
Maria Lili telah memutuskan CCTV di seluruh bangunan Juan Sandy Resident dari pantauan Jacob dan akan begitu seterusnya sampai suaminya itu kembali ke Mansion.
Maka dengan berani Dolken memeluk wanita itu dari belakang, mencium ubun-ubunnya. "Apa yang akan kau lakukan," desis pemuda itu di telinga Maria Lili sembari menghirup wangi tubuhnya.
Uhm, desah Maria Lili kembali terpancing saat Dolken semakin melunjak meremas gundukan di dadanya. "Tentu saja mempertahankan suamiku dari pelakor sialan itu. Tidak ada yang boleh bernafas di atas Bumi bagi siapa saja yang ingin merampas Jacob dari ku."
Hum, terserah kamu saja dalam hati Dolken asalkan dirinya tidak ikut terseret. Dapat uang tutup mulut ekstra bonus menikmati tubuh indah, hai indahnya dunia. "Ingin bercinta lagi? Kalau gak ku tinggal tidur," desisnya di telinga Maria Lili. Jemarinya memilin ujung bukit berwarna merah jambu saking putihnya kulit wanita itu di balik lingerie transparan biru muda.
"Yakin mau pergi begitu saja," tantang Maria Lili menatap sayu Dolken. Pemuda itu tersenyum lebar sampai telinga seketika meraup bibir merah wanita dewasa itu sambil mengangkat tubuhnya.
Akh, Maria Lili terpekik segera mengaitkan kakinya di tubuh Dolken agar tidak jatuh. Sambil berciuman pemuda itu membawa Maria Lili ke sofa panjang yang ada di ruangan itu.
Hah.
Mereka terhempas berpelukan. Dolken di atas Maria Lili. "Aku ingin disini," serak pemuda itu.
Si wanita mengangguk setuju. Ia butuh hiburan menghilangkan stress sekalian menjernihkan pikiran. Semoga dapat ide cemerlang bagaimana melenyapkan Rose Diana dari muka Bumi.
Antara Dolken dan Roland tentu saja Dolken lebih tampan dan segar karena usianya yang masih muda, meski gairah mereka lebih kurang sama. Namun tipe Maria Lili adalah pria yang lebih tua darinya seperti Jacob dan Roland.
Untuk bermain-main Dolken memang pilihan yang tepat. Namun untuk dipamerkan ke publik maunya pria dewasa seperti Jacob ataupun Roland. Namun karena ia tidak mencintai Roland maka Jacob adalah pria yang pas untuk menjadi pasangannya. Dan Jacob adalah suaminya maka kewajibannya mempertahankan pria itu disisinya.
"Mary, apa kurangnya aku dari si Jacob itu?" Tanya Dolken menahan sundulannya di pintu masuk Maria Lili.
Apa!
Maria Lili terhenyak spaning. "Di saat seperti ini kamu masih sempat bertanya!" Marahnya.
"Tergantung jawabanmu memuaskan atau tidak," jawab Dolken.
"Brengsek kau!" Maki Maria Lili tak berdaya. "Kalau jawabanku memuaskan!"
"Aku sundul dengan keras," jawab Dolken.
Hah.
"Kalau tidak memuaskan."
"Akan ku sundul lebih keras lagi," seringai Dolken.
Bocah sialan batin Maria Lili. "kau kurang tua," jawabnya.
__ADS_1
"Astaga," ucap Dolken. Untuk pertama kali ia rendah diri karena usia.
"Apa lagi yang kurang Ken!" Marah wanita itu. "Kamu mendapat uang dan harta. Tubuhku jadi tempat pelepasan mu."
"Aku hanya ingin kamu lanjutkan hidup dengan bahagia. Melepaskan sesuatu yang tidak bisa kamu miliki seutuhnya."
"Jacob milikku, Ken. Karena dia suamiku. Kami ditakdirkan berjodoh kalau tidak mana mungkin menikah."
Oh tidak. "Dan ini! Mana yang lebih mantab," kata Dolken tak tahan lagi. Mendorong keras sampai batangnya menghilang di dalam liang.
Akh, desah wanita itu merasa sesak di pintu rahimnya. "Ken. Kamu harus bisa membedakan antara nafsu dan cinta. Jacob adalah kebahagiaan ku dan kamu membuatku senang. Terimakasih," ucapnya tak lupa bersyukur.
"Fackyou," maki Dolken menghentak keras. Mengerahkan tenaga sekuat dan secepat ia mampu.
"Pelan-pelan Dolken!" Teriak wanita itu.
"Nikmati saja," sinis pemuda itu.
Hatinya cemburu, hah! Apa aku telah jatuh cinta pada wanita ini? Tidak mungkin. Kau bukan tipeku. Bagiku kamu juga hanya tempat bersenang-senang dalam hati Dolken membantah perasaannya yang perduli pada Mary itu sebagai rasa cinta.
