
Tidak ada pakaian luar yang dilepas, hanya ia tidak diperkenankan memakai pakaian dalam. Ternyata untuk mempermudah Jacob menjamah setiap inchi tubuhnya. Ah, Rose bergetar saat sesuatu menyentuh dinding kewanitaannya. Jemari Jacob sangat lihai mempermainkan perasaannya, ehm ah ehm. Rose mengigau gak jelas, namun bagi Jacob itu sangat jelas bahwa gadis yang akan digagahinya telah horne.
Pemanasan yang telah dilancarkannya sejak dari pesawat bersambung di kapal yang memakan waktu setengah jam lebih, Jacob yakin bahwa Rose telah siap diterobos olehnya. Karena pria itu juga sudah cukup sabar menahan diri, kali ini harus tuntas batinnya. Kemudian menekan setelah posisinya tepat sasaran.
Akh, mengalir airmata Rose menahan perih saat ujung pentol Jacob merobek selaputnya. "Yes," serak pria itu, merasa kenikmatan yang tiada tara saat menerobos lubang yang masih tersegel. "Tunggulah setelah ini kamu akan terbang ke langit ke tujuh," desisnya mendorong lebih dalam.
Lolongan jeritan Rose tenggelam dibekap mulut Jacob. Euhm, perempuan itu menahan perih dayungan Jacob di area sensitifnya. Namun tak lama hanya selang satu menit, Rose merasakan riak gelombang kenikmatan menerpa relung hatinya. Semakin laju Jacob mendayung semakin ia mendamba agar kecepatannya ditambah. Gadis itu menggelinjang saat pelepasan yang melegakan. "Hmm," desah Jacob senang saat Rose mendapat hasrat.
Namun si pria masih belum juga menunjukkan tanda-tanda akan usai. "Jack," desis Rose. "Yes baby," jawab Jacob semakin gairah saat Rose menggumamkan namanya.
*
Perjalan ke Maldives dihabiskan dengan bercinta di udara. Dolken puas dihajar Mary, tujuh putaran selama lima jam non stop. Syukurlah kamu gak sadar kuberi minum obat perangsang, gumamnya tersenyum geli menatap wajah lelah wanita yang tertidur di sampingnya.
Rose Diana, batin Dolken tersenyum lebar. Hahahaha, tawa dalam hatinya teringat kata-kata Mary bahwa Jacob akan impoten selama di Maldives. Ya Tuhan, dasar Mak Lampir rutuk nya memandang wajah pias Mary.
*
Dolken membangunkan Mary saat Pilot mengabarkan Pesawat akan landing lima menit lagi. Dengan heli mereka langsung ke Hotel pribadi keluarga Juan Sandy Purnomo.
"Apa?" Pekik Maria Lili berang mendengar penjelasan karyawan Hotelnya.
"Banar Bu. Rombongan Pak Jacob belum sampai," jelas karyawan itu ketakutan.
"Katakan sekali akan ku robek mulutmu!" Bentak Maria Lili tak kuasa menahan emosinya, menendang kaki si karyawan.
Karyawan pria itu tidak berani mengelak, menerima begitu saja dirinya jadi pelampiasan kemarahan bos perempuannya. Diam tak bersuara menahan rasa sakit dari tumit sepatu Maria Lili. Dibalik wajah cantik wanita yang selama ini bersikap ramah, ternyata mengerikan jika sedang marah. Karyawan lain menjauh takut terkena sasaran kemarahan.
"Jadi kemana mereka?" Tanya Dolken yakin bahwa kemungkinan rencanakan Maria Lili telah tercium oleh Jacob.
"Cepat hubungi pihak bandara Ken. Kemana Private jet JSP One Air mendarat."
"Oke," angguk Dolken segera melakukan panggilan.
*
__ADS_1
"Derawan! Kalimantan Timur?" Jerit Maria Lili sekuat dia mampu.
"Ehm," angguk Dolken. Sesuai laporan yang didapat nya.
"Brengsekk!!"
"Aduh!" Pekik Dolken ketika perutnya yang jadi sasaran tinju Mary.
"Ahhhhhh!" Jerit Maria Lili seperti orang stres mengacak-acak rambutnya. Perempuan itu kelihatan seperti orang gila dan memang gila batin Dolken.
Tidak ada yang berani bersuara, semua karyawan tertunduk ketakutan. Bahkan Dolken tak tau harus bagaimana menenangkan macam betina ngamuk.
