
"Ehm ehm," geleng Jacob mengulurkan tangan panjangnya. "Tidak boleh ada rahasia diantara kita. Kemari kan hape," ujarnya.
Aih masalah dalam hati Rose. "Nah!" Dengan wajah merengut menyerahkan ponselnya ke tangan Jacob yang ada di atas tumpukan berkas.
"Jam kerja tidak diperbolehkan main hape, mengerti!" Kata Jacob. Pria itu Membolak-balik ponsel kemudian menyentuh layar ponsel, tidak ada kunci pengaman. "Hais," keluhnya. "Ponsel dibiarkan terbuka begini! Apa kamu tidak tau membuat pola atau nomor pin," marahnya.
"Tidak ada rahasia negara di situ," jawab Rose. "Untuk M-banking sudah ada kunci dengan dua lapis pengamanan jadi tidak perlu khawatir," lanjutnya.
Cieh, dengus Jacob. "Aku akan membuat pola untuk mu atau kamu mau pake pin, ck." Pria itu tiba-tiba alergi pada Ponsel di tangannya. "Bear! Pesan satu serupa dengan ponsel saya," katanya pada bodyguard seksi sibuk yang ternyata julukannya adalah Bear itu.
"Siap Pak!"
"Kemarin ke Mall kenapa tidak upgrade," tanya Jacob pada Rose.
Hm.
Ternyata memang dia memata-mataiku dalam hati perempuan itu. "Masih bisa digunakan kenapa buang-buang uang. Kalau Pak Direktur mau upgrade, ya Alhamdulillah." Rose senang tersenyum genit pada Jacob.
Bayangan pergulatan mereka berseliweran di otaknya, Jacob menahan diri agar tidak menyeret perempuan itu ke balik lemari kemudahan memompanya sampai kembung. "Jangan sering-sering tersenyum," marahnya.
Apa! Rose tercengang. "Jadi harus merengut, gitu! Dasar aneh."
"Biasa aja," tukas Jacob. Rose menekuk bibirnya, hais keluh pria itu. Bahkan merengut pun bibirnya mengundang selera. "Setiap jam sebelas kamu buat kopi tiga cawan. Kalau kamu mau buat em...um, tidak usah. Cukup tiga," ralat nya.
Uwek! Aku juga tidak suka kopi cibir Rose hanya berani dalam hati. "Baik." Satu kata yang keluar dari mulutnya dengan patuh berdiri dari duduknya saat melihat jam di dinding pas menunjukkan angka 11.00wib....teng teng teng. Dan benar saja alat penanda waktu itu berbunyi, tidak perlu dihitung sudah pasti sebelas kali.
Tanpa bertanya varian rasa apa Rose menyeduh kopi, memberi Tiger dan Bear masing-masing satu cawan. Kemudian meletak secawan kopi terakhir di depan Jacob. "Silahkan Pak," katanya.
"Kamu mau membakar lidahku?"
Maksudnya aku disuruh menghembus lagi, gitu! Di kantor ini di depan dua bodyguard, si Jacob benar-benar gak punya malu. Rose teringat percintaan panas mereka di Resort juga dikawal para bodyguard, heg. Perempuan itu terhenyak terpandang kedua bodyguard yang susah payah menahan senyum meliriknya.
CK, mau gak mau Rose tetap berdiri di samping Jacob dengan cawan kopi di tangannya. Mulai menyuap penghuni baru hatinya itu setelah terlebih dahulu menghembusnya.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu dibuka. Maria Lili masuk diikuti Sekretaris. "Jack, kita perlu bica..." Kata-katanya tergantung di awang-awang tercengang melihat pemandangan di depan matanya.
"Ah." Sekretaris menutup mulutnya tanda terkejut. Big moves dalam hatinya kagum pada pencapaian Rose Diana.
Bagaimana pula dengan Maria Lili?Wajahnya spontan berubah jadi menyeramkan. "Apa-apaan ini, Jack?" Pekik wanita itu histeris.
Semua yang ada di dalam ruangan terkejut terutama Rose Diana, perempuan itu segera mundur segera pula ditahan oleh Jacob. "Lakukan tugasmu," katanya lembut meraih pinggang Rose sehingga menempel padanya.
Hais, mati lah saya. "Baik Pak Direktur," jawab Rose berusaha agar tidak gemetar. Kakinya lemas hampir-hampir tidak bisa menopang tubuhnya.
Hah!
