
Hanya tiga hari sisa masa liburan, Rose menolak saat diajak berkeliling di darat. Menikmati setiap hentakan Jacob lebih penting baginya. Kalau menyelam ia tidak keberatan. "Sayangku," rengeknya memeluk dileher Jacob. Seperti kesukaannya, perempuan itu duduk di pangkuan prianya. Untungnya Jacob tidak pernah keberatan. "Hampir tiba waktunya berpisah, aku akan merindukanmu."
"Hm," senyum Jacob menghirup wangi rambut gadis dipelukannya. "Terimakasih. Tapi kita masih akan bertemu di kantor, kan."
"Iya, tapi gak bisa seperti ini." Rose cemberut.
"Aku pria beristri Rose. Belajar lah yang tekun, kamu akan mendapatkan laki-laki yang kamu inginkan."
Tapi aku menginginkanmu, batin Rose. "Tentu saja. Aku ingin punya perusahaan investasi sendiri," jawab perempuan itu dipaksa ceria.
"Hum." Kening Jacob berkerut. "Kamu mau jadi saingan bisnisku?"
"Iya, bahkan akan melampaui kesuksesan JSP investment."
"Hahaha," tawa Jacob.
"Gak percaya?"
"Aku percaya kamu yang terbaik." Jacob memeluk Rose. Perempuan ini bisa betah dikamar seharian bercinta batinnya. "Kamu ingin style gimana lagi?" Tanya Jacob.
Uhm. Rose berpikir. "Diantara semua style yang kita coba aku paling suka gaya klasik," ujarnya.
Jacob langsung memasuki perempuannya tanpa pemanasan, menindih sampai kejantanannya tenggelam.
"Begini," kata pria itu memandang Rose yang terhenyak terbelalak biji mata.
Hah. Helaan nafas kasar, segera gelombang kenikmatan menerpa keduanya. "Aku ingin kamu mengulanginya," desis Rose. "Bisa tolong lebih keras lagi dari yang barusan," lanjutnya.
Hum, Jacob menyeringai. "Keinginan Tuan putri adalah perintah bagi saya." Pria itu mengulanginya lagi dan lagi, sampai dirinya gak tahan kelepasan.
Keduanya terdiam berpelukan seolah tak ingin waktu berjalan. Biarlah begini kalau bisa selamanya. "Ada style yang ingin kamu coba lagi," bisik Jacob membangunkan Rose yang hampir terlelap.
"Aku ingin mencoba di luar seperti malam pertama kita tiba di sini."
__ADS_1
"Siap Tuan Puteri," senyum Jacob.
Hm. Rose balas tersenyum lebih lebar, menciumi Jacob agresif. Ia tak segan meninggalkan jejak-jejak merah, disetiap tempat tertutup maupun terlihat seperti di tengkuk pria itu keliling leher. Mampuslah kau Maria Lili batin perempuan itu puas. Cemburu, cemburu dah sana.
Para bodyguard memberi privasi bagi dua insan yang dimabuk asmara, setelah mendeteksi tidak ada alat pengintai di sepanjang jarak maksimal alat pengintai paling canggih sekalipun.
Jacob membiarkan Rose menikmati dirinya, "Kamu senang?" Serak pria itu memandang Rose yang mengayun bokong di atasnya. Udara malam tengah laut tidak membuat mereka kedinginan meski tidak berpakaian.
Akh. "Aku bisa gila kalau kita pisah Jacob," desah Rose maju mundur mengejar pelepasan. Aku pun sama batin pria itu serta merta membalikkan posisi menjadi dirinya di atas untuk mengambil kendali permainan.
Bercinta di teras Resort memakan waktu semalaman. Disinari bintang-bintang langit cerah tidak diliputi awan mendung. Pelepasan demi pelepasan mereka kejar, kecanduan seolah tak ada puas-puasnya.
Setan apa yang merasuki ku, kenapa kuat sekali berhubungan badan pikir Rose. Bertambah gila karena Jacob mengimbangi tanpa khawatir kekurangan stamina. Selalu mau dan mau, akh.
Sampai terang masih berlanjut, tubuh keduanya berkilau diterpa fajar menyingsing. Pergulatan terpanjang memecahkan rekor hari-hari sebelumnya. Bahkan gak ingat mengisi perut, sudah kenyang hanya dengan bercinta. Masih dalam penyatuan Jacob membopong Rose masuk ke kamar. "Sayang!" Pekik Rose tertahan.
"Kita lanjut di dalam," desis Jacob.
*
"Kalau pun iya, dia tidak akan sembarangan mengungkitnya."
"Hum," gumam Maria Lili setuju pendapat Dolken.
"Seribu persen kecuali kamu yang memulai," lanjut pemuda itu.
