Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 87


__ADS_3

"Tuyulnya ada 5, lagi! Silahkan tanya Rose Diana eh si Devie," jawab Elisa masih menyisakan senyum gelinya saat menyebutkan nama baru Rose Diana itu.


Mario menatap Rose, perempuan itu mengangkat bahu pasrah. "Sepertinya mereka tuyul yang baik. Buktinya uangku aman kok," jawab Rose.


Hah.


"Jadi beneran ada tuyul, Non?" Tanya Mbak Santi tiba-tiba bergidik. "Saya selalu sendirian di sini, tapi gak pernah tuh lihat yang aneh-aneh," ujarnya memandang Mario.


"Emang Mbak pernah bermalam di sini!" Ketus Elisa.


"Memang nggak sih, Non!"


"Nah, bagaimana bisa tau! Coba deh malam ini ikut nginap. Biar kita hadapi bareng tuh tuyul," sergah Elisa.


"Tidak mau ah! Takuuut," jawab Mbak Santi.


"Sayangku Mario, malam ini kamu harus bermalam disini untuk menemani ku. Karena si Devie gak takut katanya sama tuh tuyul-tuyul cute, bahkan rencananya mau dipelihara sama dia."


Gantian Mario yang merinding mendengar perkataan Elisa. "Kamu lebih menyeramkan dari pada Tuyul," semprot nya.


"Hahaha," tawa Rose.


"Cis," rengut Elisa.


"Mau dibuatkan sarapan, Den?" Tanya Mbak Santi yang ikut tersenyum geli. Baru ini ada perempuan yang menawan hati anak majikannya ini, satunya agresif lagi.


"Emang ada?" Mario bertanya balik.


"Paling mie instan atau roti bakar, Den. Gado-gado cuma beli 2 bungkus. Aden sih gak bilang-bilang mau pulang, masuk rumah aja gak kedengaran," ujar Santi lembut dan manja.


Membuat Elisa mendelikkan matanya, ternyata saingannya si Mbak ini, gampang lah dalam hatinya. Biarpun mereka sama-sama berkulit eksotis, Elisa merasa yakin akan menang karena wajahnya lebih cantik.


"Dibuatkan Teh susu hangat aja ya, Den. Mau kan?"


Elisa semakin yakin dengan tatapan Mbak Santi pasti menaruh hati pada Mario. Cis, dengus dalam hatinya.


"Bolehlah, mie instan juga gak apa. Aku laper mbak," jawab Mario sambil duduk di samping Rose Diana.


"Sayang, aku suapin mau?" Tanya Elisa menyodorkan sendoknya ke arah mulut Mario.


Mario melihat gado-gado di sendok Elisa tinggal sisa-sisa bumbu kacang dan sayur kol, kontan Pria itu menggeleng.

__ADS_1


Aiya, geli banget si Elisa benar-benar gak sopan batin Rose. "Aku masih banyak. Kita bagi 2 ya," kata Rose langsung bangkit mengambil piring.


"Terimakasih Devie," ucap Mario.


"Sama-sama Mario," jawab Rose tersenyum memandang Elisa yang merengut.


Teman Rose Diana itu langsung menyuap mulutnya dengan suapan terakhir yang tadi ingin diberikan pada Mario.


"Ini Den teh susu nya," kata Mbak Santi meletakkan cangkir kecil itu di depan Mario. Rose juga telah selesai membagi gado-gado nya, segera meletakan nya di depan Mario.


"Terimakasih," ucap Mario kemudian menyesap susu buatan Mbak Santi. Kemudian menyendok gado-gado ke mulutnya.


Elisa meneguk liur melihat Mario saat membuka mulutnya. "Oh, aku ingin jadi sendok itu."


Rose Diana menggelengkan kepala mendengar ucapan Elisa, kemudian tersenyum memandang wajah Mario yang kesal.


"Saya akan membakar roti buat tambahan, Den. Kasian Non Devie gak jadi kenyang," ujar Mbak Santi.


Heg.


Rose terhenyak, jadi segan mendengar kalimat Santi. Apa maksudnya ia gak boleh berbagi.


"Buat yang banyak ya Mbak, saya juga masih laper. Semalam kan saya pingsan ketakutan gegara tuyul," ujarnya alasan.


Kesal, kesal dah lu sana dalam hati Elisa memang sengaja menunjukkan sikap perang dengan Mbak Santi.


