
Di Hotel Maldives Maria Lili tak kuasa menahan amarah setiap kali kepikiran Rose Diana, si perempuan pembawa petaka batinnya. Ketenangan hidupnya selama lebih dari 10 tahun dikacaukan oleh karyawan bagian kebersihan dari Perusahaannya sendiri.
Menunggu adalah suatu penyiksaan baginya, barang-barang kamar Hotel lah yang jadi korban pelampiasannya. Maria Lili yang terbiasa dituruti perintahnya itu mengamuk sampai Dolken tidak berani mendekat, para karyawan lari berhamburan sejauh-jauhnya.
"Ken, kita ke Kalimantan!"
"Untuk apa jika hanya akan menambah sakit hati kamu."
"Aaaaaahh!" Maria Lili menjerit.
Hais, najis batin Dolken mulai ilfil pada Mary setelah melihat sisi mengerikan tahap akut perempuan itu.
"Ken, please!" Mohon Mary terduduk kelelahan setelah mengobrak abrik perabotan kamar.
"Mary! Pikirkan masa depanmu, masa depan JSP. Kita pulang ke Jakarta ya, bukankah mengurus perusahaan sementara Jacob liburan adalah tugas kamu?"
"Aku ingin mencekik mati perempuan itu Ken, huuuuu." Mary menangis seperti anak kecil kehilangan mainan.
Dolken mendekatinya, memeluknya erat. "Huuuuuu," tangis Maria Lili terdengar memilukan.
"Hum." Dolken menghela nafas dalam. "Biar hati panas kepala harus tetap dingin. Berapa usiamu sekarang, kenapa masih belum dewasa berpikir."
"Huuuuuu." Air mata Maria membasahi pundak Dolken.
"Kita pulang ke Jakarta saja, ya. Kalau Jack tau kita meninggalkan perusahaan, bukankah akan semakin memperenggang hubungan kalian. Beri kepercayaan pada Jacob dan juga perempuan itu. Sepuluh hari tidak lama, bertahanlah seperti sebelumnya. Jika ternyata mereka menyalahi kontrak, barulah kamu bertindak. Dengan senang hati aku mendukungmu," tegas Dolken.
Hah! Maria Lili menarik nafas dalam. "Jika tau begini dari pertama aku tidak setuju Jacob menggunakan perempuan berkerak itu, huuuuu."
"I told you that," ujar Dolken.
"Baiklah, aku nurut apa katamu Ken. Kita kembali ke Jakarta, aku gak bisa tenang disini."
"Bagus, anak pintar." Dolken mencium ubun-ubun Maria Lili.
Maka saat itu juga mereka terbang ke Jakarta. Sepanjang penerbangan mereka bercinta, karena Dolken memberi Maria Lili obat perangsang yang diakuinya sebagai obat penenang. Hehehehehe, playboy cap butterfly dilawan seringai pemuda itu heran kenapa ia sangat bernafsu. Mungkin kambing diberi lipstik juga pasti diembatnya.
*
__ADS_1
Senin sore di JSP Investment, diruang kantornya Maria Lili di temani Dolken menerima panggilan dari Agen Pemusnah. Melalui speaker, Dolken telah diperkenankan mendengar pembicaraan.
"Objek susah didekati karena sampai ke dasar air mendapat penjagaan yang ketat," lapornya.
CK, decak Maria Lili.
"Satu alat pengintai telah disita," lanjut Agen.
"What!" Pekik Maria Lili. "Sekarang Jacob tau kalau dirinya dimata-matai?"
"Maaf Bos," ucap Agen.
"Kenapa kamu sangat bod...."
"Shut," tegur Dolken pada Maria Lili. "Untuk sementara anda menjauh dulu, Sir!" Titahnya pada Agen.
"Saya tau, sir." Jawab Agen. "Maaf sebelumnya. Untuk menghilangkan kecurigaan, saya sengaja menampakkan diri. Saya katakan bahwa saya adalah pelancong biasa yang penasaran dengan Stuart Resort. jika...."
"Apa? Wajah kamu telah dikenali!" Potong Maria Lili naik darah tinggi. "Bodoh!" Jeritnya mengebrak meja, melempar semua berkas yang ada diatasnya berhamburan ke lantai.
Ck, decak Dolken melotot pada Maria Lili. "Jika apa, teruskan Sir." Dengan tenang pemuda itu berkata tanpa memperdulikan perempuannya menggila.
Hum. "Bagaimana?" Tanya Dolken pada Maria Lili.
"Apa kalian pikir Jacob itu bodoh?" Ketus perempuan itu. "Ke lubang semut ia akan pergi demi menemukan jawaban. Jacob itu lebih anjing dari anjing, endusan nya sangat tajam dan mematikan."
