
Dasar suami takut istri, gerutu dalam hati Rose menyadari Jacob tidak mengejarnya. Perempuan itu berada di dalam taksi tidak tau mau pulang kemana.
Ke kosan?
Akan dengan mudah Jacob menemukanku. Baik itu hamil atau tidak, untuk keselamatan jiwa lebih baik bersembunyi dalam hati Rose khawatir pada kehamilan yang jelas-jelas melanggar perjanjian dengan Maria Lili. Tidak hamil pun akan jadi masalah jika Jacob masih ingin memakai ku sebagai tempat pelepasan.
Benar-benar manusia bermasalah. Gak suaminya gak istrinya, sama-sama edan pikir Rose penasaran apa yang terjadi pada mantan istri kontrak Jacob yang dikabarkan hilang.
Pada siapa aku harus cari tau, Lesty? Oh tidak. Si ember itu tidak bisa di percaya. Bagaimana kalau Ema..
"Pak," panggil Rose pada supir.
"Iya Neng," jawab supir melirik melalui spion di depannya.
Rose ragu saat melihat mobil yang dikenalnya mengikut di belakang taksi yang ia tumpangi. Mawar, bagaimana cara menghindar dari pengawasan bodyguard itu batinnya. "Apa bapak tau dimana membuat paspor?" Tanya Rose pada supir.
"Di kantor imigrasi Neng," jawab Supir. "Tapi jika Neng tidak mau direpotkan dengan proses yang rumit dan bertele-tele. Saya bisa uruskan yang gak pakai ribet," lanjutnya.
Oh, kebetulan dalam hati Rose. "Kapan paling cepat saya bisa mendapat paspor?"
"Malam ini juga dalam satu jam ke depan," kata Supir.
Oh, cepat sekali.
"Apakah kita bisa ke luar negeri tanpa diketahui oleh orang yang memiliki banyak jaringan. Maksudnya orang yang menguasai jalur keluar masuk Internasional," tanya Rose.
Supir tersenyum. "Beruntung anda bertemu saya. Jika orang itu jahat Neng bisa dimanfaatkan," ujarnya.
Ehm, senyum Rose. "Bukankah setiap pilihan hidup ada resikonya?"
"Benar kata Neng," jawab Supir. "Jika Neng siap dengan resiko itu, saya ada paspor dengan nama dan identitas samaran yang bisa Neng gunakan."
Oh, Rose mengerut kening waspada. "Berapa saya harus membayar?" Tanyanya.
"Ini paspor resmi. Neng bahkan bisa mendapatkan pekerjaan dengan identitas di dalamnya. Tidak mahal untuk orang seperti Neng," jelas Supir.
"Beritahu saya Pak! Siapa tau saya punya cukup modal," mohon Rose.
"Hanya 35 juta," jawab Supir.
"Hanya!" Pekik Rose tertahan.
Mahal amat dalam hatinya. "Saya urus Paspor Normal saja kalau gitu Pak," kata Rose tersenyum canggung. Karena barusan ia browsing cuma 1 jutaan, hah.
__ADS_1
"Berapa Neng mampu?" Tanya Supir.
Ah.
"Saya?" tanya Rose ragu. "Aaah..ternyata saya belum siap dengan resikonya," ujarnya jual mahal. Dan memang bermasalah juga, kan. Jika ketahuan menggunakan paspor palsu.
"Saya jamin tidak akan ada masalah. Dengan paspor ini Neng bebas ngapain saja di luar negeri asal tidak terlibat dengan tindakan kriminal. Bagaimana kalau 25 juta," kata Supir.
Rose berpikir-pikir. Sebenarnya tidak terlalu mendesak. Toh ia bisa bersembunyi di dalam negeri. Naik taksi lebih tidak ketahuan kabur ke mana saja. Asal bisa lepas dari pengawasan Mawar barang sejenak batinnya.
"Sebaiknya ponsel Neng dibuang saja. Saya khawatir mereka memasang pelacak di dalamnya. Saya tau mobil dibelakang mengikuti taksi ini dari tadi," kata supir mengeluarkan paspor dari dasbor melemparnya ke pangkuan Rose.
Oh.
Rose terperangah ternyata supir ngeh dengan kekhawatiran nya. "Saya hanya mampu 10 juta," kata Rose untung-untungan. Memandang paspor yang masih fresh. Kalau mau segitu ku bayar sekarang juga, kalau gak ya sudah batinnya.