Mario merenung kata-kata Elisa, masa sih di rumahnya ada penampakan tuyul. Kalau hanya Elisa yang melihat ia gak bakalan percaya tapi Rose Diana juga melihat, bagaimana tidak kepikiran.


"Siapkan kamar utama, Mbak. Malam ini saya akan tidur di sini," ujar Mario tanpa memandang Santi.


"Baiklah Den," jawab asisten rumah tangga itu.


"Oh sayangku, Mario. Terimakasih atas perhatiannya," kata Elisa senang.


"Eh nanti dulu! Artinya benar bahwa yang kita tempati semalam bukan kamar kamu," sergah Elisa.


"Semua yang ada di kediaman ini kepunyaan saya," ketus Mario.


"Maksudnya tempat biasa kamu tidur, sayang!" Elisa menjawab sengit merasa dibohongi. "Kan aku bilang kamar kita. Artinya itu ya kamar utama."


"Sejak kapan kamar ku jadi kamar kita," gumam Mario sambil menyuap gado-gado. Karena kongsi dengan Rose Diana, rasanya jadi jauh lebih nikmat.

__ADS_1


"Ini roti nya," kata Santi meletakkan hasil bakarannya di meja.


"Terimakasih mbak," ucap Elisa tersenyum ramah sambil menarik nampan ke depannya lebih dekat. Santi melotot tapi tidak bisa berbuat apa-apa pada tamu majikannya.


Mario menjeling Elisa yang langsung disambut kedipan mata, heg. Pria itu terhenyak. Jarang ada perempuan agresif yang berani menggoda nya jadi agak gimana gitu. Senang sekaligus kesal karena wanita itu bukan tipenya.


Rose memandang keduanya bergantian. Sepertinya mereka cocok batin perempuan itu. Ia akan mendukung Elisa untuk Mario, karena memang orangnya baik. Apalagi Mario jenis pria yang tidak mudah memberikan hatinya pada wanita. Maka jika sekali ada yang mendapatkan nya, bisa dipastikan Mario akan setia dengan satu wanita tersebut.


*


Petugas yang akan membereskan kamar telah dipesan.


Sambil menunggu Mario dan dua orang perempuan yang menginap di rumahnya, duduk bersamanya di ruang tengah. Sibuk dengan ponsel masing-masing larut dalam pikiran masing-masing.


Dalam pikiran Elisa, bagaimana mendapatkan ciuman Mario malam ini. Liurnya menetes menatap keseksian benda kenyal berwarna coklat muda itu. Di lihat dari gesturnya, Mario pasti pencium yang hebat.


Dalam kepala Mario ada Rose Diana yang kian hari kian tambah cantik. Tapi sayangnya dia telah bersuami. Meski Mario gak perdulikan status, tapi ia tidak mungkin memaksakan perasaan Rose Diana yang masih ada pada suaminya. Ia tahu betul siapa Jacob, pria tampan dan hebat yang juga pantas buat Rose Diana.


Dalam pikiran Rose Diana, kenapa Jacob tidak mencarinya. Apakah karena ia telah melupakannya, di tambah kehadiran Maura dalam mimpinya. Hah, desah dalam hati Rose Diana.


Mario dapat melihat dan merasakan, meski Rose ada di ruang tamunya namun hatinya jelas jauh pada Presiden Direktur JSP Investment, Jacob Pattinson.


"Mario," rayu Elisa mendekat ke pria itu.


"Hm," jawab Mario mengangkat wajahnya dari ponselnya, menatap Elisa.


Nyes...


Dalam hati perempuan itu langsung meleleh. "Aku sudah lama penasaran bagaimana rasanya berpacaran," kata perempuan itu kemudian terdiam menunggu reaksi Mario.


"Terus apa hubungannya denganku?" Tanya Mario ketus.


"Karena Rose Diana sedang hamil,..." Elisa menjeda ucapannya.


Mario menahan rasa terkejutnya, tidak ada yang membuat nya heran toh Rose punya suami.


"Maka dari itu, sementara kamu mau kan berakting jadi pacarku?" Tanya Elisa. Sengaja dia menjual status Rose sebagainya perempuan hamil yang terlarang untuk di dekati, agar Mario berhenti berharap.


Rose merasa gak enak hati dengan keagresifan Elisa namun kerena ia telah berjanji akan mendukung temannya itu. Biarlah ia menunjukkan sifat aslinya mulai dari awal hubungan.


"Aku tidak berminat," jawab Mario.

__ADS_1


***to be continued.


__ADS_2