Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 24


__ADS_3

"Hei! Tiap tahun aku di fitrah jangan sembarangan mengetuk kepala," marah Dolken sakit hati Kepalanya di getok.


Cis, cibir Maria Lili. "Aku ingat sekarang! Bahwa kamu yang merekomendasikan perempuan itu masuk ke perusahaan ini, kan!" Ketusnya.


"Jadi Klining servis! Bukan untuk istri kontrakan Jack!" Dolken membalas ketus.


Ck, decak Maria Lili serba salah, setuju atau tidak tetap nasib pernikahannya dipertaruhkan. "Kamu menyukainya, ayo jujur."


Apa salahnya jika aku suka kata dalam hati Dolken. "Aku menganggapnya adik, karena dia memang adik kelasku. Bukan sebagai laki-laki yang menginginkan seorang wanita untuk dipacari," ujarnya terpaksa berbohong dari pada benjol. "Apa kamu mau aku merayu Rose Diana demi menjauhkannya dari Jack?"


Ketok.


"Aduh!" Jerit Dolken kaget. Jujur salah bohong tetap digetok kesal dalam hatinya.


"Apa yang kamu lihat pada perempuan itu?" Tanya Maria Lili memelototinya. "Wajah dan bokongnya high grade," jawab Dolken sekalian memanasi Maria Lili.


Ketok! Maria Lili menggetok geram lebih keras dari sebelumnya.


"Aiih, sakit tau!" Pekik Dolken meraba kepalanya yang perih.


"Awas!" Tepis Maria Lili. "Aku mau ke ruangan Jack! Kamu jangan menahan ku Ken," ketus wanita itu kesal.


"Tapi kamu harus janji gak boleh marah-marah di depan Jack," mohon Dolken.


"Iya, aku janji." Kata Maria Lili di wajah Dolken, pemuda itu menarik wajahnya tak mau kecipratan ludah. "Asal kamu tau Jack dikawal dua orang bodyguard," katanya hati-hati.


Maria Lili menarik ujung bibirnya sinis. "Hah, akhirnya muncul ke permukaan. Yang membuatku penasaran berapa jumlah keseluruhan mereka."


"Jadi kamu sudah tau," gumam Dolken.


"Jacob tidak sebersih yang kau kira," desis Maria Lili.


"Pergilah lihat sana," usir Dolken merasa emosi Maria Lili sudah agak reda. "Apa ruangan mu ini sudah bisa dibereskan?" Lanjutnya bertanya.


"Karena aku gak mau orang lain mengetahui ..." Maria Lili menggantung ucapan nya.


Ck, decak Dolken. "Iya, aku bersihkan. Tapi Mobil sport yang kemarin turun harga 5 persen ditambah voucher diskon," katanya mengedip mata genit.

__ADS_1


"Hum," sinis Maria Lili. "Proyek dengan Sibolon Internasional Hospital deal, kamu tukar tambah dengan mobil lamamu."


"Yeah, itu sepertinya sulit. Bagaimana kalau yang Hongkong," tawar Dolken


"Salah satu dari keduanya juga boleh," tukas Maria Lili maklum untuk apa brondongnya ini menurut pada perintahnya kalau bukan karena materi.


"Hehe, terimakasih sayang," ucap Dolken memeluk Maria Lili.


*


Jacob menerima Maria Lili di ruangannya, kebetulan ia juga punya hal yang ingin dibicarakan. Kalau ngak pun malas melihat wajahnya.


Maria Lili tanpa basa basi bertanya setelah kedua bodyguard berhasil diusirnya keluar. "Kenapa mengganti destinasi, jack?"


"Aku bosan suasana Maldives," jawab Jacob tenang.


Kedua suami istri itu duduk di sofa ruangan Presiden Direktur, Maria Lili menahan diri sekuat tenaga agar tidak melempar wajah Jacob dengan vas bunga di depannya. "Bukankah seharusnya kamu konfirmasi padaku terlebih dahulu?"


"Aku berubah pikiran saat pesawat sudah take off. Ketika pihak bandara mengatakan Line clear ya sudah," jawab Jacob.


Jacob menatap tajam Maria Lili. "Tidak ada lain kali Mary. Apa 12 tahun tidak cukup bagiku untuk mengalah pada semua tipu dayamu?" Ketus Jacob.


"Jack! Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Seandainya kamu menyentuhku sudah lama kita punya keturunan, maka aku bisa ikhlas melepas mu karena ada anak diantara kita yang jadi penyemangat hidupku." Suara Maria Lili bergetar. Ia selalu ingin menangis jika Jack membahas perpisahan.


"Hah..itu lagi itu lagi alasanmu," desah Jacob. "Bukan hanya karena tidak mau mengkhianati Maura, tapi karena aku tidak mencintaimu. Bagiku kamu hanyalah adik dari kekasihku! Mau berapa kali aku ulang agar kau paham," marah Jacob sudah hampir diambang batas.


