Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 52


__ADS_3

"Sayang," rajuk Rose manja di pelukan Jacob. Pria ini tidak bisa melihatnya terjaga. Selalu ingin menempel dan gantian terpejam di sampingnya setelah penyatuan. Demikianlah juga dengan dirinya. Akan merasa hampa jika sedang sendirian tidak ada Jacob. Lain cerita jika ia bisa bertelepon dengan temannya tanpa ketahuan. Masalahnya tidak ada yang bisa dirahasiakan dari pria ini. Bagaimana mau merencanakan pelarian...


Mario katanya bersedia membantu, hanya Rose ragu minta pertolongannya. Karena pria itu jelas-jelas menunjukkan rasa ketertarikan padanya. Apakah pria itu bisa menerima penolakan. Tidak ada niatnya mencari suami lain, hanya ingin menyelamatkan bayinya dari Maria Lili. Rose yakin wanita itu tidak akan tinggal diam jika tau dirinya mengandung anak dari suami yang sangat dicintainya itu.


"Ada apa," gumam Jacob tanpa membuka matanya.


Oh kirain beneran tidur batin Rose setelah menunggu beberapa saat tidak ada jawaban. "Apa kamu gak akan ke JSP lagi setelah ini?"


"Ehm," angguk pria itu membuka mata sayu menghadap Rose Diana.


Akh.


Perempuan itu jadi menyesal saat melihat bola mata Jacob sedikit memerah. Sepertinya memang sudah terlelap jadi terganggu oleh panggilannya.


"Seterusnya kita akan berkantor disini. Mulai senin kamu bisa masuk kerja. Di samping kamar ini jika kamu keluar 25 meter ke kanan ada ruangan khusus untuk kamu mengembangkan bakat," jelasnya.


Hah.


Rose mengerut kening. "Bakat apa yang bisa aku kembangkan?"


"Hmm," senyum Jacob meraih tangan Rose ke area tengah tubuhnya pada satu batang yang membengkak. "Memuaskan nya."


Ih!


Rose menepuk pundak Jacob dengan tangan satunya. "Aku serius," rengutnya dengan mulut maju satu inchi.


"Aku juga serius," desis pria itu.


"Berkantor di samping kamar mana seru," kata Rose cemberut.


"Dimana ada kamu selalu seru bagiku," senyum pria itu mengeratkan pelukannya. Rose bahkan tidak dibiarkan berpakaian.


"Kalau gitu aku mau lihat sekarang," kata perempuan itu bangkit dari pelukan Jacob. Sejak sampai ia belum berkeliling bangunan. Hanya turun dengan lift saat bertemu dokter di ruang tengah.


Jacob kembali manarik tubuhnya jatuh ke tubuh pria itu. "Nanti saja. Ini sudah malam waktunya kita berpelukan. Mulai Senin aku akan sibuk melakukan pertemuan dengan rekan bisnis yang mulai bergabung," jelasnya. "Kamu baik-baik menjaga diri. Perlu apa-apa segera beritahu Mawar. Ngerti Rose Diana!"


Oh, Jacob akan sibuk dalam hati Rose berbinar.


"Kamu membangun rumah tinggal apa gedung perkantoran, Jacob?" Tanyanya basa basi sok antusias padahal dalam hatinya bodo amat.


"Lantai 2 ke bawah untuk hunian kita. Lantai 3 ke atas sampai lantai 5 ruangan administrasi dan meeting. Pegawai dan tamu bisnis punya akses sendiri dari arah gerbang depan. Tidak akan menggangu kenyamanan kamu jika ingin berkeliaran di sekitar halaman belakang."

__ADS_1


Oh.


"Jadi gerbang kita masuk kemarin sebenarnya belakang. Hunian ini kamu beri nama apa?" Lanjut tanya Rose.


"Rose garden," jawab Jacob.


"Cis, gak mau!" Marah Rose. "Masa namaku kamu pakai untuk nama kantormu."


"Aku membeli hunian ini untukmu dan bayi kita. Bahkan aku telah menyiapkan nama untuk mereka."


"Mereka?" Tanya Rose mengecup kilas bibir manis Jacob.


"Hum," angguknya. "Aku bermimpi diberi dua anak burung oleh seorang pria tua."


"Anak burung kamu sangka anak kamu, oh no."


"Oh yes," senyum Jacob penuh arti. "Bear menafsirkan bahwa kemungkinan kamu mengandung anak kembar. Dan aku ingin mempercayainya semoga menjadi kenyataan."


Dasar si Bear batin Rose. Bisa saja dia memberi harapan pada Jacob. "Kayaknya si Bear ini pandai cari muka deh," kata Rose. "Di kantor juga dia paling sibuk mengurus hal-hal sepele yang tidak berhubungan dengan tugas bodyguard," lanjutnya nada kesal.


