Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 89


__ADS_3

"Devie, Maaf kan aku. Heru memang agak bocor mulutnya. Tapi kalau ditegur dia tidak akan mengulangi perbuatan nya," jelas Mario.


"Kamar akan siap di atur sebelum siang. Tinggal lah disini dengan tenang," mohon Mario. "Aku juga penasaran dengan penampakan tuyul yang kalian lihat. Boleh tunjukkan dari sebelah mana dia masuk, nanti malam kita akan menunggu nya."


Oh tidak, batin Rose semakin ingin cepat keluar dari rumah Mario. "Bukan karena itu juga, hanya. Sebaiknya aku jujur pada Paman, saja. Bahwa aku sudah berhenti bekerja di JSP dan ingin ke Singapura bertemu ibu. Hampir 3 tahun juga tidak ketemu," kata Rose Diana memberi alasan.


"Kapan-kapan aku nginap lagi disini. Boleh, kan? Kalau Elisa mau sekarang, ya udah gak apa-apa," sambung nya.


"Akh."


Elisa mendelik. "Kemana kamu pergi aku ikut!" Marah nya pada Rose Diana.


"Hei, katamu mau menawan hatinya Mario. Maka tinggal lah di sini," goda Rose Diana.


Elisa memandang Mario yang tidak menatap padanya, cis. Dengus teman Rose itu, gua juga ogah batinnya. Menggombal Mario suatu keasikan tersendiri baginya. Toh dia hanya main-main, tidak pake baper. "Maaf ya, ayang. Belum waktunya kita serumah. Nanti setelah sah menurut agama baru boleh," kata Elisa. "But i love you so much Baby, mmuuach," ucap teman Rose Diana itu mengedip mata nakal pada Mario.


Ih, Mario bergidik. "Ya sudah kalau begitu. Kalau sebelum berangkat ke Singapura kalian mau nginap di sini, silahkan saja. Jangan sungkan," kata Mario tak berdaya memaksa kedua perempuan itu. Hatinya kesal bukan main pada Heru, jadi menyesal dia memanggil teman bocornya itu.


Alhamdulillah, Rose bernafas lega. Padahal itu hanya alasan nya saja agar Mario tidak menghalangi kepergian mereka dari rumahnya. Rose tidak ingin Mario tau lebih banyak tentang rencananya, terutama tentang ke 5 Balita super sakti yang disangka tuyul oleh Elisa. Semakin sedikit orang yang tau semakin baik.


"Baiklah, tapi ijinkan aku mengantar kalian," kata Mario.


"Asik," seru Elisa.


Terpaksa Rose Diana mengalah. "Tapi kita mau ke Mall dulu. Aku janji pada Bibi mau membelikan nya hape baru," ujar Rose Diana.


"Oke! Tidak masalah," angguk Mario.


*


Bertiga mereka ke Mall Ini, gak mau buang waktu Rose segera memesan ponsel di toko yang sama saat membeli ponsel Elisa dan kedua keponakan nya.


"Ini mbak. Terimakasih ya," kata Pramuniaga senang. Karena Rose kembali memesan ponsel beli 2 dapat 1. Jadi ada 3, ponsel. Rose yakin ia akan membutuhkan nya di Jepang nanti.


"Kita beli oleh-oleh makanan apa untuk Rahmad dan Erina?" Tanya Elisa sesaat transaksi selesai.


"Oleh-oleh atau kamu yang mau," kata Rose Diana.


"Hehe, sekalian maksud. Ayang, beli in cemilan dong," rengek teman Rose Diana itu pada Mario yang setia menemani mereka.


"Mau dibelikan apa?" Tanya Mario.


"Yeeee!" Sorak Elisa kesenangan. "Pizza boleh?"


"Hm, tadi katanya cemilan!" Mario mengerutkan bibirnya.


"Hehe," tawa Elisa


"Tidak apa-apa, Mario. Biar nanti kita beli sendiri," kata Rose Diana menjeling Elisa.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Devie. Ayo cari konter pizza sekaligus beli cemilannya," ujar Mario.


"Ayo," senyum Elisa langsung menggandeng lengan Mario.


Heg.


Mario terhenyak tak berdaya melarang, terpaksa membiarkan saja dirinya di seret Elisa.


Rose tertawa senang Elisa bersikap agresif jadi ia gak perlu segan dengan perasaan Mario yang ingin dekat dengannya.


Digandeng Elisa juga lumayan bisa mengobati rasa sakitnya ditolak cinta, maka Mario menikmati saja keberadaan teman Rose Diana itu di sampingnya.


Setelah memesan Pizza, Rose diantar langsung oleh Mario ke kampung Koneng, Daerah Pasar Induk.


