Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 40


__ADS_3

"Sebaiknya jangan. Ini meja makan kursi-kursi serta piring dan mangkok bisa saja punya telinga dan mulut," ujar Rose memberi pengertian pada Lesty.


Si Lesty hanya bisa merengut menahan rasa kesal sekaligus rasa penasarannya.


"Hallo," saut Rose saat panggilan tersambung.


"Ada apa Ema?" Tanya di seberang sambungan.


"Ini Rose Bu Leader bukan Ema," jawab perempuan itu.


"Oh, Rose Diana. Ada apa tuh?" Tanya Bu Leader gembira ada karyawan baik yang menghubungi nya.


"Maaf ya Bu. Gara-gara kita Ibu kena sangsi," ujar Rose.


"Kamu gak salah Rose. Saya yang gak bisa tegas pada Bu Nanda. Karena dia juga ikut kena sangsi ya sudah saya ikhlas," kata Bu Leader nada sedih.


"Kalau seminggu kena potong berapa Bu?" Tanya Rose.


"Sudahlah Rose gak apa. Itu konsekuensi yang harus saya terima," tolak Bu Leader mengira Rose mungkin berniat membayar ganti rugi.


"Berapa Bu. Siapa tau teman-teman ada yang mau diajak patungan."


Kata-kata Rose membuat Lesty terbelalak. Meskipun tidak mendengar lawan bicaranya dengan jelas ia tau kemana arah pembicaraan. "Ya ela. Rose gimana sih," tukasnya langsung menyatakan rasa keberatannya.


"Lu bisa diam gak sih," ketus Ema benar-benar gak suka akan sikap Lesty yang suka ceplos gak lihat sikon.


Huh, Rose menarik nafas berat melotot pada Lesty. Ia paham bagaimana kehidupan Bu Rahmi yang tinggal di kontrakan sederhana. Seorang janda dengan dua anak yang masih sekolah menengah pertama tentu memerlukan banyak biaya. "Katakan lah Bu. Jangan segan," sambungnya pada Bu Leader. "Untuk kali ini biarkan saya membantu," lanjutnya.


"Setahu aku gaji Leader 120 ribu perhari tambah uang makan 50 ribu," bisik Ema.


Oh.


"Beda 20 ribu dari gaji karyawan baru kayak aku," saut Rose.


"Uhm," angguk Ema lagi.


"Bu Leader sudah kerja berapa tahun?" tanya Rose pada Ema.


"10 tahun lebih Rose," saut Bu Rahmi yang masih mendengar pembicaraan. Karena memang telepon belum ditutup.


"10 tahun," gumam Rose.


"Kerja Leader gak susah kayak kita. Cuma ngatur-ngatur doang segitu mah udah banyak," tukas Lesty.


"Ish," keluh Ema sinis memandang Lesty.


"Apa lu," tantang Lesty gak senang pada tatapan Ema.

__ADS_1


"Sudah sudah." Rose melerai kedua temannya.


"Ibu punya nomor rekening kirim ke Ema saja. Hanya ingin membantu semampu saya boleh ya Bu," kata Rose. "Tapi belum bisa transfer sekarang karena ponsel sedang diservis," lanjutnya.


"Baiklah kalau kamu maksa," jawab Bu Leader.


Rose dapat mendengar helaan nafas lega wanita baya itu. Setelah menunggu beberapa saat terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Ema.


"Tunggu aku hubungi kamu baru kirim nomor ini ke aku ya Ema," kata Rose.


Baiklah Rose," jawab Ema.


Cis, dengus Lesty cemberut. "Hanya Bu Rahmi doang! Bu Nanda Lu gak bantu," sinisnya.


"Kalau Lu nggak ember Bu Nanda gak akan tau," saut Ema. "Lu gak kasian sama Bu Rahmi sering ngalah pada Bu Nanda dalam hal tanggungan jawab kerja!"


Hm. Rose mengerut kening. "Ada hal seperti?"


"Sering," jawab Ema.


"Lesty please. Sekali ini lu jaga mulut jangan keceplosan," mohon Rose yang tadinya mau bantu Bu Nanda juga jadi urung.


Ck, decak Lesty. "Baiklah kalau gak khilaf."


Astaga.


*


Jam istirahat selesai Rose kembali menyendiri di ruangan Direktur memilah berkas.


Terhitung hari ini Jacob sudah empat hari tidak masuk kantor. Walaupun bisa bertemu di kamar Hotel, Rose tetap kangen memandang kursi kebesarannya yang kosong.


Sementara berpikir keras mencari jalan bagaimana cara kabur dari Perusahaan tanpa terdeteksi terutama dari pantauan Maria Lili.


Ceklek, pintu ruangan Direktur itu dibuka.


"Jacob," gumam Rose senang. Baru dikenang sudah datang, aih. Senyumnya melebar tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya.


"Begitu merindukanku?" Kata Jacob menghampiri Rose memeluk kepala perempuan itu serta menciumi ubun-ubunnya. Turun ke dahi terus ke mata lalu ke hidung kemudian bibirnya disedot kilas. "Manisnya kamu sayang," desis Jacob mendekap perempuan itu erat.


