Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 75


__ADS_3

"Sebentar adik-adik," ujar Rose melerai pelukan kedua Balita. "Kak R mau melihat apakah liontin sudah diperbaiki."


Perempuan itu berjalan ke meja bundar yang ada di sudut sofa. Tempat Jacob meletakkan berkas-berkas Maura. Kedua Balita mengikutinya. Tapi liontin tidak ada, yang ada hanya rantai.


"Hais," keluh Rose. "Masih belum selesai diperbaiki," gumamnya.


"Apa yang membuat Kak R penasaran?" Tanya Lara Sebi.


"Melihat liontin Kak R merasa sakit kepala yang teramat sangat lalu pingsan. Sementara melihat rantainya tidak terjadi apa-apa. Kak R sehat-sehat saja," jelasnya. "Itu yang membuat Kak R penasaran."


Kedua Balita berpandangan. "Sepertinya bukan Liontin yang membuat Kak R sakit kepala," ujar Lara Sebi. "Tapi benih yang baru akan bertunas di perut Kak R membutuhkan energi lebih banyak dari tubuh Kak R. Kebetulan saja waktu janin lapar ingin makan, Kak R sedang memandang Liontin. Padahal sebenarnya benih sedang menghisap energi Kak R."


Hm. Rose Diana mengerut kening. Emang gua hamil anak vampir batin Rose sedikit tidak percaya.


"Jangan khawatir. Kak R hanya perlu makan banyak seperti saat kita makan iga bakar itu," lanjut Balita perempuan itu. "Benih menyukai makanan berprotein tinggi, zat besi serta nutrisi lainnya yang ada pada daging merah."


"Begitu kah?"


"Ehm," angguk kedua Balita.


"Tapi kak R tetap penasaran ingin memandang Liontin lagi. Ingin memastikan apakah sakit kepala memang karena hamil," ujarnya.


"Ya sudah! Mana liontinnya," kata Lara Sebi.


"Sedang di bengkel perhiasan. Apakah masih sempat melihatnya sebelum kabur ke Jepang," desah Rose Diana.


"Ada yang datang," kata Lara Dutta mengejutkan Rose dan Sebi.


"Ayo kamuflase," ujar Lara Sebi segera membaca mantra menghilang namun tetap di kamar tidak kemana-mana.


Krekk krekk kreekk.


Terdengar pintu dibuka melalui lobang kunci. Padahal kamar Jacob bisa dibuka pakai password.


"Maria Lili ingin menerobos masuk," kata Lara Sebi.


"Mau apa dia," gumam Rose penasaran. Kira-kira hal penting apa yang dicari Maria Lili di kamar Jacob. Perempuan itu terlihat meja bulat. "Jangan-jangan ingin melihat berkas hilangnya Maura, oh no."


"Kak R benar," jawab Lara Dutta.


"Aku beritahu Kak R bahwa kita bisa membaca pikiran-pikiran di kelapa manusia. Kecuali pikiran Kak R," jelas Balita pintar itu.


A.

__ADS_1


Rose tercengang menekuk bibirnya. "Apakah ada Masalah dengan pikiranku?"


Hum ehm, Lara Dutta menggeleng.


"Karena itu Kak R jadi istimewa bagi kita," saut Lara Sebi. "Meski tidak bisa membaca pikiran, kita bisa merasakan sesuatu yang buruk sedang mengintai Kak R jika tetap berada disekitar Tante M," lanjut Kakak Lara Dutta itu.


"Kalau itu Kak R juga tau," kata Rose Diana teringat ucapan Lesty mengenai mantan istri kontrak Jacob yang menghilang bak di telan Bumi.


"Apakah Kak R tau kalau Tante M itu benar-benar orang jahat," ujar Lara Sebi.


"Uhm," angguk Rose Diana. "Apakah dia bisa mendapatkan hukumannya?" Lanjutnya bertanya. "Karena sepertinya telah banyak yang menjadi korbannya."


"Itu bukan urusan kita," jelas Lara Dutta. "Kak Kiren berpesan agar jangan ikut campur urusan manusia dengan menggunakan kemampuan sihir."


"Cis," dengus Rose. "Apa aku bukan manusia makanya kalian ikut campur?"


"Kak R itu duplikat nya Kak Kiren. Jadi kita anggap setengah manusia. Hahaha," tawa Lara Dutta.


Ceklek.


Akhirnya pintu berhasil dibuka paksa dengan kunci duplikat, dengan cepat Lara Sebi membuat berkas di meja bulat menjadi tak kasat mata.