Oh, tak ayal Maria Lili memang bermaksud akan menginterogasi Jacob. "Sotoy," sergahnya.
"Mary," rengek Dolken.
"Tidak akan," jawab Maria Lili mengerti apa maksud rengekan itu. Itu karena ia enggan memberi jatah brondong nya itu. Perempuan itu gak bisa konsen kalau lagi kepikiran Jacob.
"Bukankah seharusnya masih ada dua hari?" Tanya Dolken kesal kenapa Jacob mempercepat kepulangan. "Ayolah," rengek pemuda itu lagi.
__ADS_1
Ck, decak Mary. "Aku bahkan tahan berbulan tidak disentuh Jacob sebelum kamu datang," kesalnya mendelik pada Dolken. Sebenarnya Maria Lili sedang menghukum brondongnya itu karena ketahuan memberinya obat perangsang beberapa kali.
"Mary please!" Mohon Dolken dengan wajah imut.
"Hum." Mary tak tahan melihatnya, mengalah demi dirinya juga. Penyatuan cukup ampun menekan stress.
Dolken lebih dari cukup memuaskan baginya tapi tidak bisa melepaskan Jacob. Saat dibuat tak sadarkan diri, Jacob cukup galak menggagahinya. Yang membuat kesal adalah saat nama Maura keluar dari mulut pria itu. Salahku juga batin Maria Lili. Karena ia terpaksa mengenakan pakaian Maura agar Jacob mau menyentuh dirinya. "Kalau bukan saudara sudah ku nikahi kamu, Ken."
Gleg.
Jakun Dolken bergulung mendengar perkataan Mary. Aku gak mau dalam hatinya, amit-amit Ya Tuhan jangan sampai.
"Mary please! Jangan memancing masalah dengan Jacob dengan mencelakai Rose," mohon Dolken setelah satu kali pelepasan mereka lalui dengan sukses.
"Kenapa? Kamu menyukainya, oh no!" Mary tak kuasa menahan cemburu. "Apa bagusnya sih perempuan itu?" Suara wanita itu melengking, memekak di telinga Dolken.
Mak Lampir sialan, geram pemuda itu ingin sekali mencekik Maria Lili tapi hanya bisa dalam angan-angan. "Bukan begitu, sayang. Aku bukan Jacob yang selera rendah. Lihat! Jack mempercepat kepulangan, itu tandanya apa? Ia sudah bosan pada perempuan itu."
"Selera rendah katamu," marah Maria Lili memukul dada Dolken. Tak ayal ia senang mendengar Jacob bosan pada Rose.
"Bukankah Jack lebih menyukai Maura yang sederhana daripada kamu yang glamor. Selera ku itu kamu, sayang." Dolken mencubit pipi Maria Lili pura-pura gemas.
"Sudahlah, jangan diingatkan lagi tentang perempuan itu. Papa sudah mencarinya kemana-mana tidak ketemu juga. Mungkin mereka sudah bertemu di neraka sekarang," kata Maria Lili.
Artinya Mary benar-benar tidak tau kemana Maura, dalam hati Dolken memperhatikan tidak ada ekspresi penyesalan disana apalagi kesedihan. Kehilangan Maura dan kematian Om Sandy adalah sesuatu hal yang misterius bagi Keluarga besar Purnomo Koeswoyo. Setiap orang tidak pernah berhenti membicarakan nya.
Karena itu juga Maria Lili jadi malas kumpul Keluarga. Ia hanya menitip uang arisan lebih banyak dari jumlah yang ditetapkan, sebagai penutup mulut walau ia yakin itu mission impossible.
*
Tidak seperti kedatangan, kepulangan mereka dijemput Heli yang langsung membawa mereka dari Resort ke Bandara. Selama perjalanan Jacob dan Rose sepakat menjaga jarak. Tidak ada pelukan apalagi ciuman. Jacob menahan hasratnya yang masih belum padam, Rose juga demikian menahan diri untuk tidak bermanja-manja.
Jacob mempercepat kepulangan karena khawatir tidak bisa lepas dari jeratan birahi Rose. Godaan perempuan itu segenit siluman Rubah ekor sembilan, susah untuk ditolak. Untuk mengusir keinginannya mencumbu Rose, Jacob menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor. Zoom meeting dengan Manager Bagian, padahal sudah waktunya pulang kantor. Hais, beberapa mereka mengeluh saat santai malah direcoki oleh Direktur yang gabut.
__ADS_1
20.30wib pesawat mendarat mulus tanpa sedikitpun ada goncangan. Rose menolak saat Jacob memerintahkan Mawar mengantarkannya ke kosan, anak itu lebih memilih naik taksi. Walaupun aku tidak memberi tahu tujuanku, Jacob pasti dengan mudah melacaknya jika ia mau batin Rose.
***to be continued.