Hum, supir memandang Rose dari spion dengan seksama. "10 juta sekarang. 15 juta bisa dicicil kapan Neng ada uang baru hubungi saya. Jangan khawatir, saya tidak akan menagih sampai Neng siap membayar."
"Oh boleh seperti itu. Kenapa Bapak menolong saya?" Tanya Rose.
"Pertama saya belum Bapak-bapak. Kedua Neng sangat cantik," jawab supir.
Cis, dengus Rose.
"Kalau begitu pegang yang erat Neng. Saya mau bawa lari istri orang. Cepat matikan ponsel," kata Supir langsung tancap gas. Segera berbelok di tikungan berlawanan arah dari jalur ke kosan Rose Diana.
"Ya Tuhan!" Pekik Rose mencari pegangan dan menggenggam nya erat-erat. Beruntung pakai sabuk pengaman kalau tidak bisa terpental.
"Apa aku sedang diculik!" Teriak perempuan itu dapat melihat Mawar membanting stir kesal karena terhalang lampu merah. Rose dilema antara percaya gak percaya kalau supir ini dipihak nya ataukah...oh. Rose tak sanggup membayangkan jika supir ini anak buah Maria Lili.
Lima belas menit setelah melewati jalan tikus kemudian masuk ke jalan utama, Taksi berhenti di sebuah bangunan yang bergaya arsitektur Rumah Gadang.
"Ayo turun," kata supir.
Oh," angguk Rose.
Melihat banyak pengunjung yang makan dan yang ngantri membeli makanan sudah jelas bahwa ini rumah makan. Tidak mungkin seorang yang ingin berbuat Jahat membawanya di keramaian.
Rose dibawa naik ke lantai 4 dimana disitu banyak peralatan elektronik. Dua orang pria masih kelihatan muda berwajah oriental menyambut nya tersenyum mengenalkan diri.
"Hai, saya Jackie." Kata yang rambut panjang keriting bertubuh sedang.
"Gua Chan," kata yang berambut pendek jigrak bertubuh subur. Di atas mejanya terlihat banyak cemilan. Pantesan bengkak dalam hati Rose.
__ADS_1
"Akhirnya punya pacar juga bos," celetuk Jackie mengerling mata genit.
Supir yang belum tau namanya itu tersenyum. "Bini orang," ketusnya.
"Hajar Bos. Kecantikannya bukan kaleng-kaleng," ujar Chan mengangkat kedua tangan mengusap rambut jigraknya. Memandang Rose tak berkedip berliur-liur seolah ia cemilan.
Supir taksi menepuk pundak Chan. "Ambilkan photo ukuran paspor untuk adik ini," perintahnya.
"Oh."
Chan ingin bertanya jadi urung saat dipeletotin oleh supir taksi. Jangan bacot itulah maksudnya.
"Oke," jawab Chan cepat. "Silahkan duduk dulu adik cantik. Kakak siapkan kamera," lanjutnya pada Rose.
"Ehm," angguk Rose.
Supir taksi memberi bangku untuknya. Di depan Jackie dan Chan, ia bersikap serius seperti Bos terhadap anak buah.
"Berikan KTP," kata Supir taksi mengulur tangan.
Rose membuka tas kecilnya guna mengambil tanda pengenal dirinya itu kemudian memberi nya pada Supir Taksi yang tidak tau namanya itu.
"Pas banget kamu pakai baju atasan putih," kata Chan. "Lihat ke arah Mario," lanjutnya.
"Mario," kata Rose bingung menunjuk supir taksi.
"Astaga," seru Jackie. "Kalian belum kenalan, Bos!"
"Hum," senyum Rose memandang Mario yang tersipu malu.
Rose menebak usia Mario mungkin penghujung 20-an kalau gak awal 30-an. Dilihat dari depan lumayan good looking di balik brewoknya.
"Oke selesai," kata Chan.
Hah, kapan motretnya batin Rose. Chan hanya mantengin komputernya bagaimana dikatakan sudah selesai.
Sepuluh menit kemudian supir taksi yang bernama Mario itu menyerahkan dua Paspor pada Rose. "Neh. Kalau butuh bantuan kabur jangan segan-segan hubungi aku. Aku tau jalan lintas aman," katanya.
"Dua," gumam Rose.
"Ehm," angguk Mario. "Satu identitas asli yang satu kamu sudah tau."
***to be continued.
__ADS_1