Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 86


__ADS_3

Berkat pengalaman dalam mimpinya, Rose semakin bertekad meninggalkan Jacob. Di hati pria itu masih ada cinta dari masa lalunya. Di mana harus mencari separuh liontin yang hilang, agar bisa disatukan dengan Liontin yang ada pada Jacob.


Semoga dengan bersatu nya kedua belah Liontin, Jacob bisa menemukan keberadaan wanita yang bernama Maura itu, dalam hati Rose. Perempuan itu menggeliat di kasur, ingin ke kamar mandi masih ada Elisa.


Hah.


Jadi semalam itu mimpi atau nyata sih, batin Rose Diana. Biarlah mau mimpi atau nyata yang penting rinduku puas bercinta dengan Jacob, senyum nya mengembang. Rose memandang tubuhnya masih mengenakan pakaiannya yang kemarin.


Ala Mak, kan!


"Akhirnya lupa ngambil baju ganti dari lemari Jacob," keluhnya.


Namun tiba-tiba terpandang tas ranselnya teronggok di atas meja rias di samping tas baju Elisa. Sepertinya ini kerjaan salah satu Balita, Baby Choi agaknya.


Gleg.


Rosa meneguk ludah susah payah, bagaimana jika Elisa penasaran dengan tas bajunya. Mau jawab apa, hais.


Cekleeek.


Pintu kamar mandi dibuka, Elisa keluar dengan mengenakan handuk kecil. Seperti di kolam berenang ia hanya mengenakan baju dalam one peace, kutang dan cd super seksi.


"Sana gantian," ujar teman Rose itu sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Rose mengangguk, beranjak dari kasur.


"Kapan kamu bawa tas baju, kok aku gak lihat?"


Mati gue batin Rose. Apa yang ditakutkan nya benar-benar kejadian. "Ada kok, kamu aja gak merhatiin. Habis, dah terpesong ama Mario," jawab Rose jutek sambil membuka tas ranselnya.


"Masa sih," ujar Elisa gak yakin.


"Udah ah! Aku kebelet mau mandi sekarang," kata Rose menarik sehelai handuk.


Hm, pinter juga adik-adik ngasi handuk ukuran sedang dalam hati Rose segera kabur ke kamar mandi, tidak beraninya membalas tatapan Elisa.


Hm.


"Gelagat mu mencurigakan," sinis Elisa.


Hehe.


Rose tersenyum hambar kepada Elisa sebelum menutup pintu kamar mandi.


"Akh!"


Jerit Rose saat hendak menggantung handuknya. Di kamar mandi telah menunggu ke 5 Balita, berendam manis di bathtub. "Adik-adik, Kak R mau mandi. Ngapain kumpul disini," ujar Rose suara ditahan.


Dor dor dor.


"Rose ada apa?" Jerit suara Elisa sebelum Balita-balita membuka mulutnya.


Oh.


Apakah jeritanku terlalu kencang batin Rose meminta Balita-balita jangan bersuara dengan meletakkan jari telunjuk nya di bibir. Kemudian ia menjawab panggilan Elisa. "Gak apa-apa! Hanya kecoak," teriak nya.

__ADS_1


"Hihihi," tawa ke 5 Balita saling siram itu.


"O ya udah, buruan! Aku laper kita cari sarapan!"


"Siap!" Jawab Rose.


"Hei!" Marah perempuan itu pada ke 5 Balita.


"Hai," balas ke 5 Balita memamerkan senyum termanis masing-masing.


"Astaga, adik-adik! Kak R buru-buru ya, jangan ganggu Kak R mandi."


"Oke," jawab ke 5 Balita.


Terpaksa Rose mandi tanpa melepaskan pakaiannya, berdiri di bawah shower menyiram tubuhnya dipandangi oleh Bayi-bayi kepo.


"Kak R malu ya pada kita?" tanya Lara Dutta.


"Ya iyalah," ketus Rose sembari menuang shampoo ke rambutnya. "Mentang-mentang bayi, sesuka kalian gak punya malu." Sewot Rose memajukan mulutnya 5 inchi.


"Malu apa? Semua punya manusia sama saja," jawab Baby Moni.


"Mana bisa sama, Dutta itu berbeda. Apa kalian gak bisa lihat?"


"Kan masih pakai pakaian dalam, lah Kak R mandi pakai baju. Bagaimana bisa bersih," tukas Lara Sevi.


"Pakai pakaian dalam juga Kak R malu," jawab Rose.


