Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 30


__ADS_3

Ema melihat liur Satpam jatuh menetes, senyum kasihan menghiasi bibir gadis itu. "Maaf ya Pak. Ini khusus lantai 45," ujarnya.


"Maaf telah merepotkan Bapak," sambung Rose sementara Lesty tidak berani asal ceplos pada Pak Satpam yang terkenal galak.


Satpam Senior yang baru mendapat panggilan dari Presiden Direktur itu memandang Rose. Dengan terpaksa membiarkan Pizza dibawa naik walaupun sebenarnya itu melanggar aturan Perusahaan. Jika Direktur utama sudah memberi ijin, apa haknya melarang-larang. "Lewat belakang," ketusnya menunjuk gang samping menuju Warehouse.


"Oke thanks," jawab Lesty gak tahan juga mulutnya kalau tidak berkicau.


Mereka bergegas naik ke lantai 45 menuju ruang loker tempat karyawan lain menunggu dengan kesabaran penuh.


*


Tidak tau apa yang membuatnya gelisah seolah ada perkara buruk yang akan menimpa dirinya. Namun melihat ketiga orang bawahnya bisa lolos membawa Pizza hati Leader sedikit tenang. "Maaf ya Rose. Tadi ibu bilang 40 biar kamu mikir kemahalan jadi batal. Jumlah tepatnya 25 orang dan ternyata kamu orang mampu kenapa mau kerja jadi Klining servis," ujarnya.


"Gak apa Bu," jawab Rose. "Dihabisin ya mbak-mbak mas-mas. Berdosa buang-buang makanan," lanjutnya pada karyawan bagian kebersihan lantai 45 itu. Kesempatan ini jadi ajang silaturahmi bagi mereka terutama yang selama ini belum kenal satu sama lain.


"Jangan khawatir Neng cantik. Neh kotak kalau bisa dimakan juga habis gak bersisa," kata seorang karyawan pria yang Rose tidak tau namanya.


"Siapa yang mau nganter ke Satpam?" Lanjut Rose bertanya.


"Suruh jemput aja kan mereka berempat. Gak papa kali satu orang naik," sela Ema.


"Ntar gua telpon," saut Lesty. "Masih sisa jika dijatah dua potong perorang ditambah Snack," jelasnya melihat raut keberatan beberapa orang yang takut jatahnya berkurang.


"Ini ukuran jumbo makan satu langsung kenyang tapi tetap mau dua hehe," kata Ibu bagian toilet yang sering diganggu Dolken.

__ADS_1


"Ada chicken wing juga. Lu beli yang paketan ya Rose bukan per kotak," kata Ema dengan semangat empat lima menggigit Ayam tulang lunak.


"Beda tipis harganya ya sekalian aja biar puas," angguk Rose. Kepikiran Maria Lili tak ayal ia khawatir setelah ini apa akan dimarah, gara-gara Pizza heboh satu gedung JSP.


*


Berita karyawan lantai 45 Pizza Party menjadi trending topik di setiap lantai gedung. Dari tukang sapu-sapu, lap kaca, bagian sampah sampai Manager bagian ikut bergosip tentang Rose Diana. Si cantik dari bagian kebersihan ternyata bukan kaleng-kaleng. Baru masuk sudah dapat perhatian dari Presiden Direktur yang terkenal cuek pada karyawan dan terkenal ketat pada peraturan. Apa yang membuat Rose Diana spesial menjadi pertanyaan besar. Kalau dipandang dari kecantikannya gak heran jika Jacob kepincut. Bisa jadi statusnya memang istri kontrak Jacob selanjutnya. Habislah...apakah yang ini juga akan jadi korban berikutnya.


Rose merasa telinganya panas, kata orang tua dulu-dulu tanda lagi ada yang membicarakan kita. Ah, terserahlah. Baru duduk sebentar, jam istirahat sudah hampir habis aih, sebenarnya Rose malas ke ruangan Jacob. Lebih enak disini bersama teman-teman se-levelnya tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi kerak. Jacob, kenapa kamu memilihku dalam hatinya galau. Melihat masih ada sisa dua kotak setelah Satpam mengambil satu dengan suka cita. "Aku bawa satu kotak untuk Asisten dan sekretaris ya," kata Rose teringat Dolken dan Novi. Perempuan itu siap-siap hendak kembali ke ruangan Direktur.


"Oke Rose Diana," ucap Lesty tersenyum lebar. "Traktir kenaikan pangkat, kapan?"


