Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 6


__ADS_3

Maria Lili memandang suaminya, tidak tau mau jawab apa itulah maksudnya. Jacob tersenyum dikulum. "Kenapa Pak Hakim bertanya seperti itu? Apa anda mengira saya ini pembunuh berdarah dingin?"


"Siapa yang tau," jawab Pak Hakim sok paten.


"Jika anda tidak menikahkan saya sekarang maka anda akan jadi orang pertama yang saya bunuh," kata Jacob menyunggingkan bibirnya.


Gleg.


Jakun Pak Hakim bergulung, terbayang para bodyguard di halaman luar yang siaga dengan senjata api, barangkali. Bukan tidak mungkin. "Baiklah kalau begitu. Silahkan anda maju ke depan saya," kata wali nikah itu ketakutan.


"Hihi." Terdengar suara Dolken terkikik.


Cis, masih bisa dia tertawa cibir dalam hati Rose. Katanya menyukaiku, dasar pembohong batin Rose berjanji akan menghapus pria itu dari hatinya.


*


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!" Kata saksi-saksi.


Alhamdulilah akad berjalan lancar, terasa dingin saat menjabat tangan pria yang telah jadi suaminya itu. Walaupun basa-basi, Rose berdebar saat mengecup punggung tangan Jacob yang segar mewangi serta halus minta ampun. Bertambah grogi saat keningnya dikecup lembut bibir merah Pak Direktur. Suami tampanku dalam hatinya sendu, langsung terhenyak saat bertemu pandang dengan Maria Lili yang menatapnya tajam. Itu artinya tidak boleh terlalu mengekspresikan kebahagiaan. Heg, Rose tercekat di tenggorokan.


Walaupun pernikahan kontrak tapi terasa sakral menurut perasaan Rose. Tak terasa air matanya menetes, bahkan ibunya tidak ia kabari. Untuk apa, hanya sepuluh hari ini batin Rose berusaha tegar.


*

__ADS_1


Pejabat kantor agama telah diantar pulang, Rose dibawa ke lantai 3. Ke sebuah kamar yang luas tempatnya menginap malam ini, karena besok Maria Lili menjadwalnya untuk mandi kembang selusin rupa.


Rose ke lemari pakaian, mbak pelayan yang mengantar nya mengatakan pakaian ganti ada di dalamnya. Walaupun tidak merasa gerah, tapi ia belum mandi sejak dari pagi. Paling tidak mau tidur sebaiknya berganti pakaian. Hum, Rose merenung heran, kenapa Jacob memilih dirinya. Apa dia mengenalku sebelumnya, dimana kami pernah berjumpa..


Rose mengingat-ingat, sepertinya tidak pernah selain di kantor saat ia mengantar Kopi ke ruangan Direktur menggantikan mbak Sekretariat yang saat itu ada urusan urgent.


Saat Rose diminta mengantar kopi tak sengaja kopinya tumpah, dengan cepat ia menggantinya dengan yang baru. Ternyata Pak Direktur menyadari dan bertanya siapa yang membuatnya. Takut-takut Rose mengaku dan minta maaf karena menumpahkan kopi yang dibuat Sekretaris. Syukurnya Pak Direktur tidak marah. Itu saja, tidak ada yang istimewa dengan pertemuan mereka. Kalau memang suka kopi buatannya kenapa Pak Direktur tidak meminta Rose membuatnya lagi...


Tok tok tok.


Belum sempat membuka lemari pakaian, terdengar pintu diketuk. "Ya," jawab Rose menghampiri pintu kemudian membukanya. Maria Lili dan Dolken berdiri disana. Wajah Dolken cemberut seperti baru diomelin, keduanya masuk tanpa dipersilahkan.


"Duduk lah." Kata Maria Lili setelah ia menghenyakkan pantatnya di sofa panjang yang ada di kamar itu. Dolken duduk di samping Maria Lili, Rose duduk di sofa double di depan kedua tamunya.


Dolken mengeluarkan beberapa produk kecantikan viral di tok tok dari dalam paper bag yang dibawanya. "Ini skincare untuk kamu bawa ke Maldives," kata Maria Lili dengan tatapan merendahkan.


