Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 49


__ADS_3

Di dalam mobil yang disupiri oleh Tiger didampingi oleh Mawar, sudah ada Jacob menyambutnya dengan senyuman lembut di wajahnya. Rose duduk di samping pria itu, Jacob memeluknya erat. Menciumi mulutnya yang bau rendang. Bodo amat pada kedua jomblo yang ada di depan. Kalau mau mereka boleh pacaran, kan! Mungkin begitu pikiran si Jacob batin Rose berusaha untuk tidak membalas meski ia ingin.


"Kenapa tidak bilang kalau mau makan nasi padang," desisnya di telinga Rose.


Syukurlah tidak curiga batin Rose salut pada ide Mario. "Tiba-tiba kepingin," jawabnya.


Jacob menciumi Rose gak bosan-bosan. "Maaf," ucapnya.


"Maaf kenapa?" Tanya Rose dengan ekspresi datar.


"Lain kali tidak akan ada gangguan dari Mary lagi. Aku janji."


Rose merenung Jacob. Apa pria ini belum mengenal siapa istrinya. Disini aku yang dikorbankan batin perempuan itu. Dan aku tidak mau cari masalah dengan wanita yang terobsesi pada suaminya sendiri. Bukankah wajar bagi Maria Lili mempertahankan Jacob di sisinya.


"Pak Direktur. Ibu wakil Direktur itu masih istri anda. Pulanglah barang sejenak. Apa Bapak tidak kasihan? Anda juga belum mengucapkan talak, kan!"


Hmmm, desah Jacob. Memang belum dalam hatinya. Maksudnya menunggu keputusan pengadilan. Dirinya tidak tega mengucapkan kata keramat bagi perempuan yang bergelar istri itu sebelum ketuk palu. "Surat gugatan sudah dikirim. Tinggal sidang dalam Minggu ini," jelasnya.


"Itu artinya anda masih suaminya. Maka pulanglah agar hati Ibu Wakil Direktur tidak gelisah mencari anda kesana kemari. Kita sudah hampir sebulan bersama. Kasih waktu untuk Wakil Direktur juga, dong." Kata Rose meski bertentangan dengan kata hatinya. "Ijinkan Mawar mengantar ku ke kosan," lanjutnya memohon.


Kamu tidak akan aman di sana sayang, batin pria itu. "Pembohong," kata Jacob tersenyum lebar memandang wajah cemberut perempuan di pelukannya. "Rose Diana! Mengenai Mary biar itu jadi urusanku. Kamu di sampingku hanya perlu bersenang-senang. Jangan berpikir untuk kabur. Mengerti Rose Diana!" Jacob mencubit hidung kecilnya yang lancip.


Haih, keluh Rose menyandarkannya Kepalanya di dada pria itu. Meskipun mereka pada akhirnya bercerai, ia tidak yakin Maria Lili akan melepasnya begitu saja. Dari wajahnya kelihatan kalau wanita itu jenis manusia pendendam. Belum sempat bertanya pada Ema mengenai nasib mantan-mantan istri kontrak Jacob sudah dijemput Mawar. Hm, apa Jacob tau kalau mantan istri kontraknya satu-satu menghilang seperti kata Lesty...


*


Mereka tiba di sebuah hunian hampir sama luas dengan Mansion Maria Lili. Hanya bangunan lebih klasik bagaikan kastil-kastil di negara Eropa. "Dimana ini?" Tanya Rose saat Mobil melewati Gardu yang dijaga dua orang pria tegap berseragam Satuan Pengaman.


"Tempat tinggal kita yang baru," jawab Jacob.

__ADS_1


Turun dari mobil yang diparkir tepat di depan pintu selebar layar bioskop dengan tiang-tiang tinggi dan kokoh, Jacob menggandeng tangannya memasuki ruang depan seluas lobby sebuah hotel bintang 7. Beberapa pria berkemeja seperti pekerja kantoran terlihat di beberapa tempat. Tidak ada pengawal pakai Jas ala James Bond seperti di Juan Sandy Residen.


Desain interior lebih mewah dari rumah mewah yang pernah dilihat Rose. Melalui ruang tamu ke ruang tengah tercium bau lem wallpaper seperti baru dipasang. "Aku mempersiapkan nya terburu-buru. kalau kamu tidak suka interiornya bisa ganti yang sesuai dengan selera kamu," kata Jacob.


"Aku bukan orang yang pusing dengan interior, Jacob. Punya rumah saja sudah syukur!" Kata Rose dengan suara tinggi namun dalam hati ia menyesal. Tak sepantasnya ia bersikap kasar pada Jacob yang telah baik padanya. Namun bawaannya pengin marah tidak tertahan.


