Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab 78


__ADS_3

"Aku serius Lisa," ujar Rose merengut.


"Iya..aku juga serius, Devie. Dan itu sangat lucu hahaha," jawab Elisa masih menyisakan tawanya.


Mario dan temannya bahkan ikut tersenyum, ketularan tawa Elisa yang renyah.


Ck, decak Rose. "Kamu bagaimana paspor? Udah jadi belum," tanyanya jadi malas membahas masalah nama. Malah jadi bahan ledekan si Elisa, hah. Kesal Rose jadi malu di depan Mario.


"Beres! Berkat abang ganteng," jawab Elisa melirik Mario yang tersenyum kalem di sampingnya. "Sepertinya kamu tipe aku deh," lanjut teman Rose itu to the point, tersenyum genit pada Mario.


Heg.


Mario terhenyak. "Tapi kamu bukan tipe aku," jawabnya cepat to the point juga. Itu karena ia tidak khawatir Elisa akan sakit hati kerena sepertinya sifat teman Rose ini tidak sensitif seperti kebanyakan perempuan baperan.


"Hahaha," tawa supir taksi teman Mario lepas, melihat ekspresi kena mental Elisa. Ups, seketika terdiam saat Elisa melotot padanya.


"Kamu tau di hati Rose Diana sudah ada Jacob, suaminya." Sinis teman Rose Diana itu pada Mario. Dengan niat mematahkan hati pria sombong itu, jadi mereka kena mental satu sama.


"Tidak ada kesempatan bagimu. You Know," sambungnya nada mengejek. "Tapi gak perlu bersedih sayang," lanjut Elisa memberikan senyum manisnya. "Karena aku akan mengejar mu sampai aku capek sendiri!" Ketusnya.


Hah.


Jangan kan Mario dan temannya, Rose pun terhenyak. "Kamu yang ditolak kok aku yang malu," celetuk teman Elisa itu.


"Kenapa harus malu!" Tukas Elisa cepat. "Sekarang zaman milenial. Siapa saja berhak menyukai siapa saja, kan. Mau diterima atau nggak, no problem."


"Hahaha."


Kembali teman Mario tertawa dan sangat renyah di telinga Elisa. "Semangat Nona," katanya saat Elisa kembali mendelik padanya.


"Uncle Sam," tegur Mario.


Samuel kenalan Mario, seorang pria kurus tinggi ideal. Lebih kurang sebaya Jacob jadi usianya di atas Mario dikit lah.


"Apa uncle masih jomblo?" Tanya Elisa memandang Mario.


Dasar plin plan, batin Mario agak kesal. "Tanya pada orangnya langsung aja," jawab pria itu bersamaan dengan suara yang memanggil.


"Rose!" Pekik Ema melambaikan tangannya. Mantan teman seprofesi Rose Diana itu keluar dari pintu lift yang langsung ke Parkiran lantai 21.


"Ehm," senyum Rose memandang Ema bergaya habis-habisan. Kalau di luar dia benar-benar berbeda. OOTD branded full body.


"Apa kamu sedang menyamar?" Tanya Rose Diana setelah Ema bergabung dengan mereka.


"Hah." Ema terperangah. "Ngapa lu nanya, gitu?" Tanyanya balik.


"Kenapa kalau ke kantor kamu tidak berdandan seperti artis, begini? Bahkan terkesan sengaja kelihatan seperti ibu-ibu," jawab Rose.

__ADS_1


Oh.


"Itu suamiku yang cemburuan. Katanya di kantor banyak hidung belang, dia gak mau aku digoda pria lain," jelas Ema.


O.


Bibir Rose membulat. "What a romantik husband," gumamnya.


"Ehm," senyum Ema senang. "Kenapa kalian bawa pasangan? Apa aku mau dijadikan obat nyamuk," ujarnya.


"Kita bukan pasangan, kok! Semua teman," jelas Rose Diana.


"Gua kira Om ini laki lu yang sedang menangkap basah lu, kabur." Kata Ema menunjuk Samuel.


Hah.


Mario terhenyak. Jadi Samuel lebih pantas digandengkan dengan Rose daripada dirinya, batin pria itu merasa cemburu. Dan memang penampilan Samuel lebih remaja dibandingkan dengan dirinya.


Sementara Samuel tersenyum senang. "Saya merasa tersanjung dikira suami Nona cantik ini," ujarnya.


"Ngawur," marah Rose. "Ayo kita cari tempat ngobrol. Aku juga lapar, pada mau makan, gak?" Tanyanya.


"Laper dong," jawab Elisa.


"Aku tau suatu tempat," kata Mario. "Lantai paling atas banyak pilihan menu, ditambah view-nya bagus."


