
"Karena Mobil kita lebih lebar. Jadi biar Kak Rose saja yang ikut kita," ujar Lara Sevi.
Heg.
Jacob terhenyak mendengar bayi-bayi ini kalau bicara terlalu bijak. Dalam hati ia berharap anak yang dikandung Rose hanya bayi biasa, normal seperti pada umumnya bayi. Kerinduannya pada Rose tak tertahankan hanya dalam 2 jam berpisah, malah ditahan oleh Balita-balita yang baru kenal. No way dalam hatinya.
"Anak-anak, Kalian sudah puas main biarkan Kakak pulangnya bersama Om saja, ya. Kalian juga pasti lelah karena harus memasak Iga. Minggu depan saja main lagi, ya. Om janji akan membiarkan kalian bersama Kakak selama 1 jam setiap Jum'at siang antara pukul 4 sampai 5 sore."
"What!" Pekik ke 5 Balita serentak. Jacob terlonjak kaget.
"Hanya 1 jam! No way," ujar Baby Choi keberatan. "Aku mau weekend Sabtu dan Minggu, juga."
"Aku mau setiap hari," kata Dutta memeluk di kaki Rose. Sebagai Bayi belum 2 tahun, Balita-balita ini termasuk tinggi dalam hati perempuan belia itu.
Hah, Jacob tercengang memandang Alisha dengan wajah mohon pertolongan
Aih, keluh Alisha serba salah. "Sayang-sayang Nena, jangan nakal ya. Apa kalian ingin dikirim kembali ke Amrik," ujarnya.
"Huh," dengus kelima Balita. "Apa Nena lupa bahwa kami bisa mengirim seluruh penduduk ibu kota pulang ke kampung masing-masing!" Ketus Baby Moni.
Heg.
Alisha terhenyak. Semoga Jacob tidak menyadari siapa ke 5 cucuku batinnya. "Bayi-bayi, kita perlu bicara." Tegas Nenek yang masih cantik diusianya itu. "Biarkan Kak Rose pulang bersama Paman Jacob, sekarang. Tidak boleh membantah kalau masih mau jadi cucuku, mengerti!"
"Akhhhh," rengek ke 5 Balita. "Nena, please."
"Tuan Jacob, silahkan bawa Rose Diana sekarang juga." Alisha berkata tegas memandang Jacob. Ia tidak mau perjanjian kerja sama yang telah disepakati batal karena tingkah cucu-cucunya.
"Baik Nyonya. Terimakasih atas pengertian anda," ucap pria itu. "Ayo sayang kita pulang," ajak Jacob pada Rose Diana mengulur tangannya.
"Ehm," angguk Rose kemudian berjongkok menjadi sama tinggi dengan Dutta yang tak mau melepaskan pelukan di kakinya. "Sayang, Kak R pulang dulu ya. Sampai jumpa lagi," ujarnya mencium kening Dutta.
Balita itu menahan air mata menggenang di mata cantiknya. Cup cup cup, lanjut Rose mengusap pipi basahnya. Karena air mata anak itu telah meluncur deras. Rose Diana terpaksa menggendongnya. "Ingin pulang dengan Kak R ya, baiklah." Perempuan itu memeluk Dutta di gendongannya kemudian menghampiri Jacob.
"Sayang, bisa tidak kita sebagai orang dewasa mengalah pada Balita," ujarnya. "Ke 5 bayi bisa muat di dalam mobil kamu. Tidak apa jika bersempit-sempit sebentar ya," mohonnya.
Ke empat Balita yang semula cemburu melihat Dutta mendapat perhatian lebih jadi gembira. Memandang Jacob, penasaran apakah pria dewasa itu akan mengalah.
"Hum," mohon Rose lagi melihat masih ada raut keberatan di wajah Jacob.
"Baiklah jika kamu gak masalah dengannya," ujar Jacob pasrah.
"Yes," pekik ke 5 Balita gembira.
__ADS_1
"Paman. Gendong aku juga," pinta Choi melebarkan tangannya.
Oh tidak dalam hati Jacob. Namun ketika bertemu pandang dengan Rose ia tak berdaya.
Dengan cepat Lara Sevi berdiri di samping Choi melebarkan tangannya minta digendong, juga. Mau gak mau Jacob mengangkat kedua Balita sekaligus.
"Uawaaaa," teriak Moni dan Sebi bersamaan.
Aih, keluh Alisha. "Sini sama Nena sebagian," ujarnya paham pada kecemburuan kedua bayi.
"Tidak mau!" Teriak Baby Moni memandang Rose dan Jacob bergantian.
"Sama Paman yuk," sambung Bear.
