Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 83


__ADS_3

Aduh gawat neh bocil susah entar terlalu cepat dewasa. "Ayo kita kembali ke tempat yang tadi. Sebenarnya niat Kak R ingin mengambil beberapa baju ganti," ajak Rose.


"Yakin gak mau melihat Paman J," goda Baby Choi mengedip mata genit.


"Tapi ada kamu! Kak R tidak mau mengkontaminasi pikiran Balita nakal seperti kamu," marah Rose.


"Apanya yang terkontaminasi!" Sergah Baby Choi.


'Kita bahkan bisa melihat tembus pandang bahkan saat Kak R berpakaian 7 lapis atau di balik tembok tebal sekalipun."


"Apa tidak akan berpengaruh pada pikiran kalian?"


"Kak R, kami Balita memang punya perasaan tapi tidak ada yang namanya nafsu. Perasaan ingin makan kalau lapar, ingin tidur kalau mengantuk. Ingin buang air kalau kebelet tapi masih pakai Pampers, karena perasaan malas ke kamar mandi. Kita sudah sering melihat Papa Bram dan Mama Kiara atau Mama Laras dan Asisten Yudi bikin adik-adik baru buat kita-kita, tapi biasa saja tuh. Perasaan seperti melihat margasatwa di hutan belantara sedang kawin untuk berkembang biak."


Heg.


Rose terhenyak.


"Papa Bram sudah sering mengingatkan kita, tidak boleh berkembang biak dengan sembarangan orang. Demi kelangsungan WJ grup, kami selaku ahli waris harus selektif dalam memilih calon-calon keturunan Keluarga WJ," lanjut Baby Choi.


"Itu pun tunggu sampai usia kita 19 tahun. Jadi kalau Kak R ingin memberi pupuk serta ingin menyirami janin yang sekarang sedang tumbuh di perut itu, silahkan saja."


"Ah bukan itu maksudnya, Choi." Wajah Rose bersemu merah tertangkap basah, kalau dirinya sebenarnya mau mesumin Jacob diam-diam.


"Apa! Memberi pupuk dan menyirami? Lo kata pohon," kata Rose membuang rasa grogi. "Hanya ingin melihat saja. Lagi pula belum tentu Paman J berselera sekarang setelah Kak R memutuskan nya."


Cieh!


"Tidak usah berkelit. Kak R kangen kan sama Paman J? Pergilah samperin! Paman J tidak akan mengingat nya besok pagi, kerena merasa semua itu hanyalah mimpi."


A


"Emang bisa begitu?" Tanya Rose berbinar.


"Ehm..tentu saja," angguk Baby Choi. "Lihatlah dia sedang memejamkan mata, membayangkan Kak R tidak berpakaian."


"Oh no," keluh Rose.


"Oh yes," sambung Baby Choi. "Cepat, waktu Kak R tiga jam dari sekarang."


Oh no, sekarang 12 teng, batin Rose.


"Tapi kamu gak boleh melihat," kecamnya.

__ADS_1


"Jangan khawatir! Aku akan kembali ke Mansion Nena. Anak-anak belum tau kalau aku bisa membagi pikiran. Aku baru mencoba nya tadi dan ternyata berhasil," jelas Baby Choi dengan bangganya.


Oh no! Pekik dalam hati Rose mengerutkan kening, meringis.


"Hehe," tawa Baby Choi melihat ekspresi lucu di wajah Rose Diana.


"Bagaimana kamu tau jika kamu berhasil atau enggak?"


"Aku melihat tubuhku masih di kasur bersama yang lain mendengar ceramah Papa Bram dan wejangan Mama Kiara, saat aku merubah pikiranku menjadi 3D."


"Pikiran 3 dimensi?"


"Yup," angguk Baby Choi tersenyum.


"itu dia, pikiran 3 dimensi. Aku membentuk bayangan persis diriku kemudian teleportasi ke tempat Kak R berada lalu mengubahnya menjadi 3D. Aku barusan mempraktekkan nya, dan ternyata berhasil. Biasanya yang lain akan menyadarinya tidak berapa lama dan akan belajar menguasainya, tergantung cepat lambatnya pikiran mereka bisa konsentrasi," jelas Balita smart itu lebih lanjut.


"Oh no," gumam Rose.


"Oh yes," balas Baby Choi.


"Aku senang bertemu Kak R, karena kemampuan ku menjadi lebih terasah. Hahaha," tawa Baby Choi. "Thanks anyway, Kak R." Ucapnya.


Cis, dengus Rose.


