
Lewat Zhuhur, Rose dan Elisa tiba di Mall Ini daerah Jakarta pusat. Rose membeli semua jajanan yang ingin dimakan Elisa sebelum mereka shopping. Isi perut dulu karena memang sengaja lapar dari rumah biar bisa makan banyak di Mall.
"Apa kau senang," sindir Rose.
"Hehe, banget. Terimakasih Rose," ucap Elisa. "Time to buy ponsel."
"Hm," senyum Rose bahagia bisa membuat temannya senang.
Di konter hape Elisa memilih-milih iPhone second. "Aku gak sreg sama ponsel bekas pakai orang. Beli baru saja," kata Rose.
Ck.
"Duitnya mana cukup," keluh Elisa.
"Bermerek kalau second untuk apa!" Tukas Rose. "Biar Android tapi kan baru."
"Benar kata mbak nya," sambung penjual. "Android 5G sekarang murah-murah, mbak. Fitur gak kalah dari hape merk yang menang nama."
"Bisa tukar tambah dengan ini?" Tanya Elisa menunjuk ponselnya.
Hehe." Si penjual cengengesan. "Untuk hape mbak, saya cuma bisa kasi diskon 50 ribu."
Hah, Elisa terperangah. "Ini saya beli 1 juta lho, mbak."
"Hape mbak keluaran 3 tahun lalu, sekarang sudah gak ada harganya. Saya juga susah jualnya, ntar. Itu karena mbak beli hape disini makanya saya terima. Mbak muter deh tanya, ada yang mau gak?"
Ck, decak Elisa. "Tambahin dong, masa 50 ribu."
Euhm. "Iya mbak tambahin lah biar jadi," sambung Rose.
"Tidak bisa lagi mbak," tegas penjual. "Kalau mau ambil yang ini kita lagi promo beli 2 gratis 1, jadi dapat 3. Ram 16 memori 1TB hanya 5 juta," jelas penjual.
"Yeah," keluh Elisa memandang Rose. "Aku mau iPhone," rengeknya.
"Potong diskon hape 300, ya. Kita ambil yang promo," kata Rose.
"Ha.” Elisa terbelalak.
"Bentar ya mbak," kata si penjual kemudian pergi melapor pada bosnya.
"Kamu mau ganti hape juga?" Tanya Elisa.
"Uhm," angguk Rose.
Oh, bibir Elisa membulat. "Hape kamu kan belum setahun."
"Tapi belum 5G," jawab Rose.
Penjual kembali dengan wajah tersenyum. "4 juta 8 ratus gak kurang lagi," katanya.
"Cool," ucap Rose.
__ADS_1
"Baik. Saya buat nota," kata penjual.
Heg, Elisa terhenyak. Kemudian tersenyum lebar sampai telinga saat Rose memberinya hape gratis serta uang sejumlah 5 juta utuh. "Thanks Rose," ucapnya sumringah.
Setelah mendapat hape android baru keluaran terkini. "Aku ingin merasakan makan di Hotel WJ yang viral itu dong," kata Elisa menahan Rose.
"WJ?" Kening Rose berkerut. "Kamu masih lapar?"
"Ehm," angguk Elisa.
"Tidak ingin belanja lagi?"
"Lain kali, ya. Mikir dulu mau beli apa."
Rose membungkukkan badan di depan Elisa. "Baiklah..keinginan Tuan Putri adalah perintah bagi saya," ujarnya. Jadi sedih teringat masa-masa indah bersama Jacob.
"Hehe, gaya lo." Elisa mendorong pundak Rose terkekeh.
Mereka keluar dari Mall Ini, naik taksi ke Restoran Hotel WJ yang terkenal. Elisa terpukau memandang bangunan megah di depannya, segan mau masuk apa enggak.
"Serius mau makan disini?" Tanya Rose.
"Ehm," angguk Elisa.
Mereka sepakat duduk di stand Korea, memesan seporsi mie yang gak tau apa namanya. Serta sepiring pangsit ayam kongsi dua, sebagai ekstra. "Bentar dulu," tahan Elisa. "Halal gak sih, ini!"
"Idih, sudah pesan baru nanya. Ya halal dong! Kamu baca apa? Tidak lihat ini label hijau, حلال." Tunjuk Rose.
Rose geleng kepala kemudian membuat pesanan. Sembari menunggu, "nanti saat kamu pulang aku titip ini buat Erina dan Rahmat ya," ujarnya menunjuk paper bag di tangannya.
"Sudah ku duga," jawab Elisa. "Hape kamu kan masih bagus untuk apa beli lagi. Dua pula itu," lanjutnya.
"Ehm," angguk Rose. "Kedua anak itu sudah lama kepingin hape."