Rose tidak berani membalas walaupun teringin. Khawatir jika tiba-tiba ada yang masuk. Maria Lili contohnya. Bukankah cari mati namanya.


"Sudah makan?" Tanya Jacob belum mau melepas dekapannya.


Mereka berduaan. Mana Bodyguard batin Rose. "Kamu lihat jam berapa ini," ketusnya ups segera menyesal teringat ancaman dilarang meninggikan suara.


Cis, dengus pria itu. "Kamu berlagak karena merasa kucintai, ya kan. Kalau sudah makan artinya sudah ada tenaga, ayo kita main."

__ADS_1


Heg.


Rose terhenyak. "Ih, gak mau!" Tolaknya segera menepis pria itu. Karena ia tau jelas Maria Lili ada di ruangannya. Bikin spot jantung saja siang-siang bolong wik wik. Di kamar pribadi tak apa tapi ini di ruangan kantor. Nggak berani, aku takut kepergok istrimu kata Rose hanya dalam hati.


Jacob merengut. "Kamu sudah bosan padaku?"


Hais, jadi salah paham. "Bukan sayang. Lihat-lihat dong kita ada dimana," tukas Rose


"Tidak usah buka semua bagian penting saja. Nyelip kan bisa," seringai Jacob menjijikkan. "Aku sengaja beli kamu gaun longgar-longgar untuk apa," katanya mengedip mata genit.


Perempuan itu menggeleng. "Tidak mau," kekehnya menolak.


"Sayang, aku bisa memaksa. Kamu pikir aku masuk kantor untuk apa jika darimana saja aku bisa mengurus pekerjaan ku. Itu karena aku merindukanmu." Jacob mengangkat Rose berdiri. Memeluk erat pinggang rampingnya paksa. Meraih tengkuk kemudian mencium bibir perempuannya penuh nafsu.


Ada apa dengannya hari ini. Apa dia menang saham jutaan dollar, keluh Rose merasa Jacob terlalu euporia. Perempuan itu menahan dirinya untuk tidak membalas menunggu ada kesempatan memaksa ciuman terlepas. "Hah," desahnya ngos-ngosan. "Sebentar aku ke kamar mandi," ujarnya.


"Hei! Justru aku menginginkan air itu," tahan Jacob.


Ck, Rose melotot pada Jacob. "Ini pipis beneran. Tadi jam istirahat dia gak mau keluar," alasannya tidak peduli segera meninggalkan Jacob. Dan memang gara-gara nelpon Bu Leader Rahmi ia belum sempet buang air seni.


"Jangan pake lama," teriak pria itu bersamaan dengan suara pintu ruangannya dibuka paksa.


"Jacob," panggil Maria Lili.


Di belakangnya dua bodyguard memandang Jacob pasang wajah tak berdaya.


Hum, Jacob mendesah.


*


Di kamar mandi Rose bersorak riang melihat ada bercak darah di cd-nya. Serta merta ia keluar menenteng segitiga pengaman itu sebagai bukti. "Jacob aku datang bulan," pekiknya senang. "Ups!" Seketika mengatup bibirnya.


Selain Jacob ternyata ada Maria Lili dan kedua bodyguard di dalam ruangan. Berdiri di pintu Dolken serta Novi dengan raut penasaran. Syukurlah dalam hati Rose. Jadi aku tidak perlu membuktikan beberapa kali. Kerena semua yang berkepentingan telah hadir disini. Dibuang jauh rasa malu, "Aku datang bulan," katanya lagi tanpa berniat menutupi cdnya dari pandangan para pria yang ada disitu.


Jacob menahan perasaan kecewanya memandang barang bukti ucapan Rose dengan raut kesedihan. Terlihat Maria Lili menarik nafas lega. Meski raut bengisnya tidak berkurang saat memandang perempuan gak tau malu itu.


"Maaf Pak Direktur," ucap Rose. "Saya permisi sebentar ke Koperasi. Mau membeli cd ganti."


"Aku temani kamu," kata Jacob.


"Jack! Kita perlu bicara," tahan Maria Lili cepat.


"Aku tidak ada waktu sekarang," tolak Jacob.


"Jack! Kamu Direktur di Perusahaan ini jadi tolong jaga sikap kamu," sergah Maria Lili tak kuasa menahan rasa marah serta cemburunya. "Aku tidak ingin mendengar ada gosip Direktur Utama menemani Klining servis ke Koperasi."


Hah! Wanita itu menarik nafas berat. "Dan aku tidak pernah mengiyakan kamu sambung kontrak serta tidak adanya perjanjian tertulis. Itu artinya statusmu bukan lagi suaminya. Mengerti Jack!" Pekik Maria Lili gak perduli harga dirinya pada orang asing yang menyaksikan. Toh mereka sangat jelas dengan situasi yang terjadi di ruangan Direktur ini sekarang.

__ADS_1


***to be continued.


__ADS_2