
Hm, seru juga pikir Rose segera mengemas beberapa pakaian nya. Dengan cepat dimasukkan kedalam tas ranselnya.
Kenapa aku gak ambil dari kamar Jacob saja, pikir Rose merasa dirinya oon. Baju di sana lebih bagus-bagus, aih. Baiklah, Rose putuskan mampir ke kamar Jacob, mengeluarkan kembali pakaian lamanya.
"Sebaiknya aku mendarat di tempat yang tersembunyi. Siapa tau Jacob telah sampai di kamarnya."
Rose memegang kalungnya sambil membayangkan wardrobe. Sekarang perempuan itu justru tidak berani menutup matanya, takut mendarat ke tempat yang salah lalu kepergok Jacob. Kembali ia melihat atmosfer berputar di sekitarnya seperti slide gambar yang dipercepat secepat cahaya. Tak sampai 5 detik ia telah berpindah tempat.
"Ah..syukurlah sepi," ucap dalam hati Rose memandang sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda Jacob berada di dalam kamar. "Apa dia di kamar mandi. Tapi kamar tidak ada perubahan. Sama seperti saat ditinggalkan."
Rose mengendap ke balik pintu kamar mandi siapa tau ada suara air mengalir. Nothing, baiklah aman. "Dimana dia," batin Rose penasaran pakai bingit.
Perempuan itu teringat saat menunggu Maria Lili masuk ke kamar Jacob, Lara Sebi membuat mereka menjadi tak kasat mata. "Apakah aku bisa seperti itu?"
Pandangan Rose beralih ke pintu-pintu lemari pakaian dan juga dinding wardrobe, dimana cermin-cermin dipasang. Dia melihat dirinya, merasa seperti ada perubahan saat terpandang wajahnya sepertinya ada perubahan.
Mata tegas dan sedikit lebih lebar, namun bening, lembut dan indah dengan alis rapi serta bulu mata yang lentik. Hidung lebih langsing dan lebih tinggi di pangkalnya, bibir terbentuk sempurna, tipis namun berisi.
Hm.
Sudah berapa lama aku tidak memperhatikan wajahku, batin Rose teringat saat ia pertama kali menggunakan make up sebelum ke Kalimantan, memang cantik. Tapi saat ini ia tidak menggunakan riasan, hanya bedak itu pun tadi siang. Tapi apa yang dilihat nya sekarang adalah wajah polos sekaligus kelihatan seperti di rias make up natural. Shading dan lighting kelihatan alami di bagian-bagian wajahnya.
Aku bahkan belum mandi semenjak sore, pikir Rose Diana. "Bagaimana aku bisa berubah jadi secantik ini," senyum nya senang. Beruntung bola mata tidak berubah, tetap coklat muda. Namun jika diperhatikan seperti menggunkan softlens.
Oh, bibirnya tersenyum lebar. Kecantikan alami adalah dambaan setiap perempuan. Hm, seandainya aku bisa menjadi transparan, batin Rose.
Ia ingin sekali melihat Jacob dari tempat yang tersembunyi. Rose membayangkan dirinya transparan. Tiba-tiba bayangan dirinya di cermin menjadi kabur sedikit demi sedikit dan menghilang, oh. Rose terbelalak menunduk melihat wujudnya secara langsung, masih ada kok.
Rose mengangkat tangannya ke udara, masih ada. Tapi di cermin tidak ada bayangan nya. Perempuan itu menatap sekeliling, fix dirinya masih di wardrobe kamar Jacob.
Wow, apakah ini artinya aku berhasil transparan.
"Oh no," desis Rose.
"Oh yes."
"Akh," pekik Rose terkejut, tiba-tiba mendengar suara Balita di sampingnya.
"Choi," sergah Rose.
__ADS_1
"Hehe," tawa Balita itu.
"Bagaimana kamu kemari?"
"Bagiamana? Masih nanya!" Sergah Baby paling sakti di antara saudara-saudarinya itu.
"Maksud Kak R, bukankah kalian sedang bersama Nena?"
"Aku membagi pikiran ku menjadi dua, yang Kak R lihat ini adalah salah satu bayangan pikiranku," jelas Baby Choi.
"Tapi wujudmu jelas kelihatan bagaimana kau sebut ini bayangan?"