Maria Lili menggelinjang dan memang Dolken semakin ahli dalam memuaskannya. Bocah ini aku yang ngajari sekarang mampu mengalahkan kehebatan Jacob saat dipengaruhi ramuan halusinasi.
"Dolken, apa kamu minum ramuan dari atas meja rias?" Tanya Maria Lili teringat sesuatu yang terlewat.
Maria Lili melebarkan matanya. "Aku yakin masih ada 4 sekarang sisa 3. Lalu kemana pergi satu botol," ujarnya menekan nada bicaranya tanda ia serius marah.
Hihi, dalam hati pemuda itu tertawa geli. Tidak menyangka Mary akan menghitungnya.
"Ayo ngaku! Kalau bukan kamu siapa lagi," desak wanita itu.
"Kamu yang minum," jawab Dolken menahan senyum.
"Apa?"
Yakin gak yakin Maria Lili percaya apa kata Dolken. Itu karena malam kemarin ia bermimpi Jacob kembali dan bercinta dengannya, hah. Desahnya menarik nafas kasar.
Plak! Seketika menepuk mulut Dolken.
"Aduh," pekik pemuda itu kaget meski sudah sering ditepuk. "Aku tidak tahan melihat kamu terpuruk, Mary. Dan itu berhasil membuat kamu relaks," jawabnya. "Beruntung kamu mau ku wik wik kalau tidak. Mana mungkin ku biarkan kamu sembarangan main tepuk," gerutunya cemberut.
Cis, dengus Maria Lili.
__ADS_1
"Dari pada kasi si Jack bukankah lebih baik kamu minum sendiri," usul Dolken.
Maria Lili yang masih kesal merenung brondongnya. "Begitu kah?"
"Ehm," angguk Dolken. "Kamu seperti macan betina membuatku lebih selusin kali pelepasan." Pemuda itu mengedip mata genit.
Memang luar biasa pengaruh ramuan itu batin Maria Lili setelah merasakan langsung efeknya. Gairah gak putus-putus meski kesadaran telah kembali. Bagaimana Jacob menahannya selama ini. Pria itu telah meminumnya selama lebih sepuluh tahun. Bisa jadi hiper sekz. Oh tidak bisa dibiarkan Rose Diana menikmati hasil jerih payahku.
"Kamu tau berapa harga sebotol kecil itu?"
"Berapa?" Tanya Dolken balik.
"1 box isi sepuluh botol 24 juta. Kamu hitung sendiri," ketusnya.
"Tapi hasilnya kan mantul," ujar Dolken. "Bagus buatmu juga."
"Dan kamu bisa bersenang-senang," sinis Maria Lili merengut.
Hehe.
*
Di Hotel WJ hampir pagi sepasang sejoli yang lagi kasmaran masih begadang. Rose yang memeluk Jacob penasaran kenapa kepalanya sakit memandang Liontin sementara rantainya tidak. Ia ingin mencoba lagi apakah pengaruhnya masih sama. "Sayang, apa Liontin masih di bengkel?" Tanya Rose.
"Uhm," desis Jacob masih tak lepas dari berkas di tangannya. "Kenapa kamu penasaran?" Tanya pria itu. "Apa kamu menginginkannya?"
"Bolehkah?" Tanya Rose.
Jacob menoleh pada perempuan yang menggenggam kelaminnya itu. Kemudian menciumi mulutnya gemas.
Meski sering kewalahan tapi Rose menyukai keagresifan Jacob. Semakin nafsu semakin terpacu adrenalin membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari normal. Ehm ah ehm, air dibawahnya terasa deras mengalir. Beruntung pakai pembalut jadi darah haid tidak berceceran batinnya.
"Mulut kamu ini baunya bikin candu," desis Jacob saat mengambil nafas sejenak setelah ciuman yang memakan waktu hampir sepuluh menit.
"Itu kan baumu sendiri," jawab Rose sembari mengusap bibir Jacob yang memerah.
Jacob tau maksudnya bahwa itu air kenikmatannya yang ditelan semua oleh anak nakal ini. "Kamu perempuan genit jangan begini pada laki-laki lain. Mengerti Rose Diana!"
"Kalau habis kontrak masa aku gak boleh cari lain," jawab Rose menekuk bibirnya.
Heg, Jacob terhenyak. "Kamu boleh memilikinya selama aku hidup," ujar pria itu menunjuk miliknya yang ada digenggaman Rose.
__ADS_1
Rose tau maksudnya bahwa Jacob tidak berniat melepaskan dirinya sampai kapan pun. Namun tidak semudah itu sayang. Ada istrimu yang jadi penghalang. "Kita jalani saja apa adanya sekarang. Just enjoy the moment. Pertemuan dan perpisahan kalau sampai waktunya harus ikhlas."
***to be continued.