Di rumah paman mereka disambut dengan wajah tercengang oleh Marlia dan Erina. Sementara Rahmat biasa saja, santuy dengan Ponselnya.


"Ini dari Om Mario," kata Elisa. Teman Rose itu gerak cepat menggandeng lengan Mario setelah menyerahkan oleh-oleh.


Kedua sepupu Rose Diana itu senang menyambut kedatangan Pizza dan cemilan dua plastik kresek besar penuh. Mario diajak masuk sekalian. "Maaf ya, keadaan rumah kecil memang sempit." kata Rose pada Mario.


"Hm," senyum Mario yang langsung diseret masuk oleh Elisa.


"Pacar kamu, Lis?" Tanya Marlia. Bibinya Rose Diana itu mengerut kening melihat raut terpaksa Mario.


"Ya iyalah, Bi. Tidak lihat betapa romantisnya kita," jawab Elisa mengedip mata genit pada Mario.


"Hm," senyum Rose Diana dan juga Elisa melihat wajah meringis Mario.


"Om Mario pasti terpaksa, kan! Padahal sukanya sama Kak Rose," celetuk Erina yang masih pakai seragam sekolah. Mereka memang baru pulang dijemput Marlia. Sementara Paman Muliyardi belum pulang kerja.


"Yang enggak lah, Erina." Jawab Rose.


"Om Mario memang sukanya sama Kak Lisa. Tapi dia malu kalau romantis di depan orang-orang," sambung Elisa.


"Ya iyalah malu. Kak Elisa malu-maluin gitu," ujar Erina.


Cis, dengus Elisa melepaskan tangannya dari lengan Mario.


"Ya udah, ayo silahkan duduk," kata Marlia.


"Kebetulan kamu bawa oleh-oleh Rose, Bibi belum masak," sambung Bibi Rose Diana itu sambil meletakkan seteko air putih dan beberapa gelas di atas meja. "Kamu gak kerja, Rose?" Lanjutnya bertanya.


Mereka duduk bersila di ruang tamu mengelilingi satu meja bundar, duduk di lantai beralas karpet menikmati pizza.


"Aku akan ke Singapura, Bi." Kata Rose to the point.


"Ke luar kota, lagi?" Tanya Marlia.


Rose dan Elisa saling pandang. "Ehm," angguk Rose. Iya in ajalah, pikirnya.

__ADS_1


"Wah, bagus dong. Kamu bisa ketemu ibumu," ujar Marlia.


"Wah..dapat bonus lagi dong, Kak," seru Erina.


"Kamu taunya cuma bonus," marah Rahmat pada adiknya. Erina menjulurkan lidah, kemudian menggigit Pizza sambil memonyongkan mulutnya.


Cis, dengus Rahmat.


"Berapa hari?" Tanya Marlia lagi.


"Belum tau, Bi." Jawab Rose.


"Pergi dengan Direktur, lagi Kak?" Tanya Rahmat.


"Tidak Mad," jawab Rose. "Hanya Karyawan," sambung nya.


"Oh," gumam Rahmat. Sepupu Rose itu kelihatan menarik nafas lega.


"Kapan berangkat?" Tanya Marlia.


"Senin depan, Bi." Jawab Rose.


"Ya, udah. Salam sama ibu kamu kalau kalian ketemu," kata Marlia.


"Uhm," angguk Rose. "Ini ponsel untuk Paman dan Bibi," kata Perempuan itu menyerahkan bawaannya yang dari tadi dilirik oleh bibinya itu.


"Alhamdulillah," ucap Marlia segera mengeksekusi kotak persegi yang masih baru itu.


"Sama persis," gumam Erina lega.


"Iya, sengaja. Biar gak ada yang saling cemburuan," sambung Elisa.


"Bukan!" Bantah Rose. "Karena memang ini yang lagi promo," ujarnya.


"Apapun itu terimakasih," ucap Marlia tersenyum sampai telinga.


"Assalamualaikum." Suara dari pintu depan.


"Kok masih sore udah pulang," seru Marlia memandang suaminya.


"Bukannya dijawab salam. Kenapa? Kamu gak senang aku pulang," marah Muliyardi sambil membuka sepatutnya.


"Wa'alaikum salam," jawab mereka serentak.


"Erina yang sms Papa," jawab si kecil. "Pasti Papa gak sabar, kan! Punya hape baru?"


"Nah, itu tau." Jawab Muliyardi sembari menyalam tangan Mario. Kemudian ikut duduk bersila diantara Erina dan Rose Diana.


***to be continue.

__ADS_1


__ADS_2