
Rose percaya karena itu terpancar dari wajah Jacob yang merah merona. Aku akan merindukanmu Pak Direktur dalam hatinya sedih. "Sayang, pukul 12 teng aku pulang ya. Hanya lima belas menit perjalanan," ujar Rose mengejutkan pria yang tengkurap diatasnya, Jacob mendongak merenungnya kemudian ke jam yang tergantung di dinding lalu menggeleng. "Besok pagi diantar Mawar langsung ke kantor."
Oh tidak dalam hatinya. "Aku tidak mau dituntut karena melanggar kontrak! Sudah seharusnya kita jaga jarak mulai sekarang, hum." Rose menangkup wajah Jacob. "Masih ada satu jam untuk kita main dua putaran," katanya sembari tersenyum dipaksa.
Ck, decak Jacob tak berdaya saat perempuan itu turun ke selangkangannya. Akh, lenguh pria itu saat kejantanannya ditelan habis mulut manis Rose Diana.
*
Bangun pagi walaupun badan terasa letih Rose tetap semangat berangkat kerja karena akan bertemu kekasih tampannya Presiden Direktur JSP investment. Semalam, hampir pukul 02.00wib barulah Jacob mengizinkan nya pulang setelah kejar tayang 4 putaran.
Keluar dari kosan Mawar telah menunggunya di depan gang. "Silahkan Nona," ujar bodyguard perempuan itu membuka pintu mobil sport lebih mewah dari sebelumnya. Sehingga kelihatan sangat mencolok di pagi yang cerah saat semua orang yang berangkat kerja hanya bisa naik bus atau motor seharga belasan juta. Rose yakin pajak bulanannya saja harus mengumpulkan lima tahun gajinya.
Hah!
Rose sampai malu pada tatapan aneh orang-orang. Kenapa Nona muda tinggal di gang sempit bau pesing mungkin begitu pikiran mereka. Mau gak mau perempuan itu masuk mobil di jok belakang dari pada jadi tontonan. Bahkan ada yang nabrak satu sama lain karena sama-sama tidak melihat langkah. "Mawar, bukankah ini berlebihan?"
Bodyguard itu meliriknya dari spion. "Suami anda adalah Bos saya Nona jadi harus patuh pada perintahnya."
Suami gumam dalam hati Rose. Apa Jacob masih mengakui aku sebagai istri setelah lewat sepuluh hari. "Antar jemput nya tidak masalah tapi mobilnya. Yang lebih mewah lagi adakah, Mawar?"
"Hm." dari spion Rose melihat Mawar tersenyum dikulum.
*
Rose diturunkan di parkiran khusus President Direktur agar tidak ada karyawan yang melihatnya, sesuai perintah Jacob tentunya.
"Ada urusan keluarga mendadak, Bu." Jawabnya ketika ditanya Leader sesampai di ruangan Loker lantai 45.
"Tapi kenapa tidak ada pemberitahuan tertulis?" Tanya Leader tatapan menyelidik.
Ah.
Rose mengerut kening. Selain kontrak dan surat resign tiga bulan yang akan datang, sekalian ia juga menandatangani surat cuti. "Ada pada Pak Dolken," jawabnya. "Apa tidak diserahkan pada Bu Leader?"
"Tidak ada," kata Leader yang menurut Rose baik hati itu.
"Gua bahkan ngira lu di pecat Rose," kata Ema (teman satu timnya) menimpali. "Waktu Pak Dolken manggil lu buru-buru, kirain buat kesalahan lagi. Mana dua Minggu lalu lu udah mecahin gelas kopi Pak Direktur," ujarnya prihatin.
Hah! Rose hanya menganga tidak tau mau jawab apa. Tapi bagus juga jika alasan itu yang ada dipikiran mereka dalam hatinya.
__ADS_1
"Wah, hebat ya? Anak baru masuk sudah naik pangkat," kata seorang yang baru datang menyindir.
Naik pangkat apaan batin Rose tidak mau menanggapi. Mungkin maksudnya jadi petugas kebersihan khusus ruangan Direktur, hah! Kenapa bisa secepatnya ini tersiar, ea.
"Naik pangkat gimana?" Tanya Ema.
"Heh!" Karyawan yang baru datang namanya Lesty menunjuk Rose. "Pak Dolken nyari lu! Diminta segera ke ruangan Direktur, se-ka-rang!" Tegasnya. Lesty masih satu tim dengan Rose namun tidak terlalu akrab seperti pada Ema.
"Oh, ada apa ya?" Tanya Rose pura-pura cemas padahal hatinya senang bisa satu ruangan dengan Jacob.
"Mana gue tahu! Mau dinikahin Pak Direktur kali," jawab Lesty asbun.
