
Cukup sepuluh menit bagi Jacob untuk mandi langsung mendatangi Rose ke kasur tanpa berpakaian terlebih dahulu. Menanggalkan handuk di tubuhnya begitu saja sembari membuka selimut penutup tubuh, oh tidak. Ternyata perempuan ini hanya mengenakan lingerie super duper seksi yang Jacob pesan sendiri. Sangat indah dipandang mata. "Dasar nakal!" Seringainya tersenyum lebar melihat Rose transparan. Tidur dengan kaki terbuka menampakkan lubang belut yang terjepit rapat. Dengan mudah Jacob menciumnya dalam akh, menjilat-jilat seperti kucing garong. Bagai seorang pecandu pria itu menghirup aroma kewanitaan Rose.
Perempuan itu hanya pura-pura tidur saat merasakan kehadiran Jacob. Pasrah saja saat kakinya dibuka lebih lebar. Oh tidak, erangnya dalam hati menahan rasa kebelet pipis ternyata tidak bisa. Rose terkencing-kencing dengan suka cita Jacob menyedotnya seperti makan kerang cucut. Gimana Rose tidak setengah mati menahan nikmatnya sensasi indra pengecap Jacob. Saat-saat yang mendebarkan manakala pria itu tak sabar ingin memasukinya. Rose bertahan pura-pura tidur berlagak seperti boneka Jepang. Diangkat, digeser, diputar ke kiri di putar ke kanan kembali telentang. Dalam satu kali pelepasan Jacob, Rose mendapat empat kali kenikmatan. Hanya tengkurap yang belum. Rose memutar sendiri tumbuhnya pura-pura menggeliat. Menguap pelan seperti orang mengantuk...aaauhm.
Bagaimana mungkin Jacob tidak tau kalau sebenernya Rose terjaga. Pria itu hanya membiarkan saja gimana maunya dia. Kesenangan perempuan ini kebahagiaan nya juga kan. Plak! Geramnya menepuk bokong jungkit Rose kencang. "Aaaaaa!" Perempuan itu berteriak. Akhirnya bunyi juga dalam hati Jacob tersenyum geli.
Perih beud sumpah batinnya. "Sakit tau," rengek Rose manyun.
Jacob menimpa di atas punggung Rose. "Dasar nakal," desisnya sembari menyatukan diri mereka kembali.
"Akh," erang Rose menahan sensasi sundulan dan juga rasa sakit gigitan di telinganya.
"Kamu senang telah mempermainkan aku," bisik Jacob sambil mendayung. Mata gadis itu terpejam sementara mulutnya mangap-mangap berliur-liur. "Aku bahagia," jawabnya ikut bergerak membalas hentakan maju mundur Jacob.
Pria itu sumringah memeluk perempuannya erat. Melalap telinga Rose sembari meremas dada terus mendayung sampai ke tepian.
*
"Pak Direktur!" Panggil Rose kencang di wajah Jacob seperti orang budek. Padahal mereka sedang berpelukan.
"Hum," jawab Jacob mata terpejam.
"Boleh tidak biar aku saja yang menggantikan sangsi kedua orang Leader?" Tanyanya.
"Maksudnya?" Tanya Jacob tidak mengerti.
"Bukan kah kamu telah memaafkan kesalahanku waktu memesan Pizza. Tapi kenapa Bu Rahmi dan Bu Nanda masih kamu hukum juga seminggu libur kerja tanpa gaji?"
Mau gak mau Jacob membuka matanya. "Bukan aku, sayang. Mungkin Dolken karena dia Supervisor mereka sekarang," jelas Jacob menduga-duga karena ia telah memecat pemuda itu bukan lagi sebagai asistennya. Maria Lili memberinya jabatan baru menjadi Supervisor Bagian, membawahi petugas kebersihan khusus lantai 45.
Ck, decak Rose kecewa.
"Harus ada efek jera Rose Diana binti Angling Darma. Biar yang lain tidak ikut-ikutan," terang Jacob setuju atas kebijakan Dolken untuk pertama kali.
"Hu uh," kesal Rose.
"Aku bisa saja atur agar pemotongan gaji dibatalkan namun jika bocor ke karyawan lain. Aku gak akan segan-segan memecat mereka semua. Karena satu karyawan tau seluruh gedung akan bergosip."
__ADS_1
"Aaaaaa," tangis Rose dimanja-manja. "Itu mah sama saja! Mana bisa gak bocor pada mulut ember semua," teriaknya. "Bukankah kamu yang bayar gaji?"
"Bukan sayangku tapi Maria Lili," jawab Jacob. "Jika Novi sampai tau maka...." Pria itu menggantung kata-katanya.
"Ih!" Kesal Rose menyerah pasrah kalau menyangkut Bu Wakil Direktur itu.
"Pinjam ya. Aku mau ngilangin stres dengannya," kata Rose Diana. "Dan aku mau main sendiri," tegasnya.