"Dasar perempuan edan," gerutu Rose Diana. "Apa dia tidak takut Jacob akan semakin membencinya dengan bersikap seenaknya."


"Haiiiis."


Terdengar Maria Lili mengeluh saat melihat di atas meja bulat tidak ada apa-apa.


"Kemana berkas-berkas itu pergi. Tidak mungkin Jacob membawa nya ke JSP," gerutu wanita itu.


"Bukankah kamu yang bertugas membersihkan Kamar Jacob?" Tanya Maria Lili pada asisten rumah tangga yang diperintahkan nya untuk membuka pintu kamar.


"Memang benar saya, Nyonya. Tapi selalu ditemani oleh Mawar. Itu kebiasaan sejak dari Tuan menginap di kamar hotel WJ," jawab si asisten takut-takut. "Hari ini saya belum masuk kamar ini kecuali sekarang bersama Nyonya."


Ck, decak Maria Lili mengitari pandangannya ke sekeliling kamar. Tatapannya tertuju tepat ke tempat Rose Diana dan kedua Balita berdiri.


Dibelakang mereka adalah wardrobe tempat lemari pakaian serta meja aksesoris dasi dan Jam tangan Jacob disimpan serta beberapa rak sepatu disusun.


Melihat Maria Lili berjalan ke arah mereka. "Ayo kita minggir," ajak Rose Diana.


"Tidak apa-apa. Dia tidak akan menabrak kita," jelas Lara Sebi.


"Bagaimana membuat orang ini pergi," gumam Rose Diana asal namun ditanggapi serius oleh Lara Sebi.

__ADS_1


"Gampang," ujar balita perempuan itu sambil menjentikkan tangannya.


"Aaaa!"


Seketika Maria Lili berteriak saat terdengar suara yang menyeramkan dari arah wardrobe. Takut terkena serpihan kaca pecah, wanita itu segera mundur sebelum sampai ke tempat Rose Diana dan Kedua Balita berdiri.


Lemari bergoyang-goyang seperti mau jatuh. Begitu juga lampu hias di atas awang-awang. Mengeluarkan bunyi, ngek..ngek-ngek..ngek...ngek.


"Gempa, Nyonya! Ayo cepat keluar," teriak asisten rumah tangga.


Kalang kabut kedua orang lari terbirit-birit meninggalkan ruangan kamar Jacob.


"Hahahahah," tawa Rose Diana dan kedua Balita melihat Maria Lili yang berlari ketakutan sangat menggelikan.


Sebenarnya itu mainan perasaan mereka saja karena tidak ada satupun dari barang di dalam kamar itu bergerak apalagi sampai bergoyang.


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Rose Diana.


"Yakin gak mau ke bengkel tempat liontin diperbaiki?" Tanya Lara Sebi.


"Tidak usah," jawab Rose Diana. "Menurut kalian, apakah yang punya kalung itu masih ada di dunia ini?" Lanjut perempuan itu bertanya.


"Sepertinya masih," jawab Lara Sebi.


Oh.


Rose terperangah. Artinya ada harapan bagi Jacob bertemu dengan cinta pertamanya. "Lalu kenapa dia tidak kembali kepada Keluarganya, ya?" Tanya Rose Diana pada dirinya sendiri.


Lara Sebi mengangkat bahu. "Beberapa manusia yang suka menuntut ilmu gaib telah menyalahgunakan kemampuannya untuk berbisnis dengan orang jahat dengan imbalan uang."


"Hanya jika Liontin setengah hati disatukan dengan pasangannya maka si wanita akan ingat siapa dirinya," lanjut Balita ajaib itu menjelaskan. Sementara Lara Dutta tidak perduli. Bergelayut manja di gendongan Rose Diana.


"Lalu bisakah kita menemukan wanita itu dengan membayangkan liontin atau photo dirinya?" Tanya Rose Diana.


"Ingin mencoba?" Lara Sabi bertanya balik.


"Ehm." Rose berpikir-pikir. "Ide yang bagus sebenarnya. Maka Maria Lili akan fokus pada Maura dan melupakan niat buruknya padaku."


"Uhm," angguk Lara Sebi. "Ayo coba! Masih ada waktu," desaknya dengan raut penasaran.


"Tapi sebaiknya nanti saja," jawab Rose mengurungkan niatnya. "Saat Kak R sudah punya tanggal yang tepat berangkat ke Jepang. Bagaimana?" Usulnya.


Cis, dengus Lara Sebi. "Terserah saja."

__ADS_1


***to be continued.


__ADS_2