
Rose terbelalak saat membuka pintu kamar mandi melihat Jacob telah polos tanpa sehelai benang. Perempuan itu meneguk ludah melihat pedang panjang yang mengarah padanya.
Jacob mendorong Rose masuk sembari melepaskan pakaian perempuan itu. Dipreteli satu persatu sehingga menjadi polos seperti dirinya. "Ayo kita berendam," serak pria itu di telinga Rose Diana.
Yakin hanya berendam dalam hati Rose menarik ujung bibirnya. Pasrah diseret Jacob masuk ke dalam bak mandi ukuran lemari 4 pintu. Sembari menghidupkan keran air Jacob menimpa Rose Diana, nafasnya yang memburu pertanda pria itu sudah gak tahan ingin melahap leher jenjang perempuan di bawah kungkungannya.
Tidak butuh waktu lama untuk pemanasan karena memang hatinya telah terbakar emosi. Jacob menyambungkan diri mereka di bagian vital. Terengah-engah pria itu memompa Rose Diana tanpa sepatah kata atau sebarang rayuan sebagai pemanis penyatuan.
Sekarang baru jelas bahwa pria ini menjadikan diriku hanya sebagai tempat pelepas hasratnya, batin Rose Diana sedih. Jika wanita sempurna seperti Mary saja tidak bisa menawan hati Jacob karena dihatinya ada wanita lain, seperti kata Maria Lili. Apalagi diriku yang hanya perempuan kampung, bodoh dan terbelakang.
Mengharap cinta Jacob adalah suatu hal yang sia-sia sebelum dia bisa move on dari cinta masa lalunya. Perempuan bernama Maura pemilik liontin hati terbelah dua. Jacob bahkan memberi ku kalung yang sama persis, untuk apa dalam hati Rose. Apa maksudnya jika bukan karena belum bisa melupakan wanita itu.
Rose pasrah diapain aja oleh Jacob tanpa sebarang perlawanan yang berarti. Sampai hasrat serta penyatuan terlepas, tidak ada ciuman mesra seperti biasa. Jacob terkulai di atas tubuhnya, masih diam seribu bahasa.
Apa yang dipikirkannya batin Rose. Apakah permohonan Mary yang membawa-bawa nama Maura yang membuat hatinya galau.
Selang 5 menit Jacob bangun dari tubuh Rose. Membersihkan dirinya di shower. Keluar sembari mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Meninggalkan Rose begitu saja. Tidak ada putaran ke 2 ke 3 apalagi putaran ke 12 seperti biasanya.
Kemana pergi keromantisan yang pernah ada diantara mereka. Belum satu bulan, madu asmara telah hilang manisnya. Hambar seperti ampas kelapa yang telah diambil santannya.
Haii, sudahlah desah dalam hati Rose semakin bertekad akan meninggalkan Jacob dalam waktu dekat mencari saat yang tepat.
"Kak R," panggilan pelan di sudut kamar.
"Astaghfirullah," ucap Rose kalang kabut. Tak tau harus bagaimana menutup tubuhnya. Baby Choi dan Lara Dutta muncul tiba-tiba di kamar mandi seperti film kartun Casper si hantu yang baik.
"Berapa lama kalian berada disitu?" Tanya Rose curiga apa mereka melihat yang Jacob lalukan padanya.
Kedua wajah polos Balita itu mendekati Rose dengan membawa handuk kering yang diambil dari rak yang ada si sudut kamar.
"Jangan khawatir. Kita sudah biasa melihat Papa dan Mama melakukannya. Itu proses membuat adik baru, kan!" Kata Baby Choi.
"Oh no," keluh Rose sembari menutup tubuhnya.
"Oh yes," balas kedua Balita.
"Tapi Dutta tidak boleh sembarangan melihat tubuh wanita dewasa. Begitupun dengan tubuh anak-anak lawan jenis. Tidak boleh ya," sergah Rose tetap menekan suaranya pelan agar tidak terdengar oleh Jacob.
"Hehe." Bayi laki-laki itu terkekeh. "Aku bisa melihat tembus pandang meskipun ditutup selusin pakaian," jawabnya.
"Oh tidak!" Seru Rose Diana.
__ADS_1
"Oh yes," jawab Dutta tersenyum mesum.
Hais, keluh Rose. "Kalian hanya berdua. Yang lain mana," tanya Perempuan itu.
"Mereka tidak bisa ikut kerana Nena melarang kami menggunakan sihir secara bersamaan," jawab Baby Choi. "Jadi kita terpaksa mengundi untuk 2 orang pemenang."
"Dan aku pemenangnya," sambung Lara Dutta.