"Tidak sayang. Itu memang tugasnya merangkap sebagai asistenku menggantikan Dolken," jelas Jacob.


Oh.


"Kamu lupa siapa yang memberi sangsi pada kedua leader?"


"Supervisor?" Seru Rose makin kesal teringat pada Bu Rahmi yang diskorsing oleh mantan penghuni hatinya itu.


"Ehm," angguk Jacob.


"Berarti senin ini kedua leader sudah bisa masuk kerja," ujar Rose lega.


Jacob mengangkat bahu menekuk bibir. "Kiss dulu," ujarnya kemudian memonyongkan mulutnya.


Cis, dengus Rose.


*


Wakil Direktur itu duduk di samping Dolken di dalam mobil di kegelapan malam, agak jauh dari hunian mewah yang diberi nama Rose Garden. Bangunan yang halamannya dipenuhi dengan bunga Rose serta diterangi oleh lampu-lampu taman itu dapat terlihat dari tempat mereka parkir.


"Kamu yakin jalanan ini menuju ke tempat Jacob membawa Rose Diana?" Tanya Maria Lili.

__ADS_1


"Hum," angguk Dolken. "Menurut laporan orang kepercayaanku," sambungnya.


"Apa kita tidak bisa maju lebih dekat lagi?'


"Sebaiknya jangan sekarang Mary. Senin saat Novi menyerahkan laporan mingguan untuk ditandangani Jacob,...."


"Aku akan mengambil alih tugasnya," sambung Maria Lili tau kemana maksud perkataan Dolken.


"Aku akan mengantarmu," kata Dolken setuju. "Kemungkinan Jacob akan mengundurkan diri dalam waktu dekat."


"Sebagai Direktur dia tidak sembarang bisa lepas tanggung jawab begitu saja, Ken. Apalagi sebagai suamiku," sinis Maria Lili. "Tidak semudah itu."


"Kamu lepaskan saja kenapa, sih! Bukankah Rabu sidang pertama kalian?"


"Setelah membuat anak tidak tau diri itu lenyap dari muka Bumi," kata wanita itu penuh dendam. "Jika aku tidak bisa memiliki Jacob maka siapapun tidak akan bisa."


Hah, desah Dolken. "Mary, Jacob sudah pasti meletakkan pengawalan super ketat di sekitar Rose Diana. Sekali kamu ketangkap maka kasus yang lain bisa ikut terseret. Percayalah, Jacob menunggu saat itu tiba. Ia tidak mempermasalahkan Maura karena dia masih keluargamu. Ia tidak peduli mengenai matinya 4 mantan istri kontrak karena memang tidak tertarik pada mereka. Tapi Rose Diana adalah orang asing yang masuk ke dalam hatinya setelah kehilangan Maura. Yakinlah, Jack tidak akan tinggal diam jika sesuatu yang buruk terjadi pada wanitanya untuk kali kedua. Kamu akan diseret jadi tersangka utama."


"Itulah gunanya akal," sambung Maria Lili menunjuk pelipisnya. "Menciptakan alibi serapi mungkin tidak terburu-buru sudah menjadi keahlianku," katanya bangga.


"Hais," keluh Dolken. "Aku berjanji menjaga rahasiamu bukan jadi kaki tanganmu!" Pemuda itu berkata tegas.


"Kamu tenang saja. Tugasmu hanya minum ramuan sebulan sekali," kata wanita itu.


Dolken menyeringai mesum. "Tinggal satu botol," ujarnya takut-takut.


"Aku sudah pesan sekaligus 24 kotak. Ramuan tidak ada expired date nya. Makin disimpan makin matang seperti alkohol ataupun ginseng," jelas Maria Lili. "Kamu tau! Sekarang harganya naik lagi seratus persen."


"Kamu menyukai efeknya saat aku yang minum?"


"Ehm," angguk Maria Lili. "Mengingatkan ku pada Jacob."


Brengsekk maki Dolken hanya berani dalam hati. Jadi diriku hanya dianggap sebagai alat bantu pemuas nafsu bagi wanita sialan ini, kesal pemuda itu. Beruntung aku juga hanya butuh bersenang-senang. Kalau tidak, bisa naik emosi karena harga diri.


"Di daerah ini masih ada Mansion yang belum terjual kah?" Lanjutnya bertanya.


"Menurut pengembang sisa 2 unit tidak akan dilepas. Cukup 6 unit yang dilempar ke pasar dan itu sudah sold out semua. Satu unit terakhir yang dihuni oleh Jacob."


Oh, sayang sekali. "Cari tau apakah ada yang mau over kredit," kata Maria Lili antusias. "Aku akan membayang-bayangi Jacob seperti hantu."


"Heg." Dolken terhenyak. Orang kaya mah bebas batinnya.

__ADS_1


***to be continued.


__ADS_2