Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 53


__ADS_3

"Sudah tau dimana keberadaan Jacob. Sekarang kita pulang," kata Dolken menyalakan mesin mobil.


"Bawa aku ke kantor pengembang," titah Maria Lili. "Aku mau rayu mereka agar mengijinkan kita menempati satu unit yang tidak dijual itu, sementara. Hanya sewa gak mungkin gak kasi. Semua pebisnis suka uang, you know!"


"Oh my God," ucap Dolken. "Sabtu pukul setengah delapan malam kantor mana yang buka," keluhnya.


"Ayolah, kita lihat apakah ada orang yang bisa ditanya-tanya. Setiap kantor ada Satpam penjaganya, kan!"


"Baiklah, you are the bos." Terpaksa Dolken menuruti kemauan sarang burungnya yang kembali terbangun.


Hais, keluhnya. "Mary, apa kamu gak kepingin?"


Plak!


Maria Lili menepuk tengkuk Dolken. "Tidak minum ramuan pun kamu piktor apalagi minum, hais. Cepat cari pewe," ujarnya tiba-tiba kepikiran karena diingatkan si mesum ini. Ramuan benar-benar membuat orang kesetanan.


"Asik," seru Dolken memutar mobil agak ke semak. Melalui sebuah jalan sepi yang hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat. "Di sini aja ya," katanya sembari memadamkan semua lampu kecuali satu lampu dasbor.


"Ehm," angguk Maria Lili yang langsung disosor oleh Dolken. Nafas memburu kedua orang bercumbu di kegelapan.


Sebenarnya itu menjadi satu alasan bagi Dolken agar Maria Lili melupakan niatnya ke kantor pengembang malam ini juga. Senin kan masih bisa sekalian mengantar laporan mingguan. Bisa jadi mereka diawasi, meskipun teman-temannya telah menyisir lokasi bersih dari alat pengintai jarak jauh.


"Satu botol hanya boleh diminum seminggu sekali paling cepat, Ken. Tidak boleh tiap hari," kata Maria Lili nafas memburu, ah ah ah. "Sebulan sekali waktu normalnya."


Karena ruangan yang sempit terpaksa mereka main duduk. Mary di atas pangkuan Dolken menaik turunkan bokongnya. Kelamin Dolken yang tiba-tiba gemuk menambah kenikmatan berkali lipat dari sebelumnya yang memang sudah nikmat. Akh, erang wanita itu memperdalam tekanan lunjakannya.


"Baiklah akan ku ingat," desah pemuda itu menahan nikmat gesekan pedangnya di dalam sarungnya. Memang mengerikan kalau tiap saat mau. Takutnya mengganggu kesehatan organ reproduksi dalam hati pemuda itu berjanji akan menjadwal tanggal minum ramuan cukup sebulan sekali.


Akhhh.. lenguh kedua orang bersamaan. Keringat bercucuran membasahi tubuh. Kapan ia pernah main di Mobil ternyata seru juga. Bersama Dolken banyak pengalaman yang Maria Lili rasakan. Bocah mesum ini akhir-akhir ini berani minta duluan dan celakanya ia tidak bisa menolak.


Dolken menurunkan sandaran mobil membantu Maria Lili mengayun bokongnya, lima menit kemudian akhirnya keluar yang harus keluar.


*


"Akh, kan! Gara-gara kamu gak jadi ke kantor pengembang," marah Maria Lili saat melihat jam sudah pukul 21.45wib.


Hehe, seringai pemuda itu membantu Maria Lili mengenakan pakaiannya. "Senin masih bisa," ujarnya.


"Besok pagi harus kemari lagi," tegas Maria Lili.

__ADS_1


Pagi? Oh tidak! Aku akan membuatmu bangun kesiangan dalam hati Dolken. "Kalau kamu gak minta nambah yakin masih sempat. Jadi jangan salahkan aku," kata pemuda itu membela diri.


"Cis," dengus Maria Lili. "Kamu mau ku kebiri. Yang jadi masalah patukan burungmu itu membuatku lupa diri," marah wanita itu.


"Ish, jangan dong." Kata Dolken takut segera menutup burungnya.


"Makanya jangan cari gara-gara."


"Siapa yang cari gara-gara. Kita nyari kesenangan, kan!"


Plak!


"Aduh," erang Dolken. "Makin lancar aja kamu menggeplak palaku," katanya merengut.


"Kamu! Makin lancar aja menampar bokongku," balas Maria Lili. "Kamu pikir gak perih."


"Hahaha." Mau gak mau Dolken tertawa geli gak jadi sakit hati.