"Memang ini cuma bayangan, wujud asliku ada bersama Nena dan yang lainnya. Kita sedang mendengarkan ceramah Papa Bram melalui sambungan jarak jauh."
Jelas-jelas Rose belum mudeng bagaimana membagi pikiran. Bagaimana bisa anak manusia berada di 2 tempat berbeda dalam waktu bersamaan. Perempuan itu menyentuh pipi gebu Baby Choi. "Bohong kamu," bantahnya tidak percaya.
"Ya sudah kalau tidak percaya. Aku merasakan pikiran Kak R yang tidak ingin terlihat makanya aku kemari mewujudkan impian Kak R itu," ujarnya.
Oh.
Rose terperangah. "Jadi ini atas bantuannya kamu yang melakukannya?"
Ehm, angguk Baby Choi.
"Jadi kamu bisa merasakan keinginan Kak R, katamu?"
"Uhm," angguk Baby Choi lagi.
Heg.
Rose terhenyak. Bagaimana jika aku kangen Jacob pingin nganu-nganu, dalam hati Rose memandang Baby Choi, perempuan belia itu meneguk ludah.
"Hanya merasakan keinginan yang berhubungan dengan kemampuan. Kita tetap tidak bisa membaca pikiran Kak R, itu yang membuat frustasi."
Oh.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Rose lega.
"Cis," dengus Baby Choi. "Kak R ingin mengintai Paman J?"
__ADS_1
"Uhm," senyum Rose malu. "Sebelum ke Jepang Kak R ingin melihat Paman J dari dekat. Sepertinya dia sudah mengikhlaskan Kak R pergi."
"Paman J kembali menempati kamarnya di Hotel WJ. Bisa ditebak karena ada Tante M, makanya Paman malas pulang kemari. Apalagi tidak ada Kak R," terang Baby Choi.
Rose senang Jacob tidak membiarkan Maria Lili mendekati dirinya. "Cis sotoy," sergahnya menutup perasaan yang sebenarnya.
"Selain aku, apa pernah ada yang memberi tahu bahwa kita bisa membaca pikiran orang-orang kecuali pikiran Kak R?"
"Kayaknya Lara Dutta atau Lara Sebi pernah berkata seperti itu," jawab Rose.
"Itu benar sekali, jadi masih belum percaya pada kemampuan ku membagi pikiran?" Tanya Baby Choi lagi pamer akan kesakitan nya.
"Iya percaya," kata Rose memang yakin akan kemampuan Balita-balita ajaib yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan nya ini.
"Ingin ku temani mengintai Paman J?" Tanya Baby Choi.
"Uhm," angguk Rose. "Lagipula Kak R mana bisa sendiri," ujar nya.
Hehe, tawa Baby Choi dalam hati. Bisa saja ia menanam mantra menjadi transparan pada Rose Diana, tapi dirinya adalah jenis Balita yang penasaran. Istilah lainnya, kepo pada orang yang menarik perhatian nya. Akan lebih baik kalau Rose Diana tetap butuh pertolongan nya. Jadi liburan di Jakarta tidaklah membosankan seperti hari-hari sebelum bertemu Rose Diana.
"Oke, lets go! Ayo kita kemon." Kata Baby Choi semangat kerena ada misi yang perlu diselesaikan.
Kembali atmosfer disekitarnya berputar seperti slide gambar yang dipercepat, dari wardrobe kamar Jacob kini Rose Diana dan Baby Choi berada di dalam kamar yang dikenal Rose. Kamar tempat dirinya dan Jacob pernah beradegan panas. Saat itu sangat indah, kemesraan antara mereka masih belum dingin seperti sekarang.
"Tidak ada," gumam Rose.
"Itu ada suara air di kamar mandi," kata Baby Choi.
"Kenapa Kak R tidak dengar," ujar Rose menajamkan pendengarannya.
Oh.
"Mungkin karena sangat pelan makanya Kak R tidak bisa dengar," jelas Balita sakti itu. "Paman J sedang berendam tidak berpakaian."
"Yaaaaa!"
Rose terjengkit kaget. "Kamu tidak boleh melihat orang dewasa mandi," sergahnya.
Hehe.
__ADS_1
"Sudah terlanjur," tawa Baby Choi.
***to be continued.