Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 32


__ADS_3

Saat membuka mata sudah ada Jacob di sampingnya dengan raut khawatir. "Sudah bangun." Dengan lembut Pria itu mengusap wajahnya. "Ada apa denganku?" Tanya Rose.


"Itu yang aku mau tau. Katakan dimana yang sakit." Jacob balik bertanya. Rose meraba kepalanya, segera pria itu memeriksanya siapa tau karena jatuh ada memar. "Disini tidak ada benjolan," katanya lega.


Diingatan terakhirnya adalah kalung emas putih yang membuatnya sakit kepala. Rose memutuskan untuk merahasiakannya dulu dari Jacob sampai ia menemukan jawabannya sendiri.


"Minum sup ayam selagi hangat. Bagus untuk perut yang masuk angin," kata Jacob meraih mangkok di nakas.


Rose bangun dari baringnya melihat jam di dinding belum lama masuk waktu Isya'. Perempuan itu mengerut dahi. "Cepat sekali kamu selesai meeting?"


"Kamu mempercepatnya!" Ketus Jacob. "Sepertinya kamu tidak bisa berpisah denganku walau semenit."


Cis. "Pergilah! Aku sudah tidak apa-apa," marah Rose yakin Jacob membatalkan meeting karena dirinya.


"Aku bilang gak lama kamu gak percaya. Hanya tanda tangan surat kerjasama kamu pura-pura pingsan biar aku cepat kembali, ya kan."


"Ih, pura-pura katamu! Siapa yang pertama tau aku pingsan," tanya Rose.


"Tentu saja aku," jawab Jacob berbohong yang kemudian disesalinya.


"Kamu pergi baru beberapa menit jadi gak mungkin kembali secepat itu jika bukan karena gak tahan berpisah denganku, ya kan." Uwek satu sama batinnya puas bisa membalas Jacob.


Hah, Jacob gak terima. "Kamu yang sengaja pingsan karena gak mau aku tinggal, ayo ngaku!"


"Katakan siapa yang pertama menemukanku?"


"Mawar saat mengantar makan malam untukmu. Puas," jawab Jacob mengalah.


Oh, mulut Rose membulat. "Apa katanya?"


"Kamu tergeletak lemas di sofa karena kelaparan, ayo habisin supnya. "Jacob meletakkan mangkok ke pangkuan Rose. "Tunggu aku mandi kita lanjut bercinta sampai dua hari dua malam."


Heg! Rose terhenyak. "Kamu keseringan memasuki ku makanya masuk angin," tukasnya.


"Hum," senyum Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Rose, cup. "Pakai gaun tidur seksi maksudnya apa gadis nakal! Kamu yang sengaja mengundang ku masuk, ya kan."


"Yeee, sana mandi!" Usir Rose. "Akh." Seketika Jacob menggendongnya. Hampir saja membuat mangkok sup di tangannya tumpah.

__ADS_1


"Mandiin," senyum pria itu menyeringai.


Aku sudah mandi Jacob," kata Rose.


"Mandi lagi," tukas pria itu.


"Ntar aku masuk angin lagi, Jacob."


"Mandi air hangat."


"Kamu yakin hanya mandi?"


Hehe...


*


Satu jam kemudian. "Mau lagi?" Tanya Rose pada Jacob yang terpejam.


"Ehm," angguk Jacob mengecup ubun-ubun perempuan di pelukannya.


Dari dinding kamar mandi yang dilapisi cermin Rose melihat tubuh mereka yang polos berpelukan di bathtub. Cantik juga body ku batin gadis itu melihat bokong nya yang jungkit dengan pinggang yang ramping gak ada lemak di perut. Dada ukuran sedang, tidak besar juga tidak terlalu kecil. Rose suka ukurannya. Kakinya yang langsing mengait di kaki Jacob yang juga langsing. Seperti kaki perempuan dalam hati Rose terkekeh. Beruntung ada bulunya walau gak terlalu banyak. Kontes waria bisa menang jika dicukur bersih, hehe.


Masih terpejam Jacob mendesah jadi teringat Maura. "Kita besarkan bersama," jawabnya yakin gak yakin.


Belasan tahun yang lalu menjelang Tahun baru, ia dan cinta pertamanya Maura menyatukan diri mereka di Singapura untuk yang pertama kali. Mereka nekad tinggal bersama meski tanpa ikatan pernikahan karena tidak mendapat restu dari Juan Sandy. Papa Maura Lili yang juga Papa Maria Lili, istrinya sekarang.


Mereka sengaja tidak pakai pengaman berharap Maura segera hamil. Tapi ternyata kekasihnya itu mengalami keguguran berulang sampai tahun baru berikutnya.