"Tapi Maura sudah lama hilang, Jack! Aku lebih lama mencintaimu daripada dia," jerit Maria Lili sedih.


"Disini," tunjuk Jacob ke jantungnya. "Dia masih ada. Selagi jasad belum ditemukan aku menganggapnya masih hidup."


"Lalu kenapa dia meninggalkanmu, Jack? Darahku sama dengan darah Maura, bukankah itu sama saja kamu punya keturunan dengannya. Aku yakin Maura akan senang jika darah dagingmu yang jadi pewaris JSP."


Maria Lili menatap sayu Jacob, Jacob merenung Maria Lili. "Saat hilang kesadaran apakah aku masih lemah?" Tanya pria itu.


Maria Lili tau Maksudnya. "Aku hanya memberimu sup penambah stamina. Bukan untuk membuatmu jadi lupa diri," ujarnya pelan dan malu kerena tenyata Jacob menyadari apa yang dilakukannya.


Hm, sinis Jacob. "Aku mengenalmu lebih dari dirimu sendiri, Mary. Bukan aku tidak tau lebih sepuluh tahun kamu memanfaatkan tubuhku. Saat bersama Maura dalam setahun 3 kali dia keguguran kerena rahimnya lemah. Bukan aku yang mandul tapi kamu yang tidak bisa mengandung."

__ADS_1


Maria Lili terhenyak dirinya benar-benar tertangkap basah. "Jack, apa yang tidak aku lakukan untukmu. Aku bahkan menentang Papa demi menjadikan kamu Direktur," kata wanita itu sedih dengan mata berkaca-kaca.


CK, decak Jacob.


"Aku bertahan karena saham Maura di JSP tidak sedikit, berharap suatu hari dia ingat kembali mencariku ditempat yang diketahuinya. Carilah laki-laki yang sudi membuat anak dengan mu, Mary. Aku tidak tertarik punya keturunan ahli waris Juan Sandy," kata Pria itu menyudahi pembicaraan kembali ke meja kerjanya. Tak guna melanjutkan pembicaraan jika Mary merengek terus menangis, siapa yang direpotkan untuk membujuk.


Hmmm, Maria Lili menarik nafas kasar. "Malam ini pulanglah ke Mansion," pasrahnya sebelum meninggalkan ruangan Jacob.


"Terserah aku," jawab pria itu.


Mendengar itu Maria Lili kesal setengah mati, bangkit dari sofa berdiri di hadapan Jacob. "Aku mau Rose Diana dipecat, Jack."


Mau gak mau Jacob kembali memandang istri yang tidak dicintainya itu. "Tiga bulan lagi dia juga akan resign. Kenapa kamu tidak konsisten, Mary. Apa salah anak itu, dia hanya melaksanakan tugas yang kau berikan padanya."


"Jack! Tinggal kasi pesangon tiga bulan gaji, gampang kan! Dia hanya mau uang agar bisa lanjut kuliah. Apa kamu berniat menjadikan dia simpananmu?"


CK, decak Jacob. "Tidak ada hal seperti itu," bohongnya. "Bukankah nikah kontrak otomatis cerai tanpa ditalak setelah habis masa yang disepakati?"


"Tapi tidak ada lafaz mut'ah waktu akad, Jack. Kamu pikir aku bodoh?"


"Itu artinya keenam perempuan terdahulu masih istriku, dong. Aku juga tidak pernah menjatuhkan talak pada mereka! Bahkan Rasul membatasi hanya empat, sementara istriku ada delapan. Thanks anyway," sinis Jacob. Telah mengingatkan ku sambung dalam hatinya.


Ha! Maria Lili tercengang, Astaga! Kenapa bisa lupa masalah itu, ya Tuhan..


"Yang ingin mengontrak perempuan-perempuan itu kamu, bukan aku. Yang nyuruh menikah juga kamu. Semua yang aku lakukan adalah kehendak mu. Bukankah disini kamu Bosnya?" Seringai dalam hati Jacob puas.


Maria Lili terdiam kehabisan kata-kata, beruntung ia teringat perkataan Dolken. "Kalau kamu keberatan dia dipecat, aku terpaksa meng-over nya ke bagian gudang lantai dasar. Bukankah katamu disini aku bosnya," sinis wanita itu.


Benar-benar keras kepala dalam hati Jacob. "Aku berjanji mengajarinya beberapa bidang ilmu yang berhubungan dengan investasi. Maka dari itu selama tiga bulan ini dia akan menjadi bawahanku, disini. Di ruangan ini!" Tegas Jacob.


Hah! Maria Lili terperangah.


"Satu lagi," lanjut Jacob. "Waktu di Maratua, seorang Agen Pemusnah Profesional telah mengintai resort yang kami tinggali. Jadi aku masih harus mengawasinya demi keselamatan anak itu dan kasus Maura akan diperiksa ulang. Jika terbukti kamu terlibat aku tidak akan melepaskan mu."


Heg, Meria Lili tercekat di tenggorokan.


*** to be continued.

__ADS_1


__ADS_2