"Cool," jawab Elisa lagi, tersenyum manis pada Mario.


*


"Kamu benar-benar ingin menguji kesabaran ku Rose Diana," geram Jacob.


🎶"Dan bukan Bear namanya jika tidak bisa menemukan persembunyian mu, Nona.🎶


Senandung asisten pribadi Jacob itu menatap layar lebar di ruangan Jacob. Menyisir jalanan ibu kota dengan GPS alat rakitannya sendiri.


🎶Aku bahkan tidak perlu ke atas gedung guna mencari signal, Lala la la.🎶


"Suara kamu merdu juga, Baer," puji Tiger yang terdiri di belakangnya.


"Uhuk uhuk."


Bear terbatuk-batuk disengaja untuk menutup rasa bersalah nya. Jika bernyanyi dengan senyuman lebar, bukan kah ia terlihat bahagia di atas kesedihan Jacob. "Baiklah, aku akan mencoba menemukan jejak Nona segera," ujarnya dengan ekspresi serius.


"Meskipun tidak menanam alat pelacak di hape Nona, namun kita bisa menemukan dimana lokasi terakhir ia menggunakan Ponselnya," desis Bear yang bisa didengar Jacob dan Tiger.


"O..ow, sepertinya Nona tidak mengaktifkan Data internet, Pak. Baiklah kita coba jaringan seluler," gumam Bear. "Okey, ini dia yes." Seru asisten Presiden Direktur itu.

__ADS_1


"Ada tiga nomor berbeda selain nomor Nona," jelas Bear.


"1 nomor diketahui dari Mall ini, 1 dari Pasar induk dan satu kemungkinan supir taksi yang telah dikenal sebelumnya, karena Nona menelepon taksi tidak melalui aplikasi," lapor Bear.


"Janji makan malam dengan Nyonya Alisha masih 2 jam lagi. Kita akan mengantar anda kesana Pak," kata Tiger.


"Tidak perlu!" Tegas Jacob. "Beritahu Mawar untuk menyusulnya, saja."


"Baik," jawab Tiger.


*


Sembari menunggu pesanan disiapkan, Elisa berdiri di kaca pembatas ruangan restoran dengan udara luar. Sejauh mata memandang kelihatan perumahan penduduk ibu kota kecil-kecil di atas tanah. Gedung-gedung perkantoran. Rooftop gedung-gedung bertingkat, lengkap dengan taman dan kolam berenang. Bahkan pegunungan nun jauh diujung cakrawala kelihatan sangat indah.


"Aih, enaknya jadi orang kaya." Seru teman Rose Diana itu. "Ini ketinggian berapa kilometer Mario, sayang?" Tanyanya tanpa merasa risih.


Rose, Ema dan Uncle Sam tersenyum melihat raut kesal Mario.


"Jawab dong Mario sayang," goda Uncle Sam.


Ck, decak Mario merengut pada Samuel.


Elisa juga punya wajah cantik dan manis jika tidak ada Rose Diana. Kulitnya eksotis cerah tapi tipe Mario adalah perempuan berkulit putih mulus seperti Rose Diana. Tapi Rose Diana istri orang..hais, desah dalam hati pria itu.


"Dari gedung JSP juga seperti itu jika dilihat dari ruangan Loker lantai 45," jawab Ema. "Benar kan, Rose!"


"Ehm," angguk Rose. "Maklum ya, teman-teman. Elisa gak pernah naik ke gedung pencakar langit," jelasnya.


"Hehe," tawa Elisa namun saat bertemu pandang dengan Mario ia merengut. "Aku hanya pura-pura menyukai mu. Jangan ge-er ya," ujarnya sinis.


Cis, dengus Mario malas menanggapi tingkah Elisa.


"Ema, kamu bawa amplopnya, kan?" Tanya Rose.


"Uhm," angguk Ema segera mengeluarkan dari tas sandangnya. "Neh sekalian dengan ponsel ada di dalam," ujarnya menyerahkan pada Rose Diana.


"Elisa, kamu yang simpan ya. Saat berangkat jangan lupa bawa ke Airport," kata Rose Diana.


"Oke," jawab Elisa sembari duduk di samping Mario, di mepet-mepetin.


Sengaja memang Samuel dan Rose memberi kesempatan kepada Elisa buat ngedeketin Mario.


"Sini sekalian disatukan dengan paspor gua," ujar Elisa.


"Gini katanya pura-pura suka," marah Mario saat Elisa ngelunjak malah menyandarkan kepala ke bahunya.


"Eh maaf," ucap Elisa cuek segera mengangkat kepalanya sembari menyimpan map ke dalam tas ranselnya.

__ADS_1


Makanan pun tiba. "Asik," seru teman Rose Diana itu.


***to be continued.


__ADS_2