"Ya sudah, aku tinggal ya. Silahkan Kak R bersenang-senang."


"Hei," panggil Rose. Dirinya masih bingung bagaimana harus mulai.


"Masuklah ke kamar mandi tanpa harus membuka pintu." Terdengar suara menggema Baby Choi.


Hah!


"Apa kehadiranku tidak akan disangka seperti hantu. Bisa pingsan Paman Jacob seperti Kak L," seru Rose.


"Tentu tidak, karena Kak R hanya terlihat oleh mata batin Paman J."


"Oke, baiklah!"


"Pergi yang jauh Choi! Jangan coba-coba mengintip ntar matamu bintitan, tau!"


"Hahaha," terdengar tawa menggema lebih ramai.


Oh tidak!

__ADS_1


Sepertinya yang lain telah menguasai ilmu pikiran tiga Dimensi Baby Choi, batin Rose malu benar-benar meresahkan ke 5 Balita ajaib ini, pikir Rosa lagi melihat jam telah lewat 5 menit.


Perempuan itu melangkah ke arah kamar mandi, saat melewati meja rias tidak terlihat bayangan dirinya di cermin.


Oh no, batin Rose. "Apa aku telah berubah jadi hantu," gumamnya.


"Hahahah."


Kembali ke 5 Balita tertawa.


"Hei," sergah Rose.


"Santai Kak R, semangat!"


Hais, sepertinya suara Lara Dutta dalam hati Rose. Perempuan itu tepat berdiri di depan pintu. "Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya dalam hati kemudian melangkah tanpa membuka pintu. Secara ajaib tubuhnya tidak tertahan pintu yang terbuat dari kayu antik itu. Dengan mulus ia melewati pintu, dan sekarang Rose telah di dalam kamar mandi.


Benar saja Jacob sedang berendam dengan mata terpejam. Dengan tubuh yang polos tanpa sehelai benang. "Apa dia tidak kedinginan," gumam Rose.


Ups, kemudian mengatup mulutnya. Dia ingat tidak boleh bersuara agar ke 5 Balita tidak mendengar isi kepalanya.


Rose mendekati Jacob, berjongkok ke sisi bathtub. Benarkah dia tidak akan mengingat ku esok hari, dan menganggap ini hanya mimpi.


Tangan Rose terulur menyentuh pipi Jacob yang ditumbuhi bulu. Akibat tidak bercukur sekarang bulu itu lebih panjang dan lebat serta sedikit kasar. Justru itu yang membuat Rose meremang atas bawah. Membayangkan bibir Jacob yang dikelilingi bulu itu mencumbui dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, khususnya daerah kewanitaannya. Pasti akan geli kemana-mana.


Nyesss!


Oh tidak belum apa-apa bawahku telah berkedut mengeluarkan air. Bagaimana aku tahan berpisah dengan Jacob dalam waktu yang lama, jika sebentar saja membuatku gila bayang atas percintaan panas yang pernah kami lakukan.


Perempuan itu menyentuh air yang ternyata hangat. Hm, senyum dalam hati Rose. Sekarang matanya tertuju ke bibir seksi Jacob yang merah cabe. Kapan bibirnya bisa semerah ini...


Biasanya warna pinky-pinky sweety, gitu. Manis-manisnya jambu, kalau merah begini bagaimana pula rasanya.


Rose tak tahan ingin mengecupnya tapi bagaimana jika Jacob membuka mata, apakah aku akan ketahuan batin nya. Teringat perkataan Baby Choi, Rose memberanikan diri mengecup bibir itu kilas. Kapan lagi coba..


Jacob bergeming hanya kelopak matanya kelihatan bergerak sedikit, namun masih terpejam.


Apa dia merasakan kehadiran ku, Rose Diana dilema. Memandang Jacob ke arah otot-ototnya yang liat. Tubuh yang terawat baik, perut rata. Dan itu, tonjolan yang membuat siapapun meneguk ludah memandangnya. Belum begitu tegak, tapi sepertinya sedang terbangun.


Rose mengulurkan tangan nya menyentuh kulit tubuh Jacob, dari kening turun ke hidung, ke bibir, ke dagu nyebrang ke dada bagian tengah. Otot kiri kanan dada yang membuat payu dara Jacob membentuk gumpalan seksi dengan pu ting kecoklatan berbulu halus.


Gleg.


Rose meneguk ludah berselera ingin ngelumat ujung bukit kembar Jacob.

__ADS_1


Aku akan masuk ke air sekarang dalam hati nya, tapi bimbang apakah harus menanggalkan pakaian juga....


***to be continued.


__ADS_2