Jacob sempat browsing di ponselnya tentang kata ngidam yang dikatakan Bear. Pengaruh hormon gak stabil batin pria itu maklum karena perempuan hamil sering bertingkah aneh-aneh. Bukankah itu anugerah yang tak terhingga karena sebentar lagi ia akan jadi seorang ayah. "Ayo kita melihat kamar," ujarnya serta merta mengangkat Rose ala bride ke lantai dua. Semoga setelah dimasuki anakonda bertubi-tubi moodnya jadi baik seringai dalam hari pria itu.


Yakin hanya melihat batin Rose gak yakin dan benar saja. Sampai di dalam kamar yang super deluxe namun tidak membuatnya bahagia itu, ia dibaringkan di kasur yang super duper lebar dan empuk.


"Jacob aku mau buang air," kata Rose.


"Aku antar."


Pria itu dengan sabar membantunya bangun dari kasur kemudian ke kamar mandi bersama. Perempuan itu terperangah melihat interior bathroom. "Mau main di sini," bisik Jacob sudah menduga Rose akan menyukainya. Ia merancangnya sesuai sifat Rose yang banyak inspirasi dan imajinasi dalam bercinta. Dan Jacob jadi suka main di kamar mandi karena Rose selalu banyak ide gila dalam memuaskannya di bathtub. Maka pria itu menambah Jaccusi serta bak berendam ala-ala kerajaan.


"Aku mendesain nya khusus. Tentu saja sesuai kebutuhan kita yang suka bercinta," seringai nya memeluk di pinggang Rose.


"Aku juga," kata Jacob.


Di samping kloset mewah ada urinoir tak kalah artistik yang masing-masing bisa mereka gunakan tanpa perlu ngantri seperti di rumah pamannya. Semuanya mengkilap menyegarkan mata memandang.


Rose menggeleng pelan melihat Jacob telah menanggalkan seluruh pakaiannya. Setelah membersihkan dirinya, giliran pakaiannya yang dilepas satu-persatu oleh pria itu.


"Aku sangat merindukanmu," bisiknya di telinga Rose.


"Aku juga," kata Rose tak mau membuat Jacob curiga bahwa ia berencana mencari momen yang tepat untuk kabur. Khawatir jika menahan diri akan membuat Jacob waspada dan semakin mengurungnya, Rose membalas dengan agresif setiap cumbuan seperti biasanya.


Di bawah shower mereka mandi berpelukan sambil berciuman penuh nafsu. "Aku sudah gak tahan," serak pria itu.

__ADS_1


Aku juga batin Rose memang demikian adanya. Menyatu dengan Jacob menjadi kebutuhan pokok dari yang paling pokok baginya sekarang. Bahkan lebih penting daripada mengisi perutnya dengan makanan. Segera ia mengalung lengan di leher Jacob.


Pria itu mengangkatnya memposisikan sundulannya tepat di kewanitaan Rose. Akh, desah perempuan itu merasa dorongan sekeras ubi kayu perlahan memasuki dirinya. Kenikmatan yang membuatnya tak mungkin sanggup berpisah dari pria ini.


Melalui dinding yang dilapisi cermin Rose dapat melihat penyatuan tubuh mereka seperti menonton xxx di layar LED selebar lapangan basket. Kapan pria ini bisa jadi milikku seutuhnya batin Rose gak yakin selagi Maria Lili masih hidup.


*


Di Hotel WJ.


Dolken uringan saat Maria Lili bersikeras tidak mau diajak makan maupun minum sebelum melihat Jacob kembali ke kamarnya. "Sudah hampir pagi," ujar wanita itu gelisah.


"Mary, bisa jadi Jack tau kita menunggunya di sini. Makanya dia tidak pulang," kata Dolken.


"Apa dia bersama perempuan itu?"


Dolken telah melantik teman-teman nongkrongnya menjadi mata-mata. Dari laporan mereka ia diberitahu bahwa Jacob ke Kota Reklamasi setelah menemukan Rose di kontrakan salah seorang karyawan JSP juga, bernama Ema Watson (singkatan dari Wati Sondang).


Pemuda itu menimbang-nimbang apa perlu memberitahu Maria Lili atau pura-pura bodoh saja. "Jacob ada di ruangan kantornya," katanya memilih keep the secret.


"Di JSP?" Tanya Maria Lili gak percaya.


"Hum," angguk Dolken menunjukkan wassup vidio yang dikirim satpam padanya dan juga dari temannya. Hanya saat mobil memasuki gerbang tapi tidak saat Jacob meninggalkan gedung.


"Maka dari itu tenangkan lah dirimu. Makanlah sedikit. Perutmu belum terisi apapun dari tadi sore. Hah, Ramuan ini menjadi tidak berguna," katanya pura-pura. Mengeluarkan botol yang isinya telah diganti dengan air putih dari sakunya. Agar Maria Lili yakin bahwa makanan bersih dari hal-hal yang dicurigai nya.


"Ya sudah ayo makan," ajak Maria Lili.


Asik.

__ADS_1


Dolken bersorak dalam hati. Sebentar lagi ia akan mendapat jatah batin dari Maria Lili rasa Rose Diana.


***to be continued.


__ADS_2