"Dan aku runner-up," kata Baby Choi.
Bergegas Rose keluar dari Bathtub sembari melepaskan tutup pembuangan air. Kemudian menyiram bak mandi agar bersih dari bekas-bekas air kenikmatan dirinya dan Jacob.
"Apakah ada hal penting sehingga kalian perlu mendatangi Kak R dalam keadaan memalukan seperti ini?" Lanjut perempuan itu bertanya.
"Tidak ada. Hanya rindu," jawab Lara Dutta.
"Bayi mana yang masih berkeliaran malam-malam. Sana pergilah tidur," usir Rose. "Kak R mau mandi."
"Baru jam 9 mana bisa tidur. Masih ada 1 jam waktu kita membahas sesuatu," ujar Baby Choi.
"Tadi katanya gak ada hal penting," ketus Rose.
"Itu kan Dutta. Tapi aku berbeda," jawab Baby Choi.
"Setelah klinik selesai Kak Rose akan diperiksa dokter. Kita akan mengamuflase agar Adek bayi tidak terdeteksi oleh alat ct scan."
"Akh!"
Rose terperanjat mendengar penjelasan Baby Choi. "Kamu tau di sini ada bayi?" Tanyanya sembari menyentuh perutnya.
"Akan ada dua benih yang tumbuh."
Oh tidak.
Rose Benar-benar takjub mendengar keserasian ucapan Baby Choi serta perkataan Jacob tentang mimpi dua anak burung.
"Aku lihat Kak R tidak bahagia bersama Paman J. Ditambah Tante M sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada Kak R. Sebaiknya menghilang saja untuk sementara," ujar Baby Choi.
"Kita akan membawa Kak R ke Jepang untuk sementara. Disana ada seseorang yang akan memperlakukan Kak R dengan baik," lanjut Balita belum 2 tahun itu dengan fasihnya.
"Bagaimana caranya?" Tanya Rose Diana penasaran. "Apa dengan cara kamuflase seperti yang barusan kalian lakukan?"
__ADS_1
"Ehm, ehm." Kedua Balita menggeleng.
"Sebenarnya Papa Bram tidak memperkenankan kita menggunakan sihir kecuali terdesak. Tapi Nena mengijinkan karena Kak R telah membuat kita kembali ceria," jelas Baby Choi.
Oh.
"Maka Kak R akan berangkat ke Jepang secara normal naik pesawat namun dengan sedikit muslihat. Bukankah Kak R punya 2 paspor."
"Oh no," desis Rose terkagum-kagum dengan keajaiban 2 bayi keriting di depannya. "Sepertinya tidak ada yang bisa disembunyikan dari kalian," gumamnya.
"Pergunakan yang asli untuk memesan tiket ke Singapore. Lalu yang separuh asli untuk ke Jepang."
Oh, masuk akal batin Rose. "Baiklah Baby Choi," angguk perempuan itu. "Tapi pertama-tama Kak Rose ingin membantu Tante Mary. Membujuk Paman J agar mau melakukan program bayi dengannya," ujarnya.
"Tidak perlu," tukas Baby Choi. "Dengan kepergian Kak R, sendiri nya Paman J akan mengalah pada Tante M."
"Begitu kah?"
"Ehm," angguk ke 2 Balita.
"Dalam 2 hari ini klinik akan selesai. Setelah USG langsung kabur, aja."
"Baiklah kalau begitu," jawab Rose bersamaan dengan pintu diketuk.
"Sayang kenapa pintu dikunci," panggil Jacob mengerut kening heran. Perasaan tadi saat keluar ia membiarkan pintu terbuka sedikit dan tidak melihat Rose menutup nya.
Ketiga orang berpandangan. "Kak R mau mandi. Kalian pergilah," usir Rose pada ke 2 Balita sembari menyiram tubuhnya dengan air di bawah shower. Berpura-pura mandi jika Jacob tiba-tiba masuk melihat nya.
"Baiklah," ujar Dutta dengan raut keberatan.
Ceklek.
Pintu dibuka bersamaan dengan hilangnya kedua Bayi dari pandangan Rose.
Jacob berdiri di pintu telah lengkap berpakaian santai. Kelihatan sangat tampan meski dengan wajah yang merengut. Pria itu mengerut kening melihat Rose mandi mengenakan handuk. "Kenapa pintunya di kunci?" Tanya nya.
"Siapa yang ngunci," jawab Rose. "Aku bahkan belum ke pintu dari tadi," jelasnya.
Bingung?
Bingung sana dalam hati perempuan itu yakin pasti perbuatan ke 2 Balita.
__ADS_1
***to be continued.