"Ehm." Rose mengangguk. Seumur-umur ia tidak pernah pakai skincare. Cukup sabun bayi untuk seluruh tubuh dan shampoo untuk rambut yang kesemuanya beli di warung.


"Baik Nyonya," jawab si mbak kemudian meninggalkan kamar.


"Ambil sebutir minum sekarang," perintah Maria Lili mengejutkan Rose.


"A." Perempuan itu tergagap. Apa ini batinnya mulai menyesal kenapa ia mata duitan. Apakah setelah ini ia menjadi tak sadarkan diri. Rose baru ngeh bahwa diantara produk skincare ada sebotol pil berwarna putih berukuran sedang.


"Jangan takut! Ini hanya pil pencegah kehamilan," jelas Maria Lili melihat Rose tiba-tiba gemetaran. "Apa kamu berharap melahirkan ahli waris JSP?"


"Tidak!" jawab Rose cepat. "Saya masih ingat isi perjanjian. Tapi bukankah kata Ibu bahwa Pak Direktur mandul," kata Rose, teringat pembicaraan mereka di ruangan wakil Direktur itu.

__ADS_1


"Kita tidak bisa meramal masa depan, jadi pihak kamu juga harus berjaga-jaga. Habiskan satu botol, minum satu butir satu hari. Mengerti!" Tegas Maria Lili.


Hanya sepuluh hari minum sebotol pil, terlalu gerutu dalam hati Rose. "Baik Bu," Jawabnya juga tak berani membantah.


"Saya akan mengawasi kamu sampai siklus berikutnya. Dan ingat! Ini rahasia yang harus kamu tutupi dari siapapun terutama Jacob."


"Baik Bu. Saya mengerti kalau itu," jawab Rose.


"Hum, tunggu apa?"


Ah, Rose mengerti lirikan Maria Lili pada botol pil di depannya. Segera Rose meminumnya sebutir di depan kedua orang yang menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat itu.


*


Sedari kecil Rose tidak pernah suka minum obat. Setiap kali demam atau flu baik Ibu maupun Bibi memaksanya minum, maka dengan lihai ia menyembunyikan di balik gigi gerahamnya. Sama seperti saat ini, setelah Maria Lili dan Dolken keluar dari kamarnya, Rose memuntahkan pil itu ke kloset kamar mandi.


Ha, desah nafasnya lega. Dasar perempuan sialan, batin Rose. "Suaminya mandul impoten, lagi. Kenapa juga aku harus minum obat. Kalau dia sendiri sepuluh tahun menikah gak bisa hamil, kenapa dia takut aku hamil."


"Seharusnya aku pulang dulu ke kosan, malah dibawa kemari sama si Dolken," gerutu Rose Diana berdiri memandang tubuhnya di cermin. "Apa yang dilihat si Jacob dariku yang dekil ini," gumamnya.


"Terserahlah bukan urusanku. Mandi dengan sabun mahal dan sabun murah emang beda ya," senyum gadis itu. "Tak usah terlalu bersih, makin dekil makin bagus biar dia cepat muak padaku. Toh besok juga ada sesi perawatan jam 07.00 wib teng, gak boleh telat, cis."


Selesai mandi Rose ke lemari melihat apakah ada yang bisa dipakai. Ternyata banyak baju tidur seksi digantung terbungkus plastik, oh my God. Tapi sepertinya baju bekas, karena Plastiknya ada tulisan loundry. "Baju bekas siapa ini? Apa baju bekas pakai mantan istri kontrak Jacob terdahulu, atau baju bekas Nyonya Direktur."


Rose mengenakan salah satu terusan sutra lengan spaghetti berwarna biru muda. Pas sekali ditubuhnya, ternyata pakaian juga bisa menaikan derajat. Senyum gadis itu melihat penampilannya jadi mirip orang kaya. "Baiklah waktunya tidur." Saat hendak berbaring pintu kamarnya diketuk. Lagi? Hais. "Ya," jawabnya dengan malas beranjak ke pintu.


"Mbak diminta Bapak membuat kopi, kemudian bawa ke ruang kerja Tuan." Kata perempuan di depan pintu.

__ADS_1


"Pak Direktur?" tanya Rose.


***to be continued.


__ADS_2