Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 48


__ADS_3

Oh.


Rose membolak balik paspor. Melihat gambar wajahnya yang tersenyum di halaman pertama. "Pinter juga Chan jadi fotografer," gumamnya.


"Kamu yang pintar Rose Diana. Waktu mau lahir ke dunia memilih wajah cantik," ujar Chan.


"Uwek." Rose menjulurkan lidah malu karena dipuji. "Kemana saya harus transfer?" Lanjut bertanya pada Mario.


"Jackie," kata Mario menunjuk si keriting.


"Siap," jawab Jackie.


"Tambah yang asli jadi berapa?" Tanya Rose mengangkat satu paspor di tangannya.


"Bayar sejumlah yang kamu sebutkan tadi saja," jawab Mario.


"Saya akan melunasi semuanya sekarang. Jadi sebutkan berapa," kata Rose merenung Mario.


Hum, Mario termangu. "Saya lebih suka jika kamu mencicilnya," kata pria itu balas merenung Rose.


"Huuuu," seru Jackie dan Chan bersamaan, melihat ada kilatan cahaya cinta di mata Mario.


"Jangan takut Rose. Bos kita bukan orang jahat," kata Jackie.


"Seumur ini belum pernah punya pacar and gak suka jajan. Saya berani sumpah kalau dia masih perjaka," bisik Chan yang masih bisa didengar semua orang.


Mario melotot pada si raja ngemil, Jackie tertawa cekikikan. "Kutunggu jandamu," ujarnya.


Hah, Rose merasa risih jika ada laki-laki menunjukkan rasa tertariknya terang-terangan. Kecuali pada orang yang disukai nya. Tapi ia tidak ingin mengecewakan pria ini dengan memutus pertemanan dengan cepat seperti niatnya tadi. Siapa tau memang ia butuh bantuannya kelak di kemudian hari.


*


Rose tidak ingin pulang ke kosan. Khawatir Mawar atau anak buah Jacob lainnya menunggu di sana. Atau lebih seram lagi jika itu orang suruhan Maria Lili...


Maka selesai urusan Paspor ia minta diantar ke tempat Ema setelah menghubungi temannya itu terlebih dahulu. Meski tidak yakin jika Jacob tidak dapat menemukan nya. Rose berangkat dengan taksi yang sama namun supir yang berbeda. Masih orang yang patuh pada perintah Mario. Panggilannya Pak Seno, usia lebih kurang sekitar 40-an gitu.


"Angin apa lu, Rose." Ia disambut dengan gembira.


"Lumayan juga hunian kamu Ema," kata Rose takjub melihat kosan rasa apartemen. Dan penampilannya sungguh berbeda saat ini, lebih modis dan seksi abis. Dada montok pantat semok dengan pinggang ramping. Buaya mana yang nggak ngiler.


"Bukan gua yang bayar," bisik Ema tersenyum penuh arti.


Sudah ku duga batin Rose. Emang gaji klining servis berapa bisa bayar hunian sebagus ini. "Ehm," senyumnya dengan ekspresi penasaran. "Siapa tuh?"


"Hari ini Om gak mampir. Makanya gua bisa terima elu," jelas Ema malu-malu.


”Oooo, om halal atau gak?"

__ADS_1


"Biar kata simpanan harus halal dong."


"Alhamdulillah," ucap Rose. "Itu yang penting.


*


Di ruangan Kantornya di JSP Investment Jacob terduduk lemas, wajahnya ditekuk. Benar-benar patah hati saat mengetahui Mawar kehilangan jejak Rose. Kepalan tangannya ketat ingin menonjok seseorang, tapi siapa? Ia tidak biasa melampiaskan kekesalannya pada anak buah. Meski itu lumrah dikalangan bos-bos yang gak ada akhlak.


"Saya yakin bukan orang suruhan Ibu Mary, Pak." Kata Tiger setelah melacak nomor plat taksi memang resmi. Cuma orang yang membawa nya berbeda dari gambar identitas pemilik menurut Mawar.


"Pemilik aplikasi mengkonfirmasi bahwa memang hal itu sering terjadi meski tidak diperkenankan. Beberapa supir beralasan sakit. Daripada taksi nganggur tidak ada uang masuk lebih baik direntalkan ke orang lain. Uangnya bisa untuk nutup setoran," jelas Tiger lebih lanjut.


"Bagaimana dengan Roland?" Tanya Jacob.


"Masih di Thailand. Tidak ada hal yang mencurigakan untuk sementara ini," jawab Tiger.


"Mary. Apa lagi yang kau rencanakan," gumam Jacob. "Apa aku terlalu baik hati pada wanita itu?" Tanyanya memandang Tiger.


