
Keesokan hari Rose bangun kesiangan setelah semalaman bergumul dengan Jacob. Pria itu lebih hati-hati dari biasanya. Menghindari area perut dari himpitan tubuhnya. Hum, macam betul aja aku hamil desah perempuan itu bingung mau ngapain di hunian seluas ini.
Tidak ada hal yang menarik selain menyatu dengan Jacob. Sebenarnya ia bukan jenis perempuan rumahan. Lebih suka keluar untuk bekerja seperti wanita karir. Mau kerja apa jika bersama Jacob ia dimanja seperti putri Raja. Uang banyak segala kebutuhan terpenuhi ternyata membosankan juga, hais...
Jika tidak bisa kemana-mana bukankah sama saja seperti di penjara. Hari ini Sabtu weekend gak mungkin Jacob ke kantor sementara hari biasa pun ia tidak pergi. Dimanakah si Jacob berada sekarang..
Apa karena kasur yang terlalu empuk atau karena takut ujung-ujungnya diajak wik wik makanya Rose malas bangun mencari pria itu. Lebih enak berbaring lebih lama memikirkan bagaimana cara kabur dari pengawalan yang super ketat.
Jika berjanji kamu khianat itu namanya munafik dan aku gak mau jadi orang munak dalam hati Rose merasa bersalah pada Maria Lili. Aku harus pergi dari Jacob sejauh mungkin. Kalau memang jodoh suatu saat pasti bertemu lagi. Kontrak ya kontrak, jangan aji mumpung jadi gak tau diri. Bagaimana jika aku yang diposisi Maria Lili. Aku gak mau di cap perempuan perebut suami orang sebelum mereka berpisah menurut hukum yang sah.
Terdengar suara ponsel berbunyi tapi dimana. Rose lupa keberadaan tas kecilnya kemudian mengitari pandangannya ternyata di atas meja rias. Dengan malas ia bangun guna melihat siapa gerangan yang menghubungi dirinya.
"Tidak ada nama," gumamnya namun tetap menggeser tombol terima panggilan data itu.
"Kak Rose," panggil suara anak perempuan kecil.
"Erina," jawab Rose kaget.
"Ya Tuhan... bolak-balik ditelpon gak diangkat-angkat," ujarnya marah seperti orang dewasa.
"Hehe maaf," ucap Rose. "Hape lama diservis mau dipindahkan data ke hape yang baru. Kemarin baru beres," jelasnya.
"Oh. Kak Rose juga Ponsel baru?" Tanya anak itu.
"Iya dong," jawab Rose.
"Hihihi." Terdengar tawa cekikikan dari adik sepupunya itu. "Mama cemburu Ina dan Mamad dibeliin hape," katanya.
"Kenapa cemburu? Bukankah Mama sudah punya ponsel," ujar Rose pura-pura. Bukan ia gak tau gimana ponsel bibinya. Pasti kalah jauh dari hape kedua anaknya sekarang.
"Cemburu karena tidak canggih seperti punya Ina. 5G layar lebar kamera jernih. Musiknya mantul dipakein headset hehe," tawanya seperti sedang meledek seseorang.
"Ntar gajian depan Kak Rose pulang bawa hape dua untuk papa dan mamamu," janji Rose. "Kakakmu Mamad mana?" Lanjutnya bertanya pada anak bungsu pamannya itu.
"Ada tuh. Asik main game gak boleh diganggu," kata Erina. "Kak Rose kapan pulang? Satu bulan tinggal minggu depan dong gajian," lanjutnya.
"Ya udah, tunggu minggu depan kan gak lama lagi."
"Oke. Kak bawa oleh-oleh apa?"
"Ina mau apa?"
"Terserah aja. Udah dikasi hape gak mau pilih-pilih. Apa sisa bonus ke luar kota masih banyak?"
"Banyak Ina. Katakan saja kamu mau dibawakan apa?"
"Papa mau gulai kepala kambing katanya."
__ADS_1
"Oh, itu beli di sana aja ya. Dari sini repot bawa makanan berkuah," jelas Rose.
"Oke deal kata Papa. Jangan lupa ya minggu depan pulang."
Oh sepertinya anak ini mengaktifkan speaker. Pasti itu dalam hati Rose yakin semua anggota keluarga bisa mendengar suaranya. "Baiklah Ina. Insya Allah ya," jawabnya.
Tiba-tiba panggilan ditutup oleh Erina. Rose menarik nafas lega. Bukan apa, takut Bibi nyambung terus nanya-nanya.
Ting tong.
Tiba-tiba masuk pesan dari Erina. "Kak vidio call ya."
"Oh my God," ucap Rose kaget langsung masuk panggilan video tanpa menunggu persetujuan darinya terlebih dahulu.