Usia Maura lebih tua 5 tahun dari Jacob yang saat itu berusia 23 tahun. Namun usia tidak jadi penghalang cinta mereka. Setahun bersama tanpa restu orang tua mereka bahagia sampai musibah itu datang.


Jacob digrebek di kamar hotel bersama Maria Lili. Maria Lili yang saat itu berusia 19 tahun menangis sesenggukan, katanya telah diperkosa olehnya. Sesuatu yang mustahil ia lakukan dalam keadaan sadar disaat ia dan Maura lagi kasmaran berat.


Sesuatu yang tidak mungkin membuat Jacob heran, Juan Sandy memintanya menikahi Maria Lili sementara saat bersama Maura pria itu menentang habis-habisan hubungan mereka. Tentu saja Jacob menolak dengan alasan ia telah memiliki Maura. Dan karena ia tidak merasa telah melakukan perbuatan tak senonoh itu dengan adik kekasihnya sendiri.


Yang paling menyesakkan dada, sejak saat itu ia tidak pernah lagi melihat Maura. Kekasihnya itu hilang tak tau kemana. Segala usaha dilakukan untuk mencari namun tak ada hasil.


Selang seminggu dari kejadian, ia terpaksa menikahi Maria Lili dibawah tekanan sebuah surat visum dokter yang membenarkan bahwa memang selaput dara gadis itu telah robek. Jacob mengalah sambil menunggu suatu hari nanti Maura pulang ke rumah orang tuanya mencari dirinya.

__ADS_1


Jacob gak kepikiran ingin punya keturunan dari Maria Lili seperti perempuan itu yang ngebet pingin punya anak darinya, makanya ia tidak pernah menyentuhnya. Namun sejak delapan tahun yang lalu, empat kali dalam seminggu ia pasti terbangun dalam keadaan telanjang setelah malamnya bermimpi bercinta dengan Maura.


*


Hum, Rose memandang wajah Jacob lekat. Hidung mancung bulu mata lentik, bibir merah jambu. Wajah Latin berkulit putih.


Perempuan itu mendekatkan bibirnya menyentuh bibir Jacob, mengisapnya lembut. Dari pada ditinggal tidur lebih baik mencari kesibukan, hehe. Rose semakin iseng menyusuri leher Jacob keliling dengan bibirnya sesekali mengeluarkan lidahnya. Bekas tanda merah lama masih ada, ditambah nya lagi dengan yang baru beberapa. Dari leher turun ke dada, ke perut dan di bawah perut berhenti, waah. Rose meneguk ludah sangat berselera.


Merasa sosis jumbonya seolah ingin ditelan oleh Rose, Jacob membuka mata. "Siapa disini yang gak pernah puas," serak pria itu terbangun dari mimpinya.


"Tidurlah! Aku ingin bermain sendiri menikmati moment. Pinjam ya," kata perempuan itu santai.


"Yakin gak butuh bantuan?"


Rose menggelengkan kepalanya sementara mulutnya sibuk mengunyah, mengulum menjilat. Seperti bintang iklan yang tengah promosi produk, lidahnya berliur-liur menikmati es krim coklat susu.


Arghhh.


Tubuhnya merinding disko menahan kenikmatan sembari menonton apa yang dilakukan Rose dengan alat reproduksinya. Bagaimana aku gak gila dalam hati Jacob berjanji akan mempertahankan Rose disisinya. Selamanya sampai akhir hayat.


*


Acara mandi yang memakan waktu dua jam lebih itu akhirnya selesai. Rose digendong keluar dari kamar mandi ala bride dengan handuk di tubuhnya. "Kamu senang," katanya pada Jacob.


"Sesenang kamu," jawab pria itu.


Cis. Rose merengut menutupi rasa bahagianya. Karena bukan sekedar senang, bersama Jacob setiap momen selalu indah. Pria itu tau cara memanjakannya dalam bercinta. Tidak memikirkan kesenangannya sendiri. Selalu mendahulukan Rose. Sampai ia menggelepar barulah Jacob meraih untuk dirinya. Dan satu lagi, dia gak perlu jaim di depan pria ini.


Dari lemari Jacob mengeluarkan baju tidur seksi yang lebih seksi dari yang seksi. "No underware?" Tanya Rose.


"No," jawab Jacob.


*


Lewat tengah malam Presiden Direktur itu masih memilah berkas-berkas lama kasus hilangnya Maura serta email yang dikirim Nasir (Intel kenalannya di Singapore).


Teringat lagi pada masa yang lalu, ia dan Maura berjanji akan merayakan tahun baru di hotel paling mewah saat itu di Singapura. Mereka telah membooking jauh hari dan menabung untuk itu karena ongkos kamar lumayan mahal apalagi di malam pergantian tahun. Dimana Jacob masih kuliah dan hanya Maura yang membiayai seluruh kebutuhan mereka.

__ADS_1


***to be continued.


__ADS_2