mario. "Ada beberapa kali aku mengantar karyawan JSP, dan selalu terlihat kamu berjalan kaki saat memasuki gerbang," lanjut pria itu.
"Oh." Mulut Rose membulat. "Jadi sebenarnya kamu tau aku nge-kos dimana dong."
"Dimana tepatnya aku tidak tau. Hanya menebak jika bisa ditempuh dengan jalan kaki kemungkinan di belakang Gedung Perkantoran."
"Baiklah aku percaya padamu," kata Rose Diana. "Sudahlah, tidak perlu diperpanjang lagi. Ada hal yang lebih penting."
Dalam hati Mario senang ternyata dirinya masih diperlukan. Pada dasarnya ia juga sedang tidak sabar ingin bertemu Rose Diana hanya tidak punya alasan mendahului. Dan Rose tidak pernah lagi datang ke JSP. "Sekarang, kemana aku harus menjemput kamu?" Tanya pria itu.
"Ke kosanku. Namun sebelum itu kamu perlu menjemput temanku terlebih dahulu di Pasar Induk. Dia yang akan menunjukkan jalan kemari," jelas Rose Diana.
"Baiklah," jawab Mario.
Kedua Balita mendengar dengan seksama. Hanya bisa menduga-duga kemana arah pembicaraan. Karena mereka tidak bisa membaca pikiran Kak R, makanya tambah penasaran. Mereka bahkan mendekatkan telinga mereka ke ponsel yang menggantung di telinga Rose Diana. Perempuan itu geleng kepala tapi senang karena Balita-balita sangat wangi dan cute. Jadi senang ada teman yang menemani saat-saat hatinya sunyi.
"Aku akan share lokasi. Apakah bisa sampai kemari satu jam sebelum 17.30wib," lanjut Rose Diana pada Mario.
"Baik, tunggu ya! Tidak sampai satu jam aku dan temanmu akan menjemput kamu," ujar Mario.
__ADS_1
Cepat sekali Batin perempuan itu. Tapi hubungan dengan Jacob harus diakhiri secara paksa dari pihak dirinya. Karena Jacob kelihatannya belum rela. Masih makan malam bersama hanya akan membuat galau. "Thanks Mario," ucap Rose Diana lega.
"Sama-sama Diana," balas Mario masih enggan menutup sambungan. Sambil nyetir bisa ngobrol, kan. Dan saat...
"Bye," ucap perempuan itu.
Mario sedih. "Jumpa lagi," jawabnya tatap menunggu Rose Diana yang mengakhiri pembicaraan.
"Uhm," gumam Rose Diana kemudian menutup panggilan. "Ih...gemes banget," geramnya mencium kedua pipi Balita yang kepo tingkat dewa padanya. Tidak perduli pada Mario yang sedang galau di mobilnya.
"Ayo coba gunakan mantra menghilang," kata Lara Sebi memaksa Rose Diana. Karena itu adalah misinya dan Dutta saat menang mengundi. Membantu Rose Diana agar tidak takut menggunakan kemampuan sihir Baby Choi.
"Sabar dong, sayang. Kak R harus memberi tahu teman agar dia tidak terkejut dan segera bersiap-siap," jawab Rose Diana sengaja ngeles. Dirinya benar-benar takut menghilang dari muka bumi, bagaimana jika nyangkut ke alam lain, ih. Perempuan itu bergidik seram.
"Iii ih," kesal Lara Sebi hampir hilang kesabaran.
"Sayangku."
Rose geram memeluknya, memberikan ciuman dibibir Balita perempuan galak itu. Dutta tidak mau ketinggalan, memajukan mulutnya yang kemudiannya dikecup Rose Diana.
"Hallo."
Panggilannya diangkat oleh Elisa, kedengaran karena Rose sengaja mengaktifkan speaker.
"Ish," keluh Elisa. "Setiap ditelpon tidak diangkat. Sibuk apa lu," marah teman Rose Diana itu.
"Maaf," ucap Rose.
"Aku sih gak masalah tapi, noh. Bibi lu yang berisik. Menginterogasi ku macam-macam," ujar Elisa nada keki.
"Aku sudah telepon mereka kemarin," kata Rose. "Tidak berisik lagi, kan!"
"Apaan!" Ketus Elisa.
"Eh! Kamu sambil siap-siap ya," potong Rose Diana sebelum temannya itu mengomel lebih jauh. "Akan ada taksi yang menjemput kamu. Sebentar lagi dia sampai. Temani aku ke Mall ini. Sekalian kamu bawa back pack. Isi pakaian untuk 2 hari," jelas Rose Diana.
"Oh," kata dari seberang.
"Aku dah resign, Elisa. Mungkin akan ke luar negri dalam waktu dekat," jelas perempuan itu agar Elisa gak sibuk nanya dan bisa fokus berkemas.
"Kok mendadak," tanya Elisa.
"Hubunganku dengan JSP sudah berakhir."
__ADS_1
"Lalu Jacob?" Tanya Elisa.
"Iya..itu juga finish."
Elisa mendengar jelas nada kesedihan pada suara Rose Diana. "Aku segera bersiap," jawabnya cepat. "Kumbang tidak seekor. Pria tampan banyak bertaburan. Percayakan pada teman mu ini. Kamu akan ku hibur," ujar Elisa memberi semangat."
"Haha," tawa Rose Diana. "Aku gak butuh hiburan," sergah nya. "Tapi aku perlu kabur dari jakarta, segera. Menghilang dari jangkauan Jacob dan Maria Lili."
"Bagus itu," saut Elisa. "Kamu gak akan menyesal jika mengajak aku."
Oh, Rose tercengang. Bagaimana jika Elisa juga dibuatkan paspor batinnya.
"Apa ibu kamu bakal ngijinin kalau kamu ku ajak?" Tanya Rose Diana.
"Hei, kita sudah 19 tahun. Ibuku menikah dengan ayah belum genap usia 14 tahun. Percayalah mereka akan senang karena berkurang satu mulut untuk diberi makan."
"Hahaha..dasar beban keluarga," tawa Rose Diana.
Kedua Balita merengut duduk gelisah di pangkuannya. Kesal mendengarkan pembicaraan yang gak penting. Mereka hanya butuh Kak R. Kok malah ngajak teman, ah..keluh Lara Sebi memajukan mulutnya.
Cup, Rose Diana mengecupnya.
Lara Dutta menunjuk jam ponsel di tangannya.
Oke, oke. Kata Rose tanpa bersuara.
"Yang jemput kamu orangnya tampan. Awas jangan kegenitan," lanjut perempuan itu mengingatkan Elisa.
"Don't worry. Untuk pacar aku tidak terlalu suka yang tampan," jawab Elisa. "Cukup kayak Tae hyung aja."
"Tae hyung mah tampan," sela Rose Diana.
"Tampan dari mana!" Sergah Elisa.
"Tampan dari pada Jongkook," jawab Rose.
"Hahahaha," tawa Elisa. "Tampan karena make up aja, tuh."
"Awas lu...diserbu sama Army."
"Kan, mereka gak dengar."
***to be continued.
__ADS_1