Menarik nafas kasar Maria Lili sekuat tenaga menahan amarah serta rasa cemburunya. Lebih sepuluh tahun menikah jarak paling dekat mereka 3 meter gak boleh kurang. Hanya jika Jacob dibuat tak sadarkan diri barulah ia bisa menyentuh suaminya itu. Maria Lili semakin tak sabar ingin melenyapkan Rose Diana, namun ketika melihat wajahnya yang merengut dan pucat jadi terbit rasa kasihan di hati wanita itu. "Apa kamu tidak bisa minum sendiri Jack," ujarnya menahan kesal.
"Tanganku yang cuma dua ini sedang sibuk. Kamu tidak lihat berkas yang bertumpuk itu," jawab Jacob.
"Jangan alasan!" Marah Maria Lili. "Kamu bisa meminta Sekretaris atau karyawan lain membantumu."
"Novi! Apa kamu tidak punya pekerjaan?"
Hah!
"Kenapa lama?" Tanya Jacob.
"Ditemukan sedikit kendala teknis pada alat, Pak. Jika sudah setle baru dikabari kata mereka," terang Novi.
"Jika mereka jual mahal batalkan saja," tukas Jacob.
"Jack," tegur Maria Lili. "Aku sendiri yang akan menghubungi mereka."
"Terserah kamu," jawab Jacob membuka mulutnya. Dengan patuh Rose menyuap kopi setelah terlebih dahulu menghembusnya. Maria Lili mengepal tangan geram.
"Hari ini sekretaris tidak perlu ikut ke Hongkong meeting. Ambil berkas dua tumpuk. Sortir menurut tahun bulan dan tanggal," perintah Jacob.
Apa! Novi memandang Maria Lili mohon pertolongan.
__ADS_1
"Jack, Novi harus pergi menemani kamu! Bukankah untuk itu dia dibayar sebagai Sekretaris," kata Maria Lili menatap Rose semakin benci. Ingin rasanya mencekik mati si pembawa masalah itu sekarang juga.
Hum, Jacob memandang Maria Lili sayu. "Bukankah kamu yang mengusulkan tugas menyortir berkas diberikan pada sekretaris. Aku butuh data itu besok siang paling lama. Kamu taukan pihak audit akan datang dalam minggu ini."
Ya Tuhan! Kapan Mary mengusulkan kenapa aku gak dengar, kesal dalam hati Sekretaris.
Bak senjata makan tuan kesabarannya benar-benar diuji sejak kehadiran Rose Diana, tunggulah aku akan melenyapkan perempuan ini. Bisa apa kamu Jack geramnya. "Terserah lah," kata wanita itu segera meninggalkan ruangan Jacob. Takut jantungnya meledak karena harus menahan emosi.
Setelah menghormat pada Direktur, Novi segera keluar menyusul Ibu Wakil Direktur dengan satu tujuan, aku mau protes dalam hatinya.
*
Hampir jam istirahat Rose duduk gelisah, berkas yang belum disortir masih banyak di meja Jacob. Itu karena Bear memberinya tiga tumpuk lagi setelah dua tumpukan pertama diberikan pada Novi.
Apa kabar Pizza dalam hatinya bersamaan dengan suara ponsel berbunyi. Bunyi nada dering yang dikenalnya. Tanpa permisi serta tanpa melihat nama, Jacob mengangkat panggilan. Terdengar suara pria. "Ini dengan Nona Rose Diana?"
"Bukan," jawab Pak Direktur itu dengan marah menutup sambungan kemudian berdiri dari duduknya menatap tajam perempuan di depannya.
"Kenapa ditutup?" Tanya Rose hampir keluar air mata, gak tau orang lagi nunggu delivery dalam hatinya kesal.
Jacob mendatangi Rose, mendekatkan bibirnya ke telinga perempuan itu. "Siapa laki-laki yang menelpon kamu," bisiknya.
Rose sampai merinding daun telinganya dihirup si pria gak tau malu. "Berikan hape," ujarnya tidak perduli lagi dengan pangkat dan jabatan.
"Katakan siapa dia," ujar Jacob dengan senyum kemarahan tepat di wajah Rose.
Astaga!
"Kamu yang angkat telepon kenapa tidak lihat nama," jawab Rose. "Kemari kan hape." Rose mengulur tangannya
"E ehm," geleng Jacob. "Dilarang menerima panggilan dari manusia berjenis kelamin laki-laki kecuali dariku."
Oh no...
***to be continued.
__ADS_1