"Bagaimana ini?" Keluh perempuan itu bingung. Apa kata bocil itu saat melihat dirinya berada di kamar mewah dengan gaun tidur seksi. Yakin bukan hanya Erina yang ingin vcall, seluruh anggota keluarga bisa dipastikan sudah hadir di depan kamera. Hari ini sabtu paman jarang ke proyek saat weekend. Belum lagi menghadapi pertanyaan bibi, hais.
"Ina, Kak Rose lagi kerja lembur biar banyak gaji minggu depan. Gapapa ya lain kali. Kan Mama juga mau hape dan gak mungkin papa gak mau. Belum oleh-oleh belum kepala kambing." Akhirnya Rose kirim pesan sedapatnya berbohong.
Ting tong.
Masuk pesan suara baru. "Oke kata Mama. Asalkan minggu depan pulang bawa hape baru seperti punya Ina dan Mamad. 5G layar 7 inci, dua ya."
"Siap, Bos." Rose menjawab pesan suara. Hah legaaaa, batinnya.
Ceklek.
"Keponakan minta aku pulang minggu depan habis gajian," jawab Rose senang dalam hati akhirnya ia punya alasan menjauh dari Jacob. Gak mungkin pria ini minta ikut, kan. "Boleh ya," mohonnya.
"Ehm," angguk Jacob meski raut gak ikhlas terlihat jelas di wajahnya.
"Terimakasih kasih sayang," ucap Rose tersenyum lebar berusaha bersikap ceria seperti biasa. Mencium Jacob di kedua pipinya bergantian kemudian ke bibir yang disambut agresif oleh pria itu.
Jacob membawanya ke sofa besar dan lebar lebih menyerupai kasur 2 in 1 disebut juga dengan sofa bed. "Jangan lama-lama di sana," kata pria itu mengusap-usap perut rata Rose.
"Pulang pergi cukup satu hari di sana. Biar puas aku mau pagi sampai malam hari, oke deal."
Pria itu menggeleng. "Sore jam 5 harus sudah sampai sini," kata Jacob.
"Heg, jadi berangkat jam berapa? Subuh!"
"Jam berapa kamu bangun," ujar Jacob.
Cis, dengus Rose. "Kalau malam gak kerja bakti bisa bangun lebih cepat, kan." Katanya menjepit hidung mancung Jacob. Bibir ini selalu mengundang selera untuk dicium batinnya mengusap mulut merah pria di atasnya.
Hehe, senyum Jacob geli. Masa bercinta dibilang kerja bakti. "Aku ingin berkunjung," desisnya.
Deg deg deg. Jantungnya berdegup kencang. Jangan bilang dia mau ikut ke rumah paman. "Berkunjung kemana?" Tanya Rose.
__ADS_1
"Ke sini," kata Jacob membelai perutnya.
"Aiya. Bilang saja mau masuk," ketus Rose lega.
"Hehe," tawa Jacob.
"Kamu yakin aku hamil?" Tanya Rose.
"Ehm," angguk pria itu.
Rose mengerut kening. "Bagaimana kamu tau?"
"Tiga hari ini aku morning sicknesses. Kata Bear itu tanda istri hamil suami yang ngidam."
Ha.
Rose makin terperangah. Ish, makin gak bisa kabur dong. Hais, keluh dalam hatinya. Jika benar hamil alamat setahun aku gak bisa ketemu dengan keluarga Paman. Alasan apa yang harus aku beri...
"Jacob, bukankah terlalu dini menyimpulkan?"
"Maka dari itu aku telah memanggil dokter," ujarnya tersenyum lebar.
"Kemari? Sekarang? Mana?" Tanya Rose.
"Ada di bawah menunggu dipersilahkan naik. Atau kita turun saja bertemu dokternya. Aku tidak terlalu suka ruang privasi dimasuki sembarangan orang," kata Jacob.
"Kalau gitu aku bersiap," sambung Rose setuju.
Ehm.
"Mawar akan membantu kamu, sayang." Jacob berkata mesra tak tahan mencium Rose dalam. Rose membalas tak kalah agresif, terangkat duduk di pangkuan pria itu.
"Aku mau masuk satu kali," serak Jacob.
"Bagaimana dengan dokter?" Tanya Rose mengusap mulut manis prianya.
"Biarkan dia menunggu."
Heg.
Rose terhenyak. "Aku curiga kamu minum sesuatu ramuan yang membuatmu selalu kepingin?"
Maria Lili yang memberinya dalam hati Jacob. "Tidak ada," jawabnya terpaksa berbohong. "Masalahnya itu kamu bukan ramuan. Dari ujung rambut sampai ujung kakimu ini seperti candu bagiku."
Ehm, senyum Rose. "Kamu juga seperti candu bagiku.
***to be continued.
__ADS_1