"Semalam gak pakai apa-apa gak malu hihi," ujar Baby Choi dan diikuti oleh senyuman ke 4 Balita.


"Oh no," keluh Rose.


"Apa kalian pernah dengar jika suka mengintip mata bisa bintitan?"


"Kita gak ngintip, kok. Kelihatan jelas seperti layar lebar," jelas Baby Moni.


"Oh no," keluh Rose.


"Oh yes, balas ke 5 Balita kemudiannya tertawa.


Cis, Rose mendengus. Dengan cepat menyudahi mandinya. "Jangan menampakkan diri pada Kak L, please adik-adik." Kata Rose sembari membalut tubuhnya dengan handuk.


"Siap!" Jawab ke 5 Balita.


"Kapan kalian siap mandinya?" Tanya Rose lagi.


"Setelah ini," kata Baby Moni seketika bayangan mereka hilang dari pandangan Rose Diana.


"Hei, apa barusan itu bayangan pikiran 3 Dimensi?" Tanya Rose.


"Benar," jawab suara menggema dipikirkannya Rose. "Dasar."


Akhirnya Rose berani menanggalkan pakaian nya. Kalau Balita melihat dirinya dari tempat tersembunyi masih bisa ditolerir, tapi kalau langsung meskipun itu hanya bayangan, siapa yang gak malu.

__ADS_1


*


Selesai mandi Rose keluar dengan handuk di badan, sudah tidak ada Elisa di dalam kamar. Segera Rose mengenakan pakaiannya. "Alhamdulillah," ucap perempuan itu. Baby Choi bagaiman tau pakaian yang serasi dengan karakterku, batinnya senang.


Selesai mengenakan pakaiannya Rose menatap dirinya di cermin, tanpa make up wajahnya seperti habis di rias natural. Alhamdulillah, tak cukup-cukup Rose bersyukur bisa bertemu Bayi berkemampuan super.


Setelah menggusar sedikit rambut agar lebih bergelombang, Rose keluar dari kamar mencari Elisa.


Temannya itu ada di dapur dengan seorang wanita baya. "Pagi," sapa Rose.


"Pagi Non," jawab wanita itu.


"Silahkan sarapan seadanya. Tadi mbak lewat warung gado-gado sekalian beli," sambungnya.


Rose menatap piring Elisa yang tinggal separuh. "Ck ck ck, kamu makan gak nunggu aku," marah Rose.


"Maaf. Tadi niat cuma cicip dikit, eh taunya keterusan. Habis, enak sih!" Jawab teman Rose Diana itu.


"Non Devie, minum apa?" Tanya si mbak. "Dibuatkan susu anget mau?"


Hah.


Rose hampir lupa dengan nama barunya. "Hahahah," gelak Elisa melihat wajah Rose yang melompong seperti kambing ompong. "Dia belum biasa Mbak Santi," ujar Elisa dengan mulut penuh.


"Biasa Apa Non?"


"Nggak apa mbak. Buatkan susu ya," ujar Rose tidak mau memperpanjang urusan nama barunya yang masih asing di telinga.


"Baik Non," jawab Mbak Santi. Wanita paruh baya sekitar 30-an, wajahnya lumayan cantik. Khas Indonesia bagian Timur, berkulit coklat.


"Elisa, kamu beneran gak mau pulang dulu. Emang udah pamit pada orang tua kamu?" Tanya Rose sambil makan gado-gado yang ada lontong nya.


"Aku bilang dapat kerja di Jakarta bareng kamu, lah!" Jawab Elisa.


Hah.


"Kayaknya ibu kamu akan bergosip dengan Bibi mengenai keberhasilan ku kerja di JSP," keluh Rose.


"Pasti itu. Siap-siaplah lah nanti, bakalan semakin banyak orang kampung yang minta dicarikan kerja olehmu hehe," tawa Elisa.


"Itu dia yang aku takutkan," ujar Rose.


Ini Non, diminum susunya." Mbak Santi memotong mereka bicara


"Terima kasih Mbak," ucap Rose. "Mario gak sarapan di sini?" Tanya Rose.


"Enggak Non. Aden jarang pulang," jawab si Mbak.


"Pagi semua," tiba-tiba ada suara Mario.


"Sayang..kamu pelihara tuyul di kamar," todong Elisa serta merta.


"Hah! Tuyul," ujar Mario mengerut kening.

__ADS_1


***to be continued.


__ADS_2