"Tidak mau!" Pekik kedua Balita semakin kencang.
Tidak mau berlama-lama. "Sayang," ujar Rose. "Aku akan mengambil Moni. Kamu ambil Sebi ya, please," mohonnya.
"Tanganku cuma dua," tukas Jacob keberatan.
"Begini saja. Dutta bisa kamu letakkan di pundak," jelas Rose melangsir Dutta ke leher Jacob. "Nah, aman kan."
Ke 5 bayi tersenyum geli. Sementara Dutta, Balita laki-laki itu tertawa kegirangan teringat Ayah Yudi yang selalu menggendongnya di pundak.
"Moni and Sebi sama Kak R," lanjut Rose. Segera kedua bayi menghambur ke pelukannya. Rose menggendong mereka, tidak merasa berat sama sekali. "Apa kalian senang?" Tanya Rose.
Melihat Jacob, Direktur sebuah perusahaan besar menggendong cucunya 2 di tangan serta 1 di leher. "Mr, Jacob. Maafkan keluarga saya telah merepotkan anda," ucap Alisha merasa bersalah tak tertahankan. Geram pada cucu-cucunya yang suka ngelunjak jika telah menginginkan sesuatu.
"Bagaimana jika Dutta sama kakak aja." Mawar menawarkan diri gak enak hati pada Big bos.
"Tidak mau!" Jerit Dutta seketika menjambak rambut Jacob kencang, mengeratkan pegangannya.
"Aduh," pekik pria itu melotot pada Mawar.
"Maaf Pak," ucap Mawar mundur lima langkah ditarik Tiger bertambah jauh.
"Rambut Paman jangan dijambak Dutta, atau...sini sama Nena saja," kata Alisha mengulurkan tangannya.
"Iya enggak," jawab Dutta melonggarkan pegangan nya di kepala Jacob. Membelai sayang ubun-ubun pria dewasa itu tak lupa mencium rambutnya tanda sayang.
Hah, desah Jacob belum hilang rasa kesal.
"Baiklah lebih cepat lebih baik. Mari pulang, marilah pulang bersama-sama," kata Rose.
__ADS_1
"Hahahaha," tawa bayi-bayi.
"Sebentar," tahan Alisha. "Lihat apa kata Papa kalian," ujarnya mengeluarkan ponsel.
Ke 5 bayi langsung mengerti segera berpose dengan gaya masing-masing saat Nena hendak mengambil gambar.
"Oh no," keluh Jacob.
"Oh yes," jawab ke 5 Balita.
Hahahaha, tawa dalam hati Rose Diana memandang Jacob kasihan. Sudah pantes sebenarnya punya anak.
Cekrek cekrek cekrek.
Berbagai gaya keluarga bahagia yang berhasil ditangkap oleh kamera Alisha.
"Baiklah. Kita pulang sekarang," ujarnya selesai mengabadikan keceriaan cucu-cucunya setelah hampir 3 bulan ini lemas seolah tidak ada gairah hidup.
*
Maria Lili melihat dari jauh Jacob dan Rose Diana beserta ke 5 bayi bahagia di atas penderitaan nya. Hati wanita itu sakit, sangat sakit bagai diiris sembilu. Seketika kabut menyelimuti mata cantiknya. Andai ia bisa hamil, kemungkinan Jacob akan membuka hati padanya.
Dolken prihatin melihat wajah Maria Lili yang nelangsa namun tidak bisa berbuat apa-apa. Marah pada Jacob pun tak berguna, cinta bukan suatu hal yang bisa dipaksakan.
"Kita juga pulang," ajaknya pada Maria Lili.
"Ehm," angguk Wanita itu. Dolken membawanya mendekati barisan Rose Diana dan Jacob melewati pintu keluar Restoran. Meski dirinya keberatan pemuda itu tetap memaksanya.
"Lebih baik mengahadapi kenyataan," ujar Dolken.
Hah, desah Maria Lili pasrah.
Ada Dolken pelipur lara hatinya jadi tidak terlalu sakit juga. Hanya setan tidak berhenti mengembus-hembus bara api di dadanya sehingga terbakar cemburu.
"Nyonya Alisha," tegur Maria Lili setelah dekat. "Saya sudah jadi Member," ujarnya mengingatkan.
"Ehm," angguk Alisha tersenyum canggung.
Melihat Nena serba salah ke 5 Balita saling pandang. "Tante boleh membeli ataupun menyewa salah satu Mansion," ujar Baby Moni.
Oh.
Maria Lili terperangah. "Benarkah?"
__ADS_1
"Eum," angguk ke 5 Balita.
***to be continued.