"Oh, tidak sayang. Mana bisa tahan," protes Jacob.
"Tahan kan seperti hari minggu kemarin. Kamu dihukum," ketus Rose.
Hais.
"Selesai kontrak kamu benar-benar dalam masalah..hahaha," tawa Jacob geleng kepala. Bocah kencur ini ternyata lihai serta penuh ide dan banyak imaginasi.
"Itu bukan urusanmu lagi! Banyak diluar sana yang mau ku manfaatkan," tukas Rose.
"Hei," tegur Jacob serta merta mengangkat wajah Rose saat hendak melahap kepala anakondanya. "Jangan coba-coba," marah pria itu.
"Aku butuh tempat pelampiasan, kan!" Ketus Rose.
"Iya ya. Aku pinjam ini saja kalau lagi pengen. Boleh kan," kata Rose kemudian memasukkan kepala sampai setengah batang anakonda tertahan mentok di tenggorokan. Perempuan itu memaksa lebih dalam lagi sampai seluruh batang gemuk nan panjang itu menghilang di dalam mulutnya.
"Um hmm," desah Jacob merasa nikmat tak tertahankan.
Selanjutnya Rose benar-benar memperlakukan pria itu seperti alat pemuas buatan pabrik.
*
Dini hari Jacob kembali memeriksa berkas Maura dengan lebih teliti siapa tau ada yang terlewat, tapi mana bisa konsen. Rose menemaninya karena selalu ingin menempel pada pria itu. "Jacob, mana liontin kalung ini?" Tanya perempuan itu menggenggam rantai yang tergeletak di meja.
"Ada di bengkel sedang diperbaiki," jawab pria itu.
"Liontin ini bisa dikopek juga kah?" Tanya Rose menunjuk rantai di lehernya.
Jacob memandang kalung yang sengaja ia desain mirip dengan desain Maura. "Itu tidak bisa sayang," jelasnya.
__ADS_1
"Tapi ini juga berbentuk sebelah hati yang disatukan."
"Hanya formalitas. Di tengahnya sambungan terpatri kuat." Sekuat hubungan kita sambung dalam hati Jacob tidak mau kehilangan cintanya untuk kedua kali.
"Oh," bibir merah Rose membulat membuat gemas. Perempuan itu berbaring berbantal pahanya dengan mudah pria itu meraup mulut Rose yang baunya bikin kecanduan. Rose meraih tengkuk Jacob memperdalam ciuman.
"Pergi begitu lama semoga bisa bertemu lagi," desisnya setelah ciuman terlepas.
Apakah mungkin Maura masih hidup dalam hati Jacob gak yakin. Jika memang demikian kenapa tidak pulang ke JSP menemui keluarganya. Hah...
"Semoga," harap pria itu menatap sayu Rose. "Ayo main lagi," bisiknya di wajah perempuan itu.
"Hm," angguk Rose mengiyakan. Hanya tiga bulan puas-puasin dah dalam hatinya.
Jacob melampiaskan kerinduannya pada Maura melalui Rose. Akh, apakah salah jika membandingkan bahwa Rose lebih membuatku hidup dalam kelimpahan gairah batinnya.
Bagaimana seandainya Maura tiba-tiba muncul setelah sekian lama. Meski perasaan masih ada, apa dia bisa terima Rose sebagai wanita kedua.
*
Keesokan hari Rose dibuat shock oleh alat pendeteksi kehamilan. "Matilah saya," gumamnya gemetar.
"Oh no."
Perempuan itu terduduk lemas di kamar mandi. Baru satu hari tanggal periodenya terlambat. Kenapa bergaris dua, "aaaaaa," teriak Rose tertahan jadi ingin menangis.
Bagaimana bisa Jacob yang mandul ditambah pil pencegah kehamilan. Benar-benar tidak masuk akal dalam hatinya. Jacob sih menahan ku di Hotel terus. Digenjot 24 jam nonstop apa gak hamil kesal perempuan itu.
Suatu yang kebetulan saat jam istirahat, Ema mengajaknya ke Koperasi Serbaguna Perusahaan. "Mau beli softex," katanya. Rose menemaninya karena persediaannya juga tertinggal di kosan. Sekalian ia belanja penghilang rasa sakit saat haid selain pembalut. Rose penasaran dengan hubungannya dan Jacob yang intens, apakah membuahkan hasil. Hanya untuk berjaga-jaga ia membeli testpack dan memohon pada Ema agar jangan ember kayak mulut si Lesty. Dan ternyata saudara-saudara, benarkah aku hamil...oh no.
"Sayang," panggil Jacob.
Oh, Rose kaget bukan main.
Hais.
"Jam berapa ini. Kenapa Jacob sudah kembali," keluh perempuan itu kalang kabut membungkus testpack dengan bergulung-gulung tisu kemudian membuangnya ke tong sampah. "Bentar sayang," saut Rose. "Aku sedang beol."
__ADS_1
***to be continued.