"Yeee...maunya," tepuk Ema di bahu Lesty.


"Amiiinnnn," ucap semua orang.


Hehehe. Rose tersenyum senang karyawan menyambut baik dirinya berkat disogok makanan.


*


Masuk ke ruangan Direktur Jacob duduk di kursi kebesarannya dengan wajah ditekuk. Sudah jam dua kenapa dia disini batin Rose. Bukankah tadi katanya jam satu mau pergi meeting, aih.


"Pak Direktur," sapanya spontan menyembunyikan kotak Pizza ke belakang punggungnya. Itu karena Novi gak kelihatan batang hidungnya di meja sekretaris. Baik aku letak aja di mejanya tadi sesal Rose.


"Kemari," kata Jacob mengulur tangannya. Tidak ada kedua Bodyguard hanya mereka berdua, deg deg jantung Rose berdebar kencang.

__ADS_1


Dengan patuh Rose mendekati Jacob, pria itu membawanya duduk di pangkuannya. Membuka masker penutup wajah Rose yang sempat tadi diambil anak itu dari Lokernya.


Jacob mengusap bibir yang luka akibat perbuatannya kemudian mendekatkan mulutnya mengecup bibir itu lembut. Rose membelalak ternyata tak cukup hanya kecupan...ehm desahnya saat gundukan di dadanya juga disentuh. Gadis itu pasrah dari pada dikasari seperti tadi. Ditangannya masih memegang sekotak pizza, akh...Jacob semakin intens mencumbunya. Seragam atasnya kini bahkan terbuka lebar menampakkan kutang barendo, Rose tak kuasa menahan kencing saat ujung bukitnya dikulum.


Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit barulah tubuhnya terbebas dari serangan Jacob. Keduanya tersengal-sengal saling memandang sayu. "Aku ke toilet bentar," kata Rose hendak turun dari pangkuan Jacob, ditahan pria itu membaringkannya di atas meja kerja yang kini bersih. Entah kemana pergi semua berkas-berkas yang bertumpuk-tumpuk tadi.


"Pak Direktur mau ngapain?" Tanya Rose khawatir. Bagaimana kalau ada yang datang aih, masalah.


"Tidak ada siapa-siapa. Mary pergi meeting membawa Novi dan Dolken. Bodyguard istirahat makan," terang Jacob mengambil kotak Pizza dari tangan wanitanya dengan kasar melemparnya ke lantai.


Astaga...batin Rose. "Meski begitu gak harus disini, kan!"


"Diamlah," sergah jacob.


Akh, Rose berusaha tak mengerang saat Jacob menyapu air kewanitaannya dengan mulutnya. Beruntung tadi jam istirahat Rose sempat membasuhnya, kalau nggak kan malu jika ketahuan jorok. Bisa-bisa dia ilfil dan muntah..ohh tidak! Kencing itu semakin deras saat Jacob mencoba memasuki dirinya dengan kekerasan maksimal perlahan menusuk sehingga mereka tersambung pada bagian vital tubuh manusia itu.


Akh, lenguh Jacob karena harus hati-hati saat terperosok ke dalam lubang yang masih terasa sempit. Dengan sedikit memaksa ia sukses terbantu dengan pelumas yang melimpah. Hm, pria itu baru merasa benar-benar hidup setelah bertemu Rose Diana. Ketinggian meja benar-benar pas bagi Jacob menumpahkan hasratnya untuk menghajar Rose yang telah lancang membantahnya.


Pergulatan memakan waktu hampir satu jam Rose benar-benar terkulai gemetar dipangkuan Jacob setelah putaran kedua ia diminta menduduki tombak gemuk dan panjangnya. Sakit yang membuat ketagih batin gadis itu.


Jacob memeluk Rose mengusap punggung wanitanya dengan penuh kasih sayang. "Hanya ingin menikmati momen," bisiknya di telinga perempuannya.


Bulu roma di wajah Rose berdiri terasa mau menangis mendengar perkataan Jacob. Bagimu aku hanya tempat pelepasan dalam hati gadis itu berusaha menahan air mata agar tidak tumpah. Dengan berani menantang tatapan Jacob. "Apa Pak Direktur lupa sekarang hari ke sebelas. Jangan membuatku melanggar kontrak dengan istrimu, Jacob!" Teriaknya di wajah pria itu.


*** to be continued.

__ADS_1


__ADS_2