Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 8


__ADS_3

Rose membelalak karena ternyata dibalik kimono nya, Jacob tidak mengenakan apa-apa. Untuk pertama kali ia melihat alat reproduksi pria secara live, jantungnya dipacu seperti kuda yang di pecut penunggangnya. Itu kok bisa berdiri batin Rose merasa dirinya telah dibohongi, jantungnya semakin berdebar kencang dug dug dug.


"Hum," gumam Jacob memandang Rose. "Tunggu apa?"


Mengingat banyaknya jumlah rupiah yang ia terima. "I-iya," jawab Rose suara bergetar, bahkan tubuhnya lebih gemetar.


Jacob membantunya membuka kaki, perlahan Rose memutar tubuhnya duduk mengangkang di pangkuan pria itu. Tubuh menempel tak berjarak, karena Jacob serta merta menekan bokongnya agar duduk lebih rapat.


Akh, pekik Rose merasakan gelenyar aneh saat kewanitaannya terbentur kejantanan Jacob. Huh! Begini rasanya batin perempuan itu menarik nafas kasar, memaksa udara masuk ke paru-parunya. Perasaannya campur aduk. Apa ini yang dikatakan impoten, bisa robek aku malam ini jika Jacob meminta haknya. Tubuh Rose gemetar hebat, karena ia benar-benar tidak siap. Pantesan Nyonya memintaku minum pil pencegah, batin perempuan itu menyesal telah memuntahkannya.


"Jangan takut. Malam ini hanya perkenalan," senyum Jacob menyadari ketakutan Rose. Dan pria itu menyukai reaksinya, terutama reaksi kejantanannya saat bertemu kewanitaan perempuan di pangkuannya.


Makanya Jacob memilih Rose, itu karena ia penasaran dengan reaksi tubuhnya saat berdekatan dengan karyawan dari bagian kebersihan ini di ruangan kantornya beberapa waktu lalu.


Rose mengenakan gaun satin sutera licin, hanya sekali sentak oleh lengan Jacob gaun itu pun lepas dari tubuhnya.


Ikh, Rose mengerang malu menutup tubuhnya dengan kedua lengannya melingkar di dada.


Ceklek!


Bersamaan dengan itu pintu ruangan ada yang membuka.


Rose terkejut begitu juga Jacob. Perempuan di pangkuannya kebingungan serta-merta melingkarkan lengannya dileher Jacob. Kedua dadanya yang membusung menempel di dada Jacob, uhm. Senyum dalam hati pria itu balas memeluk Rose. Jantungnya berdegup kencang, merasakan suatu rasa yang dulu pernah ada.

__ADS_1


Aih, malu bercampur takut Rose menyembunyikan wajahnya di belakang pundak Jacob. Tubuh polosnya keluar keringat dingin, gemetar ketakutan membayangkan wajah seram Maria Lili.


"Jack!" Suara teriakan.


Aih, benar kan Maria Lili batin Rose bertambah lemas. Jacob mempererat pelukannya. "Jangan khawatir," bisik pria itu menenangkan perempuannya.


Maria Lili, perempuan yang masih berstatus istri Jacob itu berdiri di depan pintu seperti macan yang hendak menerkam mangsa. Naik darah melihat pemandangan di dalam ruang kerja suaminya. "Apa-apaan ini, Jack!" Teriaknya berang.


Matilah aku batin Rose gemetaran, gadis itu mengeratkan rangkulan nya di leher Jacob. Dadanya kejepit herannya tidak merasa sakit, malahan gelenyar aneh semakin membuncah menerpa sanubarinya. Semakin erat memeluk Jacob, putus sudah urat malunya.


Dan Pak Direktur itu mengusap belahan bokong Rose dibawah meja, maksudnya sih sebagai usaha menenangkan gadis dipangkuan nya. "Seperti yang kamu lihat," jawab Pria itu tenang memandang wajah istrinya yang pias, putih pucat pasi seperti hantu. "Ada apa kamu kemari," lanjutnya seolah tidak terjadi sesuatu yang salah disini.


"Ada apa?" Suara Maria Lili menggelegar, tidak perduli para pelayan akan mendengar nya. Siapa yang ember akan ku iris mulutnya untuk makanan anjing batin perempuan itu geram.


"Aku kebetulan lewat! Kalau tidak mampir pasti akan ketinggalan melihat xxx live kalian." Maria Lili menekan suara nya tanda emosinya sudah sampai ubun-ubun. "Kamu sengaja melanggar perjanjian, jack! Kamu mau menentang ku?"