Gleg.
Rose merah padam. "Alhamdulillah kalau gitu," jawabnya berusaha santai.
"Eh, malah senang." Lesty mendekati Rose Diana. "Apa kamu tidak tau beberapa istri kontrak Pak Direktur mati mengenaskan," bisiknya di telinga Rose namun tidak mengecilkan suaranya.
"Shut!" Bu Leader menepuk pundak Lesty. Rumor itu memang sudah jadi rahasia umum karyawan JSP, tapi kan tidak tau kebenarannya. "Kamu sendiri punya nyawa berapa berani bicara gitu," tegurnya.
"Ups! Maaf," ucap Lesty. "Sembilan," jawabnya tersenyum kecut.
"Hehe, dasar." Tawa Ema maklum dengan sifat Lesty yang asbun.
Sembari melebarkan bola matanya. "Sembilan," jawab Lesty guna menakuti Rose Diana.
"Hah," Rose terperangah.
"Sotoy," geleng Ema. "Hati-hati lu kalau ngomong," tegurnya.
Bu Leader menepuk pundak Rose. "Kamu cepat pergi ke ruangan Direktur!Jangan dengarkan si Lesty," katanya tidak mau membahas lebih lanjut. Silap-silap hidupku ikut berakhir dalam hati Ketua tim kebersihan lantai 45 itu.
"Baik Bu tapi saya pakai seragam dulu," kata Rose.
"Hum buruan," angguk Leader yang juga ingin segera mengganti seragamnya.
"Sepuluh hari libur lu tambah cantik Rose," puji Ema. Karena loker mereka berdekatan makanya jadi akrab. "Terimakasih Ema. Tapi aku tidak ada uang kecil," jawab Rose menarik ujung bibirnya.
"Uang gede sini," kata Ema mengulur tangannya dan Rose benar-benar memberinya uang seratus ribu yang dikeluarkan dari dompetnya.
__ADS_1
"Serius neh." Ema membelalak. Begitu juga dengan beberapa orang yang melihatnya jadi cemburu.
Ehm, angguk Rose. "Aku baru dapat warisan," jawabnya.
"Yeee.. traktir dong," celetuk Lesty merengut.
"Nanti makan siang di kantin ya," ujar Rose.
"Order dari luar dong. Bosen kantin mulu," protes seorang karyawan senior yang tidak terlalu dekat dengan Rose ngarap ditraktir juga. "Mau pesan apa, mbak?" Tanya Rose. "Pizza aja," jawab si mbak yang udah jadi ibu-ibu itu.
"Iya.. iya," sambung yang lain heboh berharap dapat bagian.
"Berapa orang semua?" Tanya Rose
"Banyak," kata Bu Leader dengan tidak menghiraukan perasaan gak enak di hatinya.
"Iya berapa?" tanya Rose pasang wajah seriusnya.
"Empat puluh," jawab wanita baya itu. Dari pada yang lain cemburu kalau memang Rose gak punya cukup uang ya gak usah itulah maksudnya.
"Empat puluh berarti delapan kali lima." Rose menghitung. "Aku pesan sepuluh kotak, cukup kan!"
"Cukup," jawab yang hadir serentak. Senyuman lebar menghiasai wajah mereka.
"Baiklah. "Siang nanti kita Pizza party," yakin Rose.
"Oke mantap," saut Lesty.
"Thank you Rose," ucap mereka yang lagi ganti seragam disitu bergantian.
Oh..Bu Leader tercengang. Bukan begitu maksudku batinnya.
"Aku cari Pak Dolken Bu," pamit Rose, Ema memberi jempol padanya dibalas senyum oleh Rose kemudian ia gegas ke ruangan Direktur.
Tidak ada siapa-siapa, ya iyalah baru jam berapa. Tapi kata Lesty pesan dari Dolken lalu kemana anak laki yang sudah berjanggut itu ya. Apa Maria Lili juga ada di ruangannya. Membayangkan itu Rose bergidik, tapi aku tidak melanggar kontrak ngapain takut. Semangat Rose, katanya pada diri sendiri.
Karena Jacob telah memberitahukan tugasnya, segera Rose mengambil peralatan kebersihan spesial ruangan Direktur yang ada di kamar mandi di belakang meja sekretaris. Mulai menghidupkan lampu kemudian membuka tirai penutup kaca jendela. Pemandangan kota Jakarta dapat dilihat sejauh mata memandang, wah indah nian....Rose kagum.
"Hallo," sapa Dolken tiba-tiba masuk karena memang Rose tidak menutup pintunya.
__ADS_1
Deg deg deg jantung Rose berdetak kencang tapi ia yakin bukan karena rasa suka seperti sebelum ia dilubangi Jacob.
*** to be continued