"Huh!" Maria Lili menghembus nafas kasar. "Kita kembali ke tanah air Ken! Tujuan Kalimantan," titahnya.
"Mary please." Tahan Dolken. "Bukankah tidak akan terjadi apa-apa antara mereka. Apa yang kamu takutkan?" Bisik pemuda itu pelan agar tidak didengar karyawan Hotel yang berdiri mematung.
"Dolkeeeeen," geram Mary tertahan. "Bagaimana mungkin tidak terjadi apa-apa jika Jacob minum ramuan itu hanya sekali saat berangkat."
"Sekali, apa maksudmu" Tanya Dolken masih belum paham.
"Ahhhhhh!" Gantian Dolken yang menjerit. Rose Diana kuuuuu, dalam hatinya hancur.
"Kenapa kamu malah teriak?" Marah Maria Lili menendang tulang kering Dolken.
"Aduh!" Pekik pemuda itu kesakitan namun hatinya masih lebih sakit membayangkan, oh tidak! Jangan kau ambil perawan kuuuuu, tangis dalam hati Dolken benar-benar keluar air mata.
Hah, Maria Lili sampai tercengang melihatnya. "Maaf," ucapnya, mungkin ia menendang terlalu kencang. Tapi, bukankah disini seharusnya dirinya yang menangis? Melihat Dolken menangis kejer, air mata Maria Lili batal keluar.
Karyawan resort hanya bisa tersenyum dalam hati Melihat kedua anak manusia aneh.
*
Rose terbangun memandang ke langit-langit telah berubah suasana. "Dimana ini," gumamnya.
"Sudah bangun?"
__ADS_1
"Uhm." Rose menoleh ke suara yang dikenalnya. Jacob duduk dekat jendela yang terbuka, di depannya sebuah Laptop yang di letakkan diatas meja. Di luar kelihatan cuaca malam yang gelap namun menjadi romantis di terangi lampu-lampu berbaur dengan bintang-bintang.
Pria itu berdiri menghampiri Rose, tengkurap di atas gadis yang baru diperawani nya itu. Jacob mengusap rambut di ubun-ubunnya, kemudian mengecup kening lembut.
Ah, bahagianya batin Rose. "Dimana ini?" Tanyanya lembut sembari menyentuh rambut Jacob yang menutupi kening.
"Di tengah laut. Kita sudah sampai Resort," jawab Pria itu. Rasanya tak puas-puas mencium bibir Rose yang manis.
Ternyata pria tampan ini yang pertama bagiku batinnya, Rose membalas ciuman dengan penuh cinta sampai keduanya merasa ngap. Istirahat sejenak mengambil udara.
"Memang kedengaran suara air, serasa masih di Kapal. Tapi bagaimana kamu membawaku kemari?" Rose tersadar telah melewatkan sesuatu.
"Dengan menggendongmu," jawab jacob.
Oh, astaga. Gadis itu menutup mulutnya, segan. "Seharusnya kamu menyuruh bodyguard," katanya.
Hum, kening Jacob berkerut. "Kamu lebih suka digendong bodyguard daripada aku?"
"Bukan begitu," ralat Rose cepat. "Anda kan Direktur. Tak pantas aja," lanjutnya.
"Hm," senyum Jacob. "Apa aku tidak boleh melakukan yang ku mau?"
"Ya boleh saja. Saya yang senang jika anda terlalu memanjakan saya."
Senyum Jacob melebar. "Tujuan ku memang ingin bersenang-senang denganmu, jadi jangan sungkan. Kamu hakku saat ini, begitu juga dengan diriku otomatis menjadi hak kamu. Lakukan apa saja yang kamu kira dapat menyenangkan kita berdua."
"Aku tidak tau bagaimana menyenangkan mu. Tapi yang pasti aku bahagia bersamamu," jawab Rose.
Jacob terenyuh mendengar jawaban Rose. "Jadilah dirimu sendiri apa adanya," katanya sendu.
"Aku juga tidak bisa menjadi orang lain, kan!"
Jacob semakin menyukai kepribadian Rose, namun ia sadar tidak boleh sampai ke dalam hati. Terbatas hanya sampai ketertarikan jasmaniah saja. "Berpakaian lah! Setelahnya kita makan bersama."
"What!" Pekik Rose malu menutup wajahnya. Baru ngeh kalau di dalam selimut tubuhnya polos. "Jangan bilang kamu menggendongku tanpa berpakaian?"
__ADS_1
***to be continued.