"Hum," senyum Tiger. "Anda juga baik pada kita," jawabnya.


Jacob mengusap burung yang merindukan sangkarnya. Rose Diana gumam dalam hati pria itu menahan rindu bercampur khawatir. Antara diculik ataukah perempuan kecilnya mencoba kabur darinya. Mana ponselnya tidak menyala...


"Taksi berada di rumah makan padang daerah Jakarta Barat," lapor Bear.


Jacob menegakkan duduknya memandang layar lebar di dinding ruangan Kantornya. Anak buahnya terpaksa meretas CCTV lalu lintas menyusuri keberadaan taksi.


Gak lama di layar kelihatan Rose turun mengikuti supir taksi masuk ke rumah makan kira-kira 1 jam lebih yang lalu kemudian keluar dengan bungkusan 2 nasi kotak. Pergi dengan taksi yang sama hanya beda supir.


"Orang ini barulah sama dengan gambar yang ada di kartu identitas," kata Tiger.


"Ini restoran terkenal enak Pak," kata Bear. "Apa mungkin Nyonya ngidam nasi Padang," lanjutnya.


Ngidam? Apa itu dalam hati Jacob. "Cepat lacak kemana taksi membawanya!" Marah President Direktur itu.


Bear mempercepat retasannya. "Kontrakan semi apartemen Anyelir. Belum terlihat ada tanda Nyonya keluar dari sana," ujarnya.


"Lihat siapa pemilik apartemen itu," lanjutnya segera bersiap meninggalkan ruangan.


*


Rose menikmati nasi kotak Padang di kontrakan rasa apartemen Ema.


"Wah..ini nasi terenak yang pernah aku makan," kata Ema. "Kamu kok bisa dapat, Rose. Yang bikin aku malas beli meski pengen jika ingat antriannya yang panjang. Dan mereka gak buka online deliveri you know," lanjutnya.


"Aku dapat gratis," kata Rose teringat Mario yang membuat skenario pura-pura beli nasi kotak.


"Hah, siapa lagi tuh?" Tanya Ema tatapan curiga.

__ADS_1


"Aku akan ke luar negeri kayaknya," kata Rose mengalihkan topik pembicaraan.


"Lalu suami kamu?"


"Tinggal," jawab Rose.


"Lu mau kabur sebenarnya?"


"Euhm," angguk Rose


"Kenapa?" Tanya Ema.


"Karena aku belum siap hamil tapi dia menginginkan anak. Aku maunya kuliah dulu," jelas Rose.


"Terus, ngapa ke luar negri. Lu kan bisa KB diam-diam atau ancam cerai aja gak bisa kah?"


Maaf Paman aku pinjam namamu dalam hati Rose terpaksa harus berbohong lagi. "Pernikahan ini atas perjodohan pamanku. Tidak bisa asal minta cerai. Lebih baik kabur," jelas Rose.


"Oh," desis Ema. "Gua simpan rahasia lu, Rose. Butuh bantuan katakan saja."


"Thanks Ema," ucap Rose.


"Gua juga terimakasih atas uang jajannya," balas Ema. "Bu Leader Rahmi senang atas transferan lu. Dia minta nomor hape boleh kasih gak? Mau ngucapin terimakasih langsung katanya."


"Ehm," angguk Rose. "Kasi aja, tapi jangan ke si Lesty ataupun yang lain."


"Hahaha," tawa Ema bersamaan dengan bel berbunyi, ding dong.


"Si Om tidak mungkin. Malam ini jatah istri ke empat," ujarnya kemudian berdiri. "Sebentar gua lihat."


Ha, keempat!


Rose geleng kepala sekaligus berdebar. Jangan-jangan Jacob telah menemukanku batin Perempuan itu.


"Rose," panggil Ema menghampiri nya. "Ada yang nyari elu," katanya.


Sepertinya sulit untuk kabur dari Jacob jika masih di dalam negeri. Ke lobang semut pergi pun pasti akan ketemu. "Siapa?" Tanya Rose pura-pura meski ia yakin tebakannya benar.


"Namanya Mawar," jawab Ema.


Uhm, desah Rose menutup kotak nasi yang tinggal sisa sedikit. Meneguk sisa air di water cup. "Aku titip ini ya," ujarnya pelan sembari memberi Map kuning berisi paspor-paspornya. "Tunggu aku menghubungi kamu."


"Siap! Testpack mau ambil sekarang? Ada di kamar," tanya Ema.


Lebih baik Jacob tidak tau aku hamil atau tidak batin Rose. "Simpan dulu," katanya.


"Cool."

__ADS_1


***to be continued.


__ADS_2