"Kamu tau tapi masih berani mengusiknya," sindir Dolken.
"Aku pikir aku pengecualian tapi sepertinya tidak lagi setelah kehadiran perempuan itu, hah!" Desah Maria Lili. "Dengan mengganti tujuan wisata sepertinya Jacob siap perang denganku."
Dolken menggenggam tangan Maria Lili, meremasnya memberi kekuatan. "Maka untuk sementara kamu harus jadi anak baik," ujarnya.
Hum. "Suruh orangmu ke Jakarta. Aku tidak akan melakukan transaksi melalui Bank," titah Maria Lili pada Agen.
"Saya paham, Bos." Sambungan diputus.
*
__ADS_1
Di Maratua, Jacob meeting dengan bodyguard mengenai orang yang telah lancang memata-matai Resort nya.
"Alat pengintai milik pribadi yang banyak di temukan di Spy market dengan harga murah," jelas Tiger. "Subjek adalah mantan Agen Profesional Eraser. Pernah bekerja untuk Tuan Sandy Purnomo beberapa kali. Tiga tahun yang lalu ia pensiun," lanjut Bodyguard itu.
Mantan agen JSP...tiga tahun yang lalu Sandy wafat, hum. "Biarkan dia lepas sekarang. Awasi Mary, saya yakin ada hubungan dengannya."
"Baik," jawab Tiger.
Jacob telah mengetahui Mary menyusulnya ke Maldives melalui laporan pihak bandara. Namun ia tidak menyangka bahwa Mary berani mengirim pembunuh bayaran ke Maratua. Siapa yang ingin dimusnahkan nya? Aku ataukah Rose, atau bahkan kami berdua batin pria itu.
"Cari informasi sebanyak-banyaknya," titah Jacob.
"Siap Pak!" Hormat Tiger kemudian meninggalkan Big bos sendirian.
Jacob kembali ke kamar menemui Rose yang ditemani oleh Mawar. Agen perempuan itu menjauh dengan kedatangan Jacob. "Sayang, apa ada sesuatu yang serius?" tanya gadis itu khawatir. Mereka terpaksa melepas penyatuan karena pintu diketuk dengan keras tadi.
"Tidak ada," jawab Jacob melebarkan tangannya, Rose masuk kedalam dekapan hangat suami sepuluh harinya.
"Kita sambung yang tertunda." Jacob berbisik di wajah Rose sekalian mencium pipinya, tidak ingin membuat Rose kepikiran.
Hum, angguk Rose senang. Matilah aku pikirnya, karena semakin hari semakin menginginkan pria ini. Sentuhan Jacob tidak mungkin akan bisa ia lupakan seumur hidup, ahhhhhh. Rose menikmati pelepasan demi pelepasan. Begitu juga Jacob sehati sepemikiran dengan Rose, menekan lebih dalam demi memuaskan dirinya dan Rose lebih maksimal. Pria itu terkulai setelah melampiaskan emosinya, Rose mengecup bibir pria itu tanda kepuasannya. "Kamu sangat lihai," desisnya di wajah Jacob. Tidak curiga bahwa pria itu sedang tertekan.
"Syukurlah kamu menyukainya," ujar Jacob sendu. Pria itu memeluk wanita sepuluh harinya dengan erat seolah tidak ingin berpisah.
*
Masih ada 5 hari dari masa liburannya, apakah diteruskan atau tidak pikir Jacob. Meski yakin bahwa Agen bayaran pasti telah ditarik sementara dari misi, namun bisa saja mereka mengirim pengganti. Sangat mudah bagi Jacob membaca situasi karena dia bukan anak baru dalam hal ini. Mary, apa kamu ngajak perang denganku...
"Sayang," panggil Rose. Gadis itu baru bangun dari tidur-tidur ayamnya kerena memang gak bisa nyenyak. Melihat Jacob yang melamun, ia merasa masalah belum selesai. Karena kecemasan jelas tergambar di wajah tampan pria itu.
"Hum," jawab Jacob yang sedang duduk di jendela dengan laptop di depannya.
Satu malam setengah hari tidak bercinta serasa hampa, bagaimana nanti setelah habis kontrak dalam hatinya gundah. "Aku merindukanmu," kata Rose to the point.
Jacob sadar bahwa ia tidak menyentuh Rose dari semalam, pria itu pun mendatangi kekasihnya. "Lebarkan kakimu," katanya.
Dengan patuh Rose mengangkang di hadapan Jacob, membuka kewanitaannya dengan jemarinya. Aku adalah pelacur bergelar istri, dalam hati Rose mengingat betapa gak punya malu dirinya demi sebuah pelepasan.
__ADS_1
***to be continued.