Dan Maria Lili tau maksudnya, perempuan itu diam tak berkutik merasa telah menggertak orang yang salah.


"Ehm," geleng nya pelan, jangan sampai Jacob menolak liburannya kali ini.


Jacob mengerti kekhawatiran Mary. "Sebaiknya tidak usah pergi. Lihatlah tidak ada yang terjadi!" Suami Maria Lili itu merenggangkan jarak perutnya dan perut Rose, memberi ruang bagi Maria Lili untuk membuktikan ucapnya.


Rose tertunduk menahan rasa malu, terlihat di paha Jacob telah menetes air kewanitaannya. Apanya yang tidak terjadi apa-apa, batin perempuan itu tidak mengerti apa tema drama rumah tangga kedua orang ini.

__ADS_1


Dan kalau Nyonya gak datang, sudah habis aku dirobek belut raksasa ini batin Rose. Gadis itu membeku di pangkuan Jacob, sehingga dengan jelas ia melihat alat reproduksi pria itu berdiri tegak tinggi menjulang. Jika sampai Maria Lili benar-benar mendekat bukankah jadi ketahuan kalau Pak Direktur telah berbohong.


Berbeda dengan Jacob, pria itu sedang bertaruh. Iya yakin Mary tidak akan ceroboh dalam bertindak. Keberangkatan nya liburan juga demi kepentingan dirinya, dan perempuan itu sudah melakukan persiapan yang matang untuk menghalangi nya menyetubuhi Rose Diana seperti perempuan-perempuan sebelumnya.


Ah.


Maria Lili membuang muka galau. Barusan ia memberi minum Jacob ramuannya, gak mungkin secepat ini sudah bangun batinnya. "Aku percaya padamu, Jack. Pergilah liburan jangan putus asa. Teruslah berusaha," ujarnya.


"Mary, sudahlah! Jangan buang waktu demi sesuatu yang sia-sia. Kamu telah mengeluarkan terlalu banyak modal hanya untuk urusan ini," sergah Jacob pura-pura jual mahal, menantang Mary menghalau kecurigaan wanita picik itu.


"Pergi kataku pergilah!"


Jeritan Maria Lili membuat Rose terkejut, air kewanitaannya keluar lebih deras lagi saat Jacob menyentak tubuhnya mempererat kembali pelukan. Benturan dua kutub berbeda, tentu saja tarik menarik menciptakan aliran listrik tegangan tinggi. Apakah aku terkencing, aih...memalukan sekali batin Rose. "Tidak apa-apa. Kita suami isteri yang sah," desis Jacob ditelinga Rose.


Mendengar itu Maria Lili menyumpah dalam hati, selesai urusan ini ia akan menyingkirkan Rose sejauh mungkin. Kau telah menyakiti hatiku, akan ku transfer kau ke alam lain geramnya.


Oh, desah dalam hati Rose gak tahan lagi dengan gelenyar aneh yang merasukinya. Begitu juga Jacob, sesuatu meronta di bawah sana ingin nyungsep ke dalam lorong yang gelap.


Dada keduanya berdegub kencang. Ekspektasi Jacob terlampaui, ternyata perempuan ini memang istimewa. Tapi percuma juga jika dirinya di vonis mandul, harapan memiliki keturunan telah dikubur lama di dalam sanubarinya.


Apa mereka menganggapku patung, darah di tubuh Maria Lili mendidih. "Sampai kapan kalian akan terus seperti itu?" Marahnya pada kedua orang yang lengket seperti di lem.


"Pergilah! Kau membuatnya takut," bentak Jacob meraih pakaian Rose di atas meja kerjanya. Kemudian memakaikan nya kembali. Hah, desah dalam hati pria itu mencoba menenangkan dirinya. Namun alat reproduksi ini terlalu bersemangat. Bagaimana jika Mary datang kemari dan melihatnya, hum terserahlah. Mary tidak akan berani batin Jacob berusaha bersikap sewajarnya. Setelah Rose rapi berpakaian. "Pergilah istirahat ke kamarmu," titahnya.

__ADS_1


Tanpa menjawab Rose turun dari pangkuan Jacob, berlari kecil melewati Maria Lili keluar dari ruangan itu. Tak berani melihat kepada perempuan menyeramkan itu.


*** to be continued.


__ADS_2