*


Hari Minggu selesai zuhur Rose keluar kamar bersama Jacob. Berkeliling di lantai dua sama seperti balkon rumah mewah pada umumnya hanya bahan dan interior yang membedakan. Jacob memilih warna soft memberikan kesan luas dan cerah. Tidak ada gorden seperti rumah pada umumnya. Jendela terbuka lebar namun di tengah ada kaca penghalang pandangan dari luar ke dalam. Rose dapat merasakan angin bertiup lembut dan dingin dari sela pembatas.


"Itu karena dibantu AC yang ditanam di lantai dan di dinding," terang Jacob.


"Oh," mulut Rose membulat melihat ke lantai yang berbahan kaca. "Seperti lantai istana Sulaiman," ujarnya. "Tapi tidak ada bayangan."


"Mau lihat bayangan ayo kita ke kantor," kata Jacob.


"Ruangan yang katamu tempatku mengembangkan bakat. Ayolah," ajak Rose gak sabar.


"Hum," Jacob tersenyum mesum.


Setengah perjalanan. "Wah," seru Rose melihat lantai. "Dari mana kamu dapat ikan-ikan ini?"


"Ini pesanan khusus agar interior tidak membosankan," kata Jacob.


Memang lantai dua berbeda jauh dari lantai di bawahnya. Lantai 1 yang seluruh dinding ditutup wallpaper menampilkan kesan mewah ditambah sofa-sofa mahal dan lampu-lampu gantung yang berkilau. Guci antik, lukisan yang tergantung di dinding menjadikannya lebih mirip ruang tunggu sebuah galeri.


Dan yang membuat unik lantai dua meski polos adalah aquarium yang ada di lantai dan di dinding antara kamar utama dan ruangan kantor. Rose dibawa masuk ke dalam ruangan yang lebih luas dari kamar utama. Bagian dalam disekat kaca pembatas antara meja kerja dan sebuah, oh my God. Kasur spring bed queen size. "Jacob, biar benar kamu!" Pekik Rose.

__ADS_1


"Hehe," senyum pria itu.


"Oh no," desis Rose


"Oh yes," sambung Jacob.


"Apa kamu akan menerima kunjungan pegawai di ruangan ini?" Tanya Rose.


"Tentu saja tidak," jawab Pria itu. "Ini ruangan kerja pribadi seperti di Juan Residen pertama kali kamu terkencing di pangkuanku," kata Jacob mengingatkan Rose.


"Uwek." Rose menjulurkan lidah malu. "Artinya kamu akan tetap berkantor di lantai atas?" Tanyanya.


"Ehm," angguk Jacob. "Lebih tepatnya di lantai 5."


"Uhm." Rose manggut-manggut. "Ayolah keluar aku lapar," katanya sebenarnya tidak perduli dengan interior. Bagaimana bisa menyelinap kabur yang ada dipikirannya.


"Oke," kata Jacob menggandeng tangan Rose. Melewati tangga lebar dan tak kalah antik mereka turun ke lantai bawah. "Masih mau lihat-lihat?" Tanya pria itu.


"Ehm," geleng Rose. "Kita ke halaman saja."


Aku mau tau apa ada celah untuk jalan keluar yang luput dari pengawasan dalam hatinya.


Dengan sabar Jacob membawa Rose keluar halaman sepanjang jalan kenangan saking panjangnya menurut Rose. Tanaman bunga mawar mekar beraneka warna mengelilingi pagar. Beberapa penjaga berdiri dengan jarak kira-kira lima meter. Mobil-mobil diparkir sejajar.


Yang paling membuat susah melarikan diri adalah parit seluas kira-kira satu setengah meter sepanjang jalan kenangan juga sama seperti panjang pagar yang jadi pembatas dalam dan bagian luar.


Hais, benar-benar jadi tahanan aku batin Rose. Hunian ini dirancang khusus untuk jadi penjara. Terisolasi dari tetangga yang juga sama-sama terisolasi.


"Jacob tidak usah berkeliling lagi," ujar Rose malas.


Pria itu sengaja tidak banyak bicara dari tadi memperhatikan ekspresinya. Dan tebakannya terjawab bahwa sebenarnya perempuan kesayangannya ini tidak betah di tempat seperti ini. Begitu juga dengan dirinya. Tapi apa boleh buat demi keamanan istri kecilnya, Jacob membentengi kehidupan mereka dari dunia luar sampai anaknya lahir ke dunia.


"Kita lunch sekarang," kata Jacob.


"Uhm," angguk Rose.


Dengan menyetir sendiri mobilnya pria itu membawa Rose ke sebuah restoran mewah di daerah Kota Reklamasi juga. Satu mobil bodyguard di depan serta dua mobil mengikuti di belakang dalam jarak yang telah ditetapkan.


***to be continued.

__ADS_1


__ADS_2