"Kamu anak berbakti Rose, makanya rejeki lancar."
"Cis," senyum Rose. "Kamu juga baik."
"Semoga rejeki kamu menular ke aku amin," sambung Elisa mengangkat kedua tangannya kemudian disapu ke wajahnya.
"Hus! Jangan jadi seperti aku Lisa," sela Rose.
"Aku bilang rejekinya," tukas Elisa jutek.
"Oke oke."
"Hi, Nona-nona cantik. Boleh bergabung kan." Meja mereka dihampiri 3 orang cogan berpakaian seragam sebuah Bank ternama.
"Belum diijinkan sudah duduk aja," gerutu Elisa.
"Hehe," tawa pemuda yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Boleh dong, boleh ya." Pemuda di samping Rose mentoel lengan gadis itu serta mengedipkan matanya.
"Hei! Jangan pegang-pegang," tegur pria yang satunya cemburu karena gak dapat pasangan.
Rose mengusap lengannya sambil menggeser duduknya agar tidak terlalu menempel pada si tamu tak diundang. "Maaf! Kami ingin berdua saja," katanya.
"Yeah, kita dah duduk. Malu dong kalau harus berdiri lagi." Pemuda di samping Elisa mengeluh.
"Itu salah kalian," jawab Elisa. "Kan kita belum ijinkan."
"Jangan jual mahal Nona cantik, ntar lakunya lama. Kenalan yuk, namanya siapa?" Ujar Pria di samping Rose mengulurkan tangan.
"Ehm," deheman sangar mengejutkan ketiga pemuda tak terkecuali Elisa, terutama Rose yang sangat mengenali suara itu. Jacob batinnya. Ngapain dia disini, deg deg deg. Rose tak kuasa menahan debaran jantungnya yang seolah melompat-lompat kegirangan.
"Kalian berdua ikut saya," ujar suami sepuluh hari Rose itu.
"Eit! Memangnya Om ini siapanya gadis cantik ini?" Tanya yang di samping Rose menahan Jacob saat hendak meraih tangan perempuannya.
Masih muda, kemungkinan dibawah Dolken beberapa bulan. Kelihatan dari seragamnya masih training. Belum karyawan tetap sudah berlagak dalam hati Jacob. Ia sangat mengenal pemilik Bank tempat ketiga pemuda itu mengabdi. "Saya suaminya," jawab Jacob.
Ah, ketiga pemuda tercengang. "Mana buktinya?" Tanya pemuda yang di samping Rose. Raut kecewa jelas terpancar di wajahnya.
"Bukan urusan! Kamu mau percaya atau tidak," ketus Rose berdiri menautkan jemarinya ke jemari Jacob. "Ayo Lis," ajaknya mengerling pada Elisa.
Uhm, angguk Elisa ikut berdiri mengikuti Rose, tak lupa menyambar 3 paper bag hape di tangannya.
Yeah, wajah si pemuda kelihatan mau nangis. "Sayang, jangan bohong kamu. Tunggu aku melamar mu secepatnya kalau memang ingin segera dihalalin. Tidak usah pura-pura jadi istri Om-om." Kata-kata pemuda itu membuat kedua temannya tertawa. "Sabar Bos, belum jodoh."
"Dasar edan," cibir Rose.
Jacob membawa perempuan yang belum ditalak nya itu naik ke lantai 2. Elisa mengikuti dari belakang, masuk ke sebuah ruangan private.
Rose memilih duduk di samping temannya Elisa, di depan mereka Jacob dengan berkas-berkas berserakan di atas meja Oshin Jepang. Perempuan itu memilih diam walaupun banyak pertanyaan di benaknya. Ngapain kamu disini? Apakah kau merindukan ku makanya mengikutiku? Ingin bercinta denganku, hah!
Elisa mentoel pinggang Rose, tersenyum mengerling mata genit. Cis, Rose tersipu malu. Tapi kenapa setelah disini mereka dicuekin...
Tok tok tok.
Pintu ruangan diketuk, Rose bangun membukanya. "Pesanan meja delapan Korean food" kata pengantar makanan.
Oh. "Iya benar," jawab Rose hampir lupa bahwa mereka memesan di restoran bawah. "Letakkan disini saja," katanya menunjuk lantai.
Aah, si pelayan tercengang. Situasi yang absurb ia pun menurut saja apa kata Rose. Karena memang meja penuh dengan berkas-berkas berserakan.
"Pak Direktur mau disuap gak?" Tanya Elisa basa-basi sok akrab.
"Euhm," geleng Jacob tanpa menoleh.
Kedua perempuan yang masih pantas disebut remaja itu makan dalam diam, membiarkan Jacob fokus pada pekerjaannya.
***to be continued.
__ADS_1